Aku Bukan Simpanan Bosku

Aku Bukan Simpanan Bosku
Kejutan di Wina


__ADS_3

CUACA berangsur hangat seiring berlalunya hari-hari terakhir musim panas. Momen yang tepat bagi Ishaan buat berkelana ke berbagai tempat. Dia tak perlu berdesakan dengan wisatawan yang membludak di masa liburan. Bukan hanya itu, bujet yang dia siapkan untuk perjalanan ini jadi lebih murah.


Di sisi lain, Ishaan perlu memastikan Agni aman dan sehat. Ini adalah pengalaman pertamanya ke luar negeri dan jauh dari Indonesia dalam waktu lama. Syukurnya, sejauh ini, Agni mampu beradaptasi dengan perubahan cuaca dan makanan yang mereka santap.


Sejauh ini pula, Tanisha belum tahu Ishaan bepergian bersama Agni.


“Serius kalau proyeknya berhasil, kamu bakal stay di Eropa?” Selepas pertemuan terakhir di Wina, Ishaan kembali mendapat video call dari Tanisha. “Kamu masih bisa pegang kantor cabang di Tangerang atau Bandung, lho.”


“Aku lebih kerasan di sini, Mbak.” Selain itu, Ishaan ingin lebih dekat dengan sang ibu. “Bakal aku sempatkan pulang setiap dua bulan sekali. Mbak di sana juga punya Dareen yang pegang kerjaan.”


Tanisha cemberut. Bukankah seharusnya pengantin baru terlihat bahagia? Ekspresi sang kakak justru berbanding terbalik dengan unggahan bulan madunya yang romantis di media sosial.


“Mbak sengaja video call karena kepengin curhat, kan?” tembak Ishaan. “Dareen macem-macem sama Mbak?”


“Bukan gitu, aku kesepian. Beres honeymoon, dia langsung ngurus kerjaan. Mana minggu depan dia resmi dilantik jadi CEO,” keluh Tanisha. “Makanya aku pengin langsung progam kehamilan, biar rame di rumah. Perhatian Dareen juga enggak bakal terpusat ke kerjaan terus.”


Seenteng itu Tanisha membahas kehamilan. Namun, kehadiran anak di tengah keluarga Marlon sangat penting untuk meneruskan garis pewaris perusahaan. Apalagi Ishaan tak berencana ingin punya anak. Jangankan membina rumah tangga, membangun komitmen saja terasa bak mimpi yang sulit diwujudkan baginya.


“Eh, kamu gimana selama di Eropa? Enggak sembarangan tidur sama cewek, kan?” Giliran Tanisha yang menyeldiki Ishaan. “Tumben banget, lho, kamu pengin trip sendirian. Biasanya minimal kamu ditemani Micah.”


“Biar terbiasa mandiri kalau aku jadi kelola cabang di sini,” Ishaan mengeluarkan alasan yang sudah lama dia siapkan. “Mana sempat aku cari cewek, buat makan kadang lupa.”


“Banyak alasan. Dulu sama Ayanna kan sering tuh di kantor.” Aduh, Tanisha malah ungkit kebiasaan buruk yang juga bikin Ishaan pengin minggat dari Jakarta. “Di sini udah lewat tengah malam. Aku tidur duluan, ya!”


“Dareen belum pulang?”


“Nginep lagi di kantor. Besok pagi paling pulang, mumpung libur. Jadi kami juga bisa….” Tanisha terkikik. “Kamu juga, makan terus tidur! Jangan lupa setor laporan ke sekretaris di kantor!”


Begitu video call selesai, Ishaan menaruh ponselnya di nakas. Ucapan Tanisha tadi mengingatkannya pada satu hal: besok dia ada janji jalan-jalan bersama Agni.


*


Ishaan memasukkan Wina ke daftar kunjungan untuk mempelajari pembuatan furnitur dengan bahan dasar daur ulang. Terobosan yang dia anggap memberikan perubahan besar untuk produk perusahaan. Sebagian besar furnitur yang Ishaan lihat bersama Agni membuatnya terpukau. Dari desain sampai ketahanan, semuanya tak kalah bagus dari furnitur dengan material premium.


Hal lain yang Ishaan kagumi dari Wina adalah keindahan arsitekturnya. Setiap memasuki kota ini, rasanya dia seperti ditarik ke masa lalu. Siang ini, misalnya, dia dan Agni melewati Katedral St. Stephens yang jadi ikon Wina. Atapnya yang menjulang dapat dilihat dari berbagai sudut kota, bahkan dari jendela aaprtemen yang mereka tempati.

__ADS_1


Setelah itu, keduanya mampir ke The Albertina, museum yang memamerkan koleksi lukisan dan karya seni mengagumkan. Beberapa di antaranya datang dari nama-nama populer seperti Monet dan Picasso. Namun, kunjungan ke Austrian Gallery yang justru memantik binar kekaguman dari Agni.


Tepatnya saat mereka menghampiri lukisan berjudul The Kiss karya Gustav Klimt.


“Kamu tahu lukisan ini?” Ishaan dibuat penasaran melihat Agni yang melekatkan pandangannya pada karya seni itu. Seolah-olah dia kena hipnotis. “The Kiss cukup populer, jadi aku tidak kaget kalau kamu ternyata familier sama karya Klimt.”


“Iya, saya pernah melihatnya di media sosial,” Agni mengakui. “Saya bukan pecinta karya seni, tapi sesuatu dari lukisan ini,” gadis itu mengambil jeda sejenak, “saya bisa memandanginya seharian.”


