Aku Bukan Simpanan Bosku

Aku Bukan Simpanan Bosku
Tamu Tak Diundang


__ADS_3

SAMPAILAH Agni dan Ishaan di kota tujuan terakhir dalam trip bisnis mereka. Barcelona.


Seperti Roma dan Milan, Barcelona menyambut Agni dengan kehangatan yang seketika mengingatkannya pada rumah. Celoteh dalam berbagai bahasa tumpang tindih di sepanjang perjalanan menuju apartemen. Bangunan-bangunan bergaya arsitektur tradisional pun bersanding serasi dengan gedung-gedung modern.


“Apartemen ini punya saudara Paman Albert. Lebih kecil dari tempat kita di Paris, tapi,” Ishaan membuka pintu kayu yang terhubung ke balkon, “kita bisa lihat Laut Mediterania dari sini.”


Agni berjalan mendekat untuk menyaksikan sendiri keindahan laut tersebut. Nama laut yang lebih sering dia dengar dari nama makanan dan desain interior. Karena Ishaan memajukan keberangkatan mereka menjadi Minggu siang, mereka masih bisa menyaksikan semburat oranye dari matahari tenggelam yang membentangi lautan.


Agni jadi penasaran, apa mereka akan menyempatkan diri jalan-jalan ke pantas begitu menuntaskan semua pertemuan di kota ini?


“Weekend nanti kita main ke sana, ya?” Celetukan Ishaan tadi mengagetkan Agni, seakan-akan pria itu dapat membaca isi pikirannya. “Kamarmu yang dekat dapur. Biar gampang kalau pengin bikin sarapan atau makan malam. Kita juga masih punya stok makanan, jadi tidak perlu belanja dulu.”


“Baik, Tuan.” Agni menarik kopernya, ingin segera beristirahat di kamar. Namun sebelum sempat membuka pintu, perutnya mendadak mulas. Bukan sakit perut gara-gara makanan.


Matanya membelalak. Cepat-cepat, Agni berlari menuju kamar mandi untuk memastikan dugaannya tepat.


“Agni, kamu kenapa?” Suara Ishaan terdengar cemas. Waduh, pasti dia melihat perubahan sikapnya yang aneh tadi. “Perlu aku panggilkan dokter?”


“Ti—tidak usah. Saya,” Agni terduduk lemas di toilet begitu melihat ****** ********, “saya datang bulan.”


Hening panjang mengisi jeda di antara mereka. Di luar, terdengar gumaman sebelum Ishaan bertanya, “Kamu… kamu butuh sesuatu?”


“Saya bisa urus sendiri, Tuan. Silakan kalau mau istirahat.”


Ketika membuka kamar mandi, Agni mendapati pintu kamar Ishaan tertutup. Pada bulan-bulan sebelumnya, Agni tak pernah memberitahu jadwal menstruasinya pada Ishaan. Untuk apa pula, toh dia terbiasa bekerja meski dua hari pertama selalu ‘banjir’.


Situasi kali ini berbeda. Momen di paviliun Paman Albert bisa terulang, bahkan lebih intens. Itu berarti, Ishaan perlu tahu jadwal menstruasinya, bukan? Kecuali Ishaan menyukai hal-hal ganjil yang tak ingin Agni bayangkan.


Agni meringis kala kram perutnya terasa lagi. Dia harus memakai pembalut yang dibawanya dari Indonesia, lalu menyeduh teh untuk meredakan sakitnya. Syukurnya dia bisa istirahat dulu hari ini sebelum memulai kesibukan besok pagi.


*


Satu jam kemudian, Agni keluar untuk menyiapkan makan malam. Agak telat daripada biasanya, tetapi dia butuh asupan protein. Anehnya, belum ada perintah dari Ishaan. Jangan-jangan dia ketiduran, batinnya.


Sungkan mengganggu istirahat Ishaan, Agni memilih memasak untuk satu porsi. Omelette simpel sudah cukup, ditemani kentang goreng seadanya. Saat Agni hendak menyalakan kompor, pintu kamar Ishaan terbuka.


“Malam, Tuan. Mau saya masakan makan malam?”


“Siapa yang suruh kamu masak?” Ishaan bergegas membuka pintu saat bel berbunyi. “Aku pesan fast food buat kita berdua.”

__ADS_1


Terdengar percakapan singkat di bagian depan disusul bunyi pintu tertutup. Agni, yang melongo di samping kompor, langsung memasukkan bahan-bahan omelette ke kulkas, lalu merapikan meja supaya Ishaan dapat menaruh makanan.


“Tadinya mau pesan dari restoran, tapi pasti lama.” Dua kantung besar makanan dari merek fast food ternama mengisi bagian tengah meja. “Ada fried chicken, chicken nugget, french fries, sama soda dan milkshake. Ambil saja yang kamu mau. Kalau kelebihan, simpan buat sarapan.”


Agni terpaku mengamati dua kantung makanan tersebut. “Tuan dulu yang ambil.”


“Kamu dulu,” pinta Ishaan. “Kakakku makan banyak setiap datang bulan. Cepat lemas, katanya, gara-gara keluar darah atau semacamnya. Aku kurang paham. Pokoknya kamu makan. Jangan sampai kamu pingsan besok pagi.”


Daripada semakin dicecar, Agni memilih patuh. Dikeluarkannya satu per satu kotak berisi makanan yang memantik rasa laparnya. Begitu membuka kotak berisi fried chicken dan scrambled egg, Agni menyantapnya lahap tanpa memusingkan Ishaan yang juga makan bersamanya.


