
“SEWA mata-mata buat ngawasin Dareen?”
“Iya, aku enggak bisa terjun ke Bandung langsung, Mbak. Dareen pasti curiga.”
“Kamu bakal minta bantuan siapa? Kan Micah yang biasanya handle.”
“Aku kenal sebagian anak buahnya. Biar aku kontak mereka hari ini.”
Selepas mengantarkan Haikal ke sekolah, Ishaan membawa mobilnya menuju restoran. Lebih tepatnya club malam yang dia ubah jadi restoran sekitar lima tahun lalu. Keputusan yang cukup mengejutkan, bahkan bagi dirinya sendiri. Namun, Ishaan punya dua alasan yang mendorongnya untuk merombak tempat tersebut.
Satu, suasana club yang selalu mengingatkan Ishaan pada kejadian di Berlin bersama Lea. Dia mendadak tak nyaman berlama-lama di dalam club, bahkan di tempat yang dia bangun bersama Micah.
Dua, melepaskan bayang-bayang Agni. Sulit dipercaya bagaimana perjalanan tiga bulan yang ditujukan untuk bisnis malah menyika batin Ishaan. Dia tak pernah berniat mencari closure. Menyingkirkan hal-hal yang berhubungan dengan Agni adalah langkah yang Ishaan harapkan membantunya melupakan gadis itu.
Sayangnya tindakan itu malah mempertemukan Ishaan dengan sesuatu atau seseorang yang berkaitan dengan Agni.
*
Restoran yang Ishaan dan Micah kelola masih mempertahankan konsep industrial. Hanya saja mereka perlu merombak interior lantai satu dan dua; melenyapkan lantai dansa dan memoles bar. Dareen membantu Ishaan dengan merekomendasikan desainer interior. Walau mereka butuh waktu untuk rebranding, restoran itu mampu berkembang sampai saat ini.
Setelah memarkirkan mobil, Ishaan mengamati restoran sambil menyapa staf. Setengah jam lagi sebelum restoran buka. Sebelum briefing, Ishaan menunggu manajer di ruang kerjanya.
Ishaan baru membuka laptop saat seseorang mengetuk pintu.
“Masuk, pintunya enggak dikunci,” katanya. Pintu terbuka, menampakkan sosok perempuan muda berpakaian formal dalam balutan blazer dan rok selutut. Kala mereka bersitatap, Ishaan tercengang. Begitu pula dengan sosok itu.
“Kamu—” Ishaan beranjak dari kursinya. Nama itu ada di dalam sana, di antara kenangan-kenangan yang berusaha dia kubur. “Kamu temannya… Micah.”
“Shia. Shia Airi,” akhirnya perempuan itu memperkenalkan diri. “Saya baru kerja dua minggu di sini.”
“Oh pantas, terakhir aku ke sini masih manajer yang lama. Ternyata kamu yang ganti posisi dia.” Ishaan manggut-manggut. “Shia, barangkali Micah sudah cerita soal tugasnya di Jerman. Selama tiga bulan ke depan, aku yang menggantikan posisinya di sini. Tapi Micah bakal terus memantau dari sana.”
Shia mengangguk paham. “Ada yang bisa saya bantu untuk hari ini?”
“Tolong kirim laporan bulan lalu. Keuangan, evaluasi karyawan, supplier… semuanya ke emailku.” Kemudian, Ishaan menyerahkan kartu namanya pada Shia. “Sekarang, kita briefing di bawah. Kumpulkan staf, aku akan menyusul.”
__ADS_1
Ishaan langsung memegangi tepi meja kala Shia meninggalkan ruangan. Hampir saja dia keceplosan menyebut teman Agni. Kalau benar Agni tak lagi bekerja di Jakarta, seperti yang Micah sampaikan, apa Shia masih sering bertukar kabar dengannya?
Fokus, fokus sama kerjaan, Ishaan, batinnya sambil mengusap wajah. Shia jadi semacam cobaan baginya untuk mengulik keberadaan Agni. Namun, Ishaan harus bisa menjaga diri. Profesionalitasnya dipertaruhkan. Selain itu, dia punya urusan lain yang harus diprioritaskan.
Melacak selingkuhan Dareen.
*
Ishaan menghabiskan dua jam pertamanya di restoran dengan mempelajari laporan-laporan yang dikirimkan Shia. Supaya konsentrasinya tidak berantakan, dia sengaja meminta staf memasang coffee maker di ruang kerjanya. Jadi dia dapat menyeduh kopi sendiri tanpa bolak-balik menyuruh seseorang.
Menjelang makan siang, Ishaan keluar untuk mengawasi restoran. Seperti yang dia duga, meja-meja nyaris terisi penuh. Pramusaji lalu lalang mencatat dan mengantar makanan, sementara dapur riuh oleh bunyi alat masak dan staf yang menyebutkan pesanan.
