Aku Bukan Simpanan Bosku

Aku Bukan Simpanan Bosku
Agni Mendadak Tajir


__ADS_3

CLUB malam?


Agni mengecek alamat yang dikirimkan Ishaan, lalu menatap bangunan bergaya industrial di hadapannya. Ojek yang mengantarnya juga hafal rute, jadi mustahil kalau dia tersesat.


“Selamat siang, Bu. Ada yang bisa saya bantu?” Satpam berpakaian hitam yang berjaga di pos menghampirinya.


“Benar ini… Edge Night Lounge?”


“Benar, Bu. Ada keperluan apa ke sini? Soalnya club baru buka pukul lima sore.”


Tatapan selidik sang satpam membuat Agni salah tingkah. Dia pasti curiga, ada keperluan apa seorang gadis sepertinya mampir ke club malam pukul sembilan pagi? “Saya—saya mau bertemu Pak Ishaan. Ishaan Merlon.”


Kecurigaan satpam itu berangsur memudar. “Apa Anda Nona Agni?”


Agni mengangguk cepat. “Pak Ishaan ada di dalam?”


“Iya, dia meminta saya untuk mempersilakan Anda masuk. Sebentar.”


Satpam tadi membukakan gerbang, lalu mengantar Agni memasuki club itu.


*


Ini kali pertama Agni mampir ke tempat hiburan. Rasanya aneh mengamati club yang biasanya hingar bingar begitu tenang di pagi hari. Di parkiran pun hanya ada dua mobil dan satu sepeda motor yang terlihat.


“Silakan naik ke lantai dua. Pak Ishaan menunggu di sana.” Sang satpam lantas berlalu, meninggalkan Agni di area yang dia asumsikan adalah lantai dansa. Sesuai petunjuk petugas keamanan tadi, dia meniti anak tangga perlahan-laha. Di puncak anak tangga, Agni hanya mendapati lantai hitam dan sofa kulit di lounge.


Kewaspadaannya meningkat. Jangan-jangan—


“Selamat pagi, kamu datang tepat waktu.” Agni berbalik cepat kala mendengar Ishaan yang melangkah dari koridor di belakangnya. “Sudah sarapan? Aku bisa minta Pak Yudi buat cari makan.”


“Saya sudah sarapan, terima kasih,” Agni berbohong. Justru dia sengaja melewatkan santap pagi demi menemui Ishaan. “Sesuai permintaan Bapak, saya bawa kontrak dan dokumen untuk pengajuan visa serta paspor.”


“Hei, jangan panggil aku Bapak. Memangnya wajahku kelihatan kayak om-om beranak empat?" Ishaan mengisyaratkan Agni untuk duduk di sofa. “Karyawan-karyawanku di kantor memanggilku Tuan. You can use that one.”


“Baik, Tuan.” Panggilan itu malah membuat Ishaan terkesan seperti pangeran. Kemudian, Agni menyerahkan folder biru berisi berkas yang Ishaan minta. “Silakan diperiksa dulu.”

__ADS_1


Saat Ishaan mempelajari dokumen-dokumennya, Agni merasakan perutnya perih. Rupanya menyantap beberapa potong biskuit dan segelas air putih belum cukup buat mengganjal lapar. Agni pun berharap Ishaan segera mengakhiri pertemuan sebelum—


Gruuuk~


Agni gelagapan dan langsung memeluk perutmya. Dari balik lembar-lembar kertas, Ishaan memandangnya sebentar. Seolah belum cukup, perutnya berontak semakin keras; membuat Agni malu gara-gara tertangkap basah berbohong.


"Katanya kamu sudah sarapan.” Ishaan memasukkan berkas Agni ke dalam folder. “Aturan nomor satu saat bekerja denganku: kamu harus makan. Sarapan, makan siang, makan malam. Tidak sempat? Bawa snack. Aku tidak mau di tengah kunjungan atau rapat, kamu kehilangan fokus sampai pingsan. Mengerti?”


“Mengerti, Ba—Tuan.” Kepala Agni tertunduk.


“Aku bakal minta Pak Yudi buat belikan nasi uduk di seberang club,” kata Ishaan sembari mengetikkan sesuatu pada ponsel. “Kamu kerja hari ini?”


“Nanti sore, pukul empat.”


“Ada kegiatan lain setelah bertemu denganku?”


Agni mengulum bibirnya. “Saya harus ke kampus buat bayar UKT dan mengurus pendaftaran skripsi. Dari sana, saya ke kontrakan, ganti baju, terus ke restoran.”


Salah satu alis Ishaan terangkat. “Kamu punya pegangan buat melunasi UKT?”


“Ya, tapi,” Agni meremas lututnya, “baru setengahnya. Makanya saya mau nego ke bagian keuangan supaya dikasih keringanan.”


“Tiga juta rupiah.”


“Sebentar.” Ishaan beranjak, lalu masuk ke ruangan di belakang sofa. Tak lama berselang, pria itu muncul membawa amplop cokelat dan menyerahkannya pada Agni. “Sepuluh juta. Nanti aku kirim uang dengan jumlah yang sama ke rekeningmu.”


Agni melongo. “Buat apa?”


“Bayar uang kuliahmu. Ayo, terima,” pinta Ishaan. “Anggap uang yang aku beri hari ini sebagai uang muka. Pakai juga untuk beli pakaian kerja dan ponsel baru. Ponselmu, uh, sudah ketinggalan zaman. Beli seri khusus bisnis. Kalau perlu sama tablet sekalian.”


Tangan Agni gemetaran saat menerima amplop tersebut. Mimpi apa dia semalam sampai bisa memegang segepok uang?


“Terima kasih, Tuan.”


“Sarapanmu datang,” ujar Ishaan. Pak Yudi, sang satpam club, menyerahkan sekantung nasi uduk pada Ishaan sebelum melangkah turun ke lantai dasar. “Makan dulu. Setelah itu, aku antar kamu ke kampusmu.”

__ADS_1


Agni hendak melayangkan protes, tetapi perutnya meronta lagi. Sebaiknya dia menuruti perintah Ishaan sebelum atasannya berubah pikiran.


*


“Dengar, