
“TUAN—”
“Ishaan.”
“Ishaan,” ulang Agni, “bagaimana kalau ada yang melihat?”
“Aku jamin kita aman, sebagian besar pekerja di sini pasti masih makan siang,” Ishaan memastikan. “Salahmu sendiri yang mulai. Aku tak bisa mundur lagi.”
Agni membekap mulut; menahan pekikan kala Ishaan membaringkan tubuhnya di ranjang. Walau pria itu memastikan paviliun jauh dari mata dan telinga yang penasaran, dia tetap was-was. Apalagi ranjang di kamar menghadap pintu kaca yang hanya ditutupi gorden putih menewarang.
“Sebentar.” Tangan Agni menahan pundak Ishaan yang siap meneruskan ‘pertempuran’. “Bisa—apa bisa pintunya ditutup?”
“Itu, kan, ada gorden—”
“Gordennya menewarang. Dari sini, saya bisa lihat kebun anggur,” dalih Agni. “Bagaimana kalau Paman Albert….”
Ishaan akhirnya menuruti keinginan Agni. Ditariknya tirai lapis kedua yang lebih tebal. Seketika ruangan menggelap. Hanya jendela di dinding samping yang menyuplai cahaya. Agni belum sepenuhnya memproses interior kamar itu kala Ishaan merankak mendekatinya.
“Kita sampai di mana tadi?” Satu per satu, Ishaan membuka kancing dress Agni. Memacu cepat detak jantungnya. “Sebelum melanjutkan, aku ingin memastikan satu atau dua hal. Apa kamu benar-benar yakin dengan keputusanmu?”
Agni merasakan tubuhnya memanas. “Saya yakin. Saya siap.”
“Aku akan bermain lembut, Agni. Seandainya kamu kurang nyaman atau aku kelewat batas, tolong jangan sungkan untuk menghentikanku. And I’ll do the same in case it happens to you.”
“Saya mengerti.”
“Good girl.”
Agni bersumpah jantungnya nyaris melompat keluar saat Ishaan melancarkan serangan. Dari leher, dada, lalu ke perut. “Relaks, Agni,” bisiknya kala menyadari tubuhnya yang menegang. “Katakan saja kalau kamu ingin aku berhenti,” pria itu meneruskan.
Sebenarnya, Agni bingung. Tadi, dia yang berinisiatif memulai, sekarang malah bimbang. Namun, tubuhnya sulit berbohong. Dia menikmati setiap sentuhan yang Ishaan tinggalkan. Saat bibirnya meloloskan ******* yang sedari tadi ditahan, Agni sadar dia menginginkan Ishaan.
“You’re a mess. A pretty mess.” Komentar Ishaan tadi entah mengapa malah menimbulkan sensasi menggelitik di sekujur tubuh Agni. “Can I take off your pretty dress?”
Jangankan bicara, memfokuskan dirinya untuk tetap sadar saja Agni kesulitan. Hal terakhir yang dia ingat adalah tangan Ishaan yang dengan cepat melucuti setiap helai kain yang membungkus kulitnya, lalu membuainya dalam perjalanan yang tak akan pernah dia lupakan.
*
“Waktu lo lepas… ‘mahkota’,” Agni melirik kanan-kiri, memastikan tak ada yang menguping pembicaraan, “sakit enggak?”
Shia terkekeh mendengar pertanyaan sahabatnya. “Santai, Ni. Kita bukan lagi bahas dokumen rahasia pemerintah. Umh, kalau soal sakit, tergantung. Soalnya ada tuh temen gue yang katanya lancar-lancar aja. Pacarnya jago pemanasan, makanya dia enggak tertekan. Kalau kasus gue emang agak sakit, tapi malah keterusan.”
__ADS_1
Pipi Agni menghangat mendengarnya. “Berdarah?”
“Itu juga relatif, kondisi tubuh cewek beda-beda,” sahut Shia. “Dalam kasus gue, cuma bercak.”
Agni manggut-manggut. “Jadi ada faktor juga dari pasangannya.”
“He-eh. Kalau lo dapat pasangan yang sabar dan pengertian, pengalaman pertamanya pasti… enak,” ujar Shia. “Kalau cuma mikirin nafsu, ya jangankan bikin lo ‘naik’, yang ada lo males duluan.”
Ishaan jelas bukan tipe kedua.
“Kamu sudah bangun.”
Agni terkesiap mendengar suara itu. Di sampingnya, Ishaan menatap dari balik selimut. “Butuh sesuatu?”
Sambil menunggu kesadarannya terkumpul, Agni memindai kamar itu. Tirai masih menutupi pintu kaca, tetapi ruangan lebih gelap. Suhu juga terasa sejuk. Perlahan, Agni meraba-raba tubuhnya. Polos. Dia memang sedang tak bermimpi.
“Sudah berapa lama kita di sini?” tanya Agni.
“Dua atau tiga jam. Sebentar lagi, Paman Albert menyiapkan makan malam.”
“Apa kita—”
Ishaan menempelken jarinya pada bibir Agni. “Tenang, pamanku pasti maklum. Selama kebunnya aman dan paviliunnya dibereskan lagi, dia tak akan senewen.”
“Aku belum benar-benar melakukannya sama kamu, tapi kamu bengong terus, bikin aku was-was,” celetuk Ishaan. Sebentar, apa maksudnya belum? “Apa perlu aku tunaikan sekarang….”
