Aku Bukan Simpanan Bosku

Aku Bukan Simpanan Bosku
Petunjuk Kecil di Bandung


__ADS_3

AGNI, bisa temani istri saya belanja ke supermarket?


Saat pesan itu masuk, Agni sedang merapikan riasan wajah. Sekitar sepuluh menit lagi, Rano bakal sampai ke rumah Uak Puput buat menjemputnya. Lalu, kenapa harus dia yang mengantar istri Dareen, yang Agni asumsikan adalah Inggrid dalam konteks pesan tersebut, untuk belanja?


Kapan saya harus antar istri Bapak?


Sebelum kamu ke kantor, bisa? Saya nanti shareloc rumah dan bakal kasih kamu bayaran tambahan.


Agni menggeram kesal. Kalau kata Uak Puput, dia yang katempuhan*. Bukan pihak yang mencari perkara, tetapi malah kena getahnya. Hari demi hari, respeknya pada Dareen pun mulai terkikis. Sayangnya dia tak berdaya dan hanya bisa manut sampai menemukan solusi untuk keluar dari masalah bosnya.


“Kusut banget, ada meeting pagi ini?” tanya Rano saat Agni masuk ke mobil. “Perlu kita ambil jalan pin—”


“Antar aku ke rumah istrinya Pak Dareen.”


“Istri? Bukannya—oh.” Rano paham istri mana yang Agni maksud. “Di mana rumahnya, aku antar kamu ke sana.”


*


Inggrid bagai sosok tabu di antara karyawan-karyawan Dareen. Semua tahu siapa perempuan itu, hanya saja membicarakannya seperti kutukan yang bakal membawa petaka. Agni dan Heni, pion terdepan yang Dareen pasang untuk pertahanan, tak dapat berbuat banyak. Di mata beberapa karyawan, mereka dijadikan sumber kredibel untuk mengorek gosip terbaru. Sebagian lagi menganggap mereka sebagai penjilat karena tak melakukan perlawanan pada Dareen.


Ingin sekali Agni bersikap cuek, tetapi tindakan Dareen memang tak bisa dibenarkan. Apalagi dia perempuan. Agni tak bakal menyalahkan Tanisha kalau kelak marah besar begitu menemukan rahasia ini. Dareen pantas menerimanya.


“Maaf, ya, kita enggak bisa ke kantor bareng-bareng.” Agni melepas seat belt, lalu menatap rumah yang masih mempertahankan arsitektur Eropa di seberang jalan. “Aku juga cemas bakal ada permintaan-permintaan serupa di kemudian hari.”


“Kamu enggak bisa tolak permintaan Pak Dareen?” Kali ini, Rano terdengar tegas. “Menurutmu, apa dia enggak plin plan? Selama ini bilang jangan bawa urusan pribadi ke kantor, tapi sekarang malah nyeret karyawannya buat menutupi rahasia yang enggak berkaitan sama pekerjaan.”


Dipikir-pikir, perkataan Rano ada benarnya juga. Namun, Agni tak punya waktu banyak buat mendiskusikannya. “Kita bicarakan lagi pas jam makan siang.”


“Kamu yakin kita bisa makan siang bareng?”


Pertanyaan itu menyayat hati Agni. Selain jam makan siang, kini momen antar-jemput yang selalu dia nantikan ikut terganggu gara-gara permintaan Dareen yang macam-macam. Manusia punya batas kesabaran dan Agni sadar betul dia harus segera mengambil tindakan tegas sebelum Rano menembus batas tersebut.


*


Sejak kali pertama bertemu Inggrid, sulit bagi Agni buat membencinya. Bukan hanya penampilannya yang rapi, tutur katanya juga sopan. Heni sempat cerita kalau Inggrid sempat membagikan kue kering untuk front office saat menunggu Dareen. Tak butuh waktu lama kebaikannya tersebar ke seantaro kantor; menciptakan dilema bagi para karyawan.


