Aku Bukan Simpanan Bosku

Aku Bukan Simpanan Bosku
Terpisah Tragedi


__ADS_3

“DULU pas pelajaran Agama di SMP, guru gue pernah bilang kalau hubungan suami-istri itu rasanya kayak surga dunia,” celoteh Shia satu hari di tengah shift malam yang sepi. “Mana dia pake cengengesan pula pas ngomong begitu, bocah kayak gue mana paham, kan. Punya pacar aja belum kesampaian.”


“Lagian guru lo bahas apa sampai nyinggung hubungan suami-istri?” Entah mengapa, Agni kurang menyukai aura guru tersebut walau mereka tak pernah bertemu. “Bukannya bahas ayat-ayat suci atau sejarah peradaban agama.”


“Lupa, ih, udah lama juga gue lulus SMP.” Shia terkekeh. “Mendadak inget pas kemarin ketemu kenalan gue.”


“Siapa, sih, kenalan lo itu? Kayaknya lo lebih sering kencan sama dia.” Sebenarnya Agni mencurigai satu nama, tetapi dia memilih Shia cerita sendiri.


Sahabatnya nyengir. “Ada, deeeh. Intinya dia bikin gue paham kenapa guru gue bilang begitu pas SMP. Bedanya ya itungannya bukan jadi pahala, soalnya gue belum nikah.”


Mungkin karena disebut surga dunia juga orang-orang jadi lupa diri.


Agni termasuk di antaranya.


Di tengah kenikmatan yang menenggelamkan kewarasannya, Agni sekonyong-konyong teringat obrolan tadi. Susah buat deskripsiinnya. Lo bakal ngerti, deh, kalau nanti udah ngerasain, pungkas Shia sebelum berlalu ke kasir. Kadang Agni penasaran, tetapi seringnya dia tak memusingkan karena dia bukan tipe petualang seperti Shia.


Oh, siapa sangka Agni akhirnya memahami kata-kata Shia malam ini.


“Masih sakit?”


Agni berharap Ishaan dapat mendengar isi kepalanya. Setiap kata yang hendak dia ucapkan selalu lebur jadi racauan. Bagaimana mungkin Agni menjawab saat tubuhnya sibuk merespons setiap sentuhan dan entakan yang Ishaan berikan padanya?


“Pelan,” gumam Agni, terbata. “Pelankan sedikit—”


Satu lagi ******* lolos dari bibir Agni. Matanya kembali terpejam sementara jemarinya meremas kasar rambut Ishaan. Entah sudah berapa lama mereka beradu di ranjang, Agni sampai kehilangan persepsi waktu. Hal terakhir yang dia ingat sebelum Ishaan berhasil membawanya ke puncak adalah semburat kuning dari ufuk timur yang perlahan mengikis langit malam.


**


Hasil tes yang dikirimkan dokter dari rumah sakit di Frankfurt menyatakan bahwa Ishaan ‘bersih’.


Menerima email tersebut, Ishaan lega bukan main. Cukup sekali dia mengizinkan dirinya melayani kemauan Lea. Begitu pindah ke Jerman untuk mengurus cabang perusahaan, Ishaan bakal memastikan perempuan itu tak bisa menjangkaunya, bahkan untuk sekadar berpapasan di jalan.


Di sisi lain, Ishaan tenang karena tak bakal membahayakan kesehatan Agni.


Malam ini, Ishaan tetap berupaya menjaga ritme permainannya demi menjaga mood Agni. Dia hanya akan menaikkan level saat gadis itu yang meminta. Beberapa kali Ishaan memang kewalahan, hampir membiarkan nafsu mengambil alih kendali.


Bagaimana tidak? Menyaksikan tubuh Agni bergerak seirama bersamanya nyaris membuat Ishaan gila. Apalagi saat namanya disebut di tengah-tengah napas yang memburu dan lenguh yang tersengal. Ishaan sampai mengumpat saking sulitnya menahan diri.


“Jangan ditahan.” Ishaan menunduk untuk mencumbui leher dan bahu Agni yang dibasahi peluh. Sebentar lagi, sebentar lagi dia akan membawa Agni menembus puncak kenikmatan.

__ADS_1


“Peluk, cium aku, Agni. Whatever you wanna do. Selama bikin kamu nyaman melepasnya.”


Saat menyusul Agni mencapai puncak, Ishaan tak kuasa menahan erangan. Tubuhnya lalu terjatuh di samping Agni, lalu mendekapnya sambil mendaratkan ciuman di puncak kepala gadis itu hingga mereka tertidur.


*


Pagi hendak merangkak menuju siang kala Ishaan terbangun. Setengah mengantuk, tangannya meraba-raba sisi tempat tidur. Bantal. Selimut. Namun, Ishaan tak menemukan tubuh yang dipeluknya selepas bercinta. Dengan tenaga yang tersisa, Ishaan memaksa dirinya untuk bangun dan memindai kamar.


Hanya dia sendiri yang ada di sana.


“Agni?” panggilnya dengan suara parau. “Kamu sudah bangun?”


Tak ada jawaban. Kesadaran dan kewaspadaan Ishaan sama-sama meningkat. Diambilnya celana di lantai sebelum melangkah keluar. Mungkin Agni sedang mandi atau pindah kamar. Akan tetapi, keheningan yang mengisi apartemennya terasa ganjil. Sesuatu pasti terjadi saat Ishaan masih tidur.


“Agni.” Ishaan mengetuk kamar Agni. “Apa kamu di dalam?”


Tak ada respons selama beberapa detik. Sekali lagi, Ishaan memanggilnya.


