Aku Bukan Simpanan Bosku

Aku Bukan Simpanan Bosku
Rahasia Bos Besar


__ADS_3

BOS udah balik dari Jerman. Beresin markas kalian!


Agni menekan tombol Send di group chat setelah menerima kabar kepulangan atasannya. Sejak Kamis, sang bos izin terbang ke Jerman untuk merayakan ulang tahun putra semata wayangnya. Kantor dapat bernapas lega meski hanya berlangsung dua hari.


Berkat jeda itu pula Agni leluasa jalan-jalan bersama Shia, lalu kencan dengan Rano. Tak ada pesan dadakan di Sabtu atau Minggu sore yang memintanya menata ulang jadwal meeting.


Atasan mereka, Dareen Isvara, bukan tipe bos menyeramkan. Hanya saja, dia sangat disiplin dan tepat waktu mengenai pekerjaan. Agni kagum dengan etos kerjanya walau kadang akhir pekannya kadang diganggu hal-hal sepele.


“Kopimu.” Rano menyerahkan satu cup kopi favorit Agni saat mereka bertemu di lobi kantor. “Maaf aku absen jemput. Harus antar keponakan ke sekolah. Mobil mamanya masuk bengkel.”


“It’s okay, untungnya Uak Puput mau kasih pinjam motornya hari ini.” Agni harus mengecek rambut dan pakaiannya. Pasti berantakan gara-gara ngebut melewati jalan tikus demi menghindari kemacetan. “Kita jadi, kan, lunch bareng hari ini?”


“Sure thing. Aku reservasi dari kemarin malam.” Keduanya berhenti di depan lift. Rano bekerja di lantai tiga, sementara Agni di lantai empat. Hanya dalam momen-momen ini, termasuk makan siang dan pulang kerja, mereka leluasa mengobrol. “Sampai ketemu nanti siang.”


Ciuman singkat yang Rano tinggalkan di pipi Agni membuatnya relaks seketika. Syukurnya ada kopi yang dapat mengembalikan fokus Agni bekerja. Namun untuk satu atau dua menit, dia membiarkan dirinya tenggelam dalam sentuhan hangat itu.


*


Sesuai perkiraan, Dareen tiba di kantor pukul setengah sembilan. Pria yang baru menginjak usia 40 tahun itu meminta Agni mengirimkan rekap meeting dan jadwal kegiatannya minggu ini. Sebelum meninggalkan ruangan bosnya, Agni diminta booking ruangan VIP di restoran yang juga akan dia datangi bersama Rano.


Bukan sesuatu yang aneh. Restoran itu memang jadi langganan Dareen maupun karyawan di kantor mengingat jaraknya yang dekat.


“Ada yang bisa saya bantu lagi, Pak?" tanya Agni memastikan.


Dareen menggumam. Sesaat, dia tampak ingin menanyakan sesuatu pada Agni, tetapi dengan cepat mengurungkan niatnya. “Lanjutkan saja pekerjaanmu. Jangan lupa panggil Ulfa ke ruangan saya.”


Ulfa, salah satu karyawan yang bekerja di divisi marketing, cukup akrab dengan Agni. Belum terlalu dekat buat dikatakan sahabat, tetapi mereka sering bertukar informasi terkait pekerjaan dan… gosip-gosip di kantor.


“Dipanggil, tuh.” Agni menghampiri kubikel Ulfa yang satu lantai dengannya. “Kayaknya mau bahas strategi buat konten di medsos.”


“Dikasih oleh-oleh enggak dari Jerman?” seloroh Ulfa sambil mencopot kabel charging dari tablet-nya.


“Dia ke sana kan buat liburan keluarga, mana sempet mikirin kita.”


Kembali ke ruangannya, Agni meneruskan pekerjaannya yang tertunda. Kopi pemberian Rano sengaja diirit supaya bisa menyelamatkannya dari kantuk pada jam-jam rawan selepas makan siang.


Belum sepuluh menit, teleponnya berdering. Panggilan dari front office. Agni mencebik sebal, pasti ada tamu rese yang ingin bertemu bosnya tapi belum bikin janji sebelumnya.


“Agni, ada yang mau ketemu Pak Dareen,” Heni, sang front officer, langsung menyampaikan pesan. “Aku suruh ketemu kamu dulu, ya?”


“Siapa yang pengin ketemu Pak Dareen? Klien baru?”


Ada hening panjang sebelum Heni menjawab, “Istrinya…”

__ADS_1


“Lah, kan, kamu tahu istrinya bisa keluar-masuk kapan aja. Paling tanya dulu ke aku apa Pak Dareen lagi meeting atau enggak.”


Hening lagi. “Pokoknya aku minta dia ketemu kamu dulu, ya.”


Aneh. Apa bosnya sedang bertengkar dengan sang istri? Namun seingat Agni, Dareen jarang membawa urusan pribadi ke kantor.


Terpaksa, Agni menyimpan dokumennya, lalu menunggu kedatangan istri Dareen. Melalui dinding kaca, Agni menunggu sosok itu datang dari arah lift. Akan tetapi, yang dia lihat hanya rekan kerjanya, sampai matanya tertambat pada perempuan berhijab yang celingak-celinguk mencari sesuatu.


Perempuan itu beradu pandang dengan Agni, lalu tersenyum. Penasaran, Agni membuka pintu untuk menanyakan maksud kedatangannya. “Pagi, Bu, ada yang bisa saya bantu?”


“Pagi, Mbak. Saya mencari sekretaris suami saya.”


Agni mengerjap. “Suami? Umh, suami ibu bekerja di sini?”


“Iya, namanya Dareen. CEO perusahaan ini,” sahutnya dengan mata berbinar. “Oh ya, perkenalkan, saya Inggrid.”


