
LAGI, Agni dibuat takjub karena mereka menempati apartemen di Frankfurt.
Apartemennya pun bukan tipe rumah bertingkat seperti di Berlin, melainkan di gedung berlantai 20 di jantung kota. Bersama Ishaan, Agni akan bermalam di sebuah unit apartemen di lantai 16. Pria itu juga mengatakan kalau tempat itu disewakan kliennya supaya mereka menikmati pengalaman terbaik di Frankfurt.
“Kebetulan pesta yang kita datangi Sabtu malam nanti diadakan di lantai teratas. Sekalian bisa akses ke rooftop,” Ishaan menjelaskan setelah mereka membereskan bawaan dan menata makan malam. “Mumpung kita sedang membicarakan pesta, apa kamu perlu membeli sesuatu untuk menunjang gaunmu? Sepatu hak tinggi atau makeup, misalnya?”
Agni berhenti mengunyah spagetinya. Selain sepatu untuk kerja dan flat shoes khusus bepergian, dia tak membawa alas kaki lain. Dia pikir, high heels yang dipakai untuk bertemu klien dapat digunakan buat pesta. Namun mendengar pemaparan Ishaan, lalu melihat apartemen yang dipilihkan kliennya, pesta yang mereka datangi pasti bakal dihadiri banyak tamu penting.
Jelas Agni tak bisa memakai sepatu kerjanya.
“Umh, sepertinya saya butuh sepatu baru. Apa ada toko di dekat sini—”
“Habiskan makananmu,” titah Ishaan. “Kita pergi ke butik langganan ibuku.”
*
Agni mengira Ishaan bakal mengajaknya ke The Zeil, pusat perbelanjaan yang, berdasarkan hasil pencarian di Google, menawarkan banyak produk dari aneka brand. Namun, pria itu justru membawanya ke kawasan lain yang terlihat lebih elit bernama Goethestraβe.
“Selamat malam, Tuan Marlon,” seorang staf perempuan menyambutnya kala mereka memasuki butik sepatu. “Ada yang bisa saya bantu?”
“Aku butuh sepatu pesta untuk perempuan.” Kemudian, Ishaan mendorong Agni yang sedari tadi mengekorinya. “Layani dia sebaik mungkin sampai menemukan sepatu yang pas dan nyaman.”
Staf perempuan tadi, yang memperkenalkan dirinya sebagai Andrea, membawa Agni ke rak sepatu berhak tinggi. Andrea menanyakan ukuran sepatu Agni dan model yang dia sukai, lalu memerintahkan staf lain mencarikan produk sesuai keterangan yang Agni sebutkan.
Tak sampai lima menit, Agni dihadapkan pada lima pasang sepatu yang cantik dan berkelas. Ada yang bertahtakan batu permata, ada yang bersaput emas. Akan tetapi, matanya tertuju pada strappy heels berwarna hitam yang simpel, tetapi elegan.
“Pilihan yang bagus.” Ishaan duduk di samping Agni kala gadis itu memasang strappy heels tersebut. “Ambil satu pasang lagi.”
“Satu saja sudah cukup, Tuan.” Agni juga suka lapisan velvet pada sepatu itu.
__ADS_1
“Ambil satu pasang lagi, Agni,” Ishaan memberi penekanan. “Sepatu kerjamu yang warna cokelat itu solnya sebentar lagi bakal copot.”
Astaga, Ishaan sampai memperhatikan sedetail itu? Tanpa membantah, Agni meminta Andrea mengambilkan pump shoes warna merah delima. Harga tak pernah bohong, apalagi kalau yang merekomendasikan orang berada seperti Ishaan. Dua puluh menit kemudian, Agni membawa dua kantung sepatu dari butik tersebut.
“Kamu juga butuh perhiasan.” Rupanya, Ishaan belum berniat mengajaknya pulang. “Anting dan kalung dengan detail simpel bagus buatmu. Apa kamu suka gelang?”
“Tuan, apakah ini tidak berlebihan?” Agni sekilas melihat harga yang tertera pada cincin yang dipajang di display. Dia tak tahu berapa nominalnya dalam rupiah, tetapi jumlahnya pasti fantastis.
Ishaan mengabaikan pertanyaannya. Pria itu malah memanggil seorang staf untuk membantu Agni mencarikan perhiasan yang tepat.
Agni pasrah. Untuk sepatu, dia masih bisa menerimanya. Namun untuk perhiasan mahal, dia berjanji akan mengembalikannya pada Ishaan begitu pesta selesai.
**
“Kenapa hanya saya yang belanja? Tuan memangnya tak butuh sepatu baru?”
Pertanyaan yang meluncur dari bibir Agni mengalihkan perhatian Ishaan dari ponselnya. Mereka berada di perjalanan pulang menuju apartemen diantar supir yang juga menemani mereka di Berlin.
