
MIMPI apa Agni semalam?
Mimpi apa dia sampai seharian ini dia menghabiskan hari Minggu bersama Ishaan di amusment park?
Mimpi apa dia sampai bisa naik bianglala tertinggi di Wina dan mengagumi pemandangan kota itu?
Kalau memang ini mimpi, Agni ingin terus tertidur.
“Apa foto-foto yang kukirimkan sudah masuk?” Agni hampir menjatuhkan ponsel kala Ishaan kembali dari gerbong restoran. “Satu jam lagi kita sampai Praha. Pastikan tak ada barangmu yang tertinggal di kereta.”
“Baik, Tuan. Foto-fotonya juga sudah saya terima.”
Foto-foto yang Ishaan maksud adalah kumpulan potret mereka selama berada di amusement park. Semuanya diambil Ishaan yang ternyata piawai mengambil foto. Namun saat Agni menawarkan diri untuk memotretnya, Ishaan menolak.
Awalnya, Agni patuh, tetapi dia tak tahan mengambil beberapa foto Ishan secara diam-diam. Dia akan menyimpannya baik-baik sebagai kenang-kenangan.
Menjelang tengah malam, Ishaan dan Agni sampai di apartemen dekat stasiun. Lokasinya yang dekat membuat mereka memilih bus untuk menjangkaunya. Bangunannya yang mungil mengingatkan Agni pada apartemen mereka di Roma, tetapi begitu masuk dia malah mendapati unit yang lumayan luas.
“Jangan tidur terlalu malam, besok kita ada meeting pukul sembilan pagi,” Ishaan mengingatkan sebelum masuk kamar. Agni memang berencana langsung istirahat, tetapi dia memikirkan Shia yang belum kunjung mengabarinya.
Meski Shia akan menghubunginya saat dia kembali, Agni tetap mengirimkannya pesan. Shi, gue udah di Praha, bunyi pesan itu. Ingat, kabari gue kalau sampai di Jakarta.
*
Sebulan sudah mereka melakukan trip di Eropa. Agni mulai terbiasa mengikuti ritme kerja. Di awal pekan, hari-harinya dipadati pertemuan dan merekap notula untuk menyusun laporan. Dua hari berikutnya lebih lengang, tetapi selalu Ishaan manfaatkan untuk berkunjung ke lokasi-lokasi yang berkaitan dengan pekerjaan. Akhir pekannya pun tak terlalu santai, terutama kalau Agni harus merevisi skripsi atau melewati sesi bimbingan berjam-jam.
Agni berharap bisa mendapatkan kesempatan lagi seperti di Wina. Mengitari kota tanpa memikirkan pekerjaan sungguh… menyenangkan. Kali terakhir dia dapat tersenyum dan tertawa lepas sebelum kunjungan kemarin adalah saat ayahnya masih hidup.
Hatinya mencelus. Barangkali, gara-gara itu juga Agni begitu emosional kala Ishaan memberinya replika The Kiss, lalu diajak jalan-jalan ke amusement park. Secara tak langsung, Ishaan memulihkan inner child-nya yang ikut mati bersama kepergian sang ayah dari dunia.
__ADS_1
Agni mengusap wajah. Pasti gara-gara tamu bulanannya pula dia jadi sentimental. Padahal dia perlu memusatkan konsentrasinya pada laporan yang perlu diperiksa Ishaan besok pagi.
Jemarinya baru saja mengetikkan beberapa kalimat saat ponsel bergetar. Saat akan mengeceknya, panggilan telepon itu berhenti. Tak lama berselang muncul notifikasi pesan dari sahabatnya, Shia.
Ni, sorry baru ngabarin, katanya. Gue udah di Jakarta dari kemarin malem. Cuma gue capek banget. Tidur aja bangunnya sampai tadi siang.
Agni mengembuskan napas lega. Syukur lo kembali dengan selamat. Istirahat dulu aja, ceritanya bisa kapan-kapan.
Enggak apa-apa, gue bisa video call sekarang. Atau lo yang justru lagi sibuk?
Lewat ekor mata, Agni mengecek laporannya. Video call gue sejam lagi, ya!
Setelah menyeduh kopi, Agni langsung mengerjakan laporan secepat yang dia bisa. Empat puluh menit kemudian, dia mengecek laporan tersebut, memperbaiki beberapa kesalahan, lalu menyimpannya untuk diperiksa ulang besok pagi sebelum Ishaan menerimanya.
Tepat setelah Agni membersihkan skin care malam, Shia meneleponnya. Sang sahabat terlihat letih, tetapi dia juga tampak siap membagikan cerita panjang dari perjalanannya bersama pria misterius.
