
“NI, gue lagi jalan ke Bandung.”
“Tumben dadakan, gue enggak sempet beres-beres kamar.”
“Gue enggak nginep di rumah Uak Puput, udah booking hotel soalnya.”
Agni bersiul usil. Jarang sekali Shia bermalam di hotel saat mampir ke Bandung. Bahkan saat tempat kerjanya memberi voucher, Shia memilih rumah Uak Puput buat istirahat. “Lo mau ajak gue staycation?”
“Bukan gitu….” Terdengar kebimbangan dalam suara sahabatnya. “Gue ke Bandung buat nemenin seseorang. Dia enggak bilang apa gue boleh kasih tahu lo atau perlu disimpan buat kejutan. Cuma gue pilih cerita dulu aja, deh.”
“Gelagat lo kayak lagi bawa orang penting aja.”
“Emang penting, Agni!” sahut Shia cepat. “Gue pergi sama Ishaan. Dia pengin mampir ke rumah lo.”
Syukurnya, Agni sedang tidak minum atau mencuci piring saat mendengar kabar tersebut. Selepas insiden di kantor, Agni belum bertemu lagi dengan Ishaan. Bahkan pria itu tak mengirim pesan maupun menelepon setelah mereka bertukar nomor. Sekarang, dia malah bepergian bersama Shia… ke rumahnya!
Belum pulih dari keterkejutan, Agni mendapati Shia memutus percakapan karena harus meneruskan perjalanan. Sekitar satu atau dua jam lagi mereka sampai di Bandung. Shia mungkin tak memusingkan sambutan ala kadarnya, tetapi Ishaan? Bagaimanapun, Agni pernah bekerja dengannya, bahkan Ishaan tak sungkan memberi bantuan saat dia kesusahan.
“Uak,” Agni menghampiri Uak Puput di dapur, “Shia mau ke sini sama… temen kerjanya.”
“Aduh, kumaha atuh*?” Uak Puput langsung membuka kulkas untuk mengecek persediaan makanan. “Uak belum belanja bulanan. Kamu ke minimarket dulu, beli roti atau keripik, biar ada yang bisa dimakan.”
Agni lantas meluncur ke minimarket terdekat. Keranjangnya serta-merta terisi kantung-kantung keripik aneka rasa hingga cokelat batang. Kemudian, saat hendak membayar di kasir, mata Agni tertuju pada deretan telur yang sedang didiskon. Seketika, ingatannya terlempar pada sebuah malam di Paris, tepatnya saat dia mengajarkan Ishaan memasak egg drop soup.
“Silakan, Mbak, diskonnya cuma hari ini,” ujar seorang karyawan yang sedang menata nugget. “Kalau beli sama bumbu dapur, ada harga spesial. Lebih hemat dari total harga normal.”
Pada detik berikutnya, Agni mengembalikan camilan ke rak, menggantinya dengan sekilo telur, aneka bumbu dapur, dan tepung maizena. Dia berharap masih ada seikat bawang daun di rumah untuk menyempurnakan supnya. Sehingga kedua tamunya bakal merasakan jamuan yang memuaskan.
*
Uak Puput, yang belum familier dengan egg drop soup, hanya memandangi Agni yang fokus mengolah makanan tersebut. Rebusan di panci yang awalnya berwarna oranye kekuningan mulai berbuih hingga menghasilkan serpihan putih bak awan kala Agni mengaduknya. Aroma rempah nan gurih menarik perhatian Uak Puput, sampai-sampai dia meminta Agni buat mencobanya.
“Kalau dijual di warung, kira-kira laku enggak?” Pertanyaan itu meluncur dari Uak Puput setelah mencicipi kelezatan sup buatan Agni. “Dicoba nanti pas musim hujan, lumayan kan biar Uak enggak jualan sup ayam terus.”
“Kita coba tes kalau sempet.” Keduanya menoleh saat mendengar pintu diketuk. Agni hendak mengecek, tetapi Uak Puput menahan dan memintanya menyelesaikan egg drop soup.
Fokus Agni hampir oleng begitu mendengar suara Shia yang ditingkahi sambutan Uak Puput. Saat Ishaan memperkenalkan diri, tanganya serta-merta berhenti mengaduk. Uak Puput tahu Agni pernah bekerja tiga bulan di Eropa, tetapi tak menyinggung detail bahwa dia melakukan perjalanan hanya bersama Ishaan.
