
HARI demi hari berlalu cepat di tengah kesibukan yang Agni hadapi. Bukan cuma buat administrasi di kampus, beberapa kali dia menemui Micah untuk mengurus paspor dan visa. Sementara itu, dia belum sempat bertatap muka lagi dengan Ishaan sejak pertemuan di club. Kata Micah, pria itu sama sibuknya di kantor.
“Kakaknya juga bentar lagi nikah. Seingat gue akhir pekan ini,” ujar Micah kala menjelaskan keberadaan Ishaan pada Agni. “Kalian bakal keremu lagi minggu depan, langsung terbang ke Eropa pula. Udah kasih update kuliah ke dia belum?”
“Sudah. Tuan Ishaan kasih surat pengantar yang bisa saya kirimkan ke dosen pembimbing untuk meminta keringanan.” Meski pembawaan Micah lebih santai, Agni belum bisa melepas kecanggungan saat mereka mengobrol. “Nanti saya bisa bimbingan lewat email dan aplikasi.”
“Baguslah, berarti tinggal urus surat resign lo di restoran, ya?” Mereka tiba di area parkir kantor imigrasi. “Kalau udah terima surat pernyataan dari manajer, lo kirim ke email gue dan Ishaan. Buat kebutuhan arsip.”
Agni mengangguk. “Kalau begitu, saya permisi pamit dulu—”
“Bareng gue aja biar enggak panas-panasan. Mana macet pula.”
“Saya mau langsung ke restoran. Arahnya berlawanan dengan kantor Anda.”
Micah tak menggubris ucapan Agni, lalu membuka pintu penumpang. “Masuk. Gimanapun juga lo udah resmi jadi asisten Ishaan dan gue kerja sama dia. Kalau lo kenapa-kenapa, gue yang kena semprot.”
Agni urung menolak kala melihat Micah memelotot padanya. Sebaiknya dia ikuti dulu kemauan Micah kalau tidak mau kena masalah lebih besar dari Ishaan.
*
Tidak ada yang spesial dari hari terakhir Agni bekerja. Saat manajernya memberikan surat pernyataan dan gaji terakhir, Agni mengembalikan seragamnya pada tim HRD. Beberapa staf yang bekerja mengucapkan perpisahan singkat, sisanya terlalu sibuk membereskan meja dan melayani pesanan.
Namun, Shia adalah pengecualian.
“Bakal kangen gue ngegibah sama lo malem-malem,” katanya saat Shia selesai menuntaskan shift. Hari ini dia sampai rela ambil bagian pagi supaya bisa menemani Agni belanja sore harinya. “Nanti kalau udah selesai jalan-jalan, terus lanjut nulis skripsi, lo sering-sering mampir ke sini, ya? Nanti gue kasih paket temen.”
“Iya, iyaaa. Lo bikin gue jadi mellow, Shi.” Ditepuknya tangan Shia untuk menghibur sang sahabat. “Kita jalan sekarang, yuk? Keburu ketahan jam pulang kerja.”
Bersama uang muka pemberian Ishaan, Agni berencana membeli pakaian kerja untuk tugasnya di Eropa. Dia sempat kebingungan. Seperti apa gaya dan model pakaian yang harus dibeli? Apakah cenderung formal? Bagaimana kalau pilihannya membosankan?
Untuk itulah Agni mengajak Shia yang terbiasa menemani orang-orang penting dari kalangan atas.
“Aturan nomor satu, jangan overdressed, tapi lo harus kelihatan elegan. Mumpung duit dari atasan lo banyak, kita sekalian beli yang bagus.” Shia mengajak Agni masuk ke sebuah butik ternama. “Baju-baju branded relatif lebih awet. Lo bisa pake terus meski nanti enggak kerja sama Ishaan.”
Seorang staf perempuan menghampiri mereka. “Selamat sore. Ada yang bisa saya bantu?”
“Setelan kerja perempuan di mana, ya, Mbak?” tanya Shia.
“Ada di bagian belakang. Mari, saya antar.”
Sesampainya di sana, Agni dibuat terkesan dengan koleksi blazer, kemeja, rok, dan celana panjang yang terpampang. Dia sempat meringis saat mengecek label harga, tetapi teringat kini dia tak perlu memusingkan total tagihan yang perlu dibayar.