Sopan dan ramah. Agni terkesan dengan sikap perempuan itu. Namun—istri Dareen? Satu-satunya Dareen yang Agni kenal hanya atasannya.


“Apa Mbak sekretaris suami saya?” tanya perempuan itu, ikut bingung.


“Ya, saya Agni.” Mereka berjabat tangan. “Sebentar, ya, Bu. Saya hubungi Pak Dareen dulu.”


Cepat-cepat, Agni masuk ke ruangan, lalu mengangkat telepon untuk menghubungi ruangan Dareen.


“Siapa? Bukannya jadwal saya kosong sampai siang?”


“Iya, Pak. Ini—ini.” Tangan Agni gemetaran. “Istri bapak.”


“Suruh masuk saja ke ruangan saya, Agni. Biasanya juga begitu—"


“Istri bapak, Inggrid.”


Tak ada respons dari Dareen. Aduh, bagaimana kalau Inggrid tersesat? Bagaiamna kalau sebenarnya Dareen yang dia maksud bekerja di kantor dekat sini? Agni hendak memanggil Dareen, tetapi bosnya mendahului,


“Antar dia ke restoran, ke ruang VIP yang saya pesan tadi,” pintanya setengah berbisik. “Bilang saya akan menyusul.”


“Tapi, Pak, reservasinya kan—”


“Agni, dia tidak bisa masuk ke ruangan saya,” potong Dareen. “Kalau pihak restoran minta charge, nanti saya bayar lebih ke kamu. Asalkan kamu antar dia ke sana. Sekarang.”


*


Selepas mengantar Inggrid ke restoran, dan meminta maaf atas perubahan jadwal reservasi, Agni buru-buru kembali ke kantor. Di sana, Heni dan beberapa karyawan, termasuk Ulfa, berkerumun di lobi. Meunggunya.

__ADS_1


“Pada ngapain kalian di sini? Nanti Pak Dareen lihat bisa berabe.”


“Pak Dareen langsung pergi begitu kamu antar tamu tadi.” Ulfa menariknya mendekati meja front office. “Serius yang tadi itu… istrinya Pak Dareen? Dia udah cerai sama istri sebelumnya?”


Agni mengedik. “Mana aku tahu. Pak Dareen juga enggak bilang dia emang istrinya atau bukan. Aku cuma disuruh anter dia ke restoran.”


“Jangan-jangan istri kedua.” Celetukan Heni serta-merta mengalihkan perhatian Agni dan Ulfa. “Kalian mah ketinggalan gosip artis, ya? Kan lagi zaman tuh punya simpenan di mana-mana. Terus pada punya anak pula, wah, wah….”


Ponsel Agni berdenting. Satu pesan masuk dari Dareen.


Sebelum makan siang, kamu dan Heni temui saya di ruangan.


Agni menggeram kesal. Itu berarti, rencana makan siangnya bersama Rano terancam gagal.


*


Kedatangan Inggrid hari itu langsung tersebar ke berbagai divisi. Desas-desus terdengar dari setiap sudut. Siapa perempuan itu? Benarkah dia istri sah Dareen atau simpanan yang sedang merencanakan pelabrakan? Agni dan Heni, yang kini terjebak di ruangan sang bos, sama-sama menerka dalam diam.


Apa pun yang hendak Dareen minta atau sampaikan sepadan dengan kekecewaan Agni yang terpaksa menunda kencannya bersama Rano.


“Maaf menunggu lama.” Dareen, yang sejak pulang dari restoran terlihat gelisah, duduk di kursinya. “Saya meminta kalian ke sini untuk… melakukan sesuatu.”


Agni dan Heni saling lirik.


“Inggrid,” Dareen menghela napas panjang, “Inggrid adalah… Inggrid memang istri saya. Istri kedua. Dia baru pindah dari Malang ke Bandung untuk menemani saya tinggal di sini.”


Berita ini pasti bakal menggegerkan semua orang di group chat.


“Istri saya di Jakarta tidak tahu apa-apa,” Dareen mengambil jeda. Matanya bergerak ke sana kemari, seakan-akan takut ada yang mendengar pembicaraan tersebut. “Saya tahu urusan pribadi tak boleh dibawa ke kantor. Tapi—tapi untuk kali ini saja saya meminta kalian untuk menyembunyikannya.”


“Pak, masalahnya orang-orang di kantor sudah melihat Bu Inggrid,” ujar Agni.


“Maksud saya, dari istri pertama saya, Tanisha.” Jelas sekali kalau Dareen sedang kebingungan. “Dengan Inggrid menetap di Bandung, dia bakal sering mampir ke sini. Kalian juga tahu bagaimana Tanisha kadang datang tiba-tiba tanpa mengabari saya. Saya cemas… mereka akan bertemu.”


Secara pribadi, Agni dan Heni sesungguhnya kesal sekaligus kecewa. Perempuan mana yang ingin dimadu tanpa izin? Sayangnya, posisi mereka di sini hanyalah karyawan. Bawahan Dareen. Mereka tak punya hak untuk ikut campur rumah tangga atasan.


Dengan berat hati, Agni dan Heni menyanggupi. Keduanya berjalan gontai keluar ruangan, lalu berpisah untuk kembali bekerja. Di ambang pintu ruangan Agni, Rano menunggu. Pria itu membawa kantung berisi makan siang yang dia beli dari restoran.


“Makan bareng, yuk. Aku sengaja minta take away tadi.” Rano menata makanan-makanan tadi di meja. “Biar mood kamu enggak jelek seharian.”


Agni terduduk, lalu tanpa basa-basi mendekap Rano. Berharap saat mereka menikah dan membina rumah tangga tak akan dihadapkan pada kenyataan seperti yang Dareen lakukan pada keluarganya.


***

__ADS_1


__ADS_2