Aku Bukan Simpanan Bosku

Aku Bukan Simpanan Bosku
Berpacu dengan Waktu


__ADS_3

“DENGAN Saudari Agni Karalyn?”


“Betul, saya Agni.”


“Bisa ikut saya sebentar? Ada yang ingin saya bicarakan terkait kondisi Bu Kinta.”


Kali terakhir Agni masuk ke ruang dokter adalah saat membicarakan ayahnya yang tengah memperjuangkan hidupnya. Hanya ada dua pilihan, terus memberinya obat atau kami lepas life support-nya. Intinya, tinggal menunggu waktu saja sampai malaikat pencabut nyawa mengajak ayahnya berpulang. Keputusan dari pihak keluarga sangat menentukan proses akhirnya: mau lebih cepat atau lambat.


Sayangnya, pada saat itu, Agni belum punya kuasa penuh untuk memberi keputusan. Masih ada Kinta yang berstatus sebagai istri sah sang ayah.


Tentu saja, Kinta memilih jalur cepat.


“Kalau Saudari Agni menghendaki pengobatan, kami akan memberikan penanganan terbaik.” Penjelasan Erika, dokter yang menangani Kinta, menarik Agni dari dalam lamunan. “Di sisi lain, kami tak menjanjikan recovery penuh. Keinginan Bu Kinta untuk bertahan hidup turut mempengaruhi obat yang kami berikan.”


Sebagian dari diri Agni, sisi yang bertahun-tahun menelan kepahitan dari siksaan mendera, langsung menyahut antusias. Berikan perlakuan yang sama saat dia menghabisi ayahmu. Hentikan semua aksesnya untuk hidup, bisik suara itu.


Namun, ada suara lain, yang lemah dan terombang-ambing, turut menyahut, Kalau kamu mengambil keputusan itu, apa bedanya kamu dengan dia? Kamu hanya akan meneruskan lingkaran setan.


“Berapa… berapa lama ibu saya akan bertahan dengan obat?”


Erika menggumam masam. “Seminggu, itu pun maksimal.”


Menilai dari jenis obatnya, Agni ragu bakal mampu menebus tagihan, apalagi sisa gajinya belum dibayarkan. Akan tetapi, Agni masih penasaran tentang alasan Kinta meminta mereka bertemu. Bukan momen yang tepat untuk mengambil jalur cepat.


“Untuk sekarang, tolong berikan obat dulu, ya, Dok.”


*


“Nih, gue bawa buat lo. Hambar banget makanan di kantin.”


Sembari menunggu jam besuk berikutnya, Agni memutuskan makan siang di kantin. Shia menyempatkan diri menemaninya sebelum masuk shift dan tanpa diduga membawa makan siang yang juga paket favorit Agni dari tempat kerjanya dulu.

__ADS_1


“Trims, Shi. Lumayan hemat buat hari ini.” Agni membuka kotak berisi ayam goreng dan nasi tersebut. “Eh, gue baru inget. Tadi gue tanya ke administrasi soal tagihan rumah sakit, terus katanya udah dibayar sama donatur. Lo tahu enggak siapa yang nanggung biaya ibu di rumah sakit?”


Sahabatnya mengedik. “Gue cuma dikontak pihak rumah sakit, minta nerusain kabar ke lo. Baru mampir ke sini juga pas lo balik dari Eropa.”


Shia memang punya tabungan , tetapi Agni tak terlalu yakin dia bakal mengeluarkan semuanya untuk membayar perawatan Kinta. Terutama sang sahabat tahu penderitaan Agni selama tinggal bersama perempuan itu.


“Lo lagi dapet rezeki bagus aja kali, Ni,” celetuk Shia sambil membuka bungkus burger. “Jadi lo bisa fokus bayar obat dan ***** bengek lain yang enggak ditanggung donatur.”


“Obat juga dibayar sama dia,” sahut Agni yang mengejutkan Shia. “Gue tadi ke administrasi kan buat tanya total biaya. Katanya, donatur itu bakal lunasin semua tanggungan, termasuk obat sama… yah, pemakaman seandainya gue menghadapi kemungkinan terburuk.”


Kedua sahabat itu lantas termenung, lalu menikmati makan siang sampai habis. Agni penasaran, donatur macam apa yang rela mengeluarkan uang sebanyak itu pada orang asing? Apa mereka kenalan ayahnya dulu? Dugaan itu tebersit dalam pikiran Agni mengingat mendiang ayahnya punya banyak kenalan baik.


Tunggu, tapi mereka enggak terlalu kenal sama ibu, Agni membatin. Pada sejumlah pertemuan, Kinta sering diajak ayahnya bertemu para kolega. Namun, mereka tak pernah mengontak keluarganya lagi selepas kematian sang ayah.


