
BELASAN jam berlalu, Agni akhirnya menapakkan kaki di Jakarta.
Cuana terik nan lembap tak menghentikan kecepatan langkahnya setelah turun dari pesawat. Begitu mengambil koper dan tas, dia menyapu kerumunan orang yang hendak menjemput para penumpang dari penerbangan lain. Matanya terfokus pada perempuan-perempuan di deretan terdepan; mencari sosok berkaus merah, pertunjuk yang Shia berikan padanya.
“Ni, Agni!” Shia melambaikan tangan, lalu berlari menghampirinya. “Untung gue enggak terlambat. Lo mau balik ke indekos dulu atau—”
“Sempet enggak kalau ke rumah sakit?”
Shia mengecek ponselnya. “Masih ada jam besuk malam kayaknya, tapi lo enggak mau istirahat dulu gitu? Enggak jet lag?”
Sebenarnya, Agni lelah. Selama di pesawat dia hanya tidur enam jam, itu pun sesekali terbangun gara-gara mimpi buruk. Namun, dia bakal terus gelisah kalau belum mendengar detail kejadian, lalu bertemu ibu tirinya di rumah sakit.
“Kita ke indekos dulu, buat simpen barang-barang,” ujar Agni. “Terus lanjut jenguk… jenguk ibu tiri gue di rumah sakit.”
*
Adalah hal berat bagi Agni menemui ibu tirinya. Sosok yang juga telah mengubah hidupnya menjadi neraka semenjak ayahnya meninggal dunia. Kalau mau tega, Agni bakal memilih pergi bersama Ishaan ke Marrakesh, melepas penat dari trip bisnis tiga bulan di Eropa. Akan tetapi, sebuah suara memintanya pulang, demi mengecek rumah peninggalan mendiang ayah dan menjenguk perempuan yang mengabaikannya bertahun-tahun.
Di rumah sakit, Agni dibimbing ke ruang ICU sementara Shia menunggu di kantin. Berdasarkan keterangan dokter, ibu tirinya mengalami luka bakar serius di bagian atas tubuh, kaki, dan sebagian wajahnya.
“Beliau sudah melewati masa kritis, tapi,” dokter itu berhenti di depan ruangan tempat ibu tiri Agni di rawat, “peluangnya pulih seperti semula sangat kecil.”
“Selain saya, apa ada anggota keluarga lain yang menjenguk?”
Sang dokter menggeleng. “Hanya anggota kepolisian yang mengecek perkembangan. Cuma sampai sekarang beliau belum stabil untuk dimintai keterangan.”
Mengenakan protective gown dan masker, Agni memasuki ruang perawatan ibu tirinya. Bunyi peralatan dan aroma antiseptik yang berbaur membuat suasana kian mencekam. Sesaat, Agni menatap perempuan yang terbaring lemah itu dalam diam. Mengendalikan emosinya yang bergejolak kala mengingat perlakukan yang diterimanya saat mereka masih tinggal satu atap.
Jam besuk terbatas memaksa Agni memasuki ruangan. Tak ada rasa kasihan, apalagi sedih kala Agni menghampiri sosok itu. Kinta, dia memberanikan diri menyebutkan namanya. Nama yang ayahnya sebutkan kala memperkenalkannya pada Agni bertahun-tahun lalu. Nama yang juga sengaja dia tenggelamkan dalam-dalam kala difitnah dan diusir dari rumah.
“Ibu, aku pulang,” katanya datar. “Apa yang ingin ibu sampaikan padaku?”
Hanya bunyi mesin yang menanggapi pertanyaan Agni. Pengaruh obat pasti membiusnya dalam tidur. Agni, yang tak mau berlama-lama di sana, lantas meneruskan,
__ADS_1
"Aku akan kembali besok pagi." Jemari Agni meremas sisi gaun yang dikenakannya. “Beristirahatlah. Aku harus pergi.”
Dengan langkah terseret, Agni melepas masker dan protective gown, lalu berbelok ke toilet. Matanya memanas. Bukan, Agni bukan menangisi perempuan di ruangan itu. Tangisnya adalah tangis amarah yang terlalu lama mengendap dalam jiwanya.
Sejak mendengar kabar rumahnya yang terbakar, yang Agni pikirkan adalah mendiang sang ayah. Satu-satunya peninggalan yang menghubungkan mereka berdua telah rata dengan tanah. Tak ada lagi tempat sarat kenangan yang dapat dia panggil sebagai rumah.
Agni bersandar, tersedu sedan akibat tangis. Dia tak mempedulikan orang-orang yang keluar-masuk toilet; diam-diam memperhatikannya. Beberapa menit saja, Agni hanya butuh waktu sesaat untuk meruntuhkan pertahanan.
“Maaf, Pa. Maafkan aku….”
*
Berdasarkan keterangan warga di sekitar rumah, Kinta dan suaminya terlibat percekcokan seharian. Barang-barang dibanting hingga pecah, tumpang tindih di antara teriakan dan makian. Bahkan Pak RT saja kesulitan melerai mereka.
