
TUJUH tahun kemudian…
“Agni, sarapan udah siap, tuh! Uak* sengaja nyubuh biar kamu enggak telat makan.”
“Bukannya Uak Puput emang harus nyubuh supaya bisa cepet buka warung?” Agni, turun dari lantai dua, menyeringai kala perempuan berdaster di dekat meja makan berkacak pinggang mendengar kelakarnya. “Bercanda, ih. Uak enggak boleh cepet sensian.”
“Kenapa, mau bilang sering marah-marah bikin cepet tua? Enggak mempan, Agni! Uak rajin skinkeran juga kayak kamu!” Uak Puput menyerahkan piring pada Agni, lalu menyendokkan nasi goreng udang favoritnya. “Rano jemput kamu hari ini? Jam berapa?”
Agni mendongak untuk melihat jam dinding di atas rak piring. “Satu jam lagi, tapi kayaknya udah di jalan.”
“Makan enggak tuh kalau jam segini dia di jalan?”
Agni menggeleng. “Dia mah mau sarapan atau enggak tetep kenceng kerjanya.”
“Eh, enggak boleh dibiasain! Pas udah nikah, kamu harus bikin Rano rajin sarapan. Biar kuat cari uangnya.” Kemudian, Uak Puput mengeluarkan kotak makan siang dari lemari. “Nanti kasih dia nasi goreng, ya. Suapin sama kamu kalau perlu biar enggak oleng pas meeting.”
Selepas sarapan, Agni bergegas mandi dan berganti pakaian. Saat merapikan rambut, Agni menyadari panjangnya sebentar lagi menyentuh pundak. Gadis itu termenung sejenak, kapan kali terakhir dia membiarkan rambutnya memanjang hingga melewati dada? Memorinya mulai merangkak ke masa lalu, tetapi terhenti kala ponselnya menyala.
Bentar lagi aku sampai rumahmu, bunyi pesan itu.
Senyum Agni merekah. Setelah merapikan pakaian dan riasan, Agni mengecek perlengkapan kerjanya di tas dan mengambil pump shoes merahnya. Pagi ini, dia akan menemani atasannya menemui klien yang terbang langsung dari Tokyo. Rano, akuntan yang juga pacarnya selama dua tahun, akan membantu sebagai interpreter sepanjang rapat.
Itu berarti, Agni bakal menyaksikan Rano berbicara dalam bahasa Jepang. Salah satu daya tarik berhasil membuatnya menaruh perhatian pada pria itu di pertemuan pertama mereka.
*
“Kim Seon-ho tuh siapa, sih?”
Di lampu merah terakhir, Agni mengambil kesempatan untuk mengajak Rano sarapan. Seperti biasa, pacarnya melewatkan santap pagi supaya tak terjebak kemacetan di beberapa ruas jalan Bandung. Meski Rano jarang hilang fokus atau pingsan, bukan berarti dia tak butuh asupan makan buat menjaga performanya sebagai interpreter.
“Oh, itu aktor drakor favoritnya Uak Puput.” Agni menyuapkan nasi goreng pada Rano. “Kenapa? Uak pasti cerita soal fanmeet di Jakarta, ya? Dari kemarin ribut minta aku buat ikut war tiketnya, cuma aku enggak paham yang begituan.”
“He-eh, terus tadi pas nunggu kamu, dia bilang aku mirim Kim Seon-ho,” ujar Rano yang disambut tawa dari Agni. “Coba nanti aku cek, siapa tahu temenku yang kerja di agensi punya jatah tiket.”
“Awas, ah, ntar Uak Puput ngelunjak minta yang lain.” Gara-gara iseng menonton drama Korea sambil menunggu warung makan, Uak Puput jadi kecanduan sampai sering begadang. Namun, Agni kagum uaknya masih mampu bangun sebelum subuh untuk menyiapkan makanan.
“Dulu dia enggak kebagian fanmeet pertama. Makanya ngebet pengin dateng buat yang kedua.”
Rano membuka tumbler minumannya. “Turutin aja, itung-itung refreshing. Kamu enggak kasihan lihat Uak Puput masih rajin ngewarung?”
__ADS_1
Masalahnya, Uak Puput adalah tipe perempuan yang gemar menyibukkan diri. Setelah suaminya meninggal, dia memakai tabungan dan uang tanggungan asuransi untuk membangun warung makan dekat rumah. Kadang Agni membantunya mengurus katering. Kegiatan-kegiatan itu juga yang membuat Uak Puput jarang sakit di usianya yang hampir menginjak kepala enam.
