Aku Bukan Simpanan Bosku

Aku Bukan Simpanan Bosku
Memantau dari Jauh


__ADS_3

MARRAKESH. Kota yang ramai dan penuh warna. Perpaduan arsitektur kuno dan modern di sejumlah sudut terlihat begitu harmonis. Bukan hal mengherankan bila kota ini masuk ke daftar rekomendasi wisata skala global. Ishaan juga paham mengapa ibunya memilih menetap di sini, tempat di mana keluarganya tumbuh dan merintis bisnis.


“Terima kasih.” Ishaan menyerahkan beberapa lembar uang kepada supir, lalu membawa koper dan tasnya ke riad* yang jadi rumah sang ibu. Kombinasi warna natural dan pastel menghadirkan suasana homey dan cheerful yang seketika membuat Ishaan betah.


Menembus pintu utama, Ishaan diarahkan ke bagian tengah yang diisi kolam kecil dengan lantai mosaik dan tumbuhan gantung yang menyempurnakan desain hunian tersebut.


“My son, my beloved son.” Langkah kaki terdengar dari tangga yang mengarah ke lantai dua. Seorang perempuan, mengenakan dress polos berwarna oranye, tersenyum ke arahnya. Rambut panjangnya digelung membentuk cepol, menyisakan helai-helai rambut pendek yang membingkai wajah ovalnya. “Akhirnya sempat juga kamu main ke rumah Mama.”


Evelyn Marlon. Putri kedua dari empat bersaudara generasi keenam keluarga Marlon. Sebuah keluarga elit yang juga membesarkan perusahaan-perusahaan ternama di Eropa, lalu melebarkan sayap hingga ke Indonesia. Meski kekayaannya tersimpan di berbagai bank dan aset di seluruh dunia, Evelyn memilih menjalani hidup tenang dan sederhana. Persis seperti yang dilakukan generasi-generasi sebelumnya.


Hal ini pula yang membuat keluarga Marlon disegani. Jarang muncul di media, tetapi masih sanggup membuat koleganya merinding mendengar nama mereka. Bahkan mendiang suami Evelyn tak berani meminta perempuan itu mengganti nama belakangnya saat mereka menikah.


“Hei, Ma. Miss you.” Ishaan mendekap Evelyn; menghidu aroma rempah yang khas. “Pasti lagi bikin sarapan, ya?”


“Sebentar lagi selesai, untung ada Bu Ajeng yang bantu-bantu.” Mendengar nama sang makeup artist disebut, Ishaan mendelik. “Beres bantu kamu di Jerman, dia mampir ke sini karena ada klien Mama yang butuh MUA dari Indonesia.”


Begitu rupanya. Itu juga berarti Ishaan bakal menyantap makanan lezat selama di Marrakesh. “Aku capek, pengin istirahat bentar. Kamarku masih di lantai dua, kan?”


Evelyn mengangguk dan membantu putranya membawakan ransel. “Yuk, Mama antar. Sekalian pengin dengar pendapatmu soal desain kamarnya.”


*


Gara-gara delay yang diperpanjang, perjalanan dari Barcelona ke Marrakesh yang biasanya hanya empat atau lima jam malah melar sampai enam jam. Ishaan juga tak sempat pilih penerbangan one way, sehingga dia harus transit di Portugal. Sambil menunggu pesawat, dia menghubungi Micah untuk mengecek perkembangan terkini terkait Agni.


“Buset, jam berapa di sana, Bro?” todong Micah saat panggilannya diangkat. “Gue bentar lagi mau otewe ke kantor.”


“Setengah tiga pagi, aku lagi transit.” Ishaan merenggangkan otot-otonya yang kaku. “Gimana hasil tugas yang aku kasih kemarin?”


“Dari berbagai sumber, kondisi ibunya belum terlalu stabil. Kabar baiknya, suaminya yang juga pelaku kebakaran udah ketangkep,” Micah menyampaikan. “Kata orang-orang di sana, rumah itu sebenernya punya almarhum ayah Agni, terus enggak tahu kenapa pindah kepemilikan ke ibunya.”


Agni pasti tak suka Ishaan sembunyi-sembunyi mengulik informasi tentang keluarganya. Namun, dia terlampau penasaran. “Kondisi rumahnya sendiri gimana?”


“Ludes, tinggal puing-puing. Sertifikatnya keburu jadi barang bukti pencurian.”


“Terus sekarang Agni tinggal bareng Shia?”

__ADS_1


“Yoi, mereka pindah ke co-living space. Gue masih nunggu Agni ngontak buat kirim lukisan.”


Seorang petugas bandara membawakan teh yang Ishaan pesan dari kafe. “Soal administrasi rumah sakit?”


“Beres, gue udah minta staf buat nyebut lo sebagai donatur in case Agni tanya siapa yang bayar biaya perawatan ibunya.”


“Good, thanks, Bro. Aku transfer uangnya pas sampai di Marrakesh.”


Micah terkekeh. “Santai sama gue mah. Have fun ya di sana! Salam buat Tante Evelyn!”


Sembari menyesap teh yang menenangkan tubuh, Ishaan memutar ulang percakapan singkatnya dengan Agni sebelum terbang dari Barcelona. Dari suaranya, gadis itu terdengar letih, tetapi tetap menyempatkan diri untuk menerima telepon Ishaan. Potongan informasi yang diberikan juga sesuai dengan update dari Micah.


