
SEBENTAR lagi, Agni tiba di kota yang dilabeli sebagai tempat paling romantis di dunia.
Paris.
Di sepanjang perjalanan, Agni membayangkan apakah Paris secantik yang dia lihat di film dan serial drama? Apakah Eiffel begitu memesona sampai orang-orang rela terbang dari berbagai penjuru dunia buat melihatnya dengan mata kepala sendiri? Sebanyak apa orang yang melamar pasangannya di sana—
“Agni, simpan dompet dan ponselmu di saku dalam jaket.”
Seruan Ishaan menyeret Agni dari lamunannya. “Kenapa, Tuan?”
Ishaan mengulang perintahnya, lalu menambahkan, “Kalau kamu dari tadi melamun gara-gara memikirkan romantisnya Paris, kubur anggapan itu dalam-dalam. Pada kunjungan pertama sepuluh tahun lalu, aku malah dicopet begitu keluar dari kereta.”
Itu artinya, Agni tak boleh membantah. Segera, dia mengecek ulang semua barang bawannya, menutup semua ritsleting rapat-rapat, lalu memasukkan dompet dan ponsel ke saku dalam jaket. Barangkali karena ini pula Ishaan membelikannya jaket tersebut sebelum meninggalkan Frankfurt tadi pagi.
Omong-omong soal Frankfurt….
Lengan atasnya mendadak berdenyut nyeri. Jejak yang Lea tinggalkan sudah berangsur hilang, tetapi setiap mengingatnya, Agni selalu merasakan sakit itu. Lalu, meski Ishaan tak meneruskan insiden itu ke polisi, sikapnya jadi agak… protektif. Namun, bisa jadi itu hanya perasaan Agni.
Satu hal yang bikin Agni terharu, Ishaan meminta Bu Ajeng menyiapkan bubur pesan yang dia pesan. Katanya, dia ingin tangan orang Indonesia langsung yang mengolah hidangan itu. Tanpa perlu diragukan, Bu Ajeng yang terampil merias rupanya lihai juga menyajikan bubur ayam yang rasanya seketika membawa Agni ke Indonesia.
“Nih saya kasih resepnya kalau mau coba bikin.” Bu Ajeng memberikan secarik kertas pada Agni sebelum pamit dari apartemen. “Bahan-bahannya agak susah cari di sini, mungkin bisa Agni beli di toko-toko Asia.”
Resep bubur ayam itu jadi kenang-kenangan manis bagi Agni. Bu Ajeng telah memberikan pengalaman yang sudah lama dia impikan: dirawat seseorang yang memiliki figur keibuan yang kuat. Sesuatu yang tak dia dapatkan dari ibu tirinya.
“Sepuluh menit lagi kita sampai.” Ishaan, yang duduk di hadapannya, meneliti Agni lekat-lekat. “Kamu sudah baikan?”
“Jauh lebih baik, semuanya berkat pertolongan Tuan juga.”
“Aku jamin Lea tak akan berani menyusul ke sini,” pria itu meyakinkannya. “Sebentar lagi kita bakal menyelesaikan trip, lalu liburan di Marrakesh. Kuharap kamu masih kuat menemaniku.”
Benar. Dari Paris, mereka tinggal mengunjungi dua kota lagi: Amsterdam dan Barcelona. Tiba-tiba saja, Agni sedih. Bukan hanya karena perjalanannya keliling Eropa hampir berakhir, tetapi juga kenyataan bahwa dia dan Ishaan akan berpisah, lalu kembali menjalani kehidupan masing-masing.
*
__ADS_1
Bukan Ishaan namanya kalau tak memilih apartemen yang mengesankan. Serelah menghabiskan sepekan penuh di gedung mewah, Agni bakal menempati lagi bangunan bertingkat bak rumah seperti di Berlin. Mereka mendiami lantai paling atas dan bonusnya ternyata bukan akses ke rooftop.
Melainkan view langsung ke Menara Eiffel.
“Dulu, aku suka sarapan dan dinner di sini,” Ishaan membukakan pintu kaca yang mengarah ke balkoni. “Sekarang kesanku sama menara itu biasa saja, tapi buatmu bisa berbeda. It’s your first time.”
“Sebentar, apa apartemen ini milik keluarga Tuan juga?”
“Lebih tepatnya milikku. Apartemen ini adalah properti pertama yang kubeli memakai uangku sendiri.”
Ishaan berlalu ke kamar untuk membereskan bawaannya. Agni, yang masih memandangi Menara Eiifel, mencerna kata-kata yang pria itu ucapkan barusan. Apartemen miliknya? Apa ini artinya setara dengan tidur di rumah seseorang?
Properti pribadi Ishaan.
Jemari Agni memegangi tepi pintu kaca. Tenang, ini sama kayak waktu nginep di apartemen-apartemen sebelumnya, gadis itu menenangkan diri. Bisa aja dia ngajak gue ke sini buat menghemat biaya. Pasti mahal kalau terus-terusan sewa apartemen mewah.
Daripada membiarkan dirinya tenggelam dalam lamunan ngawur, Agni memilih membereskan kamar tamu yang berada di seberang kamar Ishaan. Cukup di Frankfurt dia membiarkan dirinya rapuh di depan Ishaan. Kini, saatnya mengaktifkan lagi mode asisten pribadi yang profesional.
