Aku Bukan Simpanan Bosku

Aku Bukan Simpanan Bosku
Terjebak Permainan Sendiri


__ADS_3

ISHAAN berusia 12 tahun saat menerima ciuman pertamanya.


Tentu bukan tipe ciuman penuh gelora, hanya sapuan sekejap dari teman sekelas yang menyatakan perasaan di Hari Valentine. Klasik. Ishaan lupa siapa nama gadis itu, yang dia ingat hanya rambut pirang pendek dan pipinya yang memerah bak tomat. Setelah kejadian itu, sang gadis malah mengabaikannya sampai Ishaan kembali ke Jakarta.


Hampir dua dekade lamanya memori itu terkubur dalam ingatan Ishaan. Tak ada yang spesial dari ciuman pertamanya. Momen itu hanya jadi gerbang dari sekian kecupan yang dia tinggalkan pada perempuan-perempuan yang singgah sebentar dalam hidupnya.


Namun, Agni menawarkan pengalaman berbeda pada Ishaan.


Dari cara Agni merespons sentuhan, Ishaan dapat menebak gadis itu belum berpengalaman. Bukan sesuatu yang Ishaan pusingkan, dia bisa membimbing Agni untuk mengikuti ritmenya. Sama seperti yang dia lakukan pada perempuan-perempuan yang mengaku belum pernah terlibat dalam kontak fisik.


Namun, betapa terkejutnya Ishaan saat Agni merengkuh wajahnya begitu bibir mereka kembali bertemu. Seolah tak ingin menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Ishaan menyambutnya; memperdalam kecupan mereka. Sayangnya, tepat saat Ishaan hendak menelusuri leher Agni, ponselnya berdering.


Aduuh, kentang banget! Makinya dalam hati.


Agni serta-merta melepas pelukan, lalu bergegas masuk kamar. Sementara Ishaan merogoh saku jasnya sambil menggerutu. Rupanya hanya reminder. Mereka harus segera menemui klien yang pasti sudah berada di perjalanan.


“Tuan, kita harus pergi sekarang.”


Di hadapannya, Agni kembali bersikap profesional. Bahkan pandangannya tertuju lurus pada Ishaan. Luar biasa. Ishaan sampai bertanya-tanya, bagaimana mungkin Agni dapat mengendalikan dirinya secepat itu?


Akan tetapi, Ishaan sedang dikejar pekerjaan. Biarlah pertanyaan itu dia simpan sampai mereka punya waktu berduaan lagi.


*


Pertemuan hari ini berjalan cukup lancar walau Ishaan nyaris kehilangan kontrol setiap kali beradu pandang dengan Agni. Hal ini membuktikan dua hal: satu, Agni punya daya pikat kuat di balik penampilan simpel dan sikapnya yang lugu. Dua, Ishaan meremehkan pengalaman Agni yang, mengutip sang sumber langsung, belum pernah pacaran.


Mungkin Agni sama sepertiku, cuma cari kesenangan fisik tanpa berkomitmen. Cepat-cepat Ishaan mengusir asumsi bodoh itu. Antara marah pada dirinya sendiri dan tak ingin membayangkan Agni melakukannya bersama pria lain.


“Kita mau makan siang di mana, Tuan?” tanya Agni setelah pertemuan kedua selesai. “Kita punya satu jam sebelum bertemu klien ketiga.”


Mata Ishaan menyapu kafe dan restoran yang mereka lewati. Berdekatan dengan Agni membuatnya kurang berselera menyantap makanan porsi besar. “Aku pengin cinnamon roll. Kalau kamu pengin makan siang biasa, kita pesan take away.”

__ADS_1


“Saya belum terlalu lapar. Pastry tak masalah.”


Maka, Ishaan mengajaknya masuk ke bakery di ujung blok. Sementara Agni menempati meja di samping jendela. Ishaan memesan dua cinnamon roll ukuran besar. Setelah membayar, Ishaan membawa pesanan ke meja yang Agni jaga.


Di semesta lain, saat ciuman itu tak pernah terjadi, Ishaan pasti akan berbincang santai bersama Agni sembari menikmati makan siang. Kenyataannya, mereka sama-sama sibuk memikirkan sesuatu. Barangkali hanya Ishaan yang merasakan, sebab Agni sibuk mengatur jadwal dan notula dari pertemuan-pertemuan sebelumnya.


Ishaan mengetukkan kakinya. Gelisah. Dia harus segera mengambil tindakan.


“Apa ada masalah, Tuan?” Agni melirik ke bawah meja. Pasti dia terganggu mendengar kakinya berderap cepat. “Tuan mau ke toilet?”


Bukan, aku mau menerkammu, batinnya. “Akhir pekan ini kamu sibuk bimbingan sama dosen?”