Perutnya bergemuruh. Ishaan bisa saja memesan langsung ke dapur kalau tak menyadari panjangnya daftar yang sudah masuk. Ishaan lantas memilih mencari makanan di luar sambil bertemu anak buah Micah. Lalu saat berpapasan dengan Shia, suara dalam pikirannya menyebutkan sebuah tempat yang dapat dituju.
*
Sebentar, mengapa Ishaan malah menuruti saran suara itu?
“Selamat datang, apa yang ingin Anda pesan?” Kasir di hadapannya tersenyum simpul. Mendadak, Ishaan tak enak kalau harus pergi. Apalagi dia meminta anak buah Micah untuk menemuinya di sini.
Matanya memindai cepat menu yang tertera di panel. “Umh, Paket 4. Satu porsi. Makan di sini.”
Ishaan menggeleng cepat sebelum mengambil tindakan bodoh lainnya. Setelah menyelesaikan transaksi, dia berlalu menuju meja di sudut ruangan sambil membawa nomor. Saat mengecek ponsel, dia mendapati pesan baru dari anak buah Micah yang terjenak macet.
Maaf, saya mungkin terlambat, katanya. Kira-kira 20 menit lagi sampai.
Ya sudahlah. Paling tidak Ishaan dapat menikmati makan siangnya.
“Nomor 20,” sang kasir menyebutkan nomor Ishaan. Saat hendak mengambil pesanan, dia menyadari ada tambahan yang ditaruh pada nampannya.
“Mbak,” Ishaan memanggil kasir tadi. “Saya enggak pesan dessert tadi.”
“Oh, itu bonus buat yang pesan Paket 4. Lagi promosi bulan ini, Kak.”
Perlahan, Ishaan membaca lagi makanan dan minuman yang terdapat pada Paket 4. Seporsi fried chicken dan french fries dengan minuman soda. Khusus bulan ini, bunyi pesan tambahan pada paket itu, setiap pembelian sudah termasuk…
__ADS_1
…satu cream and cookies ice cream.
Ishaan rasanya ingin berlari keluar restoran cepat saji. Apa yang semesta ingin katakan padanya melalui semua kebetulan ini?
*
Kata orang-orang, you attract what you fear. Masalahnya, Ishaan bukan ketakutan. Dia hanya ingin bekerja tenang tanpa dibayang-bayangi—
“Tuan—”
“A—” Ishaan menoleh pada sosok yang berdiri di ambang pintu. Shia. “Pak. Aku enggak keberatan dipanggil Bapak.”
“Maaf, Pak. Soalnya saya dengar beberapa orang panggil Tuan.” Shia melangkah masuk untuk menyerahkan folder berisi laporan. “Ini dokumen yang sudah diperbaiki. Kalau semua pekerjaan sudah selesai, saya mau pamit pulang.”
Saking semrawutnya pikiran Ishaan, dia sampai tak memperhatikan jam kerja. Rupanya sudah hampir pukul enam sore. Sebentar lagi restoran akan ramai untuk makan malam.
“Silakan. Kalau seandainya ada revisi lagi, aku akan kabari besok pagi.” Ishaan juga perlu beristirahat sebelum semakin uring-uringan. Mungkin efek jet lag-nya belum benar-benar hilang.
Tepat saat Shia berlalu dari ruangan, Micah meneleponnya.
“Gimana hari pertama kerja di kantor baruuu?” Micah terkekeh. “Sorry gue lupa kasih tahu Shia kerja di sana.”
“It’s okay, aku perhatikan pekerjaannya bagus dan rapi.” Sambil mengobrol, Ishaan mematikan laptop dan membereskan barang-barangnya. “Tadi siang aku ketemu juga sama anak buah yang kamu rekomendasikan. Besok pagi dia meluncur ke Bandung buat mengawasi Dareen.”
“Kirain lo yang terjun ke lapangan.”
“Kamu sama Mbak Tanisha mikirnya satu frekuensi, ya. Aku tunggu momen tepat buat memantau Dareen. Misalnya pas kunjungan kerja, jadi dia enggak curiga.” Dia perlu mengalihkan pembicaraan. “Kamu sendiri bisa pegang kerjaanku di sana?”
“Nah, ini alasan gue telepon lo.” Suara Micah tiba-tiba terdengar serius. Apa ada masalah yang terjadi di Frankfurt? “Barusan gue abis meeting sama makan siang sama klien. Terus pas mau balik, tebak gue ketemu siapa di parkiran?”
Ishaan memijiti keningnya. “Siapa? Aku lagi malas tebak-tebakan.”
“Lea,” ujar Micah. Singkat, tetap malah menambah kehororan. “Gue males, sih, basa-basi sama dia, tapi dia keburu nyerocos ini-itu. Terus sebelum masuk mobil, dia tanyain lo dan gue malah bilang lo balik ke Jakarta.”
“Astaga, Micah….”
__ADS_1
“I know, sorry, but here’s the worst part,” Micah mengambil jeda, “Lea bakal ke Indonesia minggu depan, buat ngurus bisnis ayahnya. So, yeah, be careful. Karena gue yakin dia bakal melakukan apa pun buat ketemu lo lagi.”
***