Aku Bukan Simpanan Bosku

Aku Bukan Simpanan Bosku
Perayaan Spesial


__ADS_3

KEPUTUSAN Ishaan menyewa mobil bukan hanya memberikan kenyamanan dan perlindungan ekstra untuk Agni. Tubuhnya yang pegal dan nyeri juga punya kesempatan buat istirahat sejenak di sela-sela pertemuan. Semestinya Ishaan tak meremehkan lawannya yang kerempeng itu. Serangan-serangannya cukup kuat sampai meninggalkan lebam di lengan dan kakinya.


“Apa dasinya terlalu kencang, Tuan?”


Agni, berdiri di depan Ishaan, tengah memasangkan dasi gara-gara lengannya yang belum sepenuhnya pulih. Pasti dia tak sadar meringis sampai Agni bertanya seperti itu. “No, it’s fine. Aku hanya… sedang memikirkan pertemuan terakhir hari ini.”


Tangan Agni merapikan dasi Ishaan, lalu mengambil jas untuk dia pasangkan. “Tinggal dua pertemuan lagi semuanya selesai. Saya yakin Tuan bisa melewatinya dengan baik.”


“Berkat kamu juga trip bisnisku berjalan lancar.” Ishaan mencondongkan tubuh untuk mengecek rambut Agni. Ada yang berbeda. Hidungnya mencium aroma wangi bunga yang kuat. Itu berarti….


“Ada yang salah?” Agni mundur selangkah saat jarak mereka menyempit.


“Kamu keramas,” gumam Ishaan. “Biasanya kakakku keramas setelah jadwal menstruasinya selesai.” Sebenarnya bukan dari Tanisha. Kebiasaan tersebut Ishaan ketahui saat berhubungan dengan Ayanna, tetapi mana mungkin dia mengatakannya di depan Agni.


“Tuan—Tuan mau melakukannya… hari ini?”


Dengan lembut, Ishaan menangkup wajah Agni, lalu mengelus pipinya yang memerah. Saat bersama Ayanna, Ishaan tak mengenal kata menunggu. Mereka memanfaatkan kesempatan, meski hanya sepuluh menit sebelum berangkat kerja, untuk memuaskan hasrat.


Agni adalah kasus berbeda. Bahkan setelah melewat siang yang membara di paviliun Albert, Ishaan bersedia menunggu. Mungkinkan insiden yang melibatkan Lea mengubah pemikirannya? Benarkah Ishaan tak ingin Agni berubah jadi Lea dan Ayanna atau ada hal lain yang—


“Kita harus pergi ke tempat pertemuan sebentar lagi, Tuan.”


Tenang, jangan sampai Agni menangkapnnya melamun untuk kesekian kali. Ishaan lantas menunduk; mengecup cepat bibir Agni, sebelum memintanya bersiap di ruang tengah dan menunggu jemputan mobil mereka.


*


“Gila lo, ya? Gue kasih lokasi titik kumpul copet itu sebagai petunjuk buat bantu polisi lacak pelaku, bukan buat berantem, Bro.”


“Micah, aku lihat copetnya hampir jual ponsel Agni ke penadah. Seandainya aku lapor polisi dulu, ponsel itu pasti keburu pindah ke tangan lain.” Ishaan mematikan keran, lalu mengecek luka dan bekas pukulan di wajah. “Untung tadi aku pancing pelakunya ke area publik, jadi dia kabur sebelum aku habis dihajar.”


“Lagian lo hobi banget cari perkara pas lagi kerja.” Micah mendengus sebal. “Sekarang lo di mana? Udah pulang ke apartemen?”


“Belum, mampir dulu ke coffee shop. Sekalian bersih-bersih di toilet.” Sekali lagi, Ishaan mengecek ponsel Agni yang dia amankan di saku jasnya. Rencananya, dia akan meminta kantung ekstra untuk menaruh ponsel itu sebelum masuk apartemen. “Udah beres misuh-misuhnya? Aku mau pulang.”