Agni termenung sesaat. “Dosen saya kebentulan mau umrah. Beliau minta jadwal bimbingan lanjut dua atau tiga minggu lama.”


“Berarti, jadwalmu kosong?” Semesta ternyata sedang mendukung Ishaan.


“Ya, saya paling cuma merapikan bagian yang kemarin kena catatan revisi.”


Sejenak, Agni tampak bimbang, tetapi akhirnya dia mengiayakan lewat anggukan. “Boleh saya tahu Tuan mau pergi ke mana?”


Sesungguhnya, Ishaan belum punya rencana ke mana dia akan pergi. Dia hanya mencari alasan untuk berduaan bersama Agni tanpa terikat pekerjaan. Namun, bukan hal sulit baginya menentukan tempat, ini bukan pengalaman pertamanya berkelana di Paris.


“Nanti kuberitahu. Habiskan dulu cinnamon roll-mu,” perintah Ishaan. “Aku mau ke toilet sebentar. Sepuluh menit lagi kita pergi.”


*


Selepas pertemuan ketiga, Ishaan mengajak Agni makan malam di sebuah chinese restaurant. Memang, mereka punya stok bahan makanan yang cukup sampai akhir pakan. Masalahnya, Ishaan kurang yakin dia mampu mengendalikan diri begitu dia dan Agni kembali berduaan di apartemen.


Apalagi jadwal mereka padat sampai lusa. Ishaan perlu menjaga kewarasannya kalau tak mau bisnisnya kacau sebelum berkembang.


“Kakakku suka nasi hainan. Dia jago bikin juga,” Ishaan membuka pembicaraan kala pelayan mulai menata pesanan. “Kalau kamu pengin coba bikin makanan chinese, aku bakal minta dia kirim resep buat dicoba.”

__ADS_1


Wajah Agni berbinar mendengarnya. “Apa kakak Tuan seorang chef?”


“Bukan. Dia sebenarnya yang pegang perusahaan. Cuma karena kurang tertarik sama bisnis, suaminya yang urus.”


Agni menggumamkan oooh singkat. “Saya kira Tuan yang jadi CEO di perusahaan itu.”


“Memang tadinya ada pembicaraan yang mengarah ke sana.” Ishaan menunggu pesanan terakhirnya, bebek peking, ditaruh pelayan di meja. “Pada saat itu, aku keburu memegang proyek di Eropa. Lagian, aku kurang nyaman sama atmosfer di Jakarta. Birokrasi ribet, banyak basa-basi juga.”


“Berarti, kita tak akan bertemu lagi begitu trip ini berakhir?”


Entah mengapa, mendengar pertanyaan itu dari Agni menusuk-nusuk hati Ishaan. Apakah ini berarti Agni ingin meneruskan hubungan mereka, entah profesional atau… merambah ke lingkup pribadi?


Ishaan mengedik. “Aku pasti pulang ke Indonesia meski sebentar. Kenapa? Kamu masih pengin bertemu denganku?”


Mungkin hanya efek pencahayaan dan asap yang mengepul dari makanan, Ishaan menangkap semburat kemerahan pada kedua pipi Agni. Gadis itu tak memberikan jawaban, lalu memilih mengalihkan perhatiannya dengan menyantap nasi hainan.


You do. You do still want to see me, Agni. Ishaan mengambil sumpit. Kalaupun pertemuan kita tak berlanjut, akan kupastikan kamu terus mengenang sisa perjalanan kita di Eropa.


*


Jam menunjukkan pukul setengah sepuluh malam saat Ishaan dan Agni tiba di apartemen. Keduanya terlalu kenyang untuk membuka obrolan. Lalu, karena masih ada makanan yang tersisa, Ishaan meminta pelayan restoran membungkusnya. Lumayan untuk sarapan mereka besok.


Agni mengecek dapur, lalu perangkat elektronik untuk memastikan semuanya aman. Gadis itu lantas melangkah menuju kamar. Tangannya siap membuka pintu sebelum dia menengok ke arah Ishaan.


“Selamat beristirahat, Tuan.”


Biasanya, Ishaan membiarkan Agni masuk. Akan tetapi, penderitaan yang dia tanggung seharian masih memerlukan pelepasan. Sebelum Agni melangkah ke dalam kamar, Ishaan menghampirinya, lalu menahan tangan gadis itu.


Agni tersentak, lalu menatap Ishaan. “Maaf, Tuan butuh sesuatu?”


“Ya, aku butuh kamu,” sahutnya yang membuat Agni mendelik kaget. Kemudian, Ishaan menariknya, lalu menunduk hingga hidung mereka hampir bersentuhan. “Malam ini, apa aku boleh meminta lebih dari sekadar ciuman darimu?”

__ADS_1


***


__ADS_2