Aku Bukan Simpanan Bosku

Aku Bukan Simpanan Bosku
Saat Atasan Minta Servis Lebih


__ADS_3

“AGNI, kamu masih perawan?”


Ishaan bukan orang pertama yang menanyakan topik itu pada Agni. Dua tahun lalu, Shia melontarkan hal yang sama setelah dia menuntaskan kencan bersama seorang pria yang usianya hampir menyentuh kepala empat. Mengapa sang sahabat mempertanyakan kesuciannya?


“Eh, sori, kalau pertanyaan gue nyinggung lo,” Shia meneruskan saat menangkap kebingungan di wajah Agni. “Cuma, lo, kan, udah kenal gue dan side job gue. Termasuk segala konsekuensi yang gue terima. Gue pengin tahu aja pandangan lo tentang ‘mahkota suci’ perempuan.”


Agni menggumam. “Gue masih perawan.”


“Belum pernah main sama cowok? At least ciuman atau make out, tapi yang enggak sampai buka baju.”


Setiap hari, Agni harus menghadapi kekasaran sang ibu tiri. Belum lagi ayah tirinya yang mata keranjang bikin Agni gugup berdekatan dengan pria.


“Boro-boro, Shi. Bisa ganti baju di rumah aja gue bersyukur.” Agni selalu parno ayah tirinya bakal mengintip dari lubang-lubang tersembunyi. “Tumben lo tanya beginian sama gue.”


Shia mengeluarkan sebatang rokok. Dia minta izin pada Agni untuk menyulutnya dan sang sahabat mengangguk pelan. “Hari ini, gue resmi bukan perawan lagi.”


Mata Agni mengerjap. Bagaimana dia harus menanggapinya? Dari caranya bicara, Shia sakan-akan tak peduli dia perawan atau tidak. Di sisi lain, kalau dia sudah membuka diskusi dengan topik berat dan dalam, Agni yakin sahabatnya butuh semacam… validasi atau pembenaran atas keputusannya.


“Lo,” Agni menggaruk kepalanya yang tak gatal, “lo enggak dipaksa buat ‘menyerahkannya’, kan, sama klien hari ini?”


“Bukan sama dia, Ni.” Respons Shia semakin mengejutkan Agni. “Si Om Mamat cuma minta ditemenin dinner sama mampir ke pameran di Kasablanka. Beres itu, gue ketemu orang lain. Kenalan baik, di hotel. Awalnya ngobrol, terus tiba-tiba udah masuk kamar. Terjadilah, hehe.”


“Tetep enggak ada paksaan, kan?” Agni ingin memastikan Shia baik-baik saja.


“No, no pressure. Kami udah lama membahasnya. Lo tahu sendiri gue bukan tipe cewek alim yang bakal jaga kehormatan bla bla bla sebelum nikah.” Shia tertawa hambar. “Catatannya cuma satu, gue melakukannya sama orang yang tahu consent. Kebetulan cowok ini cocok sama kriterianya, jadi gue enggak bakal nyesel.”


Agni enggan berkomentar jauh. Dibandingkan dirinya, Shia sudah punya pengalaman dalam kasus hubungan kasual. Dia hanya berharap Shia terus hati-hati supaya tidak kelewat batas dan jatuh ke jurang dalam.


“Lo sendiri gimana, Ni?” Shia mematikan puntung rokoknya. “Sampai sekarang masih perawan karena nunggu momen atau belum ketemu orang yang pas?”


Pertanyaan itu hingga sekarang belum menemukan jawaban pasti. Sama seperti Shia, Agni bukan seseorang yang religius. Latar belakang keluarga yang berantakan bikin Agni pesimis buat menjalin komitmen serius. Makanya, dia tak terlalu memusingkan kalau nanti jadi perawan tua.


Mendiang ayahnya pun belum pernah menyinggung hal tersebut. Bahkan saat Agni mendapatkan menstruasi pertama, dia diajak berkonsultasi ke dokter kandungan. Kata sang ayah, dokter punya kapasitas tepat buat menjelaskan perubahan tubuhnya dan hal-hal yang harus dia antisipasi.


Kini, pertanyaan itu kembali diajukan oleh orang berbeda. Oleh atasannya yang terang-terangan mempertimbangkan servis plus yang sempat dia tanyakan. Agni tidak kaget Ishaan bakal membahasnya, toh dia ambil pekerjaan ini dari jalur alternatif.


Masalahnya, apa Agni siap memberikan ‘layanan’ itu?


*

__ADS_1


“Pertanyaanku terlalu to the point, ya? Kamu juga belum respons soal servis plus tadi.” Ishaan menyeringai. “Aku tak bermaksud bikin kamu kurang nyaman, Agni. I’m aware you haven’t dated anyone, but I’m curious—”


“Saya belum pernah tidur dengan pria mana pun, Tuan,” sambar Agni cepat. “Soal servis itu—saya hanya bingung. Saya pikir Tuan tak akan memintanya.”


“Belakangan aku memikirkanmu.” Dari cara Ishaan bicara, Agni yakin pikiran yang dimaksud bukan soal performa kerjanya. “Confession time: aku bukan pria ‘baik-baik’. Mungkin kamu punya dugaan itu saat aku bertemu Lea di Berlin. Kamu juga tahu aku tak punya rencana menjalin komitmen serius. By that mean, sampai ke jenjang pernikahan.”