“Aturan nomor dua, pastikan bahannya nyaman dan sesuai sama iklim di negara tujuan.” Shia muncul bersama dua setelan berwarna hitam dan beige. “Kata Mbak tadi, yang ini cocok buat trip ke negara-negara empat musim. Bisa lo mix and match sama koleksi lo di kontrakan.”
“Gue mau coba yang ini dulu.” Tangan Agni menunjuk pada setelan berwarna beige. “Belum pernah punya warna yang kalem.”
Harga memang tidak menipu. Bahan kemeja maupun blazernya terasa lembut saat menyentuh kulit Agni. Begitu pula roknya yang tak terlalu ketat maupun longgar. Tinggal pakai stocking, Agni yakin penampilannya semakin maksimal. Rasa percaya dirinya juga serta-merta meroket.
Saat hendak meminta Shia membawakan setelan berwarna hitam, ponselnya berdering. Agni segera membuka tas untuk mengecek siapa yang meneleponnya.
Matanya terbuka lebar. Ishaan. “Selamat sore, B—Tuan Ishaan.”
“Sore, Agni. Kamu lagi di mal, ya? Aku lihat kamu masuk butik sama temanmu.”
__ADS_1
Astaga. Mereka ternyata berada di tempat yang sama.
“Betul, Tuan. Saya sedang beli pakaian untuk trip ke Eropa.”
“Begitu. Kalau sudah selesai, bisa temui saya di butik seberang? Butik buat pakaian pesta."
“Baik. Saya akan segera menyusul ke sana.”
Cepat-cepat, Agni membuka tirai dan menyambar pundak Shia. Sang sahabat tersentak sampai menjatuhkan pakaiannnya.
“Kenapa sih lo, bikin kaget tahu! Untung bajunya enggak sobek.”
“Bos gue ada di sini,” sahut Agni, panik. “Kita ambil satu setelan lagi, terus bayar. Gue enggak mau dia nunggu lama.”
*
“Aku enggak mau tahu, kamu pokoknya ikut bachelor party Dareen. Kalian bentar lagi jadi ipar, harus mengakrabkan diri.”
“Mbak, jadwalnya beneran bentrok sama meeting besok. Aku enggak bisa absen karena telanjur janji sama klien. Dia jauh-jauh terbang dari Finlandia, lho.”
Tanisha mendengus kesal. “Seenggaknya datang pas dinner.”
“Oke, oke, tapi aku enggak janji juga. Takut meeting-nya lama.”
“Terserah kamulah.”
Ishaan menjauhkan ponsel dari telinga saat Tanisha mengakhiri percakapan. Kurang dari seminggu lagi sang kakak menikah, tetapi dia ikut puyeng gara-gara memikirkan hal-hal yang menurutnya kurang penting baginya. Termasuk ikut bachelor party Dareen, padahal dia dan sang calon kakak ipar sebenarnya kurang dekat.
Bukan karena Dareen adalah pria kurang baik. Sebagai calon suami Tanisha, dia lebih dari perhatian perhatian. Sikap sopan dan tutur katanya yang santun jadi daya tarik Dareen yang serta-merta menaklukan sebagian besar perempuan dari keluarga Merlon. Perbedaan usia delapan tahun antara Tanisha dan Dareen juga bukan masalah yang terlalu dibesar-besarkan.
Ponselnya berbunyi. Sebuah reminder muncul di layar.
Matanya membelalak. Dia harus segera mengambil pakaian yang akan dikenakan pada hari pernikahan Tanisha.
*
Agni udah pegang paspor sama visa. Dia juga kirim surat-surat yang lo suruh kemarin. Udah nyampe email, kan?
Pesan Micah itu menjadi penanda bahwa keberangkatan Ishaan ke Eropa semakin dekat. Antara cemas, antusias, dan penasaran, pria itu membayangkan trip itu sebagai perjalanan bisnis sekaligus liburan di tengah-tengah tumpukan pekerjaan yang sulit dibendung.
Jika perjalanan itu membuahkan hasil manis, Ishaan akan pindah ke Eropa untuk mengurus cabang perusahaan di sana. Sementara Dareen mengambilalih kantor pusat. Kalau mereka terpisah jarak jauh, Ishaan tak perlu sering bertemu buat basa-basi, apalagi mengakrabkan diri.
Selain itu, dia akan lebih dekat dengan sang ibu.