“Mau aku belikan oleh-oleh dari Marrakesh?” Ishaan menawarkan sebelum mengakiri obrolan.


“Tidak usah, Tuan. Lukisan yang dititipkan ke Micah saja belum saya ambil.”


“Oke, kalau begitu, have a good rest.” Berat sekali mengatakannya, Ishaan ingin mendengar suara Agni lebih lama kalau tak ingat gadis itu butuh istirahat. “Jangan sampai kamu ikutan sakit.”


“Tuan juga, semoga perjalanannya aman dan lancar.”


*


Ishaan, yang baru bergabung bersama Evelyn di meja makan, mendongak mencari sumber suara. Dari arah dapur, Bu Ajeng membawa sepiring ayam goreng yang masih hangat, lengkap bertaburkan serundeng.


“Asisten?” Mata Evelyn mengerling ke arah Ishaan. “Kamu enggak cerita ke Mama bakal bawa asisten selama di Eropa.”


“Mendadak, soalnya sekretarisku resign.” Ishaan harus ekstra hati-hati menceritakan tentang Agni pada ibunya. “Asistenku pulang duluan ke Indonesia gara-gara ada urusan keluarga. Untungnya semua kerjaanku sudah selesai.”


“Waduh, sayang, padahal saya belum puas ngobrol sama dia,” Bu Ajeng menimpali. “Apa seterusnya bakal kerja sama Nak Ishaan?”


Seandainya bisa, Ishaan bersedia memperpanjang kontrak Agni. Menjadikannya pegawai tetap dan membawanya ke Jerman. Sayang, semuanya terhalang status Agni sebagai mahasiswi. Belum lagi Tanisha yang kurang menyukai tabiatnya saat berduaan bersama karyawan perempuan.


“Dia pengin lanjut kuliah, Bu Ajeng,” balas Ishaan. “Belum terlalu siap aku boyong ke Jerman, pasti capek.”


Ishaan berharap jawabannya dapat menghentikan cerocosan Bu Ajeng, tetapi dugaannya memelesat. Pasalnya saat Evelyn hendak mengalihkan topik, perempuan itu malah meneruskan,

__ADS_1


“Ayu, lho, Bu, orangnya. Pinter juga. Saya sampai ngira dia pacarnya Nak Ishaan.”


Hmm, apakah lantai ini bisa menarikku ke perut Bumi, Ishaan membatin.


“Bukan hal aneh Ishaan jalan sama perempuan cantik. Sampai bosan lihatnya,” seloroh Evelyn yang disambut tawa Bu Ajeng. “Padahal kalau asistenmu diajak, dia bisa isi kamar di atas. Baru kosong setelah seminggu kemarin diisi teman Mama.”


“Teman Mama yang mana?”


“Kenalan waktu riset ke Boston. Dosen, seumuran juga.” Evelyn menuangkan nasi pada piring anaknya. “Pas ke kebun Albert, kamu pergi bareng asistenmu?”


Bu Ajeng berdeham beberapa kali, kentara sekali ingin mendengar cerita Ishaan.


“Ikutlah, sekalian refreshing sebelum ke Barcelona.” Serta-merta, momen di paviliun melintas dalam benak Ishaan, membuatnya terbatuk-batuk gara-gara tersedak serundeng.


“Makannya pelan-pelan, Ishaan. Ayamnya enggak akan ke mana-mana.” Evelyn menyodorkan segelas air putih. “Oh ya, Ajeng, tolong jaga rumah sebentar setelah sarapan. Aku mau keluar, kemungkinan pulang sebelum makan siang.”


“Baik, Bu. Saya sekalian beres-beres dapur.”


Evelyn sempat mengajak Ishaan, tetapi Ishaan perlu menebus jam-jam tidurnya yang tergadaikan di bandara dan pesawat. Maka selepas sarapan, Ishaan bertolak ke kamar, sengaja juga menghindari Bu Ajeng sebelum diberondong pertanyaan-pertanyaan lain seputar Agni.


Membaringkan tubuhnya di ranjang, Ishaan mengembuskan napas lega. Jam dinding menunjukkan pukul sembilan pagi. Angin sepoi-sepoi dari jendela yang terbuka membelai tubuhnya, menerbitkan kantuk yang Ishaan sambut baik.


Kala matanya terpejam, Ishaan serta-merta ditarik ke alam mimpi. Mulanya dia hanya melihat ruangan hitam, hingga menemukan titik cahaya yang membesar dan menyilaukan. Ishaan menoleh sejenak untuk menghindari cahaya, lalu saat menoleh, dia mendapati dirinya berada di kamar yang ditempatinya di Barcelona.


“Ishaan?”


Di ranjang, hanya ditutupi selimut, Agni tersenyum padanya. Rambut panjangnya tergerai berantakan, tetapi entah mengapa malah membuatnya semakin cantik.


“Ke mana saja? Dari tadi saya menunggu….”


Sedetik kemudian, Ishaan melompat dan memeluk Agni. Dia sadar momen ini hanyalah bagian dari mimpi. Namun, Ishaan tak peduli. Satu hal yang dia inginkan sekarang adalah meluapkan kerinduannya pada Agni walau sebatas lewat bunga tidurnya.


***


*riad adalah hunian tradisional khas Maroko dengan taman dan halaman indoor. Ini salah satu ilustrasinya, diambil dari blog Jou Jou Travels

__ADS_1



__ADS_2