“Justru Uak Puput yang minta aku berhenti kerja supaya bisa bantu dia ngurus katering.” Agni menutup kotak makan yang kosong, lalu memasukannya ke tas. “Untungnya lumayan, sih, tapi posisiku lagi bagus banget di kantor.”
“Kalau kamu resign, terus bantu Uak pas kita nikah, gimana?”
Pertanyaan itu belum Agni balas karena lampu lalu lintas keburu berganti hijau. Menikah—kata itu dulu dianggap tabu olehnya. Jangankan memikirkan komitmen serius, jatuh cinta saja terdengar mustahil. Namun, kehadiran Rano berhasil meluruhkan pertahanan Agni; mematahkan prinsip dan keraguan yang dia pegang bertahun-tahun.
Hanya saja, ada satu rahasia yang belum Agni bagikan pada Rano: dia bukan lagi perawan. Ketika pria itu tahu, apa Agni akan siap menerima reaksinya?
**
Sementara itu di Frankfurt…
“Om Icaaa, bangun, dong! Sarapan, yuuuk, Mommy bikin pancake!”
Suara cempreng itu seketika membangunkan Ishaan. Saat matanya terbuka, dia langsung melihat bocah menggemaskan yang tengah mencubiti pipinya. Haikal, putra Tanisha dan Dareen yang sebentar lagi menginjak usia empat tahun. Untuk merayakan ulang tahun anaknya, Tanisha sengaja terbang ke Jerman untuk liburan, sekalian menjenguk adiknya yang belum kunjung pulang sejak bekerja di Eropa.
“Bangun juga perjaka tua,” ledek Tanisha kala Ishaan muncul di dapur sambil menggendong Haikal. “Gimana mau dapet cewek kalau jam segini masih ngulet.”
“Baru pukul sembilan pagi, Mbak. Ini hari Sabtu pula, aku enggak kerja.” Pelan-pelan, Ishaan mendudukkan Haikal di kursi. “Dareen nyusul ke sini?”
Ishaan memotongkan pancake untuk Haikal. “Dateng, kok. Nanti siang langsung ke apartemen begitu landing.”
Haikal hadir sebagai anggota baru keluarga Marlon saat Tanisha hampir putus asa tak diberi keturunan. Mulanya, Ishaan mengira kakaknya cemas gara-gara tak dapat memberikan penerus bagi keluarga Marlon. Namun, dari tahun ke tahun, Ishaan menyadari, Tanisha sangat menikmati perannya sebagai ibu. Haikal pun tumbuh menjadi anak yang, bukan cuma lucu, tetapi mampu bersikap sopan.
Berkat Haikal pula hubungan Tanisha dan Evelyn membaik. Sang ibu terkesan dengan pola asuh yang Tanisha terapkan. Menurut Evelyn, status Tanisha sebagai ibu telah membuatnya bersikap lebih dewasa. Sementara Tanisha senang karena akhirnya berada ‘satu frekuensi’ dengan Evelyn, paling tidak saat membahas tips parenting dan resep makanan sehat untuk anak.
Walau dinamika keluarganya sudah berubah, Ishaan tetap sama. Lajang yang sibuk mengembangkan usaha. Lagi pula, lingkungan di Jerman sangat kontras dari Indonesia. Tak ada orang kepo yang menanyakan hal-hal personal seperti,
“Kapan nikah?” Ishaan mengembuskan napas panjang kala Tanisha mengajukan pertanyaan itu. Kedua telinganya sampai bosan mendengarnya. “Emang ada Haikal yang jadi penerus keluarga Marlon, tapi masa semuanya ditanggung sama dia.”
“Maksudnya kalau Haikal enggak bisa tanggung sendiri, mau dilimpahkan semua ke anakku? Kayak Mbak yang melepas tanggung jawab ke Dareen dan aku?” sungut Ishaan. “Mbak tahu, kan, aku enggak tertarik berkomitmen. Kalaupun nanti aku pensiun, aku bakal serahkan perusahaan ke orang yang kompeten.”
Kening Tanisha mengernyit. “Meski bukan dari keluarga kita?”
“Cukup, Mbak. Kenapa kita bahas topik ini lagi?” Terutama di depan Haikal. Meski anak itu belum memahami percakapan mereka, Ishaan tak mau memberikan contoh buruk padanya.
Lantas, dia beranjak dari kursi untuk membisikkan sesuatu pada kakaknya. “Mbak masih curiga Dareen selingkuh dan takut aib itu merusak keluarga?”