Agni memeluk erat kantung-kantung belanjaannya. “Saya jadi penasaran, apa Tuan menganggap saya, dalam hal berbusana, kurang modis? Apalagi kita sering bertemu klien dari kalangan berada. Penampilan mereka necis. Saya kadang minder berhadapan dengan klien perempuan.”
Pertanyaan yang to the point, tetapi harus Ishaan jawab hati-hati. Agni bukan perempuan pertama yang menanyakan hal serupa padanya. Tanisha sering mencecarnya dengan berbagai pertanyaan terkait pakaian sampai hasil riasan wajahnya. Salah memilih kata, Ishaan bakal kena silent treatment berhari-hari.
“Aku menghargai kesadaranmu untuk berpakaian, terutama saat bertemu klien dari kalangan berada,” pelan-pelan Ishaan memilah kata. “Barangkali untuk standar kuliah dan magang, penampilanmu cukup rapi. Tapi harus kuakui, untuk skala pertemuan yang kita hadapi, kamu kadang underdressed.”
“Sememalukan apa penampilan saya?”
“Bukan memalukan, Agni. Bagaimana cara mengatakannya, ya?” Ishaan punya bayangannya, tetapi sulit menemukan kata yang tepat. “Kamu perlu menambahkan detail seperti aksesori. Anting, bros, atau semacamnya. Warna bold seperti merah juga cukup membantu buat menonjolkan karaktermu.”
“Jadi itu alasan Tuan membelikan saya perhiasan?”
__ADS_1
Ishaan mengangguk. “Kamu hanya perlu pakai satu atau dua, yang penting sesuai padu padan pakaian.”
Gadis itu menggumamkan oooh panjang. “Terima kasih untuk masukannya, Tuan. Akan saya coba untuk aplikasikan pada penampilan kerja saya.”
Dari hari ke hari, selalu ada satu hal yang membuat Ishaan terkesan pada Agni. Kepercayaan diri, profesionalitasnya. Sekarang caranya menerima masukan untuk menunjang penampilan. Dia tak salah pilih saat meminta Micah mengirimkan CV Agni berkat dorongan instingnya.
“Tadi kamu yang menanyakan pendapatku, sekarang aku ingin mengajukan hal yang sama.” Ishaan ikut penasaran, sosok seperti apa dirinya di mata Agni. “Sebagai atasanmu, apa aku pernah membebani atau mahal… terkesan mengintimidasimu?”
“Tuan mau mendengar pendapat saya?”
“Salah satu kunci sukses pebisnis adalah menampung masukan karyawannya.” Sebuah nasehat dari mendiang ayahnya yang terus Ishaan pegang. “Be brutally honest. Aku akan dengarkan.”
Sesaat, Agni tampak bimbang. Jemarinya pun tak berhenti menekan-nekan kantung belanja. Beberapa kali dia melirik ke arah Ishaan sebelum akhirnya berkata,
“Tuan sangat disiplin. Jarang basa-basi kalau mengungkapkan sesuatu terkait pekerjaan.” Gadis itu terdiam lagi. “Mungkin hanya impresi di awal karena kita belum dekat, tapi saya sempat mengira Tuan agak bossy dan bersikap seenaknya.”
Sekuat mungkin, Ishaan menahan tawa yang nyaris keluar. “Di bagian mana kamu menganggapku seperti itu?”
“Di club, waktu saya setor berkas. Terus Tuan kasih uang buat bayar UKT, saya,” Agni berdeham, “saya mengira Tuan adalah tipe orang yang bakal menyelesaikan masalah apa pun dengan uang.”
“Lalu, di momen apa asumsimu berubah?”
“Saat kita sampai di Eropa. Alih-alih terus memakai pesawat, Tuan memilih kereta untuk berkunjung dari satu kota ke kota lain. Tuan juga kadang beli makanan cepat saji. Saya sadar, ternyata Tuan telaten juga mengelola keuangan. Uang yang Tuan keluarkan selalu sesuai kebutuhan.”
Mobil yang mereka tumpangi memasuki jalan menuju apartemen. Ishaan ingin terus menyimak pendapat Agni tentang dirinya. Jarang sekali dia mendengar seseorang berkata sejujur dan sepolos ini padanya. Apalagi terkait keuangan. Ishaan paham hal ini berdampak pada Agni yang harus kerja banting tulang demi mendapatkan penghasilan tetap.
“Aku menghargai kejujuranmu, Agni. Thank you.” Tangannya gatal ingin merapikan helai-helai rambut yang menempel pada pipi gadis itu. “Kuharap kita bisa mengobrol seperti ini meski kamu hanya bekerja sebentar untukku.”
“Saya juga, Tuan. Sekali lagi, terima kasih sudah mendengarkan celotehan saya.”
__ADS_1
Tidak, Agni, terima kasih, batin Ishaan, terima kasih sudah bersedia masuk ke dalam kehidupanku.
***