Aku Bukan Simpanan Bosku

Aku Bukan Simpanan Bosku
Menjelang Pesta Besar


__ADS_3

KUNJUNGAN yang dijadwalkan di Frankfurt lebih sedikit dibandingkan di Berlin. Agni dan Ishaan hanya bertemu seorang klien, itu pun pihak yang menyelanggarakan pesta. Kemudian, mereka mengunjungi kantor yang akan Ishaan tempati saat dia pindah ke Jerman untuk mengelola cabang perusahaan.


Kabar yang sebenarnya mengejutkan Agni, sebab dia mengira trip ke Eropa ini hanya ditujukan buat keperluan riset bisnis.


“Jadi, ada kemungkinan Tuan stay terus di sini?” tanya Agni setelah pengecekan gedung selesai. “Siapa yang pegang perusahaan di Jakarta?”


“Kakak iparku,” Ishaan menjawab sekenanya. “Kenapa, kamu sedih kita bakal terpisah jauh?"


Sejak obrolan di mobil dua malam lalu, Agni merasa Ishaan lebih lepas, bahkan tak sungkan menggodanya. Tentu pria itu hanya bercanda, tapi kadang Agni terbawa perasaan sendiri. Dia harus menjaga diri. Bagaimanapun, latar belakang sosial mereka sangat jauh. Agni bukanlah perempuan yang akan Ishaan piluh untuk jadi pasangan seandainya pria itu memutuskan menikah.


Sebentar, kenapa pikiran gue makin ngawur, sih?


“Kalau mau, pindah bersamaku sekalian. Kamu bisa kerja sambil meneruskan S2.” Tawaran yang menggoda. Hanya saja, Agni belum siap mengikuti dinamika kehidupan di Eropa, apalagi dalam jangka waktu lama. “Kamu ada rencana buat lanjut kuliah begitu lulus S1?”


“Untuk jenjang sarjana saja saya repot cari uang, Tuan.” Agni tak mau membayangkan repotnya mengejar jenjang magister. “Saya mau meniti karier dulu dan stabil secara finansial.”


“Baguslah kalau kamu punya pendirian.” Ishaan masuk ke mobil yang menjemput mereka. “I’m rooting for you.”


*


Sehari sebelum pesta, Agni sibuk mendiskusikan skripsinya bersama sang dosen. Acara di akhir pekan membuatnya memajukan jadwal bimbingan lebih awal. Syukurnya, sang dosen hanya meninggalkan sedikit catatan untuk perbaikan. Agni diminta mengumpulkannya hari Senin, tetapi dia memilih menuntaskannya hari ini supaya bisa punya waktu istirahat lebih panjang.


“Akhirnya kamu keluar gua,” seloroh Ishaan kala Agni membuka pintu kamar. Langit sudah menggelap sedari tadi. Dari jendela, Frankfurt di malam hari tampak memukau, berhiaskan cahaya yang berkelap-kelip dari gedung-gedung bertingkat. Pemandangan ini pula yang akan Agni saksikan di tengah pesta yang meriah besok.


“Makan dulu, tadi siang kamu cuma ngemil roti.” Di meja, ada seporsi besar grilled chicken dengan semangkuk mashed potato. Berbagai side dish pun disajikan sebagai pilihan. “Kamu sudah terima rundown pesta besok? Kita berangkat lima belas menit lebih awal. Lalu, akan ada makeup artist yang datang buat merias.”


Tubuh Agni tiba-tiba berkeringat dingin. “Tuan, saya bisa merias wajah sendiri.”


Ishaan berdecak tak setuju. “Agni, kuakui kamu pandai untuk urusan rias merias. Masalahnya, kita besok datang ke pesta, bukan bertemu klien. Jenis riasan yang kamu pakai harus disesuaikan. Kalau tetap memakai riasan buat kerja, kamu bakal kelihatan pucat dan kurang bagus di foto. Paham?”


Alasan yang dapat Agni terima. “Pukul berapa makeup artist-nya datang? Jadi saya bisa siap-siap juga di kamar.”


“Sekitar pukul tiga sore. Mereka langganan ibu dan kakakku.” Kemudian, Ishaan meminta Agni duduk. “Detail lainnya bakal aku kirim lewat pesan singkat. Sekarang, isi ulang tenagamu. Bakal repot kalau kamu sakit.”

__ADS_1


Mungkin gara-gara antusias sekaligus cemas, Agni sulit tidur selepas makan malam. Shia juga sedang berhalangan diajak video call karena menggantikan shift salah satu temannya.


Di saat-saat seperti ini, Agni berharap dia punya lebih banyak teman. Dia iri setiap kali melihat teman-teman sekelasnya hang out ke mal atau sekadar pergi ke kantin bersama di bangku sekolah.


Bukannya Agni dikucilkan semasa sekolah, tetapi dia kesulitan membuka pembicaraan. Kehidupannya yang terasa bak neraka menjadi pemisah yang membuatnya sulit berada di frekuensi yang sama dengan remaja normal kebanyakan.


Hal ini pula yang bikin Agni tak sabar memulai lembaran baru selepas lulus kuliah. Mandiri secara finansial, lalu membangun koneksi baru tanpa mengulik masa lalunya. Barangkali dia juga bakal mengikuti sesi terapi untuk memulihkan diri dari trauma, seperti yang pernah Shia anjurkan.


Agni bergelung rapat dalam selimut, berusaha membawa dirinya terlelap tidur. Kurang dari setahun lagi, Agni pasti bisa melewati semuanya. Masa depan cerah yang diimpikannya kian mendekat. Akan tetapi, sesuatu mengusik Agni kala dia membayangkan hari-harinya sebagai wanita karier kelak.


Akankah dia dan Ishaan akan dipertemukan kembali?