“Kalau aku menyakitimu semalam, tolong katakan saja,” Ishaan menambahkan. Cemas kalau bisunya Agni dipicu sesuatu yang tak dia sadari. “Aku akan bertanggung—”


Ishaan mundur kala pintu terbuka. Agni mengintip dari celah. Saat melihat matanya yang berkaca-kaca, panik mengguyur Ishaan bak tumpahan air dingin. Namun, dia menunggu sampai Agni melangkah keluar kamar.


“Tuan,” katanya terisak, “saya harus pulang ke Indonesia hari ini.”


Kening Ishaan mengernyit. “Kenapa?”


“Shia—Shia tadi telepon,” susah payah, Agni menahan tangisnya, “kalau rumah saya kebakaran. Ibu tiri saya—dia kritis. Di rumah sakit. Minta ketemu sama saya.”


Ikut bingung, Ishaan meminta Agni untuk duduk dulu di sofa. Penerbangan dari Barcelona ke Jakarta cukup lama. Waktu tempuhnya bisa sampai 17 jam. Bahkan untuk perjalanan tanpa transit maksimal 16 jam.


“Tuan, apa saya boleh pulang lebih cepat?” tanya Agni, lirih. “Saya akan bereskan sisa pekerjaan di Jakarta. Tuan bisa potong gaji saya juga untuk beli tiketnya.”


“Tidak ada pemotongan gaji, tiketmu sudah ditanggung biaya transportasi,” tukas Ishaan. “Aku akan hubungi Micah buat mengurus tiket buatmu. Kita siap-siap di sini buat pulang ke Jakarta.”


Agni menahan Ishaan. “Maksudnya kita?”


“Aku ikut menemanimu ke Jakarta.”


Gadis itu menggeleng cepat. “Biar saya saja yang pulang. Tuan lanjutkan saja perjalanan ke Marrakesh tanpa saya.”

__ADS_1


“Tapi kamu butuh seseorang—”


“Tuan, tolong.” Penekanan pada kata terakhir membungkam Ishaan. “Saya bisa hadapi semuanya sendiri. Shia terus mengabari kondisi ibu saya. Kasihan ibu Tuan kalau tiba-tiba kunjungan ke Marrakesh dibatalkan.”


Ponsel Ishaan berbunyi. Dari Micah. “Aku terima dulu panggilannya. Kemasi barang-barangmu, siapa tahu Micah dapat tiket penerbangan sore atau malam ini.”


Meski berat, Ishaan tak punya hak menahan Agni. Urusannya lebih penting. Perkataan Agni tentang ibunya juga benar, dia tetap perlu meneruskan perjalanan ke Marrakesh. Kadung janji bertemu dengan sang ibu yang belum dilihatnya gara-gara tertahan pandemi.


“Serius mau ambil first class?” Micah memastikan. “Agni kayaknya enggak masalah kalau dikasih kelas eko—"


“First class, Micah,” balas Ishaan, tegas. “Dia pasti gelisah di sepanjang penerbangan, terus bakal capek begitu sampai di Jakarta. Makin uring-uringan kalau dia duduk berjam-jam di kelas ekonomi.”


“Iya, iyaaa, first class. Malam ini, pukul tujuh.” Ishaan bersyukur Micah langsung mematuhinya. “Perlu gue jemput Agni di bandara?”


Ishaan melirik ke kamar Agni sejenak. “Suruh sahabatnya yang stand by. Aku punya tugas lebih penting buat kamu kerjakan.”


*


Waktu bergulir cepat kata Ishaan mendampingi Agni mempersiapkan kepulangan ke Indonesia. Rasanya baru satu jam lalu Ishaan mengabari Agni tentang tiket. Sekarang, mereka tiba di bandara. Ishaan mengawasi Agni dari kejauhan saat pemeriksaan berlangsung, lalu menghampirinya sebelum memasuki lounge*.


Ya, Ishaan sampai nekat beli tiket demi mengakses lounge. Syukurnya dia adalah penumpang tetap maskapai penerbangan tersebut, sehingga memudahkannya mendapat berbagai kemudahan. Termasuk memberikan tiket first class untuk Agni.


“Shia kasih kamu kabar baru?” Ishaan menaruh camilan untuk Agni.


“Belum, dia lagi kerja,” sahutnya lesu. “Maaf jadi merepotkan.”


“No, you don’t. Pekerjaan kita di sini sudah selesai, jadi aku tak merasa kamu repotkan." Ingin sekali Ishaan menggenggam tangan Agni untuk menenangkannya. "Soal laporan, kamu bisa kirim maksimal akhir bulan ini. Micah juga yang bakal urus pengiriman sisa gaji.”


“Terima kasih, Tuan.”


“Nanti di pesawat, kamu istirahat, ya? Makan yang banyak, supaya tetap fit saat sampai di Jakarta.”


Kali ini, Agni menanggapinya dengan anggukan.


Tibalah waktu pesawat lepas landas. Ishaan bisa saja ikut masuk kalau tak ingat janjinya menemui sang ibu di Marrakesh. Ishaan juga ingin memeluk Agni, tetapi menahannya karena cemas bakal mengacaukan emosi gadis.


Satu-satunya hal yang dapat Ishaan katakan adalah hati-hati, lalu mengawasi sampai Agni pergi menuju pesawat yang hendak ditumpanginya. Ishaan menatap langit malam yang kelam; bertanya-tanya apakah kelak dia dan Agni akan kembali dipertemukan dalam situasi yang lebih baik?


**

__ADS_1


__ADS_2