“Uak aja yang bawa supnya. Kamu temui mereka dulu.” Uak Puput mengeluarkan mangkuk dari rak. “Katanya ada hal penting yang mau mereka bahas sama kamu.”
Agni lantas mencuci tangan, lalu merapikan rambut dan pakaiannya sebelum menemui Ishaan dan Shia di ruang tamu. Dia sengaja melambatkan langkah, belum sepenuhnya siap berhadapan dengan Ishaan. Agni yakin kedatangannya berkaitan dengan kasus Dareen dan Tanisha, bukan untuk bernostalgia.
Jika Ishaan menawarkan kesepakatan, haruskah Agni menerimanya? Apa itu juga berarti dia akan memilih satu pihak?
__ADS_1
**
Perjalanan menuju rumah Agni mengingatkan Ishaan pada keindahan Bandung yang hampir hilang dari ingatannya.
Meski lebih padat dan macet, Bandung masih memancarkan pesonanya lewat pepohonan besar nan rindang di beberapa ruas jalan. Deretan hotel dan kafe cantik di Braga membuat Ishaan paham mengapa Dareen mengincar kota ini untuk mengembangkan bisnis. Dia juga tergoda ingin membeli jajanan di pinggir jalan sampai Shia memberitahu kalau Agni menyiapkan makan siang di rumah.
Rumah yang Agni tempati bersama kakak mendiang ayahnya berada di sebuah kompleks dekat pusat kota. Sentuhan klasik terlihat dari kusen jendela dan pintunya yang didominasi kayu. Pagarnya terbagi dua dengan selot sebagai kunci. Namun yang Ishaan favoritkan adalah pohon mangga di depan rumah yang membuat suasana semakin teduh dan asri.
Shia mengetuk pintu sambil mengucapkan salam. Tak butuh waktu lama sampai seseorang membukanya. Sesosok perempuan paruh baya menyambut mereka, lalu memeluk Shia seperti anaknya sendiri.
“Maaf mendadak, ya, datengnya. Urusan bisnis,” ujar Shia santai. “Omong-omong, ini manajer Shia di Jakarta. Namanya Ishaan.”
“Ishaan, Tante.” Pria itu mengulurkan tangannya yang disambut hangat oleh perempuan itu. “Senang bisa bertemu.”
“Panggil Uak Puput aja, jangan Tante,” selorohnya.
Uak Puput mempersilakan mereka Ishaan dan Shia, lalu membawakan dua cangkir teh melati hangat. Mereka berbincang sebentar, membahas perjalanan dan tujuan mampir ke Bandung. Lewat ekor mata, Ishaan mengisyaratkan Shia untuk menanyakan keberadaan Agni.
“Agni di dapur, lagi masak sup apa gitu, pakai telur sama tepung.” Penjelasan Uak Puput sama-sama mengejutkan Ishaan dan Shia. Mereka tahu hidangan yang dimaksud. “Bentar, Uak panggil Agni ke sini.”
Tak lama berselang, sosok yang Ishaan tunggu datang. Mengenakan kaus dan celana joging, Agni tersenyum kikuk dan menempati kursi kosong di samping Shia. Namun, posisi itu pula yang membuat Ishaan dan gadis itu duduk berhadapan.
“Lo masak egg drop soup?” todong Shia. “Buset, udah lama banget gue enggak makan sup serbaguna favorit kita.”
“Jahat lo, enggak inget sama makanan yang udah bantu kita survive pas isi dompet setipis tisu.” Tanpa Shia tahu, Ishaan juga menyukai makanan itu. “Kita makan siang dulu, ya? Enggak enak supnya ditinggal lama-lama.”
“Tuan—”
“Ishaan,” responsnya cepat. “Aku bukan atasanmu—untuk saat ini.”
Kening Shia mengernyit. “Maksudnya?”
“Seperti katamu, kita makan dulu.” Ishaan beranjak dari kursi, hampir mengulurkan tangannya sebelum ingat Agni adalah sang tuan rumah. “Aku juga merindukan egg drop soup buatanmu.”
*
Uak Puput tak bisa berlama-lama menjamu karena harus mengantar katering pesanan pelanggan ke Rancaekek. Memahami tujuan kedatangan Ishaan, Shia pamit ke kamar Agni buat menumpang tidur siang.
“Ada urusan apa Tuan—umh, Anda—”
“Lupakan formalitas, Agni. Aku di rumahmu.” Di mata Ishaan, Agni tetap menggemaskan saat salah tingkah. “Mau panggil kamu atau gue-lo seperti ke Shia, tidak masalah buatku.”
