
SAAT pindah ke Bandung lima tahun lalu, Agni was-was bakal sulit beradaptasi di rumah Uak Puput. Mereka jarang bertemu, mungkin hanya sekali atau dua kali setahun saat mudik Lebaran. Frekuensi kunjungan terus berkurang sampai sang ayah meninggal dunia.
Kemudian, saat mengurus pemindahan makam, Agni sama sekali tak berpikir menetap di Kota Kembang. Gadis itu hanya bilang akan ziarah ke makam ayahnya bila sempat. Uak Puput pun berjanji bakal merawat tempat peristirahatan terakhir adiknya yang ditempatkan dekat makam suaminya.
Siapa sangka sebentar lagi Agni bakal jadi warga tetap Bandung. Harus diakui dari prospek kerja, Jakarta punya peluang lebih luas. Akan tetapi, Bandung menawarkan kenyamanan yang dia butuhkan setelah bertahun-tahun menderita di ibu kota.
“Shia jam berapa datang ke sini?” Malam ini, Uak Puput memasak tumis bayam dan telur orak-arik. Simpel, tetapi rasanya selalu bikin Agni ketagihan. “Kalau mau nginep, Uak harus beres-beres kamar tamu.”
“Enggak usah, Shia tidur di kamarku,” cegat Agni. “Katanya besok jam sepuluhan sampai Bandung. Aku minjem motor Uak, ya, buat jemput di pool travel.”
“Cicil mobil atuh, Agni. Meh teu hese rek kamamana teh*.”
Entah sudah berapa kali Uak Puput menyarankan hal tersebut. Bukan tanpa alasan dia mengatakannya. Gaji Agni cukup untuk mencicil kendaraan pribadi. Malah untuk beli tunai, tabungannya bisa dipakai untuk city car yang terjangkau. Jadi, Agni leluasa bepergian tanpa harus mengandalkan ojek atau jemputan Rano. Bahkan mereka bisa liburan berdua ke tempat-tempat wisata kekinian.
“Katanya Uak pengin ke Korea sama aku. Bentar lagi uangnya cukup, lho, buat kita kelayapan seminggu di Seoul,” Agni mengungkit salah satu misi yang ingin Uak Puput capai. “Tahun ini aku sengaja belum ambil cuti supaya bisa dapet jatah panjang akhir tahun nanti.”
Mata Uak Puput langsung berbinar. “Jadi kita teh lihat salju di Seoul?”
“Jadi, jadi. Makanya Uak jangan bahas yang lain dulu kalau mau jarambah**.”
Selepas makan malam dan mencuci peralatan makan, Agni bergegas menyiapkan kamar. Shia, yang kini bekerja sebagai manajer di sebuah restoran di Jakarta, kadang ke Bandung untuk liburan. Dua bulan terakhir, kunjungannya ditujukan pula buat memantau cabang restoran yang rencananya dibangun di Jalan Riau.
Walau sama-sama sudah mapan, Shia memilih bermalam di rumah Uak Puput ketimbang hotel. Dia juga sengaja tak membawa mobil pribadinya supaya bisa jalan-jalan keliling Bandung naik sepeda motor bersama Agni. “Di Jakarta mana bisa kayak begini”, komentar Shia saat mereka menelusuri Dago bulan lalu.
Agni mengembuskan napas panjang setelah memasang sprei baru, lalu menyalakan lampu tidurnya sebelum membaringkan tubuh. Diraihnya ponsel dan di waktu yang bersamaan, Rano meneleponnya.
Bak gadis kecil yang menerima permen favorit, Agni tersenyum lebar, lalu menekan tombol hijau untuk menerima panggilan tersebut.
*
“Bandung panasnya udah kayak Jakarta, nih,” celoteh Shia saat keluar dari bus travel. “By the way, gue bawa **frozen food di ransel. Biar sampai rumah bisa langsung lo masak buat maksi.”
Agni menyerahkan helm pada sahabatnya. “Pantesan Uak Puput enggak nyetok bahan buat makan siang. Ternyata ada yang bawa pasokan dari Jakarta.”
