Aku Bukan Simpanan Bosku

Aku Bukan Simpanan Bosku
Dua Hati yang Gundah


__ADS_3

KAMU tak perlu menungguku pulang.


Agni tersenyum masam membaca pesan yang Ishaan kirimkan. Jenis pesan yang juga sering dia terima dari Shia saat sang sahabat akan bermalam dengan teman kencannya. Menilai dari sikap perempuan yang Ishaan temui di distrik tadi, Agni dapat menebak alasan Ishaan tak pulang ke apartemen malam ini.


Maka, Agni melaksanakan perintah Ishaan. Diselesaikannya laporan, lalu diperiksanya jadwal pertemuan besok. sebelum tidur, Agni menyantap makan malam yang disiapkan pelayan. Setelah itu, dia menggunakan skin care malam dan chatting sebentar dengan Shia. Tepat sebelum pukul sebelas malam, Agni sudah berbaring di tempat tidur, siap untuk beristirahat.


Namun, matanya enggan tertutup. Kejadian di distrik tadi menari-nari dalam benaknya. Perempuan yang menghampiri Ishaan sangat… cantik. Cantik saja rasanya kurang mewakili penampilannya yang elegan bak model catwalk. Wajar kalau Ishaan memilih pergi bersamanya.


Ih, kenapa malah mikirin mereka? gerutunya dalam hati.


Agni membalikkan tubuh menghadap dinding, berharap kantuknya cepat datang. Kenyataannya, dia malah semakin terjaga. Kesal, Agni bangun, lalu menyambar ponselnya untuk mencari lagu-lagu yang dapat membantunya terlelap.


Satu lagi percobaan yang gagal. Lagu-lagu yang didengarnya malah membawa Agni pada percakapan bersama Ishaan saat mereka mengenakan pakaian untuk pesta.


“Kamu punya pacar?” tanya Ishaan yang mengejutkan Agni saat itu. “Dia pasti bakal terus memandangi kamu kalau ada di sini.”


“Saya single, Tuan.” Agni malu mengakuinya. “Belum pernah pacaran.”


“Serius? Belum ada yang meminta gadis secantik kamu buat jadi pacarnya?” Dari ekspresinya, Ishaan benar-benar keheranan. “Their loss. Mudah-mudahan, kamu dapat pria baik dan pengertian suatu hari nanti.”


Kata-kata itu, pria baik dan pengertian, hampir membuat Agni menangis. Hanya mendiang ayahnya yang memperlakukan Agni dengan penuh hormat dan bangga. Setelah itu—dia tak membuka memori yang sudah mati-matian diblokir. Adalah sebuah keajaiban kalau memang ada yang berhasil membuka hati Agni, lalu mengajaknya berkomitmen.


“Tuan sendiri bagaimana, belum punya pacar?” Agni membalikkan posisi. “Banyak perempuan yang pasti mendambakan jadi pendamping Tuan.”


Pria itu tergelak hambar. “Memang banyak yang tertarik padaku, tapi aku bukan tipe yang ingin berkomitmen, Agni.”


Agni mengerjap tak percaya. Rupanya mereka berada di satu jalur, tetapi dia yakin Ishaan punya alasan berbeda.


“Sayang sekali,” gumam Agni, yang malah menarik Ishaan untuk membalas,


“Kenapa kamu menyayangkannya? Kamu mau jadi pacarku?”


Agni gelagapan. “Maaf, Tuan, saya—lupakan saja.”

__ADS_1


Percakapan itu tak dilanjutkan, Agni mensyukurinya. Akan tetapi, membayangkan Ishaan berduaan bersama perempuan tadi, lalu sampai memutuskan tak pulang malah membuat Agni gusar.


Mengapa dia terganggu saat dirinya berpikir hidup tanpa terikat komitmen adalah keputusan terbaik?


*


Pukul setengah dua pagi. Agni pindah ke ruang tengah bersama laptop di pangkuan. Dia memutuskan melanjutkan skripsi untuk mengalihkan pikiran.


Kali ini, Agni berhasil memfokuskan diri walau sesekali dia menoleh ke pintu dan jam dinding bergantian. Apa yang gue harapkan, sih? Udah jelas dia bilang enggak akan pulang, pikirnya sambil mengecek sebuah kalimat yang dari tadi tak kunjung selesai. Kalau dia lihat aku begadang, dia pasti marah.


Agni menutup semua dokumen dan tab, lalu mematikan laptop. Bukannya masuk kamar, gadis itu malah memandangi city view Berlin dari jendela panjang. Cahaya artifisial dari sejumlah titik membuat kota itu tetap hidup, tetapi saat Agni melihat ke bawah, jalanan di depan apartemen justru relatif sepi.


Saat itulah sebuah mobil melambat di dekat gerbang apartemen. Seorang pelayan laki-laki berlari mendekatinya saat pintu mobil terbuka. Agni menyipitkan mata. Apa sosok yang keluar dari kendaraan itu—


Ishaan.