**


“Ishaan, bentar lagi kamu ketemu Mama, ya?”


“Yep, minggu depan, Mbak. Mau titip apa lagi selain salam rindu?”


Tanisha terkekeh di ujung telepon. “Pengin lihat foto-foto penginapan yang Mama urus. Nanti kirim, ya. Siapa tahu aku ke sana buat babymoon.”


Saat percakapan berakhir, jam di layar ponsel Ishaan menunjukkan pukul dua pagi. Tanisha kadang sering menghubunginya tanpa mengecek perbedaan waktu dan Ishaan harus selalu mengangkat demi menghindari rewelnya sang kakak. Akibatnya, dia jadi sulit tidur, sementara ada pertemuan pukul sembilan pagi yang wajib dihadiri.


Lantas, Ishaan keluar kamar, mencari persediaan susu atau sisa teh kamomil yang sempat Agni seduh. Langkahnya terhenti kala Agni membuka pintu kamar. Mereka beradu pandang sesaat, lalu Agni meneruskan urusannya di kamar mandi.


Ishaan, yang mulanya ingin minum susu, sengaja menggantinya dengan teh untuk mengulur waktu. Dia merebus air untuk menyiapkan teh sambil sesekali mencuri pandang ke pintu kamar mandi.


“Sudah merasa baikan?” Ishaan melontarkan basa-basi untuk menahan Agni.


“Ya, hanya agak sulit tidur.”


“Mau kuseduhkan teh?”


Agni tampak bimbang untuk memutuskan. “Boleh,” jawabnya terbata.


Di meja, Ishaan menuangkan dua cangkir teh kamomnil untuknya dan Agni. Keduanya menunggu hingga teh menghangat dan menyesapnya perlahan. Gadis di sampingnya hendak membawa minuman itu ke kamar, tetapi kalah cepat dari tangan Ishaan yang menahannya.


“Agni, apa aku masih boleh menyentuhmu?”


Agni melongo. “Tuan, saya—”


“Bukan sekarang, aku juga kurang nyaman kalau—” Ishaan berdeham keras. “Maksudku, setelah jadwalnya selesai.”

__ADS_1


“Itu—ya. Saya tidak keberatan.”


Lampu hijau lain yang Ishaan harapkan.


“Tuan.” Agni malah terdengar semakin gugup. “Waktu kita di paviliun, saat Tuan… Tuan melakukannya, apakah ada bercak merah atau kecokelatan yang keluar?”


Diselimuti adrenalin dan gairah, Ishaan mana mungkin menangkap detail tersebut pada saat itu. “Maaf, aku kurang memperhatikan. Apakah bercaknya berbahaya?”


Gadis itu menggeleng. “Itu bercak menjelang haid. Biasanya terlihat, tetapi kemarin belum muncul. Takutnya ikut keluar saat Tuan…”


Ishaan paham. “No problem. Terima kasih sudah memberitahuku.”


“Tuan tidak merasa jijik?”


“Agni,” Ishaan mencondongkan tubuhnya hingga dahi mereka bersentuhan, “aku pernah melakukan hal-hal yang mungkin akan bikin kamu bergidik mendengarnya. Nothing to worry about, okay? Kamu bisa lanjutkan tidurmu. Kita bertemu lagi besok saat sarapan.”


Mencuri kesempatan, Ishaan memiringkan kepala untuk mengecup bibir Agni. Belum dua hari, dia rindu ingin ‘bermain’ bersamanya. Sayang sekali, Ishaan perlu mengendalikan diri untuk beberapa hari ke depan.


*


Kunjungan ke Barcelona adalah salah satu yang Ishaan tunggu-tunggu. Elemen-elemen desain Catalan* modern sudah lama menjadi ciri khas kota tersebut. Sentuhan alam pada fasad hingga mural. Kaca patri di jendela dan pintu. Lalu, satu elemen yang paling Ishaan sukai, lantai mosaik yang membentuk aneka objek, dari bunga, hewan, dan pola geometri.


Untuk itu, Ishaan memaksimalkan pertemuannya dengan klien-klien potensial di hari pertama. Dia ingin proyeknya kelak dapat menunjukkan desain dengan sentuhan Catalan yang kuat.


“Palace of Catalan Music. Ini bangunan yang dibahas sama klien kita tadi.” Sambil mencari tempat makan siang, Ishaan mengajak Agni jalan-jalan ke tenpat-tempat yang kliennya jadikan referensi. “Aku pernah masuk buat menonton konser, tapi perhatianku malah tersita sama kaca patrinya. Fantastis.”


“Konser apa yang Tuang saksikan?”


“Orkestra. Ibuku yang—hei, hati-hati kalau jalan!” Seseorang menubruk Agni dari belakang. Gadis itu oleng ke samping, tetapi Ishaan dengan sigap menangkapnya. “Are you okay?”


Agni mengangguk cepat. “Kenapa dia terkesan buru-buru, ya?”


“Biasa, ini daerah turis—” Sekonyong-konyong, ekspresi wajah Ishaan mengeras. Bagaimana mungkin dia melupakan informasi penting tersebut. Matanya lalu tertuju pada tas yang Agni bawa.


Ritsletingnya terbuka.


“Agni, cek tasmu,” desaknya. “Apa ada barang yang hilang?”


Seakan menyadari urgensi dalam perintah Ishaan, Agni mengecek barang-barang di dalam tas. Sekali, dua kali. Pada pemeriksaan kelima, Agni menatapnya panik.

__ADS_1


“Tuan, ponsel saya hilang.”


**


__ADS_2