“Tunggu, tadi bukannya—yang tadi masuk—”
“Kesadaranmu sejauh itu hilangnya?” Pria di sampingnya tertawa singkat. “Aku hanya bermain dengan jari. Tadinya memang untuk warming up, tapi begitu lihat kamu lepas sehebat itu, lalu tertidur, aku ikut mengakhirinya.”
Wajah Agni panas mendengar penjelasan Ishaan. “Maaf, saya—pasti memalukan.”
“Memalukan apa? Belum pernah aku… mengalami hal tadi.” Sorot Ishaan berbinar. “Kalau di tahap pemanasan sudah fantastis, aku tidak bisa membayangkan saat kita masuk ke permainan sesungguhnya.”
“Jadi, saya tidak memalukan?”
“This was your first time. Canggung dan malu adalah hal biasa. Sekali lagi, buatku kamu… menakjubkan.”
Agni hendak memprotes sebelum Ishaan membungkamnya dengan ciuman. Tubuhnya bereaksi lagi, tetapi dia terlalu lelah dan mengantuk. Ishaan, menyadari hal itu, melepas kecupannya perlahan.
“Kita bersih-bersih dulu, ya,” katanya sembari mengelus pipi Agni. “Setelah itu, kita kembali ke rumah Paman Albert.”
__ADS_1
**
Ishaan menyaksikan mimpinya di Roma menjadi kenyataan.
Mewujudkan, lebih tepatnya.
Berhubungan dengan perempuan yang mengaku masih perawan lebih menegangkan daripada bersama mereka yang berpengalaman. Ishaan tak mau momen intim itu berubah jadi petaka, apalagi menciptakan trauma mendalam. Jangan sampai namanya terseret dalam kasus kriminal yang merusak reputasinya bertahun-tahun.
Maka bersabar menjadi kunci Ishaan saat Agni memberi lampu hijau. Alih-alih masuk ke permainan utama, dia memilih memperpanjang sesi pemanasan untuk mengecek kesiapan Agni. Memang keputusan yang cukup menyiksa, tetapi paling tidak, Ishaan tahu ke mana harus membimbing gadis itu.
“Sandal saya di mana, ya?” Keluar dari kamar, Agni mondar-mandir mencari alas kakinya. “Terakhir dilepas sebelum atau sesudah masuk kamar….”
“Cari ini?” Ishaan, yang sedang memasukkan botol-botol wine ke kantung, mengacungkan strap sandals yang Agni cari. “Tadi kutemukan di sekitar bar.”
“Terima kasih.” Bahkan setelah melewatkan ‘tidur siang’ yang panas, Agni tetap bersikap malu-malu padanya. Gadis itu dengan cepat mengambil sandal, lalu mengenakannya. “Apa masih ada yang perlu diambil sebelum kita keluar?”
“It’s all I take.” Ditepuknya kantung berisi botol-botol wine. “Ada yang non-alcoholic juga buatmu. Kebetulan paman bilang bakal bikin steak malam ini, cocok dipadukan bersama anggur.”
Setelah memastikan kamar rapi dan bersih, lalu tak ada barang pribadi yang tertinggal, Ishaan mengajak Agni pulang. Menyusuri lagi kebun anggur yang terlihat berkilau di bawah cahaya jingga keemasan sang surya. Berbeda dari perjalanan menuju paviliun, mereka tak terlibat percakapan. Ishaan memaklumi, dia perlu memberikan Agni ruang untuk mencerna apa yang mereka lakukan siang tadi.
Apa pun keputusan yang Agni ambil, Ishaan tak akan memaksakan kehendaknya.
*
Aroma rempah dan desisan daging menyambut kedatangan Ishaan dan Agni. Tanpa basa-basi, Agni menawarkan diri membantu Albert, tetapi sang paman menolak. Dia malah meminta keduanya membersihkan diri sebelum makan malam.
Ishaan mengerjap. Sejak siang dia dan Agni keluyuran, tetapi pamannya tak menaruh curiga?
“Aku bawa tiga botol wine, Paman.” Ishaan sengaja menunggu Agni naik duluan untuk mengajak Albert basa-basi. “Sampel yang buat club-ku di-packing ke alamat yang kukirim nanti.”
“Kupastikan kamu dan Micah dapat wine terbaik.” Sang paman memasukkan daging ke dalam oven. “Sana, ganti bajumu. Kalian berdua bau matahari.”
Entah Albert yang tak tahu atau pura-pura tak tahu, Ishaan memilih mematuhi perintahnya. Lagi pula, perutnya sudah berontak ingin makan, meminta energi yang terbuang untuk memuaskan Agni.
Tepat saat Ishaan mencapai puncak tangga, Agni keluar dari kamar. Dress-nya berganti kaus lengan pendek dan jogging pants. Mereka bersitatap cukup lama sampai Ishaan lupa dia perlu mengganti pakaiannya juga.
“Ishaan.” Panggilan Agni hampir membuat Ishaan tersandung. “Terima kasih.”
“Untuk apa?”
“Untuk jamuan wine-nya, lalu di paviliun,” sahut Agni, tersipu. “Terima kasih sudah menunggu saya dulu sebelum… melakukannya.”
__ADS_1
Ishaan termangu, bahkan membiarkan Agni berlalu menuruni tangga. Apa dia lega? Tentu. Namun seharusnya, dia juga tak merasakan reaksi lain yang kini merambati tubuhnya. Reaksi ganjil yang sulit dideskripsikan dengan kata-kata.
***