Cepat-cepat, Agni menyambar laptop dan ponsel. Ternyata Ishaan pulang. Jangan sampai pria itu menangkapnya masih terjaga selarut ini.


Percuma, Ishaan enggak akan peduli, sambar suara lain. Seperti yang dia bilang, dia bukan tipe pria yang berkomitmen.


Lalu, perempuan di distrik tadi bagaimana? Mereka akrab sekali—


Cepat ke kamar, Agni. Nanti Ishaan marah….


Pintu terbuka. Agni masih terpaku di tempat, berusaha melerai dua suara yang mendadak hilang kala dia menatap Ishaan. Pria itu belum menyadari keberadaan Agni sampai akhirnya menengadah dan tatapan mereka bertemu.


“Kenapa kamu belum tidur?” Di bawah pencahayaan remang, Agni sulit membaca ekspresi wajah Ishaan. “Kamu baca pesanku tadi, kan?”


“Maaf, Tuan. Saya—saya baca, tapi saya sulit tidur.”


“Kembali ke kamar. Cepat tidur,” perintah Ishaan tegas. “Aku akan pergi sendiri kalau kamu sampai terlambat bangun.”


“Baik, Tuan.”

__ADS_1


Agni bergegas masuk kamar, lalu memasang alarm agar dia tetap bangun tepat waktu. Dia juga berharap saat sarapan, suasana hati Ishaan sudah membaik.


**


“Kamu semakin mahir memuaskanku, Ishaan. Berapa perempuan yang kamu tiduri setelah kita berpisah?"


Membelakangi Lea, Ishaan memasang sepatu dan mengenakan jaketnya. Lalu, dia melirik jam di layar ponselnya. Sudah lewat tengah malam. Semoga Agni juga sudah tidur, sehingga dia tak membangunkannya saat pulang ke apartemen.


“Aku pamit pulang dulu, Lea. Silakan nikmati fasilitas hotelnya.” Ishaan sengaja tak menggubris pertanyaan tadi.


“Benar mau pulang sekarang? Enggak mau tambah satu ronde?” Lea merajuk. “Asistenmu itu pasti menunggumu, ya? Apa dia lebih pandai melayanimu di—”


“Lea, cukup!” Kali ini, Ishaan tak mampu menahan kekesalannya. “Aku sadar reputasiku dengan perempuan kurang bagus, tapi bukan berarti aku lupa cara bersikap profesional. Jadi kumohon, jangan seret asistenku ke dalam urusan kita.”


Lea, yang membungkus tubuhnya dalam selimut, memberengut. “Kalau begitu, kenapa kamu terkesan buru-buru kayak ada yang menunggumu di apartemen? Kamu biasanya juga kadang janji satu kali, tapi ujungnya malah minta berkali-kali.”


“Move on, Lea. Berhenti memperlakukanku seperti Ishaan yang kamu kenal sepuluh tahun lalu.” Sebelum situasinya mengeruh, Ishaan segera membuka pintu kamar. “Kuharap, kita tidak pernah bertemu lagi.”


*


Ishaan nyaris memanggil taksi kalau supirnya tak mengangkat telepon. Dalam hitungan menit, mobil yang dinantikannya datang menjemput. Lengangnya jalanan Berlin di malam hari pun mempercepat perjalanannya ke apartemen.


Seorang pelayan yang berjaga shift malam menyambut Ishaan. Tak sabar, dia menumpangi lift yang membawanya ke lantai lima. Ishaan ingin segera membersihkan diri kendati di hotel dia sudah mandi. Bercinta bersama Lea, yang dulu selalu menggairahkan, berubah menjadi pengalaman yang ingin Ishaan hapus dari memorinya.


Ishaan membuka pintu memakai kartu cadangan yang diberikan resepsionis. Mulanya, dia mengira Agni sudah tidur, sebab unit apartemen begitu gelap. Sampai kemudian dia menengadah dan melirik ke arah jendela panjang.


Agni berdiri di sana, membawa laptop dan ponselnya.


Sebagian diri Ishaan sesungguhnya senang menyadari bahwa Agni belum tidur. Apa gadis itu mencemaskannya sampai dia sukar terlelap? Sementara sebagian lagi bingung dan kesal. Dia sengaja meminta Agni tak perlu menunggunya, karena dia tak mau gadis itu menangkapnya dalam suasana hati yang kacau.


Ishaan meloloskan bagian dirinya yang gusar untuk menguasai diri. Diperintahkannya Agni untuk tidur bersama peringatan tegas. Setelah gadis itu masuk kamar, Ishaan mengusap wajah; menyadari kesalahannya. Jika tubuhnya yang lelah tak meminta istirahat, Ishaan pasti akan menahan Agni untuk meminta maaf atas sikapnya yang kasar.


***

__ADS_1


__ADS_2