*


Hari yang dinantikan tiba.


Sejak pagi, baik Agni dan Ishaan sama-sama disibukkan dengan masing-masing persiapan. Di kamar, Agni memastikan gaunnya rapi dan tanpa cela. Begitu pula strappy heels yang entah sudah berapa kali dia cek ulang permukaannya. Rambutnya—ah. Agni mengingatkan diri kalau dia baru keramas dua hari lalu.


Menjelang sore, makeup artist yang Ishaan sewa tiba di apartemen. Agni terkejut kala mendapati bahwa periasnya adalah seorang perempuan Indonesia. Usianya mungkin sekitar 40 atau 50 tahun. Mengenakan kebaya khas Jawa, dia lalu memperkenalkan dirinya sebagai Bu Ajeng. Sementara asistennya yang bernama Kala akan menangani riasan untuk Ishaan.


“Wajahmu terawat sekali,” komentar Bu Ajeng saat membersihkan wajah Agni. “Siapa namamu tadi, Agni, ya? Sudah lama sekali saya enggak dengar perempuan dikasih nama Agni. Pasti orangtuamu ingin kamu tumbuh jadi sosok yang kuat.”


Agni tersenyum hambar. “Ibu sudah lama kenal Tuan Ishaan?”


“Wah, dari zaman Ishaan masih di kandungan malah,” kelakarnya. “Saya ikut Nyonya, ibunya Ishaan, dari zaman dia masih gadis. Ibu saya kebetulan ngabdi lama sama keluarga mereka. Makanya saya kenal baik sama Ishaan.”


Senang sekali rasanya bisa mengobrol bersama seseorang sehangat Bu Ajeng. “Ibu kerja di sini? Maksud saya, di Jerman.”


“Saya kerja lama di Indonesia. Dulu disuruh kursus sama Nyonya buat jadi perias. Katanya saya punya bakat.” Bu Ajeng membuka kotak makeup, lalu mencari shade foundation yang sesuai dengan skin tone Agni. “Waktu Nyonya pindah ke Maroko, saya diminta ikut. Tadinya cuma coba-coba, ternyata kepakai juga jasa saya di sini. Tapi akhir tahun nanti, saya mau balik ke Jawa. Pulang kampung sebentar.”


Kecekatan Bu Ajeng dalam menemukan shade hingga mengaplikasikan produk sembari berbincang membuat Agni menaruh respek padanya. Dia juga menanyakan jenis riasan yang Agni sukai, sebelum meneruskan pekerjaannya.


“Agni sudah lama kerja sama Ishaan?” Bu Ajeng yang kini balik bertanya.

__ADS_1


“Saya cuma bantu-bantu selama tiga bulan. Soalnya saya masih kuliah. Ngejar wisuda tahun depan.”


“Waduh, pantas masih kelihatan muda sekali,” ujar Bu Ajeng sembari merapikan rambut Agni. “Ishaan itu persis sekali seperti Nyonya. Kerjanya di bawah radar. Tahu-tahu sudah beres. Beda sama Bapak yang wajahnya sering muncul di koran.”


“Kalau boleh saya tahu, ibu Ishaan kerja apa di Maroko?”


“Arsitek.” Bu Ajeng terkekeh kala Agni tersentak kaget. “Nyonya itu cerdas. Sayang waktu nikah sama Bapak, Nyonya harus berhenti kerja buat ngurus anak. Baru pas pindah ke Maroko, Nyonya lanjut kejar passion-nya dulu.”


Bukan hal mengejutkan kalau Ishaan juga cerdas. Kata orang-orang, kecerdasan ibu biasanya menurun pada anak.


“Aduh, ayunya,” Bu Ajeng berseru kagum begitu melihat hasil riasannya di cermin. “Coba cek lagi, Agni. Barangkali ada yang mau ditambah atau diubah.”


Ibu Ishaan mengambil keputusan tepat kala meminta Bu Ajeng kursus merias. Agni sampai terpana memandangi dirinya di cermin. “Cukup, Bu Ajeng. Bagus banget, makasih.”


“Yowes, saya bantu pakaikan sekalian gaunnya, mau?” tawar Bu Ajeng yang Agni sambut dengan anggukan cepat. Dia tak sabar ingin melihat bagaimana riasannya berpadu dengan daun itu.


Lebih tepatnya, Agni ingin menyaksikan reaksi Ishaan saat mereka bertemu di ruang tengah.


*


Dibantu Bu Ajeng, Agni melangkah hati-hati keluar kamar. Rupanya di luar, Ishaan sudah menunggu bersama Kala. Pria itu tengah membelakanginya sambil merapikan lipatan pada jas dan celana.


“Nak Ishaan, saya sudah selesai merias Agni,” ujar Bu Ajeng. “Saya dan Kala pamit dulu, ya.”


“Iya, Bu, maka—” Ishaan melongo kala membalikkan tubuh menghadap Agni. Matanya sampai tak berkedip sampai Bu Ajeng berdeham. “Maaf, maaf. Sekali lagi, makasih, Bu Ajeng, Kala juga. Aku sudah transfer uang jasanya ke rekening biasa.”


“Semoga acaranya lancar, ya.” Bu Ajeng menepuk halus pundak Agni dan Ishaan sebelum keluar bersama Kala dari unit apartemen.


Agni mendekati Ishaan; diam-diam mengagumi ketampanannya dalam three piece suit. “Tuan, apa sebaiknya kita pergi sekarang?”


“Iya, sebentar lagi acaranya dimulai.” Kemudian Ishaan mengulurkan tangannya pada Agni. Agni menenangkan dirinya sejenak, lalu menyambutnya; membiarkan Ishaan menuntunnya menuju tempat pesta digelar.


***

__ADS_1


__ADS_2