Aku Bukan Simpanan Bosku

Aku Bukan Simpanan Bosku
Berkompromi


__ADS_3

MENGANTAR Inggrid ke supermarket hanyalah awal dari serangkaian masalah yang akan Agni hadapi.


Agni sempat menarik napas lega saat Dareen pulang dari kunjungannya ke Jakarta. Untuk beberapa hari, dia dan Rano dapat kembali ke rutinitas mereka, dari antar jemput, makan siang, sampai menonton film. Kalaupun ada perintah dari Dareen, isinya masih berkaitan dengan pekerjaan.


Barangkali Dareen sudah menemukan solusi untuk mengatasi masalahnya. Namun, dugaan Agni memelesat saat akhir pekan tiba.


Mulanya, Agni dan Rano berencana mengajak Uak Puput jalan-jalan ke Lembang. Mereka bahkan sudah menyusun jadwal kegiatan dan membujuk Uak Puput untuk menutup warungnya sebentar. Pada malam menjelang hari besar tiba, Agni yang tengah menyiapkan bekal menerima pesan dari Dareen.


Senyum yang tersungging di wajahnya seketika lenyap begitu membaca isi pesan itu.


Agni, bisa temani Inggrid ke tempat spa besok?


“Kamu kenapa?” Uak Puput, yang baru membereskan dapur, menangkap perubahan ekspresi tersebut. “Meni jamedud*.”


“Enggak apa-apa.” Cepat-cepat, Agni beranjak dari kursi. “Titip bentar, ya, Uak. Aku mau ambil barang dulu di kamar.”


Setelah menutup pintu kamar, Agni serta-merta menelepon Dareen. Sumpah, kalau pria itu bukan bosnya, dia bakal menolak permintaan itu tanpa pikir panjang.


“Malam, Pak, maaf mengganggu.” Bahkan Agni harus bersikap sopan saat kepalanya mendidih. “Pesan tadi—maksudnya apa, ya?”


“Besok Inggrid ada schedule spa. Dia udah booking buat dua orang,” Dareen terdengar bisik-bisik di ujung telepon. “Biasanya saya yang temani dia, tapi weekend ini saya berhalangan karena… Tanisha dan anak saya ke Bandung.”


Mampuuus, umpat Agni dalam hati. Kenapa enggak sekalian ketahuan sama Bu Tanisha biar penderitaanku berakhir.


“Maaf, maaf banget nih, Pak, saya bukannya enggak mau menemani Bu Inggrid. Cuma besok saya juga udah punya acara sama keluarga saya.” Agni *******-***** bantal, meluapkan kekesalan. “Jadi untuk kali ini, saya menolak—”


“Saya keburu bilang ke Inggris kalau kamu yang menemaninya.”


“Pak?” Agni tak dapat menahan suaranya yang mendadak meninggi. “Harusnya Bapak tanya dulu ke saya, apa jadwal saya kosong atau padat weekend ini. Kecuali Bapak yang bicara langsung ke keluarga saya—”


“Agni, tolong.” Dareen bahkan tak memberi Agni kesempatan untuk menyelesaikan kalimatnya. “Sekali ini saja, saya janji. Tanisha sepertinya mencurigani sesuatu dan saya perlu meyakinkan dia kalau saya tidak bermain api—oh! Atau mungkin kamu bisa ajak Inggrid jalan-jalan sama keluargamu.”


Mata Agni memanas. Dareen pasti bakal terus mendesak sampai dia mengabulkan permintaannya. Di sisi lain, dia tak mau menyinggung Uak Puput, apalagi Rano yang minggu ini terus mengalah demi Dareen.


“Pak,” suara Agni bergetar, hampir menangis, “boleh—boleh saya minta nomor telepon Bu Inggrid? Biar saya yang bicara langsung sama dia.”


“Lho, emangnya enggak bisa kasih keputusan—”


“Kalau Bapak enggak pengin Bu Tanisha tahu tentang keberadaan istri kedua, sebaiknya Bapak kasih nomor teleponnya sekarang.” Tangis Agni hampir meledak, tetapi dia haris bersikap tegas. Dia berharap, ini juga jadi permintaan terakhir Dareen atau hubungannya dengan Rano kembali renggang.

__ADS_1


*


Pada akhirnya, Agni mengambil jalan tengah. Kurang mengenakan, tetapi paling tidak Rano memakluminya.


“Maaf, aku nanti… pulang lebih cepat,” Agni menyampaikan perubahan rencana sebelum pergi ke Lembang. Semalam, dia berhasil melobi Inggrid untuk memundurkan jadwal spa ke sore menjelang malam. Syukurnya, Inggrid tak keberatan. “Rano, aku titip Uak, ya.”


Pada Uak Puput, Agni berdalih kalau dia mendadak harus menggantikan Dareen untuk meeting. Uak Puput sempat dibuat heran, tetapi tak menaruh curiga karena dia sering melihat Agni yang diminta ke kantor pada akhir pekan.


“Apa aku perlu bicara sama Pak Dareen?” tanya Rano saat Uak Puput berlalu ke toilet restoran. “Kalau dia bisa mendesakmu buat menyelamatkan rumah tangganya, berarti kita harusnya berhak juga meminta dia buat menjaga perasaan kita.”


“Kamu enggak takut kena surat peringatan atau… dipecat?”


“Jujur, aku enggak peduli, Agni. Aku malah udah cari loker buat siap-siap pindah.” Rano mengecek ponselnya. “Bukannya kamu harus pergi sekarang?”


Sebenarnya, Agni berat hati meninggalkan Rano dan Uak Puput. Butuh waktu sebulan sampai mereka punya jadwal kosong di waktu bersamaan. Sebesar apa pun uang ‘ganti rugi’ yang Dareen berikan, nilainya tak akan mampu menggantikan rasa bersalah Agni pada kedua orang yang sangat dia sayangi.


