
SAAT kali pertama mengunjungi Saint Émilion, Ishaan belum genap menginjak usia enam tahun. Kedua orangtuanya masih bersama, sementara Tanisha baru merayakan ulang tahun kedelapan. Kunjungan itu pula yang mempertemukan Ishaan dengan Albert, sang paman dari pihak ibunya.
“Keponakanku, selamat datang!” Albert merentangkan tangan untuk memeluk Ishaan. “Sudah lama sekali—kapan terakhir kamu mampir ke sini? Setelah lulus S2, ya? Empat atau lima tahun lalu.”
“Tadinya aku mau liburan ke sini, eh ketahan pandemi.” Ishaan menengok ke belakang. Ke arah Agni yang menatap mereka kebingungan. “Paman, aku bawa asistenku ke sini. Namanya Agni. Dia yang menemaniku selama trip bisnis di Eropa.”
“Halo, Agni. Senang sekali bisa bertemu orang Indonesia di sini,” ujar Albert sambil menyalami gadis itu. “Mari, aku antar ke rumahku. Kalian sudah makan siang?”
Di kereta, Ishaan dan Agni hanya menyantap cinnamon roll untuk ganjal perut. Perjalanan satu jam dari Bordeaux ke Saint Émilion pun dilewati tanpa mampir ke kafe atau restoran. Maka tentu saja undangan makan siang dari Albert jadi pelipur lapar terbaik, apalagi Ishaan mengenal pamannya yang jago memasak makanan khas Indonesia.
Rumah Albert, berlantai tiga, berada di pinggir kebun anggur. Ishaan sering menghabiskan waktunya memandangi para petani yang mengurus anggur dari lantai atas. Di musim gugur, suasananya lebih ramai. Semua orang sebentar lagi akan bersuka cita merayakan hasil panen yang memuaskan, lalu berpesta sampai malam.
“Maaf, ya, Agni, di sini kalau mandi harus gantian.” Albert menyerahkan kunci kamar pada Ishaan dan Agni sesampainya di lantai tiga. “Aku akan ke dapur buat menyiapkan makan siang. Selamat menikmati waktu kalian di Saint Émilion!”
Setelah Albert berlalu, Ishaan dan Agni bersitatap dalam diam. Gadis itu tersenyum canggung, lalu merapat ke kamar tidurnya. “Saya masuk duluan, Tuan.”
“Panggil nama saja,” pinta Ishaan. “Kita di sini buat jalan-jalan, bukan buat meeting bisnis. Aneh juga kalau kamu sebut-sebut aku tuan di depan pamanku.”
“Baik, saya permisi dulu.” Kemudian, Agni masuk ke kamar.
Ishaan memasukkan kunci ke lubang pintu. Sebelum melangkah masuk, dia melirik sejenak ke kamar Agni. Meski hanya akan melewatkan satu malam di Saint Émilion, Ishaan ingin Agni mendapatkan pengalaman terbaik di tempat favoritnya ini.
*
Aroma ikan kembung goreng dan gelegak air menyambut Ishaan saat turun ke dapur yang terletak di lantai dasar. Albert, sambil bersenandung kecil, sedang asyik menata piring-piring berisi makanan yang menggugah selera. Satu hal yang paling mengejutkan Ishaan adalah Agni yang tengah membantu pamannya mengaduk sesuatu di panci.
“Duduk, Ishaan,” sang paman menepuk-nepuk kursi yang selalu dia tempati saat mampir ke rumah itu. “Agni sudah turun dari tadi. Begitu tahu aku sedang masak sayur lodeh, dia langsung menawarkan bantuan.”
Alis Ishaan terangkat. “Sayur lodeh? Resepnya Mama atau Bu Ajeng?”
“Bu Ajeng. Punya ibumu itu,” Albert merunduk untuk membisikkan sesuatu pada Ishaan, “terlalu hambar.”
“Aku bilang ke Mama, lho,” seloroh Ishaan. Namun, dia sepakat dengan Albert. Ibunya bisa memasak, hanya saja belum mampu mengimbangi Bu Ajeng atau ART di rumah Tanisha.