Lift yang Ishaan tumpangi membawanya ke lantai empat. Suasana mal semakin ramai menjelang jam pulang kerja. Pandangannya sudah tertuju pada butik langganan keluarga Marlon.
Namun saat melewati sebuah butik yang menjual setelan pakaian formal, perhatiannya tertuju pada sosok gadis yang tengah berdiri di depan rak blazer.
Agni. Tidak salah lagi, itu asistennya.
Ishaan ingin menghampirinya, tetapi dia harus mengambil pakaiannya dulu. Semoga Agni masih di butik saat dia selesai dengan urusannya.
*
__ADS_1
“Akhirnya Tanisha ketemu jodohnya. Titip salam, ya. Maaf aku berhalangan hadir karena ada urusan di sini.”
“No problem. Kakakku sudah berterimakasih karena butiknya Mbak Marissa selalu siap bantu kami buat banyak acara.”
“Kalau begitu, sambil menunggu jasmu, apa ada yang pengin kamu beli lagi, Ishaan?”
Mulanya Ishaan berencana langsung pulang setelah menerima pakaiannya. Akan tetapi, dia membatalkannya saat melihat sebuah maneken yang mengenakan off shoulder dress berwarna hijau basil. Entah mengapa, Ishaan membayangkan Agni mengenakan gaun itu untuk salah satu pesta di tengah trip Eropa.
“Gaun itu keluaran terbaru kami. Cocok buat acara formal atau informal.” Seolah mampu menebak ke arah mana perhatian Ishaan tertuju, Marissa menjelaskan. “Mau kamu ambil buat Tanisha?”
Ishaan tersenyum kikuk. “Bukan, tapi sepertinya cocok buat orang lain.”
Saat itulah Ishaan menghubungi Agni.
Sekitar sepuluh menit kemudian, Agni berdiri di ambang pintu butik. Temannya mendorong Agni untuk masuk sementara dia menunggu sambil menjaga kantung belanjaannya.
“Tuan Ishaan,” meski ragu, Agni menghampiri Ishaan yang menunggu di dekat manekon bersama Marissa, “ada perlu apa memanggil saya ke sini?”
“Apa kamu punya gaun formal untuk ke pesta?”
Gadis itu mengerjap. “Be… belum. Saya belum sempat beli.”
“Berapa ukuran pakaianmu?”
“Ukuran pakaian saya M.”
Ishaan memandangi gaun itu sejenak. “Mbak, ini ukurannya M, bukan?”
Marissa tersenyum semringah. “Kamu beruntung, ukuran gaun ini M. Tapi buat memastikan pas tidaknya tetap harus dicoba dulu.”
“Boleh turunkan gaunnya buat dipakai?”
Agni berlalu ke ruang ganti bersama seorang staf yang membawakan gaun tersebut. Sambil menunggu, Marisaa bertannya, "Siapa dia, pacarmu?"
“Bukan, dia—” Sebentar, apa Marissa tak akan membocorkan rahasianya? Bagaimanapun, dia dekat dengan Tanisha. “Dia karyawan barunya Micah. Kebetulan dia pernah bilang butuh gaun buat acara kantor, jadi sekalian aku minta ke sini. Siapa tahu cocok.”
“Mudah-mudahan gaunnya berjodoh sama dia.”
Selang beberapa menit, Agni keluar dari ruang ganti. Staf yang ikut bersamanya membantunya melangkah agar ujung-ujung gaunnya tak terinjak.
“Ya Tuhan, cantik sekali,” puji Marisaa. “Aku tak menyangka gaunnya akan menemukan jodoh secepat ini.”
Bukan hanya Marissa, Ishaan juga ikut terpana. Salah satu tangannya sampai memegangi kaki maneken kala mengamati Agni dalam balutan gaun itu. Model off shoulder mengekspos leher dan pundaknya yang mulus. Saat Marissa meminta Agni berputar pelan, Ishaan dapat melihat sekelebat punggungnya yang bersih.
“Tuan, saya—gaun ini….” Agni tak enak melontarkan kata itu, tetapi Ishaan tahu apa yang dimaksudnya. Mahal.
“Kamu nyaman memakainya?”
“Iya, bahannya lembut di kulit. Ringan juga di tubuh saya.”
“Kalau begitu, aku ambil. Tolong buat bill terpisah ya, Mbak.” Sebelum Agni melayangkan penolakan, Ishaan mencegatnya.
“It’s on me. The dress belongs to you.”
__ADS_1
***