__ADS_1
“Ishaan!” Tanisha membekap mulutnya. “Jangan bahas di sini!”
“Urusan pribadiku terus dibahas tiap tahun kayak laporan pajak. Giliran urusan Mbak yang belum terbukti kebenarannya….” Ishaan geleng-geleng kepala, lalu menghampiri Haikal dan menggendongnya. “Haikal makan sama aku di kamar sampai Mbak enggak nyinyir lagi di depan kami.”
*
Ishaan bingung, apa dia harus kasihan atau kesal menghadapi sikap Tanisha.
Kecurigaan Tanisha akan perselingkuhan Dareen dimulai sejak Haikal lahir. Saat Haikal berumur lima bulan, Dareen membuka perusahaan yang bergerak di bidang konsultan desain interior di Bandung. Setiap dua kali seminggu, Dareen bertugas di luar kota. Namun lama kelamaan, malah Tanisha dan Haikal yang hanya bertatap muka dengan Dareen setiap Sabtu dan Minggu.
“Kerjaan di Jakarta tetap aman, kan?” Ishaan memastikan saat Tanisha menceritakan kecurigannya. "Kalian juga rutin video call dan kirim pesan. Buatku kayaknya—”
“Itu di mata kamu, Ishaan!” tukas Tanisha cepat. “Dareen punya skill bagus di time management. Dia bisa handle bisnis di dua kota. Mungkin juga dia main di belakangku di sela-sela kesibukan.”
Tak mau mendebat, Ishaan meminta Tanisha mengumpulkan bukti dulu. Bahaya kalau asal labrak, kakaknya bisa diseret ke pengadilan. Namun, sampai detik ini, bukti yang Ishaan minta belum terkumpul. Dia jadi semakin yakin Tanisha hanya overthinking atau terpengaruh ucapan ibu-ibu yang mulutnya susah direm.
“Kalau kamu mau anggap aku cemburuan atau lebay, silakan, Ishaan,” celetuk Tanisha setelah meminta Bu Ajeng untuk memandikan Haikal. “Tapi, tengok dulu histori pacaranku. Apa dugaanku pernah memelesat? Enggak, kan? Kali ini instingku lebih kuat. Buktinya belum banyak, tapi aku yakin kerjaan Dareen di Bandung bukan cuma ngurus perusahaan. Pasti ada perempuan lain.”
Ishaan mengamati jalanan dari jendela apartemen; memikirkan solusi dari masalah yang selama tiga tahun bergulir bak bola salju. “Mbak mau gimana? Apa yang bisa aku bantu dari Jerman? Perlu aku suruh Micah buat stalking Dareen ke Bandung?”
“Pulang ke Indonesia,” jawan Tanisha cepat. “Daripada minta Micah yang stalking, mending dia yang gantiin kamu sementara di sini.”
“Mbak, kalaupun aku pulang sebentar, enggak bisa—”
“Tiga bulan,” Tanisha menegaskan. “Bantu aku kumpulkan bukti perselingkuhan Dareen dalam jangka waktu tiga bulan.”
“Kalau Dareen enggak terbukti selingkuh?”
“Kamu boleh balik ke Jerman dan aku enggak bakal merongrong kamu buat cepat-cepat nikah.”
Perasaan Ishaan malah semakin tidak enak. “Kalau terbukti Dareen selingkuh, Mbak mau tahan aku lebih lama di Jakarta?”
“Kamu tetap aku izinkan balik ke Jerman.” Tatapan Tanisha menggelap. “Terus, aku bakal ceraikan Dareen dan ambil alih perusahaan. Lalu, aku buktiin ke kamu kalau aku sanggup pikul tanggung jawab sebagai ahli waris keluarga Marlon.”
Pernyataan itu membuat Ishaan merinding. Sekali lagi, Tanisha adalah bukti bahwa perempuuan bisa jadi mahluk paling menakutkan. Demi menjaga kewarasannya dan masa depan Haikal, Ishaan setuju untuk pulang ke Indonesia begitu Micah terbang ke Frankfurt untuk menggantikannya.
Sekonyong-konyong, Ishaan teringat sesuatu. Perjanjian. Tiga bulan. Sebuah potongan dari masa lalunya mencuat, tetapi cepat-cepat dia tenggelamkan sebelum menyeretnya ke dalam lautan kenangan.
***
__ADS_1
*Uak adalah kata sapaan untuk kakak dari pihak ayah atau ibu, sering dijumpai dalam percakapan bahasa Sunda