Seandainya saja Inggrid bukan istri kedua—


“Dareen enggak ngerepotin kamu, kan, Agni?” Inggrid menyeret Agni keluar dari lamunan. “Biasanya dia yang antar saya belanja bulanan, cuma tadi dia harus ke Jakarta buat ketemu klien.”

__ADS_1


Klien apa ‘klien’, sindir Agni dalam hati. “Enggak apa-apa, Bu. Di kantor ada yang bantu handle jadwal. Saya bisa kontrol juga lewat ponsel.”


“Saya yang nanti antar kamu ke kantor, biar enggak lama nunggu ojek.”


Agni menggeleng cepat. “Enggak usah repot-repot—”


“Sekalian saya mau hafalin rute jalan di Bandung,” Inggrid menyambar cepat. “Jadi kalau mau apa-apa, saya bisa pergi sendiri dan enggak bikin repot orang lain.”


Agni tak bisa mendebat. Dia paham mengapa Dareen menyukai Inggrid, tetapi menjadikannya istri kedua? Lalu, apa Inggrid tahu dia bukan yang pertama?


Menilai dari cara Dareen mengontrol situasi ini, sepertinya Inggrid tak tahu apa-apa, termasuk keberadaan Tanisha sebagai istri sah. Lalu fakta bahwa Inggrid pindah dari Malang ke Bandung... kentara sekali Dareen memanfaatkan jarak untuk menutupi statusnya yang sudah beristri dan punya anak. Membayangkan dampak yang muncul kalau rahasia ini terbuka saja sudah bikin Agni mual.


“Terima kasih sudah menemani saya,” ucap Inggrid sesampainya mereka di kantor. Perempuan itu lantas mengambil kantung berisi dua kotak piza yang dia beli dekat supermarket. “Buatmu dan teman-teman. Diterima, ya.”


Sumpah, Agni semakin sungkan. Inggrid barangkali hanya ingin mengakrabkan diri dengan karyawan-karyawan suaminya. Namun, perlakukan ini pasti bakal berubah drastis saat Inggrid mengetahui kebenarannya.


Dengan langkah gontai, Agni memasuki kantor; mengabaikan tatapan penasaran yang mengawasinya. Agni lantas menghampiri Heni, lalu menyerahkan sekotak piza padanya. Hanya lewat lirikan, mereka memahami apa yang terjadi. Kemudian, Agni berlalu menuju lift, berharap Rano tak akan marah dan bersedia makan siang bersamanya.


**


Ishaan terkejut mendapati kedatangan Dareen di restoran yang tanpa kabar. Sang kakak ipar menyapa staf yang bertugas sebelum bergabung dengan Ishaan yang tengah mengawasi dari lantai dua.


“Sejauh ini aman, aku bisa beradaptasi.” Ishaan mengumpat dalam hati. Padahal baru tadi pagi anak buah Micah ditugaskan ke Bandung untuk menguntit Dareen. “Berapa lama Mas di Jakarta?”


“Besok malam juga balik ke Bandung. Kantor enggak bisa lama-lama ditinggal.” Bagus, paling tidak Ishaan dapat memberitahu orang suruhannya bergerak. “Saya mau cek dapur dulu.”


Saat Dareen turun menuju dapur, Ishaan berbalik menuju ruang kerja. Shia rupanya sedang menunggu di depan pintu bersama laporan yang dia minta.


“Dareen di sini.” Ishaan membukakan pintu. “Kamu udah ketemu sama kakak iparku, kan?”


“Sudah, beberapa kali Pak Dareen ke sini,” sahut Shia sambil menaruh map berisi dokumen. “Saya mau mengingatkan nanti siang ada wedding organizer yang pengin food testing.”


Sekali lagi, Ishaan dihantam ombak kenangan dari masa lalu. Mengingat Shia berteman baik dengan Agni, hanya tinggal menunggu waktu saja sampai Ishaan menanyakan kabar gadis itu padanya. “Oke, kamu nanti handle dulu, aku bakal bergabung selepas makan siang.”