Agni menggaruk-garuk telinganya. “Jadi, apa tujuanmu datang ke Bandung? Benar untuk perjalanan bisnis?”
__ADS_1
“Ya, ada urusan bisnis yang perlu kutinjau. Shia bakal menemaniku sampai Senin.” Kemudian, Ishaan mencondongkan tubuhnya. “Sisanya, seperti yang kamu tahu, untuk menyelidiki kakak iparku.”
Serta-merta, Agni menjauhkan dirinya dari Ishaan. “Sekali lagi, bukan saya yang menjadi selingkuhan Pak Dareen.”
“Berarti, ada orang lain, bukan?” Ishaan menarik kesimpulan. “Karena kamu terus menerus bilang bukan saya.”
Agni mengulum bibirnya, seperti ingin menahan diri agar tak mengungkapkan informasi lebih jauh. Tindakan itu malah menguatkan kecurigaan Ishaan. Apa yang Dareen lakukan pada Agni sampai dia bungkam?
“Berapa banyak uang yang Dareen berikan padamu untuk tutup mulut?”
Mata Agni membesar. “Saya enggak terima sogokan sepeser pun dari Pak Dareen!”
“Berarti, dari perempuan yang jadi pacar gelapnya?”
“Tuan!” Agni menutup mulut. Suaranya lumayan tinggi saat berseru tadi. “Maaf, tapi saya enggak mau dilibatkan dalam kasus ini. Saya hanya ingin membersihkan nama saya yang… yang tercoreng gara-gara… fitnah.”
“Fitnah kakakku. See? That must be someone else.” Ishaan perlu mengeluarkan kesepakatan untuk membuat Agni berpihak padanya. “Agni, kalau kamu mau membersihkan namamu, jadilah sekutuku. Posisi kita ada di tengah-tengah, bukan memihak kakakku atau kakak iparku, apalagi selingkuhannya. Kita bergerak di bawah radar buat mengumpulkan bukti dan mengungkapkan kebenaran.”
“Kalau saya jadi sekutumu, apa jaminan yang kamu berikan?” Agni menuntut balik. Sesuatu yang barangkali tak Ishaan dapatkan pada gadis itu tujuh tahun lalu. “Besar kemungkinan Pak Dareen memecat saya begitu mengetahui rencana ini.”
Ishaan mengumpat dalam hati. Bagaimana bisa dia melupakan poin penting ini? Menurut cerita Shia, Agni sudah bekerja selama lima tahun bersama Dareen. Selama itu, Agni bekerja giat sampai menjadi salah satu orang kepercayaan kakak iparnya.
Sayangnya, hal itu malah Dareen manfaatkan buat kepentingan pribadi. Dia malah menjadikan Agni sebagai tameng perselingkuhannya.
“Aku akan mempertahankan posisimu di perusahaan.” Hanya itu yang bisa Ishaan janjikan sekarang. “Gajimu akan aku naikkan.”
“Bagaimana kalau reputasi saya enggak kunjung membaik?”
“Aku akan minta Dareen minta maaf padamu. Langsung. Di depan para karyawan yang melihatmu difitnah sampai ditampar.”
Keraguan yang terpancar dari mata Agni perlahan mengikis. “Saya harap perjanjian ini akan memulihkan hubungan saya dengan Rano.”
Rano? Kemudian, Ishaan teringat status Agni. Tentu, pasti itu nama pacarnya.
“Bagaimana, kamu sepakat?”
Sosok di hadapannya termenung sejenak sebelum mengangguk mantap. “Ya, saya sepakat untuk membantumu.”
Ishaan lega mendengar keputusan Agni. “Kalau begitu sebagai permulaan, informasi apa yang bisa kamu ceritakan padaku?”
“Saya akan membagikan sesuatu. Tolong periksa ponselmu.”
Agni mengetikkan sesuatu pada ponselnya. Sedetik kemudian, notifikasi baru masuk ke ponsel Ishaan. Sebuah kontak bernama Inggrid disematkan pada pesan yang dikirimkan.
__ADS_1
“Dia… dia perempuan yang kalian cari,” Agni menjelaskan. “Tapi sebelum mengambil tindakan, saya ingin berpesan untuk hati-hati. Bu Inggrid bukan perempuan jahat. Seperti Bu Tanisha, dia enggak tahu kalau selama ini Pak Dareen sudah mempermainkan hubungan mereka.”
***