“Mau tunggu Uak dulu.” Agni berkemas. “Kalau kalian udah sampai rumah, jangan lupa kabari aku.”


**


“Mbak mau,” Ishaan merunduk ke arah Tanisha untuk berbisik, “ngelabrak selingkuhan Dareen?”


“Enggak kasihan sama Haikal? Mbak bawa dia sebagai senjata buat menutupi misi sesungguhnya, kan?”


“Kalau enggak bawa Haikal, Dareen pasti berkelit lagi, Ishaan!”


Ishaan sebenarnya tergoda ikut ke Bandung. Selain mencemaskan Haikal, dia perlu memastikan Tanisha tak salah ambil langkah. Kalau sampai terbukti Dareen main di belakang, kakaknya tak akan sungkan memulai perang dunia.


Sayangnya, Ishaan harus menemui klien di hari Sabtu yang cerah.


Tiba di restoran, Ishaan mendapati sebuah mobil mewah di area parkir. Apa kliennya datang lebih awal? Jika ya, semestinya Shia menghubunginya.


Ishaan lantas bergegas masuk untuk mengecek tamu yang mampir. Sayup-sayup, dia mendengar percakapan dua perempuan saat menaiki tangga. Saat belok menuju koridor, Ishaan menemukan Shia yang tengah berdiri di depan ruang kerja, sementara lawan bicaranya, berambut pirang, memunggunginya.


Langkah Ishaan terhenti. Seketika teringat kabar Micah minggu lalu.


Tatapannya dan Shia bertemu. Terlambat bagi Ishaan untuk mundur, sebab Shia telanjur mengisyaratkan lawan bicaranya untuk berbalik.


“Ishaan!” Lea berderap mendekat, lalu memeluknya. “Akhirnya bisa ketemu kamu lagi! Kata, umh, sekretarismu—”

__ADS_1


“Dia manajer restoran ini,” Ishaan mengoreksi cepat.


“Well, whatever. Intinya aku senang bisa meet up. Kamu susah banget diajak ketemuan di Frankfurt. Padahal tempat kerja kita lumayan dekat.”


Shia, yang tampak sungkan, mendekati mereka perlahan. “Maaf, saya cuma mau bilang Pak Gareth sudah sampai. Apa perlu saya antar dia ke meeting room?”


Baru kali ini Ishaan bersyukur diinterupsi meeting. Dilepasnya pelukan Lea yang membuatnya sesak. “Ya, tolong antar Pak Gareth, Shia. Saya akan menyusul.”


Lea memberengut saat menyadari reuninya terusik. “Terus aku harus tunggu kamu di mana? Aku belum terlalu hafal sama Jakartaaa.”


“Tunggu di bawah, oke? Pesan saja makanan yang kamu suka, it’s on me.”


“Tadinya aku mau ajak kamu lunch,” Lea terus merajuk.


Tujuh tahun sejak pertemuan terakhir mereka, tetapi Lea ternyata tak berubah. Masih menjengkelkan dan bertindak semena-mena. “Kalau kamu enggak mau menungguku, silakan, I won’t stop you. Bukan aku yang minta ketemu kamu, bukan?”


“Ishaan!”


Mengabaikan Lea yang merengek di belakang, Ishaan mempercepat langkah menuju meeting room. Dia benci harus mengambil langkah ini, tetapi hanya Shia yang dapat diandalkan untuk menahan Lea sebelum staf dan tamu-tamunya terganggu melihat tingkahnya yang kekanakan.


*


Meeting dengan Pak Gareth berjalan lancar walau fokus Ishaan agak bercabang. Antara memikirkan Tanisha dan Haikal dengan Lea yang entah sedang menunggu atau berulah di lantai bawah. Maka setelah mengantar kliennya ke tempat parkir, Ishaan kembali ke dalam restoran untuk mengecek Shia dan Lea.


Secara mengejutkan, Lea tengah menunggu sambil menikmati es krim. Shia, keluar dari dapur, menghampiri Ishaan yang sengaja menjaga jarak dari meja Lea. Saat hendak bertanya, Shia mendahuluinya.


“Maaf, Pak, tadi—tadi saya terpaksa bilang Bapak bersedia makan siang bersama Bu Lea,” katanya setengah berbisik. “Terus Bu Lea minta dipesankan makanan, asal jangan yang pedas dan berminyak.”


Ishaan, sambil mengawasi Lea, terus menyimak keterangan Shia. “Lalu, apa yang kamu pesankan untuk Lea?”


“Saya bilang akan memesan menu favorit Bapak. Bu Lea langsung mengiyakan.” Melalui ekor mata, Shia mengerling ke arah Lea. “Tapi di dapur saya minta chef buat masak ayam taliwang.”


Ishaan mengulum bibir, berusaha menahan tawa. Pengalaman Shia menangani pelanggan menyebalkan bertahun-tahun pasti melatihnya buat mengambil tindakan cepat dan tepat.


“Bapak marah?” Shia was-was mengamati Ishaan yang bergeming. “Saya harusnya konformasi dulu, tapi—"


“No, you did a good job.” Kemudian, Ishaan merapikan pakaiannya; bersiap-siap untuk memperlihatkan akting terbaiknya di depan Lea. “Silakan lanjutkan pekerjaanmu. Oh, sebelum pulang, temui aku dulu. Aku akan kasih kamu dan staf kitchen bonus untuk pekerjaan hari ini.”


***

__ADS_1


*Meni jamedud berarti wajahnya masam/muram dalam bahasa Sunda


__ADS_2