“Omong-omong soal ibumu, dia sempat main ke sini minggu lalu. Menginap dua hari.” Albert mengeluarkan mangkuk besar untuk mewadahi sayur lodeh. “Lagi cari inspirasi, katanya. Biar menang tender proyek dari orang Dubai.”
“Serius? Sayang aku baru bisa ketemu Mama minggu depan, pas jadwal di Barcelona beres.” Dari kursinya, Ishaan mengamati Albert dan Agni yang tengah memindahkan sayur lodeh ke mangkuk. Mereka terlihat akrab untuk dua orang yang baru saling kenal.
Kemudian, Albert mengisyaratkan Agni duduk di kursi yang berhadapan dengan Ishaan, lalu menaruh mangkuk tadi di tengah meja. “Semua hidangan sudah siap. Mari kita mulai makan siangnya!”
__ADS_1
Selama beberapa menit, hanya terdengar gumanan kenikmatan dari tiga orang di dapur. Setelah berminggu-minggu menyantap makanan kaya keju dan susu, dan hanya sesekali menyantap hidangan khas Asia, Ishaan akhirnya bertemu lagi bumbu rempah dan rasa gurih yang familier di lidahnya. Albert menyempurnakan makan siang dengan menyeduh teh melati dari daun dan bunga yang dikeringkan.
“Paman, boleh aku dan Agni jalan-jalan keliling kebun?” Dari jendela dapur, hamparan dedaunan cokelat kekuningan seakan memanggil Ishaan untuk keluar. “Sekalian coba wine yang Paman ceritakan tempo hari.”
“Ya, ya, silakan. Aku simpan wine-nya di paviliun.”
Agni berdeham. “Saya tidak minum alkohol….”
“Tenang, Agni. Ada non-alcoholic wine juga buat dicoba,” sahut Albert yang seketika menerbitkan senyum lega pada wajah Agni. “Jadi siapa pun bisa wine tasting di kebunku tanpa perlu memusingkan kadar alkohol.”
“Baik, kalau begitu, saya cuci piring—”
“Lho, lho, siapa yang suruh kamu cuci piring?” Albert menatap tajam Ishaan yang hendak beranjak dari kursi. “Ishaan, kamu yang bersih-bersih. Agni sudah bantu aku menyiapkan makan siang. Setelah itu, kalian boleh pergi keliling kebun.”
Ishaan mendengus sebal. Demi melewatkan hari seindah ini di Saint Émilion, dia rela jadi babu sebentar di dapur pamannya.
**
Floral dress yang Shia berikan sebagai kado ulang tahun akhirnya terpakai juga. Bahannya yang lembut dan sejuk jatuh sempurna di kulit Agni. Belum lagi dua saku di sisi-sisi rok yang memungkinkannya menyimpan ponsel tanpa perlu membawa tas.
Aku sudah selesai cuci piring, bunyi pesan dari Ishaan yang baru masuk ke ponsel. Kutunggu di pintu dapur, ya.
Setelah mengenakan strap sandals, Agni menuruni anak tangga menuju dapur. Di ambang pintu, Ishaan, memakai kemeja putih dan celana pendek warna khaki, berdiri memunggunginya. Seakan menyadari kehadiran Agni, pria itu berbalik dan tersenyum simpul.
“Ayo, Agni. Let’s have some wine.”
*
Dari kejauhan, kebun anggur yang Albert kelola tampak seperti kebun teh. Bedanya, pohon-pohon anggur lebih tinggi, daun-daunnya sudah berubah warna seiring semakin dekatnya musim gugur. Di balik dedaunan tersebut, anggur-anggur berwarna biru keunguan menyembul. Membayangkan rasa dan teksturnya saja bikin Agni ngiler duluan.
“Mau coba?” Ishaan menunjuk anggur di pohon terdekat. “Kita harusnya mampir minggu depan pas panen, jadi bisa ikut metik.”
“Tidak usah, nanti Paman Albert marah kalau tahu ada yang anggur yang hilang.”
“Dia cerita sama kamu?” tebak Ishaan. Sebenarnya, Agni hanya asal celetuk. “Jiwa pamanku benar-benar menyatu sama kebun ini. Waktu kecil, aku sempat iseng petik satu, satu, Agni. Satu buah anggur. Tapi dia tahu dan menghukumku bersih-bersih dapur di akhir masa liburan.”