“Lumayan, kan, biar Uak Puput istirahat pas weekend.” Bukannya mengambil helm, Shia malah berbelok ke bagian depan area parkir. “Bentar, Ni, gue mau beli telur gulung sama cilor buat ngemil.”
__ADS_1
Sekitar lima belas menit kemudian, Agni dan Shia sampai di rumah Uak Puput yang berlokasi tak jauh dari Jalan Diponegoro. Pintu rumah terkunci, menandakan kalau Uak Puput masih di warung makan. Agni lantas mengeluarkan kunci cadangan, lalu mempersilakan Shia untuk langsung masuk ke kamarnya di lantai dua.
“Ke Lapangan Gasibu, yuk, besok pagi,” ajak Shia kala Agni membantunya mengeluarkan barang bawaan dari tas dan ransel. “Sama Uak Puput sekalian, enggak usah jualan dulu besok.”
“Beres, beres.” Agni mengeluarkan kantung berisi aneka frozen food. Sebagian besar adalah makanan khas Korea seperti gimmari, mandu, kimchi, dan odeng. Sangat jelas Shia menyiapkannya untuk Uak Puput. “Lo mau cek restoran juga? Hari ini gue kosong, jadi bisa anter ke sana kemari.”
“Yoi, sorean ajalah, sekitar setengah empat. Gue mau tidur dulu abis maksi.” Kemudian, Shia beranjak untuk menata pakaian di rak kecil yang Agni sediakan untuknya. Namun, langkahnya terhenti kala menangkap sebuah benda panjang seperti pintu yang bersandar di lemari.
Shia mengelus permukaannya yang tertutup koran. “Ni, ini lukisan itu, bukan?”
Punggung Agni menegak. Dia menoleh ke belakang dan mendapati sahabatnya berdiri di dekat benda tersebut. “Uh, iya. Ukurannya terlalu besar buat dipajang di kamar. Gue juga enggak bisa pasang di ruang tamu, terlalu… yah.”
“Kayaknya baru kemarin lo jalan-jalan jauh ke Eropa.” Shia berdecak, sementara Agni berusaha mencari topik lain untuk mengalihkan pembicaraan. “Gue sempet ngira lo bakal jadian sama bos lo itu, tapi jodoh enggak ada yang tahu, ya.”
“Ketinggian, Shi. Beda sama Rano, dia satu level sama gue.” Agni membawa kantung berisi frozen food. “Gue ke dapur dulu, ya, sekalian nunggu Uak Puput pulang.”
Sambil menuruni tangga, Agni berusaha mengenyahkan terjangan kenangannya selama di Eropa. Mengapa memori itu begitu mengusiknya? Mengapa Agni tak bisa menyimpannya dalam arsip ingatan menyenangkan? Seakan-akan ada urusan dari periode tersebut yang perlu dia bereskan sebelum menikah dengan Rano.
Namun, bagaimana Agni harus menuntaskannya kalau penyebabnya saja sulit buat dia temukan?
**
“You’ll thank me later, Bro. Jakarta panasnya edan sekarang,” ujar Micah, seakan menyadari respons yang hendak Ishaan lontarkan. “Gue udah pelajari proyek yang lagi lo kerjakan dan bakal lo ambil tahun depan. Klien-klien lo gimana, udah dikasih notice lo bakal pulang kampung?”
“They know. Nanti ada yang kontak kamu ke email buat bahas desain kafenya di Berlin.” Sekali lagi, Ishaan mengecek jadwal keberangkatannya. Tanisha, bersama Dareen, Haikal, dan Bu Ajeng, terbang lebih dulu kemarin malam. Sementara Ishaan perlu menyelesaikan beberapa pekerjaan di Frankfurt.
Micah menyesap kopinya yang hampir habis. “Sebelum lo masuk pesawat, gue mau tanya sesuatu.”
“Tanya apaan?”
“I’m not siding with your sister, okay?” Sahabatnya berdeham. “Minggu lalu, bawahan gue tugas ke Bandung buat cek stok barang. Terus, dia lihat Dareen masuk hotel sama cewek. Dia enggak kenal ceweknya siapa, tapi kelihatan jauh lebih muda dari ipar dan kakak lo.”