“Ada yang ingin Bapak tanyakan atau ingatkan?”


Ishaan mulanya hendak menyuruh Shia meneruskan pekerjaan. Namun, dia penasaran, apa Shia pernah melihat Dareen bersikap mesra dengan perempuan lain atau malah terang-terangan membawanya.


“Shia,” Ishaan memastikan pintunya tertutup, “waktu berkunjung ke restoran, apa Dareen selalu datang sendiri?”

__ADS_1


Shia termenung sejenak. “Kadang sendiri, kadang datang bersama klien yang mau makan atau pakai restoran.”


“Weekday atau weekend?”


“Untuk kunjungan kerja biasanya weekday. Jarang pas weekend kecuali buat ajak keluarganya lunch atau dinner.”


Masih terlalu dini buat menyimpulkan Dareen tak bersalah. “Baiklah, terima kasih. Kamu bisa teruskan pekerjaanmu.”


Ishaan tak langsung mengecek dokumen-dokumennya saat Shia meninggalkan ruangan. Pikirannya bercabang. Antara fokus bekerja dan memantau Dareen. Belum lagi Lea yang dapat datang kapan saja.


Akan tetapi, tak ada yang lebih buruk dibandingkan dihantui bayang-bayang Agni.


*


Meski Dareen ada di Jakarta, Ishaan memastikan anak buah Micah tetap bekerja. Dia membagikan alamat kantor Dareen dan lokasi-lokasi yang kemungkinan besar dikunjungi sang kakak ipar. Sayangnya, Ishaan belum tahu alamat baru rumah Dareen. Menanyakannya terang-terangan pasti bakal mengundang kecurigaan.


“Mbak, tahu di mana alamat rumah Dareen yang baru?” Pasti Tanisha tahu. “Aku mau minta orang suruhanku buat mantau di sana.”


Tanisha, yang sedang mencuci perlengkapan makan, mengiayakan lewat anggukan. “Nanti aku kirim lewat chat.”


Khusus malam ini juga Ishaan bermalam di rumah Tanisha alih-alih menepi di apartemen. Demi misinya mengumpulkan petunjuk agar bisa kembali ke Frankfurt lebih cepat. Ishaan sampai rela main kuda-kudaan bersama Haikal demi menguping pembicaraan Tanisha dan Dareen di ruang tengah.


“Mau liburan ke Banduuuung.” Tanisha merajuk manja. “Aku sama Haikal belum sempet, lho, tidur di rumah barumu. Tiap ke sana pasti nginep di hotel.”


“Masih ada ruangan yang direnovasi,” Dareen berkilah. “Makanya aku belum ajak kalian ke Bandung. Paling minggu depan.”


“Penginnya minggu ini. Enggak apa-apa staycation juga asal bisa kumpul bertiga.”


Tanisha tak mendapatkan petunjuk yang diharapkan, tetapi Ishaan tetap meminta orang suruhannya datang ke alamat rumah Dareen. Menjelang tidur, Ishaan yang tidur menemani Haikal menerima pesan yang yang dari tadi dia nantikan.


Pak, rumahnya enggak lagi direnovasi. Malah kayaknya udah ditinggali, bunyi pesan itu, lengkap bersama sebuah foto tampak depan. Mau saya awasi terus?


Pulang saja dulu. Besok pagi, kamu datang lagi, Ishaan membalas. Ingat, jangan terlalu lama. Nanti ada yang curiga.


Satu petunjuk kecil. Ishaan memilih menyimpannya dulu. Setelah cukup kuat, Ishaan akan menyerahkannya pada Tanisha.


***


*katempuhan dalam bahasa Sunda berarti menanggung kerugian atau dampak perbuatan yang dilakukan orang lain

__ADS_1


__ADS_2