Ternyata Albert sedisiplin yang Agni duga. “Mmh, maaf, apa… apa Paman Albert tinggal sendiri? Dari tadi, saya tidak melihat istri atau anaknya.”
“Dia masih bujang.” Jawaban Ishaan mengejutkan Agni. “Kadang, aku penasaran pengin tanya kenapa dia belum menikah atau kencan dengan seseorang. Cuma, ya, segan. Dia pamanku, tapi dia punya privasi yang perlu kuhormati.”
__ADS_1
Menit-menit berikutnya berlalu dalam obrolan ringan. Dari membahas unek-unek pekerjaan, lokasi favorit selama keliling Eropa, sampai makanan Indonesia yang ingin mereka coba dari Albert. Saking serunya obrolan itu, Agni dan Ishaan sampai tak sadar kalau mereka sampai di puncak bukit tempat paviliun berdiri.
“Ladies first,” Ishaan mempersilakan Agni masuk. Ukuran paviliun tersebut mungil, tetapi penggunaan kaca di sejumlah sisi berhasil memberi kesan luas di bagian dalam. Selain ruang tengah yang ditujukan buat menjamu tamu, ada sebuah kamar dan mini kitchen yang melengkapi fungsi bangunan tersebut.
“Jujur, aku belum pernah coba non-alcoholic wine.” Ishaan membawa sebotol wine dan dua gelas dari bar. “Jadi, aku bakal temani kamu buat icip-icip.”
Kucuran cairan berwarna merah tua memenuhi dasar gelas di hadapan Agni. Pengalaman pertamanya mencicipi anggur langsung di kebun petaninya. Ishaan ikut duduk setelah mengisi gelas, lalu menyororkannya ke arah gadis itu.
“Let’s have a toast. Untuk trip bisnis yang sebentar lagi selesai,” ajak Ishaan. Malu-malu, Agni mengangkat gelas, lalu mengarahkannya pada gelas Ishaan hingga terdengar bunyi dentingan. “Cheers!”
Pada sesapan awal, Agni mencecap asam dan manis. Sedikit tangy, tetapi tak membuat lidahnya kaget. Kemudian, Agni menyesapnya sekali lagi sambil mencari kosakata yang tepat untuk mendeskripsikan sensasi menyenangkan yang mengaliri tubuhnya.
“Agak hambar buatku,” Ishaan berkomentar. “Mungkin gara-gara aku sering minum yang beralkohol.”
“Kalau buat saya… enak,” Agni menimpali. “Kualitas rasa biasanya mencerminkan kualitas produksi. Paman Albert pasti tak pernah setengah-setengah mengurus kebunnya.”
“The real businessman. Makanya kalau mampir ke sini aku bakal diskusi soal strategi atau inspirasi bisnisnya meski bidang kami berbeda.” Ishaan mengambil botol wine dan mengacungkannya. “Mau tambah?”
Sambil menikmati gelas-gelas berikutnya, Agni dan Ishaan mengelilingi paviliun, lalu berhenti di jendela yang menghadap kebun. Memandangi kilatan emas dari daun-daun yang tertimpa sinar matahari.
“Tuan—”
“Agni—”
Agni terkejut karena mereka bicara berbarengan. Lantas, dia mengisyaratkan Ishaan untuk menyelesaikan kalimatnya lebih dulu.
“No, kamu yang duluan,” tukas Ishaan. “Apa yang mau kamu sampaikan?”
“Umh, Tuan bukannya mau cek wine lain di sini?”
Ishaan terdiam, lalu mulutnya membentuk O. “Iya, cuma itu bisa diurus nanti. Ada hal lebih penting yang pengin aku tanyakan sama kamu.”
Entah mengapa, Agni gugup mendengarnya. “Apa itu?”
Ishaan mengambil gelas dari tangan Agni, lalu menaruhnya di konter bersama gelasnya yang sudah kosong. Jemarinya lalu menangkup wajah Agni dan tanpa perlu lama-lama menebak, Agni tahu hal apa yang ingin Ishaan tanyakan.
Kali ini, Agni sedang malas menunggu. Saat jarak mereka menyempit, dia menarik kerah kemeja Ishaan, lalu mengecup dalam bibirnya.
***
__ADS_1