“Udahlah, Ni. Lo fokus aja sama ibu lo. Gue tahu hubungan kalian enggak bagus, masalahnya sekarang cuma lo yang bisa dia hubungi.” Shia menyingkirkan sampah ke kantung plastik. “Gue cabut dulu, ya? Telepon aja kalau butuh bantuan.”


Sepeninggal Shia, Agni kembali ke bangsal untuk menemui Kinta. Memakai masker dan protective gown yang mulanya terasa ganjil kini berubah bak seperti pakaian sehari-hari. Dibandingkan kunjungan pertama, Kinta terlihat lebih stabil, tampak seperti tidur siang.


Agni berdiri di samping ranjang. Bunyi mesin yang semula menakutkan malah membantunya mengatur napas dan mengendalikan sumpah serapah yang siap tumpah kala menatap wajah Kinta.


“Lalu sampaikan apa yang ingin Ibu katakan padaku.”


*


Senja merekah kala Agni berjalan meninggalkan rumah sakit. Jalanan mulai dipadati kendaraan. Sebenarnya, Agni bisa menunggu sampai jam pulang kerja berakhir, tetapi dia tak tahan berada lama-lama di lobi. Tak kuat harus menepis kenangan-kenangan terakhirnya bersama sang ayah.


Dikeluarkannya ponsel untuk memesan ojek. Perhatiannya terpaku pada aplikasi chatting. Ishaan belum menghubunginya sejak percakapan malam itu. Agni tergoda untuk mengirim pesan singkat, tetapi cepat-cepat mengurungkannya. Kurang pantas rasanya berkeluh-kesah saat pria itu menikmati liburan yang menyenangkan.


Bunyi klakson menyentak Agni. Sebuah mobil mewah warna hitam menepi ke arahnya. Mendekatinya. Kewaspadaan Agni meningkat. Ada banyak kasus penculikan yang dimulai dari trotoar—


“Agni, hei!” Micah melongok dari jendela mobil. “Ngapain ngelamun di pinggir jalan?”

__ADS_1


Agni mengembuskan napas lega. “Pak—Micah. Saya mau pesan ojek buat pulang.”


“Lama, ongkosnya mahal juga jam segini mah. Naik sini!”


“Apa tidak merepotkan?”


“Ayolah, sekalian ada yang mau gue bicarakan.” Ajakan Micah bukan untuk ditolak. Maka saat pintu penumpang dibuka, Agni masuk ke dalam kabin mobil yang sejuk dan nyaman.


Naik mobil membelah kemacetan Jakarta bukanlah keputusan cerdas, tetapi Micah tak mempedulikannya. Pria itu malah asyik bersenandung mengikuti lantunan lagu-lagu yang dia susun pada playlist platform streaming. Kontras sekali dari Ishaan yang lebih mengandalkan supir.


Di salah satu lampu merah, Ishaan memelankan volume, lalu menoleh padanya. “Kapan lukisan mau diambil?”


“Ah iya, itu…” Agni sampai melupakannya. “Saya masih sibuk memantau ibu di rumah sakit. Belum sempat juga membereskan semua barang di tempat baru.”


Micah manggut-manggut. “Ya, ya, keluarga harus diprioritaskan. Bagaimana dengan laporan perjalanan sama Ishaan?”


“Sedang saya kerjakan. Paling lambat minggu depan saya kirim.”


“Ishaan juga bilang lo bisa urus pengajuan pembayaran sisa gaji ke gue secepatnya. Termasuk surat rekomendasi buat lamar pekerjaan.”


“Akan saya buat invoice-nya. Nanti dikirim ke mana?”


“Kirim ke gue aja, ke email yang di kartu nama.”


Sisa perjalanan dilewatkan tanpa obrolan, sesuatu yang Agni butuhkan untuk menenangkan pikirannya yang semrawut. Mendekati hunian yang dijadikan co-living space, Agni mengarahkan Micah supaya tak salah ambil belokan. Tepat pukul setengah delapan malam, mobil Micah berhenti di tujuan.


“Terima kasih atas tumpangannya. Saya—” Ponsel Agni berbunyi. Dari nomor tak dikenal, tetapi dia memilih menerimanya. “Sebentar, saya mau terima telepon dulu.”


“Silakan, gue enggak buru-buru, kok.”


Setelah mengatakan Halo, Agni mendapatkan serangkaian kabar yang membuat seluruh tubuhnya lemas. Pihak yang meneloponnya adalah staf rumah sakit. Kondisi Kinta mendadak menurun drastis. Dokter memintanya datang menemuinya.

__ADS_1


Entah bagaimana Agni mampu berkata-kata selepas menerima kabar tadi. Satu yang pasti, dia cukup kuat untuk meminta Micah putar balik; berpacu menyusul sang malaikat maut yang tengah berjaga di dekat ibu tirinya.


***


__ADS_2