
SEBELUM musibah datang, biasanya seseorang bakal mendapatkan firasat. Setidaknya itu yang digambarkan sinetron ratusan episode yang kadang Agni tonton bersama Shia dulu. Bentuknya macam-macam, yang paling sering mereka lihat adalah gelas dan piring yang mendadak pecah.
"Kok bisa begitu ya," gumam Shia sambil menyaksikan sang tokoh utama yang sesegukan saat menerima telepon dari rumah sakit. "Emang enggak ada cara lain buat ngasih tahu kita bakal ada hal buruk terjadi."
"Namanya juga sinetron, yang enggak ada bisa diada-adain." Agni sendiri bukan tipe orang yang mempercayainya. Hidupnya terlalu banyak dijejali cobaan buruk. "Musibah kan enggak ada yang tahu juga kapan datangnya. Kalau ada yang dapet firasat, mungkin cuma kebetulan."
Kebetulan.
Obrolan singkat itu langsung terlupakan beberapa hari, bahkan tahun setelahnya. Sampai pagi ini, Agni menghadapi serangkaian kejadian ganjil. Dari Rano yang absen sakit. Hak sepatu kesayangannya patah. Lalu sebagian bahan baku warung Uak Puput yang tiba-tiba membusuk. Sebisa mungkin Agni mengabaikannya; menganggap bahwa semua itu sekadar kebetulan di hari yang kurang menguntungkan.
*
Di kantor, Agni menyapa para rekan kerjanya. Terasa normal sehingga dia tak lagi memusingkan hal-hal yabg terjadi sebelum tiba di sini. Begitu pintu lift terbuka, Agni melangkah menuju ruangan sembari memikirkan makanan apa yang akan dia bawa ke rumah Rano untuk menjenguknya sore nanti.
"Di mana dia?"
Teriakan itu seketika mengalihkan perhatian semua orang, termasuk Agni yang hendak masuk ke ruangan. Orang-orang saling bertukar pandang. Susana di lantai tersebut sekonyong-konyong hening; membuat langkah kaki dari arah tangga terdengar semakin jelas.
"Di mana dia, Mas?" tanya suara itu lantang.
"Kenapa kamu mau cari dia?" Suara kedua membuat Agni dan beberapa orang membelalak. Dareen. "Kita bisa bicarakan ini di rumah. Jangan bikin malu di sini!"
"Malu? Kamu bisa merasa malu sekarang?" Perempuan itu, tak salah lagi Tanisha, muncul dari puncak tangga dengan tatapan nyalang. "Akan kupermalukan kalian berdua! Biar mereka tahu seperti apa atasan yang selama ini mereka banggakan!"
Agni menyesal buru-buru pergi ke kantor. Semestinya dia naik angkot tadi. Tidak apa-apa menunggu supirnya ngetem, yang penting dia terhindar dari drama rumah tangga bosnya.
"Di mana..." Tanisha memindai ruangan hingga matanya tertambat pada Agni. Mungkin hanya perasaan Agni, tetapi sorot mata sosok itu seketika menajam saat mereka bersitatap. "Mau ke mana kamu!"
"Tanisha, tolong." Dareen berusaha menenangkannya.
"Kenapa? Kamu mau bela dia di depan semua karyawanmu?" Hardik Tanisha. "Benar-benar enggak tahu malu! Terang-terangan membela simpanan saat istrimu ada di sini!"
Agni melongo. Siapa yang Tanisha maksud simpanan tadi?
"Kamu," Tanisha berhenti beberapa langkah di depan Agni. Amarah di wajahnya membuat Agni seketika ciut, "selama bertahun-tahun aku memberi toleransi pada suamiku untuk mempekerjakan sekretaris perempuan. Ternyata tetap saja enggak bisa dipercaya. Kalian main belakang juga!"
"Bu, sebentar saya," Agni gelagapan kala Dareen mengisyaratkannya agar tak menyebut nama Inggrid, "saya enggak punya hubungan lebih sama Pak Dareen selain jadi sekretaris."
"Lalu ini apa?" Tanisha mengeluarkan beberapa lembar foto dari tas dan melemparkannya pada Agni. "Diam-diam mampir ke rumah kami, sampai masuk ke hotel dan baru keluar sehari setelahnya. Kalian ngapain di dalam sana!"