Tentu bukan namanya Shia kalau dia tidak membuka ceritanya dengan kalimat yang bikin Agni tercengang.
**
Di kamar, Ishaan sedang mengecek katalog furnitur art deco dari toko yang dikunjunginya bersama Agni hari ini. Desain yang juga jadi favorit Tanisha. Bentuk-bentuk geometri dan garis-garis tegas yang menghiasi furnitur bakal cocok menghiasi rumah sang kakak. Barangkali Ishaan bisa membeli beberapa produk sebagai hadiah pernikahan Tanisha dan Dareen.
Perhatiannya teralihkan saat ponselnya bergetar. Micah. Pasti sahabatnya sudah menerima kabar pengiriman lukisan ke Indonesia.
Cuy, lo beli lukisan apaan nih? Enggak kayak biasanya. Pesan tadi dikirimkan bersama lampiran laman tracking menuju rumah Micah. Buat pajangan di club atau apartemen lo?
Lukisannya bukan punyaku. Ishaan enggan menyebut nama Agni dalam percakapan ini. Titip, ya, nanti pas balik ke Jakarta bakal diambil.
Namun, Micah tak akan membiarkan pertanyaannya dijawab menggantung. Lima menit kemudian, dia menelepon Ishaan. Mau tak mau, Ishaan menerima panggilan tadi dan menyiapkan diri buat diledek habis-habisan.
__ADS_1
“Gue abis cek detail paketnya. Replika lukisan. Siapa yang pesen?” Micah mendodong. “Kakak lo bukan kolektor barang seni. Apa ada klien yang nitip? Eh kalau klien, berarti kirimnya ke kantor—”
“Agni. Lukisannya punya Agni.” Telinga Ishaan panas mendengar ceracauan Micah. “Dia suka banget sama lukisan itu, akhirnya aku beli replikanya.”
Hening panjang. Ishaan tergoda mengakhiri percakapan, tetapi Micah kembali bersama respons yang bikin pipinya memanas.
“Lo suka sama Agni.” Bukan pertanyaan. Pernyataan. Micah pun tenang menyampaikannya. “Udah gue duga lo pasti tertarik sama cewek itu. Kalian udah jalan sampai mana? Pegangan tangan, ciuman….”
Pelukan, Ishaan menjawabnya dalam hati. “Kagak usah ngawur. Salah ya aku kasih hadiah buat karyawanku sendiri?”
“Masalahnya lo kalau kasih hadiah ke karyawan kantor, pengeluarannya enggak sebesar ini.” Micah berdecak. “Wah, kalau Tanisha tahu—”
“Jangan seret-seret kakakku! Aku pakai uang sendiri buat beli lukisan itu.” Termasuk tiket masuk amusement park dan sederet wahana di dalamnya. “Kalau enggak ada hal lain yang mau dibahas, aku tutup teleponnya sekarang.”
“Lho, dia ngambek kayak bocah SD,” sang sahabat tergelak. “Oke, gue enggak bakal nyinggung urusan lo sama Agni. Abis dari Praha, lo jalan ke Berlin, kan?”
Berlin, kota kelima yang akan Ishaan dan Agni kunjungi. Kota yang juga ditempatinya selama masa sekolah menengah hingga bangku kuliah. Ada banyak kenangan yang Ishaan simpan di Berlin, tetapi untuk kali pertama, dia kurang antusias menyambangi kota itu.
"Yep, sekalian ke Frankfurt buat cek bangunan yang mau dipakai buat kantor cabang perusahaan.”
“Yowes, hati-hati lo di Jerman,” pesan Micah. “Gue kok ngerasa bakal ada hal besar terjadi di sana. Mudah-mudahan cuma karena gue kangen sama lo.”
Ishaan memutar bola matanya. “Di sini bentar lagi lewat tengah malam. Kita teleponan lagi kapan-kapan.”
“Okay, Bro! Sleep tight!”
Ucapan Micah tadi terngiang-ngiang di benaknya. Mereka sudah lama bersahabat sejak bangku sekolah, bahkan kuliah di tempat yang sama. Dengan kata lain, Micah juga menjadi salah satu saksi mata dari berbagai hal yang Ishaan lewati di Jerman. Dari yang membanggakan sampai memalukan.
Jadi kalau Micah bilang akan ada sesuatu besar yang terjadi di Jerman, Ishaan tak dapat mengabaikannya begitu saja. Berbagai kemungkinan bisa terjadi saat dia menginjakkan kaki di Berlin dan Frankfurt. Lalu dengan kepentingannya saat ini, bisa saja Agni ikut terseret masuk ke pusaran masa lalunya.
__ADS_1
Kalau sampai terjadi, Ishaan akan sulit menutup dirinya dari gadis itu.
***