**
Hal ini juga yang membuat Ishaan berpikir untuk membawa Agni ke apartemen pribadinya. Apartemen yang lokasinya tak diketahui siapa pun, bahkan oleh Micah dan sang ibu, dua orang yang sangat dia percaya.
“Pernah coba cinnamon roll? Ini kupesan dari toko langgananku.” Di malam hari, Ishaan memperkenalkan Agni pada salah satu makanan favoritnya. “Aku kurang suka sama makanan Prancis, kecuali yang manis-manis. Jadi seminggu ke depan, kayaknya kita bakal pesan dari restoran Asia buat makan.”
Agni mengambil sebuah cinnamon roll untuk dipindahkan ke piring kecil. “Kita masak seperti biasa saja, Tuan. Pesan paling sesekali.”
Bukannya Ishaan malas memasak, dia cemas makanan buatan Agni bakal menyulitkannya melupakan gadis itu. Belakangan Ishaan sangat menantikan setiap hidangan yang Agni hidangkan. Kalau sudah suka dengan racikan tangan seseorang, pria itu bakal berusaha mempertahannya selama mungkin.
“Baiklah, besok setelah meeting, kita mampir ke supermarket Asia.” Di sisi lain, Ishaan belum punya alasan bagus buat mencegah Agni memasak. “Susun menunya dulu biar kita gampang cari-cari bahannya.”
Agni yang sedang mengunyah cinnamin roll hanya mengangguk-angguk. Menyaksikan antusiasme Agni yang terpancar dari wajahnya melegakan Ishaan. Momen saat gadis itu menangis dalam pelukannya terus membayang-bayangi Ishaan. Dia penasaran dengan sesuatu yang membuat Agni menangis hebat, tetapi dia memilih menyingkirkannya.
“Enak,” Agni berkomentar setelah menghabiskan cinnamon roll pertamanya. “Sayang saya kurang jago baking, padahal pengin coba."
__ADS_1
Sebaiknya memang jangan, Ishaan menanggapi dalam hati, kalau jago baking, lama-lama dia bakal mengambil hatiku.
“Ambil sepuasmu. Kamu cuma makan bubur seharian kemarin. Butuh gula juga upaya tenagamu kembali.”
Lantas, Agni tanpa sungkan mengambil tiga cinnamon roll. Mengundang senyum pada wajah Ishaan. Selama Agni aman di bawah pengawasannya, Ishaan akan fokus menyelesakan sisa aktivitasnya.
*
Keesokan harinya, Ishaan dengan penuh semangat bersiap-siap di kamar. Bukan karena akan bertemu klien yang juga desainer interior panutannya. Justru, Ishaan menantikan sesi belanja bersama Agni.
“Dua pertemuan hari ini selesai lebih cepat.” Agni mengecek notula dan jadwal di tablet-nya. “Apa Tuan sedang buru-buru? Saya perhatikan Tuan tadi agak tergesa-gesa selama pertemuan berlangsung.”
Wah, ternyata Agni menyadarinya. Mana mungkin Ishaan mengatakan alasannya terburu-buru karena menunggu waktu belanja bersama gadis itu?
“Kita, kan, mau belanja.” Hati-hati Ishaan memilah kata. “Kalau kesorean, takutnya kita malah berjejalan sama yang pulang kerja.”
Syukur, Agni tak menaruh curiga. Setengah jam kemudian, mereka sampai di supermarket yang dulu dikunjungi sang ibu saat ingin memasak nasi goreng atau tumis sayur. Setelah mengambil troli, Ishaan membimbing Agni menuju rak sayur dan protein sembari mengecek menu yang Agni kirim ke ponselnya.
Kata-kata dalam bahasa Prancis yang tercantum pada label kemasan sesekali membingungkan Agni. Namun, hal itu tak menghalangi antusiasmenya mengitari rak-rak berisi bahan baku makanan. Ishaan, mengekori Agni sambil mendorong troli, membayangkan serangkaian adegan yang akan terjadi setelah mereka belanja.
Di apartemen, Agni bakal mengeluarkan isi kantung belanja, lalu menatanya sesuai tempat. Ishaan biasanya hanya mengamati, tetapi dia bertekad mengubahnya. Jadi nanti, dia bergabung dengan Agni beres-beres. Mungkin ikut menyiapkan makan malam mereka. Lalu saat Agni memotong bawang atau mengocok telur, Ishaan bakal menggodanya dan, ya, siapa tahu ini waktu yang tepat untuk—
“Waduh!” Troli yang Ishaan bawa menubruk pinggang seorang perempuan paruh baya. Sosok itu memelotinya. “Hati-hati kalau bawa baranh! Matamu masih bisa melihat, bukan?”
“Maaf, tidak sengaja.” Karena penguasaan bahasa Prancisnya yang tak terlalu bauk, Ishaan memilih menyingkir sebelum perempuan tadi semakin murka.
Fokus, Ishaan, melanturnya nanti di apartemen.
Ishaan lalu mengembalikan fokusnya pada Agni. Namun saat di menengok ke depan, gadis itu sudah hilang dari pengawasannya.
***
*[Prancis] Selamat datang di Prancis
__ADS_1