Aku Bukan Simpanan Bosku

Aku Bukan Simpanan Bosku
Laporan dari Shia


__ADS_3

“SHI, lo pernah enggak dapet klien yang baik? Maksudnya, enggak sampai ajak tidur bareng atau macem-macemlah.”


“Klien begitu mah langka banget. Gue bakal tobat kalau satu hari dapet klien yang pure cuma pengin ditemenin, Ni.”


Percakapan itu hampir Agni lupakan sampai Shia meneleponnya semalam. Karena baru tiba di Wina, Austria, dia meminta sahabatnya untuk menghubungi kembali esok sore atau pada jam makan siang di Jakarta.


“Lo lagi santai, kan?” todong Shia begitu sambungan video call mereka terhubung. “Gue mau curhat bentar sama lo.”


“Hari ini gue di apartemen seharian. Lo bebas mau curhat lama-lama juga.” Ada sesuatu yang berbeda dari Shia. Lebih tepatnya tempat dia meneleponnya sekarang. Agni mengira sahabatnya sedang di kontrakan atau restoran, tetapi ruangan yang ditempatinya terlihat… mewah. “Heh, lo di hotel?”


Shia tampak gugup. Dia celingak-celinguk sebentar sebelum berkata,


“Ni, kayaknya waktu gue tobat udah tiba.”


*


Dua hari lalu, Shia mendapatkan pesan dari nomor tak dikenal. Apa benar ini nomor Shia Airi? Saya mendapatkannya dari Micah Renjiro, bunyi pesan itu.


Shia berpikir, barangkali ini calon klien barunya meski jarang sekali Micah merekomendasikannya. Maka tanpa basa-basi, dia membalas dan menanyakan servis apa yang mereka inginkan darinya.


Bagaimana kalau kita bertemu dulu? Sang pengirim menjawab. Saya yang menjemput Anda. Kirimkan lokasi rumah atau tempat kerja Anda sekarang.


Shia tak mau ambil risiko, dia memilih membagikan lokasi restoran. Keesokan harinya, tepat setelah dia menyelesaikan shift, seorang pria berpakaian hitam, menghampirinya.


“Selamat malam,” sapanya, “apa betul Anda Nona Shia Airi?”


Mata Shia membesar. “Betul. Anda siapa?”


“Ikut kami. Tuan Besar ingin bertemu dengan Anda.”


Setelah berganti pakaian, Shia diminta masuk ke SUV. Jendela-jendela langsung ditututpi tirai saat Shia duduk di jok tengah, lalu muncul dua perempuan dengan setelan hitam-hitam mengapitnya di kiri dan kanan. Pembatas yang menghalangi jok penumpang dengan pengemudi semakin menyulitkan Shia buat melacak ke mana mereka akan membawanya.


Wah, alamat gue dijual ini, Shia mulai overthinking, tapi masa Micah berbuat setega ini padanya?


Entah sudah berapa lama mereka di perjalanan. Shia mati kutu karena kedua perempuan bergeming bak maneken. Saat kantuk nyaris membawanya ke alam mimpi, mobil berhenti. Perempuan yang duduk di samping kiri mengeluarkan sehelai kain dari saku jas dan melingkarkannya pada mata Shia.


“Hei—” Mulut Shia dibekap oleh perempuan yang lain. Dia meminta Shia untuk diam atau dia tak akan pernah diantar pulang.

__ADS_1


Meski matanya ditutup, Shia masih bisa mendengar suara gerbang dibuka, lalu langkah-langkah tergesa di sekitarnya. Dia diminta naik tangga, memasuki sebuah ruangan, lalu berdiri di satu titik. Seseorang lalu membuka penutup matanya, membuat Shia mengerjap berulang kali gara-gara terkena cahaya lampu yang menyilaukan.


“Selamat datang, Nona Airi.” Suara yang menyambutnya terdengar serak, tetapi penuh wibawa. “Maaf kami harus membawamu seperti ini. Saya tak mau selama satu minggu ke depan ada yang mengganggu perjalanan kita.”


Begitu matanya dapat menyesuaikan pencahayaan ruangan, Shia menatap ke depan untuk mengetahui siapa orang yang memperlakukannya seperti ini.


Di sana, berdiri seorang pria paruh baya yang mengenalkan dirinya sebagai Pramudya.


*


Agni tak sadar mulutnya terngaga lebar saat mendengar cerita Shia.


“Mulut lo, Ni, mangap-mangap kayak ikan,” celetik Shia. “Gue cuma dikasih waktu sejam buat kontak seseorang supaya enggak ada yang cemas. Siapa lagi yang bisa gue telepon selain lo coba.”


“Bentar, bentar, terus lo ada di mana sebenernya? Masih di tempat Om Pram?”