Ishaan jadi penasaran, apa Micah masih menyimpan perasaan pada Tanisha? Namun, dia memilih memendam pertanyaan itu. “Apa yang mau kamu tanyakan?”
“Apa rencana lo buat bantu Tanisha cari bukti perselingkuhan Dareen?”
__ADS_1
“To be honest, I have no idea.” Rencana termudah yang bisa Ishaan ajukan adalah menerjunkan mata-mata. “Sampai sekarang, aku masih berpikir Mbak Tanisha hanya overthinking gara-gara Dareen jarang di rumah. Aku balik ke Jakarta semata-mata buat menenangkan dia.”
“Lo sama sekali enggak curiga sama tindak-tanduk ipar lo?”
“Micah, buat berasumsi saja sulit. Kami terpisah jarak jauh. Cuma curhatan Mbak Tanisha yang mengisi rasa penasaranku.”
Sebelum Micah mendebat lebih jauh, Ishaan beringsut dari kursi dan menarik kopernya. “I gotta go now. Kalau ada apa-apa di kantor, kirim email dulu. Aku balas begitu masuk kantor.”
“Ishaan, bentar.” Panggilan Micah tadi menghentikan langkahnya. Di ambang pintu kafe, sahabatnya menatapnya lekat-lekat sebelum mengatakan,
“Agni udah enggak kerja di Jakarta.”
*
Agni udah enggak kerja di Jakarta.
Sekian tahun berlalu, Ishaan akhirnya mendapatkan update mengenai gadis itu.
Sebenarnya, sejak resmi mengurus perusahaan di Frankfurt, Ishaan berupaya keras untuk tidak mengecek kondisi Agni. Sayangnya, Micah bukan sosok yang mudah dia kelabui. Sahabatnya kadang memberi informasi sambil lalu. Entah di tengah obrolan atau basa-basi saat menyampaikan perkembangan bisnis di Jakarta.
Informasi terakhir yang Micah sampaikan, sekitar enam atau tujuh tahun lalu, adalah Agni lulus dengan predikat cum laude. Surat rekomendasi yang dia kirim juga membantu gadis itu mendapatkan pekerjaan. Entah apa posisinya. Sekretaris? Staf administrasi? Asisten pribadi? Apa pun itu, Ishaan bersyukur urusan Agni terus dilancarkan dan dimudahkan.
Kadang, Ishaan memantau dari media sosial. Memang tak langsung ke akun Agni, karena semuanya digembok. Satu-satunya sumber yang dia andalkan adalah akun Shia. Di sejumlah foto dan video, Shia membagikan momennya bersama Agni. Sayangnya, keberadaan Agni berangsur menghilang seiring berkurangnya frekuensi Shia memakai medsos.
"Ketahuan kali akun anon yang stalking dia ternyata punya lo,” ujar Micah saat Ishaan menceritakan hal tersebut. “Lagian lo kayak remaja tanggung aja bikin akun begituan. Kan bisa tanya ke gue yang kenal sama Shia.”
Seorang pramugari menata makan malam untuk Ishaan. Sesekali, mereka bersitatap, membuat pramugari itu tersipu. Di masa lalu, masa sebelum bertemu Agni, Ishaan pasti bakal mengambil kesempatan untuk berkenalan atau menyisipkan nomor telepon yang biasanya berakhir pada one night stand di hotel.
Kini, Ishaan hanya merespons senyuman sang pramugari dengan ucapan terima kasih, lalu mulai menyantap makanannya. Mengutip ucapan Tanisha, mungkin saja dia sudah insaf. Siap buat membangun rumah tangga.
Kalau memang begitu kenyataannya, lantas mengapa Ishaan malah memilih melajang ketimbang mencari pendamping sehidup semati?
Mengapa hanya sosok Agni yang dia harapkan untuk menemaninya?
***
__ADS_1
*[Sunda] Biar enggak susah mau ke mana-mana.
** [Sunda] Jalan-jalan jauh.