Seandainya bisa, Ishaan akan membiarkan Agni mengagumi The Kiss selama yang dia inginkan. Namun, mereka terhalang jam kunjungan yang terbatas. Jam makan siang pun semakin mendekat. Perlahan, Ishaan mendekati Agni, lalu menunduk dan berbisik padanya,


“Aku tak bermaksud mengakhiri kebahagiaanmu, tapi perutku lapar.”


Agni tersentak, lalu menarik tubuhnya kala menyadari Ishaan berdiri di belakangnya. Namun, secepat itu pula dia meminta maaf. “Saya—saya sudah selesai memandangi lukisannya. Tuan mau makan siang di mana?”


Ishaan mengajak Agni mampir ke restoran cepat saji, lalu belanja stok makanan ke minimarket tak jauh dari sana. Keduanya lantas menunggu di trem yang akan membawa mereka ke apartemen. Sebenarnya masih terlalu siang bagi Ishaan buat pulang, tetapi dia ingat Agni selalu meluangkan sisa akhir pekannya untuk menulis skripsi atau bimbingan.


“Tuan,” panggil Agni yang menunjuk sesuatu ke luar jendela trem, “di mana bianglala itu berdiri?”


Mata Ishaan menyipit. Bianglala yang dimaksud Agni perlahan mengecil karena trem semakin menjauh, tetapi dia dapat mengenali asal lokasinya.


Gadis di sampingnya tersenyum malu-malu. “Iya, saya belum pernah naik bianglala.”


“Tahu begitu, tadi kita mampir ke sana. Kamu bakal menyukai pemandangan dari atas bianglala di Prater.” Trem berbelok mengarah ke apartemen mereka. “Sebentar lagi kita turun. Cek lagi belanjaan yang kubeli tadi.”


Sesampainya dii apartemen, Ishaan dan Agni kembali sibuk dengan masing-masing aktivitas. Namun tanpa Agni ketahui, Ishaan tengah menghubungi beberapa orang untuk memberinya kejutan yang mustahil dia lupakan.


*


Sepekan di Wina berlalu cepat bak angin. Rasanya baru kemarin Ishaan berjalan tertatih memasuki apartemen, sekarang dia sudah mengepak pakaian dan barang-barang lainnya ke koper. Akan tetapi, Ishaan masih punya banyak waktu karena dia dan Agni baru berangkat ke Praha selepas makan malam.


Selain itu, Ishaan punya rencana lain untuk membuat hari Minggu mereka lebih menyenangkan.


Bel pintu apartemen berbunyi. “Biar saya yang buka!” Agni berseru sambil berlari menuju pintu. Mendengar hal itu, Ishaan tersenyum simpul. Rangakaian kejutannya mulai bergulir.


“Iya, betul saya Nona Karalyn,” Agni mengonfirmasi saat seorang pria menanyakan namanya. Di belakang, Ishaan menyaksikan reaksi Agni saat pria tadi meminta anak buahnya membawakan paket berbentuk persegi panjang, lalu meminta Agni buat menandatangani bukti penyerahan sebelum meninggalkan unit apartemen.

__ADS_1


“Siapa yang kirim paket ke sini—”


“Bukalah,” pinta Ishaan. Dia mulai geregetan ingin melihat ekspresi Agni. “Hati-hati, jangan sampai isinya rusak.”


Agni mematuhinya, lalu membuka pembungkus berlapis secara perlahan. Ketika gadis itu menyadari isi paket tersebut, tangannya bergerak lebih cepat sampai lapisan dalam bungkusan tersebut terkoyak.


“Tuan, benarkah ini—” Tangan Agni meraba permukaan benda itu. Lukisan yang dilihatnya di galeri kemarin siang. The Kiss. “Tapi, bagaimana—ini pasti mahal.”


“The Kiss sudah masuk daftar lukisan public domain, jadi bisa direproduksi secara massal,” Ishaan menjelaskan. “Aku juga belum mampu beli lukisan aslinya. The one you’re seeing now is a replica, dibuat sama pelukis profesional.”


Mata Agni berkaca-kaca. “Kenapa Tuan sampai memberikan saya lukisan ini? Saya hanya mengaguminya, saya bahkan kurang memahami seni.”


“Kamu tidak perlu jadi kritikus seni buat memiliki lukisan, Agni. Aku kira kamu pantas memegang satu replika The Kiss karena yang kulihat, kamu punya koneksi kuat dengan lukisan ini.”


Gadis itu sekuat mungkin menahan air matanya yang mulai mengalir. Reaksi yang entah mengapa ikut menyentuh Ishaan.


“Sebentar, Tuan.” Suaranya terdengar bergetar. “Bagaimana saya membawa lukisan ini di sisa perjalanan kita.”


“Tenang, sebelum ke Praha, aku bakal minta kenalanku buat mengirimkannya ke rumah Micah. Begitu kita pulang ke Jakarta, kamu bisa mengambilnya.”


Sedetik kemudian, Ishaan merasakan sesuatu menubruk tubuhnya. Bukan, lebih tepatnya seseorang.


Agni sedang memeluknya.


“Terima kasih, Tuan. Saya—” gadis itu berusaha mengendalikan isaknya “—saya tidak tahu harus balas apa."


Ishaan berpegangan pada pinggiran meja. Pikirannya juda jadi kalut menerima pelukan Agni. Fokus, fokus, batinnya. Dia belum boleh tumbang sebelum menyampaikan kejutan kedua.


“Kalau kamu mau membalasnya, lepas dulu pelukanmu,” ujar Ishaan yang serta-merta membuat Agni menarik dirinya dari tubuh pria itu. “Sekarang, rapikan rambut dan pakaianmu. Pakai alas kaki yang nyaman, karena kita akan main seharian di Prater.”


***


Ini lukisan yang Agni lihat


__ADS_1


__ADS_2