“Iya, ini mansion by the way. Gede banget, bisa kesasar kalau gue tinggal di sini.” Shia mengembuskan napas panjang. “Jadi sorry ya kalau nanti gue susah dihubungi. Mereka bakal nyita ponsel selama gue jalan-jalan sama Om Pram.”


“Dia,” Shia memelankan suaranya, “minta servis sama lo?”


Agni mengangguk. Seperti pesan Ishaan, dia akan menceritakan insiden yang terjadi di Roma. “Berarti gue enggak perlu beli oleh-oleh buat lo, ya? Kan lo lagi sama klien tajir melintir sekarang.”


“Tetep bawa oleh-oleh buat gue! Udah gue siapin daftarnya juga!”


“Iya, iya, siap!” Sebuah notifikasi masuk ke ponsel Agni. Dari Ishaan. “Lo juga jaga diri baik-baik. Semoga Om Pram bukan tipe klien yang aneh-aneh.”


“Makanya gue bilang, mungkin aja ini momen gue buat tobat kalau dia enggak minta servis di ranjang,” ujar Shia. “Bye, Ni! Have fun di Wina!”


*


Jika rekomendasi Micah mempertemukan Agni dengan Ishaan, ada kemungkinan Shia bakal mendapatkan pengalaman serupa. Agni berharap sahabatnya benar-benar tobat. Bagaimanapun, Shia berhak mendapatkan masa depan lebih baik.


“Dari tadi kuperhatikan, kamu melamun terus. Ada masalah?”


Teguran Ishaan menarik Agni dari lamunannya. Mereka tengah menyantap makan malam yang Ishan pesan dari chinese restaurant dekat apartemen. “Umh, hanya… skripsi saya. Ada yang perlu dibenahi.”


“Jadwal kita di Wina lebih lengang dibandingkan di kota-kota sebelumnya. Jadi, kamu bisa lebih fokus mengurus skripsi.”

__ADS_1


Agni justru ingin menghabiskan waktunya di luar. Wina terlalu cantik buat dilewatkan. “Apa Tuan ada agenda akhir pekan ini? Maksud saya, jalan-jalan keliling Wina?”


Kunyahan Ishaan terhenti. “Memangnya kenapa?”


“Saya sebenarnya mau… refreshing. Jalan kaki saja cukup. Kepala saya penat terus memikirkan pekerjaan dan skripsi.”


Lawan bicaranya tak merespons. Jawaban yang Agni berikan tadi pasti menggelikan. Namun, kepalanya memang penat. Bahkan saat tidur, yang Agni mimpikan hanya notula rapat dan catatan revisi dari dosen pembimbingnya.


Ishaan menyingkirkan piring kosong ke samping, lalu membuka kaleng soda. “Setelah insiden di Roma, kamu pikir aku masih mau mengajakmu jalan-jalan?”


Agni rasanya ingin mencelus ke lubang terdalam. “M-Maaf, Tuan.”


Tanpa diduga, Ishaan tergelak sampai tubuhnya terguncang. Apa pria itu sedang mengerjainya? Agni tak tahu apa dia harus merasa lega atau malu.


“Relaks, Agni. Tentu, kamu boleh ikut aku jalan-jalan. Vienna is way too good to be missed.” Ternyata mereka satu pemikiran. “Asal kamu janji satu… atau dua hal.”


“Berjanji untuk apa, Tuan?”


“Satu, jangan terlalu akrab dengan orang asing, apalagi pria. Kecuali kamu mau pekerjaan kita semakin keteteran gara-gara aku babak belur dihajar berandalan.”


Agni menelan ludah. “Saya janji akan lebih hati-hati.”


“Dua, cepat sembunyi atau tutup pintu kamarmu saat kakakku menelepon.” Kali ini, peringatan yang lebih personal. “Maaf aku sampai harus memintamu pulang duluan di Milan kemarin saat kakakku video call. Dia tidak tahu aku bepergian bersama asisten buat trip di Eropa.”


Sebentar, bagaimana mungkin? Agni menangani pekerjaan Ishaan, bahkan untuk perekrutannya saja sudah seperti seleksi karyawan kantoran. Jangan-jangan dia adalah karwayan ilegal.


“Maaf, Tuan, kenapa—kenapa kakak Tuan tidak boleh tahu saya ada di sini?”


Lagi, Ishaan tak langsung menjawab. Pria itu malah meminta Agni menyelesaikan makan malamnya, lalu beranjak dari kursi sambil membawa piring kotor.


Mungkin urusan pribadi, batin Agni. Begitu selesai makan, Agni membawa piring dan gelasnya untuk dicuci. Kemudian dia masuk kamar, memakai skin care malam, lalu bersiap tidur.


Namun sebelum Agni merebahkan diri, ponselnya berdenting. Pesan baru dari Ishaan.


Untuk pertanyaan yang kamu ajukan tadi, aku akan jawab satu hari nanti.


***

__ADS_1


__ADS_2