
“BERLIN dan Frankfurt adalah kota-kota dinamis. Jadwal kita di sana lebih padat dibandingkan tempat-tempat sebelumnya. Kuharap kamu bisa mengikuti setiap kegiatan di sana dengan baik.”
Pesan Ishaan tersebut melekat kuat dalam benak Agni. Maka sebelum sampai di Berlin, dia menyempatkan diri untuk menggali informasi seputar kota tersebut. Dari lingkungan apartemen yang mereka tempati, rute transportasi publik, kafe dan restoran terdekat, sampai nomor-nomor darurat yang dapat dia hubungi.
Saat tiba di stasiun, seorang pria berpakaian rapi menghampiri Agni dan Ishaan. Dia menyapa mereka dalam bahasa Jerman, lalu meminta keduanya ikut ke area pakir. Agni tercengang saat pria tadi membukakan pintu mobil hitam yang mewah dan mengisyaratkan mereka untuk masuk.
“Nanti kujelaskan di apartemen,” kata Ishaan, seolah-olah dapat membaca kebingungan Agni. Kemudian, dia mengatakan sesuatu pada sang pria yang juga menjadi supir mereka dalam bahasa Jerman. Tak lama berselang, mereka memasuki drive thru restoran steak untuk memesan makan siang.
Apartemen yang Ishaan pilih berada di dekat pusat kota. Di sana, ada empat pelayan, masing-masing dua perempuan dan laki-laki, yang menyambut Agni dan Ishaan saat memasuki bangunan. Barang-barang mereka lantas dibawa ke lantai lima yang juga merupakan lantai paling atas di atas.
“Enjoy your stay,” ujar seorang staf perempuan, kali ini dalam bahasa Inggris.
Agni mengikuti Ishaan masuk ke apartemen. Luar biasa, meski desainnya minimalis, pilihan warna, elemen, dan perabotnya sangat berkelas. Satu hal yang membuat Agni takjub adalah pencahayaan maksimal dari jendela panjang di ruang tengah.
“Apartemen ini milik keluargaku, lebih tepatnya dari pihak Mama,” ucap Ishaan. “Dulu, kami pasti menginap di sini kalau sedang liburan atau family gathering. Sekarang hanya dijadikan tempat singgah. Lantai-lantai dibawah disewakan untuk wisatawan dan klien bisnis.”
Pantas saja mereka dapat treatment berbeda. “Keluarga Tuan berasal dari Jerman?”
“Memangnya wajahku kurang kelihatan Eropa, ya?” seloroh Ishaan.
Sejak kali pertama bertemu, Agni sempat dibuat penasaran dengan garis keturunan keluarga Ishaan. Pria itu punya fitur wajah tegas, terutama hidung bangir dan garis rahang yang kuat. Belum lagi tubuhnya yang tinggi menjulang. Namun, kulitnya cenderung cokelat. Iris matanya juga berwarna cokelat kehitaman.
“Saya tidak terlalu memikirkan hal itu.” Agni tak mau dianggap terlalu kepo.
“Ibuku keturunan Jerman-Maroko. Mendiang ayahku dari Indonesia, tapi dia sering cerita kakeknya orang Korea.” Mungkin hal itu juga yang menjelaskan bentuk mata Ishaan yang agak menyipit. “Bisnis yang sedang kukelola sekarang sebenarnya berasal dari keluarga Mama, tapi sejak menikah diambilalih mendiang ayah.”
Agni manggut-manggut. Jujur saja, dia belum mengulik lebih jauh tentang profil perusahaan yang dikelola keluarga Marlon. Namun sepanjang mengikuti Ishaan dan mempelajari gaya hidupnya, Agni yakin mereka berasal dari kalangan old money.
“Aku mau ganti baju dulu.” Ishaan membuka pintu kamarnya. “Nanti ada pelayan yang antar makan siang yang kubeli tadi. Tolong ditata, ya.”
Tak lama setelah pintu kamar Ishaan tertutup, bel pintu utama berdering. Agni berjalan cepat membukanya, lalu mempersilakan pelayan memasukkan troli berisi dua porsi wagyu tenderloin steak. Sambil menata makan siang di meja, Agni membayangkan hari-hari yang akan dilewatinya di Berlin dan Frankfurt.
Entah mengapa, Agni merasa dia akan melihat sisi yang selama ini Ishaan sembunyikan darinya di sini.
*
__ADS_1
Omong-omong soal old money, Agni teringat cerita Shia tentang perjalanannya bersama Om Pram. Selama lima hari empat malam, sahabatnya diajak berkelana ke berbagai tempat di Indonesia. Dari Yogyakarta, Bali, Lombok, sampai Raja Ampat. Selama itu pula, pria itu tak pernah menyentuh Shia.
“Macem-macemlah gue diajak nonton pentas seni, mampir ke pameran, makan di restoran mewah. Dikasih baju-baju bagus juga,” Shia menjelaskan lewat video call saat itu. “Terus sebelum pulang ke Jakarta, dia kasih gue cek dua ratus juta. Tapi, kalau mau cairin ceknya, gue cuma boleh datang ke bank yang dia tunjuk.”
“Lo enggak pernah tanya keluarga atau dia kerja apa gitu?”
“Kagak, dia punya aturan soalnya. Enggak boleh tanya identitas, keluarga, atau pekerjaan. Dia cuma pengin dipanggil Om Pram.” Wajah sang sahabat tiba-tiba menjadi sedih. “Di perjalanan pulang, supir yang nganterin gue akhirnya cerita kalau Om Pram yang juga atasannya itu lagi sakit keras. Dokter bilang peluang hidupnya tinggal sebulan atau maksimal dua bulan.