“Belum puas, tapi ya udah sana pulang. Agni pasti cemas nungguin lo.”


Malam itu, saat Agni menangani luka-lukanya, Ishaan memilih mengunci mulut ketimbang membuat gadis itu semakin cemas. Keputusan yang tepat, terutama saat Agni tiba-tiba menangis. Bagaimana kalau dia sampai tahu Ishaan berkelahi dengan pencopet ponselnya alih-alih menyerahkan kasus ke polisi?

__ADS_1


“Saya akan kirim notula pertemuan tadi secepatnya. Apa Tuan butuh rekap juga untuk semua pertemuan selama tiga bulan?”


Dari ekor mata, Ishaan mengawasi Agni yang tengah menyusun laporan di tablet. Mereka baru menyelesaikan pertemuan terakhir dan gadis itu langsung meneruskan pekerjaan. “Kamu bisa kerjakan di apartemen, Agni. Kita dinner dulu. Aku sudah reservasi di restoran.”


“Kita makan di luar malam ini?”


“We deserve it. Untuk merayakan kunjungan terakhir kita sebelum ke Marrakesh.” Dalam benaknya, Ishaan membayangkan dirinya menghabiskan waktu bersama Agni di kota tersebut. Berkunjung ke tempat-tempat wisata yang mengesankan, memperkenalkannya pada sang ibu, lalu—Ishaan mengerjap. Akan agak sulit mengajak Agni bercinta di rumah ibunya.


Mematuhi perintah Ishaan, Agni lantas menyimpan draf notula dan menyimpan tablet-nya di tas. Beberapa blok kemudian, mobil berhenti di depan sebuah restoran mewah. Saat pintu mobil dibukakan seorang pelayan, Ishaan mengulurkan tangannya pada Agni.


“Let me treat you well tonight, Señorita.*”


**


Agni pernah menghadiri fine dining, tetapi dalam setting romantis?


“Aku sudah pesankan non-alcoholic wine buatmu,” ujar Ishaan setelah berbincang dengan pramusaji yang melayani mereka. “Ibuku sering makan di sini kalau mampir ke Barcelona. Cuma ini kali pertama aku reservasi di area VIP.”


Area VIP yang Ishaan maksud adalah rooftop berkanopi tumbuhan gantung. Desain industrial yang berpadu dengan sentuhan alam memberikan kombinasi modern nan elegan. Terutama di malam hari saat restoran menyalakan lampu di sudut-sudut tertentu; menegaskan kesan hangat dan intimate yang sepadan dengan harganya.


Agni melirik pasangan-pasangan yang mengisi meja di sekitar mereka. Terintimidasi dengan kedekatan yang dipamerkan meski dia tak memahami percakapan mereka. “Tuan, apa ini tidak berlebihan?”


Soal reward, Agni familier. Bedanya dia akan merayakan pencapaian dengan tidur seharian di indekos atau memesan makanan lewat aplikasi, itu juga kadang memakai promo untuk menghemat ongkos. Bukan makan di restoran mewah seperti Ishaan.


Agni hanya manggut-manggut. Suasana hati Ishaan sedang kelewat bagus. Bahaya kalau celetukannya menyinggung perasaan pria itu. Bisa-bisa Agni langsung dipulangkan ke Indonesia.


Maka saat appetizer datang, Agni berusaha menikmatnya. Bukan hal sulit, rupanya, sebab rasanya cukup enak. Tidak bikin lidahnya kaget. Piring demi piring datang silih berganti; menyajikan makanan-makanan indah nan paling lezat yang pernah Agni santap.


Saking menikmati hidangan-hidangan itu, Agni sampai tak dasar kalau pria yang duduk di hadapannya mengembangkan senyum. Ikut puas dan lega mengamatinya makan dengan lahap hingga ke piring terakir.


*


“Bagaimana, jamuannya enak?”


Agni menaruh gelas wine-nya. “Enak, Tuan, cuma saya kurang familier sama nama-nama makanannya.”