Suami Kinta terlihat meninggalkan rumah pada sore hari, mengendarai sepeda motor dan membawa tas besar.
Selang beberapa jam, lebih tepatnya tengah malam, rumah itu terbakar.
“Kayaknya sengaja dibakar, Neng.” Bu Ami, tetangga yang tinggal di ujung blok, membuka toples berisi kue kering. “Soalnya polisi nemuin bekas bensin sama jeriken. Gosipnya, mereka ribut gara-gara suaminya gadai sertifikat rumah buat ikut bayar utang. Pusing hampir tiap hari mereka bertengkar.”
“Lho, Neng Agni belum cek ke kantor polisi? Udah ketangkep tadi siang,” sahut perempuan itu sambil mengunyah kue. "Kasihan tapi Bu Kinta. Neng udah jenguk, kan? Gimana kondisinya?”
Agni pamit pulang pada Bu Ami setengah jam kemudian, lalu menghampiri Shia yang menunggunya di depan kompleks. Hampir tengah malam saat mereka sampai di co-living space yang Shia sewakan sebagai tempat tinggal baru. Lebih cocok disebut sebagai apartemen dibandingkan indekos, sebab unit tersebut punya dua kamar dengan satu shared bathroom.
“Gue udah pasang sprei segala macem. Barang-barang lo yang lain masih di kardus,” Shia menjelaskan kala membukakan pintu kamar Agni. “Oh iya, Micah sempet mau kirim lukisan, tapi waktu itu gue lagi sibuk pindahan.”
Langkah Agni terhenti di ambang pintu. “Lukisan?”
“He-eh, katanya hadiah dari Ishaan buat lo. Replika lukisan apa gitu, ada kiss kiss-nya seinget gue.”
Mata Agni membulat. The Kiss. Astaga, bagaimana bisa dia melupakan replika lukisan itu?
“Terus, di mana lukisannya sekarang?” tanya Agni sembari memandangi satu per satu kardus dan bungkusan lain di kamar.
__ADS_1
“Masih di rumah Micah. Kan nunggu gue beres pindahan.” Shia mengrucutkan bibirnya. “Kok bisa bos lo beli lukisan? Langsung dari Eropa pula.”
“Panjang ceritanya, nanti gue kasih tahu.” Mengenal perangai Shia, Agni yakin sahabatnya itu bakal terus menggali informasi. “Gue yang kontak Micah deh buat ambil lukisannya. Makasih, ya, udah packing barang-barang gue.”
“Sama-sama. Lo istirahat dulu, biar besok lebih seger ke rumah sakit.”
Gara-gara celetukan Shia, Agni jadi ingat dia belum mengabari Ishaan kalau dia sudah tiba di Indonesia. Dengan cepat dia membuka aplikasi chatting dan terkejut kala mendapati sejumlah pesan tak terbaca dari Ishaan.
Sebagian menanyakan kabar, sebagian lagi mengingatkannya untuk makan dan minum. Ada pula satu yang menanyakan kabar ibunya. Agni terus menggulir hingga membaca pesan terakhir yang dikirim sekitar satu jam lalu.
Agni, aku take off ke Marrakesh, bunyi pesan itu. Tolong balas begitu kamu baikan. Jangan lupa kontak Micah buat ambil lukisan.
“Panjang umur,” gumam Agni. Saking bingung harus memilih pertanyaan mana yang perlu dijawab, Agni memutuskan menulis pesan singkat untuk melaporkan kabarnya.
Tuan, saya sudah sampai di Indonesia tadi sore. Maaf saya baru balas, begitu sampai saya langsung ke rumah sakit. Diambilnya jeda sebelum meneruskan, Ibu tiri saya sudah melewati masa kritis, tapi masih butuh observasi lanjut. Besok pagi atau siang, saya akan menjenguknya lagi.
Centang satu. Barangkali sedang istirahat di pesawat, pikir Agni. Dia lantas pindah untuk mengirim pesan pada Micah terkait lukisan sebelum notifikasi baru dari Ishaan masuk.
Can I call you?
Jantung Agni bertalu kencang membacanya.
Bukannya Tuan sedang di pesawat?
Penerbanganku delay dua jam, terus stuck di bandara.
Hampir tengah malam kala pesan-pesan itu masuk. Anehnya, lelah dan kantuk yang siap membawa Agni pada dunia mimpi sekonyong-konyong menguap kala menerima pesan Ishaan. Gadis itu mendekap ponselnya untuk memikirkan jawaban sebelum mengetiknya.
Tuan bisa telepon, kebetulan saya di indekos.
Tak sampai satu menit, nama dan nomor telepon Ishaan muncul di layar ponsel. Agni membaringkan tubuhnya menghadap dinding sebelum menekan tombol hijau untuk menerima panggilan tersebut dan mendengar,
“Agni, aku memikirkanmu dari kemarin.”
__ADS_1
***