"Bu, sumpah, saya enggak main api sama Pak Dareen. Ini cuma salah paham. Ya kan, Pak?"
"Enggak usah minta pembelaan!" Tanisha nyaris menjerit di depan wajah Agni. "Ngaku kamu atau saya langsung pecat dari posisimu!"
Ingin sekali Agni minta pertolongan, tetapi para karyawan memilih bersembunyi. Malah ada yang diam-diam merekam kejadian tersebut.
"Demi Tuhan, Bu," Agni mencicit. "Mana mungkin saya mengakui kesalahan yang enggak saya perbuat."
"Pintar juga kamu berkelit. Apa kamu merayu suami saya sengan mulutmu yang berbisa itu?"
__ADS_1
"Dengan segala hormat," suara Agni bergetar hebat, "Ibu menuduh orang yang salah. Saya enggak akan menjatuhkan harga diri saya demi..."
"Banyak omong kamu!"
"Mbak Tanisha!"
Plak!
Sensasi nyeri bercampur panas merembeti pipi kiri Agni. Kedua lututnya lemas, nyaris membuatnya tersungkur ke lantai. Hening yang mengisi ruangan perlahan terisi gumaman dan bisik-bisik yang tak ingin Agni dengar. Karena yang memenuhi benaknya sekarang bukan hanya malu, tetapi juga ketakutan yang begitu familier baginya.
"Mbak Tanisha apa-apaan, sih?" Suara ketiga meningkahi dengungan di sekitarnya. Suara yang tak kalah akrab di telinga Agni. "Ingat pesanku tadi? Kita enggak akan main fisik."
"She deserves it," Tanisha terisak. "Satu tamparan belum cukup buat perempuan kurang diuntung itu!"
"Mbak...." Sosok itu mengeluarkan ******* frustrasi. "Mas Dareen, bisa tolong bawa kakakku ke tempat lebih tenang?"
Dareen hanya mengangguk, lalu membimbing istrinya yang kini menangis hebat.
"Hei." Sebuah tangan menepuk pundak Agni. "Maaf, apa ada yang terluka?"
Jantung Agni berdegup kencang. Apa dia sedang bermimpi? Mudah-mudahan begitu. Karena mana mungkin setelah tujuh tahun berlalu, dia dipertemukan kembali dengan pria itu dalam situasi yang buruk.
**
"Boleh aku lihat sebentar pipinya? Atau perlu kita masuk dulu ke ruanganmu?"
Namun, siapa yang mampu menahan singa murka? Ishaan hanya bisa mengikuti dan memastikan Tanisha tak bertindak gegabah.
Namun, karena jarang mampir ke kantor Dareen di Bandung, Ishaan sempat kebingungan mencari Tanisha yang lebih dulu masuk. Dia mengecek satu per satu ruangan sampai mendengar keributan di sebuah lantai. Sayangnya saat Ishaan menemukan Tanisha, sang kakak sudah melakukan tindakan yang paling dia takutkan.
Perempuan itu, yang Tanisha tuduh sebagai simpanan Dareen, bersandar sambil memegangi pipi. Ishaan lantas meminta Dareen mengamankan Tanisha, sementara dia yang mengurus sisa keributan.
"Siapa pun yang merekam kejadian tadi, tolong hapus videonya dan jangan coba sebarkan ke media sosial." Ishaan melayangkan tatapan tajam ke arah para karyawan di lantai tersebut. "Kami punya tim pengacara profesional yang siap menyeret kalian ke meja hijau."
Sementara karyawan-karyawan tadi berlarian kembali ke meja dan kubikel, Ishaan sekali lagi menoleh ke arah perempuan yang masih menunduk. Di sekitar kakinya, foto-foto yang Tanisha kumpulkan berserakan. Ishaan mengambilnya satu per satu; memberikan ruang pada pada perempuan itu untuk menenangkan diri.
"Kalau kamu mau merawat lukamu sendiri, it's okay. Aku bakal ke ruangan kakak iparku," katanya. "I'm trying to be neutral here, tapi kamu jangan coba-coba melarikan diri sebelum masalah ini selesai."
Tanpa Ishaan duga, perempuan tadi mendongak; mempertemukan tatapan mereka.