Benar, Agni sudah menduganya. Bukan hal mengejurkan kalau Ishaan meniduri banyak perempuan. Apalagi dengan posisinya sebagai petinggi sebuah perusahaan, adalah hal mudah bagi Ishaan buat menaklukan kaum Hawa.


“Lalu,” Agni meremas lutunya, “apa yang ingin Tuan lakukan bersama saya?”


Ishaan melongo mendengar pertanyaan tadi. “Agni, are you sure? Aku dengar ada banyak perempuan yang menjaga kesucian mereka sampai bertemu The One—”


“Sama seperti Tuan, saya tak pernah memikirkan untuk membina hubungan serius. Terutama setelah,” ada jeda sejenak sebelum melanjutkan, “saya menyaksikan kehancuran rumah tangga mendiang ayah saya. Jadi, saya mungkin bakal menjadi perawan tua atau….”


Agni memutus kalimat tadi. Kata-kata Shia terngiang dalam benaknya. Menilai dari caranya memperlakukan Agni, Ishaan pasti tahu akan konsensual berhubungan. Jika mereka akhirnya tidur bersama, yang juga bakal melepas status keperawanan Agni, paling tidak semuanya dilakukan atas kesadaran kedua belah pihak.


“Sekuat apa pun aku menginginkannya, kalau kamu belum siap atau bimbang, aku memilih menghindarinya” Suara Ishaan melembut. “Aku tak mau tindakanku malah merusak masa depanmu. Kamu masih muda. You’re a good girl.”


Kaki Agni seketika lemas kala mendengar Ishaan berkata you’re a good girl. Ada sensasi yang bikin tubuhnya panas dingin.


“Malam sudah turun. Kita harus istirahat, ada meeting besok pagi, kan?” Ishaan beranjak dari kursi. “Seandainya kamu tidak mau lagi membahas topik tadi, just say it. Aku janji bakal menjauhinya.”


Keduanya masuk ke kamar, tetapi mereka sama-sama terjaga sebelum akhirnya terlelap menjelang fajar datang.


*


Paginya, Agni nyais terjatuh dari tempat tidur gara-gara dibangunkan alarm.


Gawat, gue belum sempet manasin supnya! Buru-buru, Agni membuka pintu kamar untuk menyiapkan sarapan. Betapa terkejutnya dia kala mendapati Ishaan tengah mengaduk sup dengan mengenakan setelan kerja lengkap.


“Tuan,” Agni menghampirinya, “biar saya—”


“Mandi dulu sana, aku tunggu buat sarapan bareng,” perintah Ishaan yang segera Agni patuhi.


Memalukan! Ketepatan waktu adalah hal yang Agni banggakan dari dirinya. Dari bangku sekolah, lalu sampai menyambi pekerjaan, belum pernah dia mencoreng rekor tersebut. Hari adalah perdana Agni melakukannya. Ketahuan Ishaan pula.


Akan tetapi, Ishaan juga ambil bagian dalam keterlambatan Agni. Percakapan semalam membuatnya sulit tidur sampai terjaga berjam-jam.


Tenang. Fokus. Jangan sampai dia bikin lo mati kutu, Agni, rapalnya saat merias wajah. Sekali lagi, Agni mematut blazer cokelatnya, lalu berjalan keluar kamar.

__ADS_1


Ishaan menepati janji. Dia belum menyentuh sarapannya walau Agni yaknin dia menghabiskan waktu cukup lama buat mandi dan berdandan. Ditariknya kursi, lalu duduk berhadapan dengan pria itu.


Mereka bertukar pandang. Canggung.


Keduanya menikmati sarapan dalam diam. Agni yang selesai terlebih dulu berinisiatif mencuci mangkuk dan gelas kotor. Ishaan membiarkannya, lalu menyeduh secangkir kopi selagi Agni membersihkan perlengkapan makan.


Saat Agni mengeringkan tangan, Ishaan mendekatinya. Gadis itu mengira Ishaan akan memintanya bersiap bekerja. Nyatanya, pria itu merunduk sampai hidung mereka hampir bersentuhan.


Agni memegangi pinggiran nak cuci piring. “M—Maaf, saya terlambat bangun, Tuan.”


“Siapa yang mau membahas kamu yang telat bangun?” Salah satu sudut bibirnya terangkat. “Sebelum kita pergi kerja, aku ingin bahas percakapan kita semalam.”


“Ada masalah? Apa saya menyinggung perasaan Tuan?”


“No, you didn’t.” Ishaan mengangkat dagu Agni agar tatapan mereka bertemu. “Semalam kamu tanya, apa yang ingin kamu lakukan bersamaku, bukan?”


Agni mengangguk pelan.


“Aku punya jawabannya, tapi aku sekali lagi ingin memastikan kamu siap.”


Perut Agni terpuntir. Bedanya bukan karena sakit perut, melainkan hadirnya gejolak yang belum pernah dia rasakan.


“Saya siap, T—”


“Untuk urusanl ini, kamu bisa sebut namaku” pria itu menegaskan. “Pakai Tuan saat kita berada di situasi formal.”


Lagi, Agni mengangguk.


“Sebut namaku.”


Semestinya ini mudah, tetapi Agni bak kehabisan udara kala menarik napas untuk menyebut namanya.


“Ishaan.”


“Good.” Jemari Ishaan bergerak pelan menangkupi salah satu sisi wajah Agni. Sementara ibu jarinya menyapu lembut bibir bawah gadis itu sebelum dia bertanya,


“Boleh aku menciummu, Agni?”


***

__ADS_1


__ADS_2