“Om Pram udah berkali-kali kontak anak-anaknya buat dateng dan nemenin dia, tapi mereka sibuk atau apalah. Banyak alasannya. Saking kesepian, dia akhirnya ambil cara alternatif buat kontak cewek panggilan kayak gue.”
Cerita Om Pram membuktikan bahwa kekayaan kadang tak selamanya mampu memenuhi semua kebutuhan manusia. Dalam kasus pria itu adalah bertemu dengan anak-anaknnya. Sementara dalam kasus Agni, harta malah membutakan hati nurani sang ibu tiri.
“Gue masih kepikiran sama Om Pram. Sayang gue enggak bisa kontak mereka lagi,” ujar Shia. “Nomor yang dipakai buat kontak gue udah enggak aktif.”
“Ceknya gimana? Bisa lo pake?”
“Beres bangun sama makan siang tadi, gue langsung ke bank. Mereka bisa cairin, terus nawarin gue buat simpan di tabungan. Ya udah gue proses, sekalian jadi nasabah di sana.”
Selain itu, Shia menepati janjinya: dia akan pensiun dari side job-nya yang menantang. Bahkan sang sahabat sudah mencari informasi kelas karyawan di beberapa kampus, termasuk tempat Agni kuliah, buat meneruskan pendidikannya.
“Saya sempat dry clean sekali, Tuan.” Agni jadi penasaran, apa sebentar lagi dia akan mengenakan gaun cantik itu?
“Minggu depan, kita akan menghadiri pesta di Frankfurt. Klien perusahaanku yang menyelenggarakannya. Lusa, kamu kasih gaun itu ke pelayanku buat dry clean ulang sekalian dirapikan.”
Saat Ishaan berlalu ke kamarnya, Agni mengeluarkan tablet untuk memeriksa email sekaligus memasang reminder terkait gaun. Agni hendak meneruskan pekerjaan kala Ishaan keluar kamar dan menghampirinya.
“Pekerjaanmu masih banyak?”
“Saya baru buka dokumen yang Tuan kirim ke email.”
Ishaan mengusap-usap bagian belakang lehernya. “Kerjakan saja nanti. Aku mau minta kamu melakukan hal lain.”
Deg! Dari caranya bicara, Ishaan sepertinya akan meminta hal di luar pekerjaan.
“Apa yang bisa saya bantu?”
__ADS_1
Pria itu berdeham, lalu mencondongkan tubuhnya. “Bisa kamu pakai gaunnya sekarang? Aku mau cek apakah warna dan desainnya sesuai dengan setelan jasku.”
Mendadak, pipi Agni menghangat. Permintaan itu terdengar tak mencurigakan, tetapi membayangkannya bersanding dengan Ishaan dalam busana formal yang berkelas membuatnya—ah, Agni tak tahu harus berkata apa.
“Agni? Ada masalah?” Ishaan terdengar cemas.
“Tidak, Tuan. Sebentar, saya ke kamar dulu untuk ganti pakaian.”
*
Gaun itu, model off shoulder dengan kain sifon yang ringan, jatuh sempurna di tubuh Agni. Sayangnya, Agni kesulitan menutup ritsleting di bagian belakang gaun. Dia juga tak mau merusaknya mengingat harganya yang setara biaya hidupnya di Jakarta selama seminggu.
“Agni, kamu sudah siap?” Ishaan berseru. “Aku menunggu di luar.”
Agni menggumamkan umpatan. Seharusnya dia meminta salah satu pelayan perempuan Ishaan untuk membantunya. Tak mau membuat Ishaan menunggu lama-lama, Agni lantas menyambar sweter untuk menutupi bagian atas tubuhnya.
“Tuan,” Agni melangkah keluar kamar, “maaf, saya tidak bisa menarik ritsleting belakang gaun, jadi saya pakai sweter.”
Di hadapannya, Ishaan berdiri gagah mengenakan three piece suit warna hitam dengan aksen hijau yang selaras dengan gaunnya. Sejenak, Ishaan memandanginya keheranan, tetapi langsung memahami situasi yang terjadi.
“Biar aku bantu tarik ke atas,” Ishaan menawarkan.
Agni semakin gugup. “Saya—saya coba sekali lagi.”
“Agni, aku bakal tutup mataku. Kita berdiri di depan di cermin supaya kamu bisa melihat buktinya.”
Mereka berpandangan sejenak. Ishaan bahkan menjaga jarak sebelum Agni memberikan keputusan. Insiden di Roma semestinya meyakinkan Agni kalau Ishaan adalah pria baik-baik. Paling tidak untuk sementara ini. Namun, bersentuhan dengan pria, meski tak sengaja, selalu mengingatkan Agni pada kejadian-kejadian buruk sebelum dia diusir dari rumah.
“Tuan—” Agni menarik napas. “Apa Tuan bisa panggilkan saja salah satu pelayan perempuan untuk membantu saya?”
Tanpa diduga, Ishaan mengangguk cepat. “Sebentar, aku panggil dia dulu. Kamu bisa kembali ke kamarmu.”
Sepuluh menit kemudian, Agni keluar dari kamar bersama pelayan yang Ishaan panggil. Dia beradu pandang lagi dengan pria itu, lalu keduanya mengembangkan senyum. Sama-sama saling mengagumi.
***
__ADS_1