Foto-foto tadi terjatuh dari tangan Ishaan. Apa dia sedang bermimpi? Mudah-mudahan tidak, karena momen ini telah dia nantikan selama tujuh tahun terakhir.
Namun, mengapa mereka bertemu di tengah masalah rumah tangga kakaknya?
*
"Saya... saya bukan simpanan Pak Dareen."
Ishaan ingin percaya. Bukan, dia percaya sepenuhnya pada pernyataan Agni. Mereka bukan orang asing. Di sisi lain, kumpulan foto yang Tanisha kumpulkan memuat sosok Agni di berbagai tempat. Dari rumah Dareen hingga hotel bintang lima. Semuanya diambil dari kejauhan, sehingga wajah Agni terlihat kabur. Namun tentu Tanisha punya banyak cara untuk mengidentifikasinya.
__ADS_1
"Aku jujur saja bingung. Posisiku di sini sekadar membantu kakakku."
"Bu Tanisha," Agni meringis, "dia kakak yang sering Tuan ceritakan dulu?"
Ishaan mengangguk. Saat menyinggung Tanisha di depan Agni, dia memang tak pernah menyebut nama. Barangkali gara-gara itu juga Agni sampai tak tahu mereka sebenarnya adalah kakak-adik.
"Agni, seperti yang kubilang, posisiku netral dalam kasus ini. Cuma...." Dipandanginya foto-foto di meja. "Aku enggak mau menuduhmu yang macam-macam, tetapi semua potret ini jelas bikin kakakku mengira kamu adalah simpanan suaminya."
Sosok di hadapannya bergeming. "Saya serius, Tuan, saya enggak macam-macam sama Pak Dareen. Lagi pula saya punya pacar."
Mendengar pernyataan itu, Ishaan termangu
"Pacar?" Ishaan malah membeo.
"Iya, dia kerja di sini juga sebagai akuntan. Sayangnya hari ini absen gara-gara sakit."
Sesuatu yang tajam menusuk-nusuk hati Ishaan. Ternyata bukan cuma Tanisha yang patah hati hari ini.
"Apa saya bisa menemui Pak Dareen dan Bu Tanisha? Saya perlu meluruskan semuanya."
"Jangan gegabah, kakakku pasti masih kalut dan bakal bertindak lebih nekat saat melihatmu," cegat Ishaan. "Biar aku yang cek. Kamu tunggu di sini."
Ishaan bergegas meninggalkan ruangan Agni, tetapi dia tak langsung menemui kedua orang itu. Dia bahkan lupa di mana ruang kerja kakak iparnya. Satu tempat yang ingin dia tuju sekarang adalah toilet terdekat.
Sudah terlambat, batin Ishaan sembari membasuh wajah. Tentu, tentu Agni bakal memilih orang lain. Tujuh tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk mengubah prinsip seseorang. Agni yang dulu mengaku tak tertarik berkomitmen saja bisa langsung berubah haluan saat bertemu sosok yang tepat.
Ishaan tersenyum getir. Kenapa bukan dia yang jadi orang yang tepat buat Agni?
Ponselnya bergetar. Saat melihat nama Tanisha di layar, Ishaan segera menerima panggilan tersebut.
"Aku mau pulang," rengek sang kakak. "Dareen masih enggak mau ngaku kalau dia selingkuh sama sekretarisnya."
"Mbak dengar apa yang dia jelaskan?"
"Dia terus bela sekretarisnya itu, aku enggak ingat namanya."
"Agni." Refleks Ishaan menyahutnya. "Aku antar Mbak pulang sekarang. Posisi di mana?"
"Aku mau ke ruang HRD dulu buat minta mereka bikin surat pemecatan buat perempuan itu!"
"Mbak, hei, hei." Ishaan serta-merta keluar dari toilet. Di mana pula ruang HRD kantor ini? "Tadi Mbak udah jadi tontonan banyak orang, jangan bikin malu...."
"Kakak iparmu yang bikin malu!" Kemudian, Tanisha memutus percakapan tersebut.
Posisi Ishaan terjepit. Walau ada bukti, dia yakin Agni tak bakal bertindak sejauh itu. Lalu kalau bukan Agni yang main api, apa berarti Dareen juga tak selingkuh?
Atau justru ada sosok lain yang sebenarnya menjadi simpanan Dareen?
***
__ADS_1