“It doesn’t matter, yang penting kamu menikmatinya.” Kemudian, Ishaan memanggil pramusaji untuk meminta bill. “Sebentar lagi kita pulang.”

__ADS_1


Tumben, pikir Agni. Keriaan baru dimulai di jalan dekat restoran, dia mengira Ishaan bakal mengajaknya jalan-jalan. Oh, mungkin dia sama capeknya kayak gue, jadi mau langsung rebahan di apartemen.


Namun, tebakan Agni serta-merta dipatahkan saat mereka masuk mobil. Ishaan merapatkan tubuh, lalu mengabaikan supir yang mengemudi, mencium pipi Agni.


“Tuan mabuk?” Seingat Agni, Ishaan memang memesan wine beralkohol, tetapi kadar alkoholnya sangat rendah. “Perlu saya siapkan sesuatu di apartemen?”


“Iya, tolong siapkan dirimu, Agni,” bisik Ishaan saat meneruskan ciumannya ke tengkuk Agni. “I’m still sober, don’t worry.”


Sesampainya di apartemen, Agni membiarkan Ishaan melancarkan serangan-serangannya. Saat Agni mencopot pump shoes merah favoritnya, Ishaan bergerak cepat melucuti blazer dan jasnya. Kaki-kaki mereka sesekali terantuk kursi dan meja karena lampu yang belum dinyalakan, tetapi Ishaan tak memusingkannya karena yang dia tuju sekarang adalah kamarnya.


“Mau mandi dulu?” tanya Agni setelah Ishaan melepas ciumannya. “Mungkin harus gantian karena kamar mandinya—”


“Kenapa gantian? Let’s take shower together,” goda Ishaan yang membuat Agni salah tingkah. “Sebentar—ah iya, kamu belum melihatku tanpa pakaian.”


Saat itulah Agni tersadar kalau di paviliun hanya dia yang melepas pakaian. “Waktu kita di sana, bukannya Tuan—”


“I was shirtless, Agni, hampir—hei!”


Entah mendapatkan bisikan dari mana, Agni menarik Ishaan, lalu mendorongnya ke ranjang. “Tidak adil,” umpatnya sambil membuka kancing kemeja pria itu. Alih-alih takut, Ishaan menyeringai. Seoah-olah menantikan reaksi Agni tersebut.


“Are we skipping the shower part?” tanya Ishaan kala Agni melepaskan kemejanya; mengekspos dada dan perutnya yang terbentuk sempurna dari work out rutin.


Sesaat, Agni teremenung. Dipandanginya Ishaan yang sabar menunggu walau sedang dia tindih. Napasnya yang memburu kini mulai teratur, tetapi tubuhnya kadung panas. Agni lantas mengulurkan tangan, meminta Ishaan untuk duduk. Memposisikan tubuhnya pula dalam pangkuan pria itu.


“Saya terlalu agreasif, ya?”


“Tidak. Aku justru senang kalau partnerku ternyata bersedia mengimbangi permainanku." Ishaan menyingkirkan helai-helai rambut yang menutupi wajah Agni. “Tapi seperti sebelumnya, aku akan pastikan kamu nyaman. Tak ada paksaan, oke?”


Agni lantas menyambut kecupan Ishaan. Hati-hati, pria itu menanggalkan kemeja Agni, lalu melepas kaitan branya. Kepala Agni terasa ringan saat Ishaan menciumi leher, lalu turun untuk menyentuh bagian-bagian tubuhnya yang sensitif. Sementara salah satu tangannya terus mengelus bagian dalam pahanya.


Napas Agni tersengal. Percuma saja dia menahan diri.


“Ishaan.” Dengan sisa-sisa kewarasan, Agni berusaha mengutarakan keinginannya. “Ke—ke kamar mandi?”


Ishaan menengadah. “Mau mandi bareng?”


Saat Agni mengangguk, Ishaan serta-merta membopongnya keluar kamar.

__ADS_1


***


* Nona dalam bahasa Spanyol


__ADS_2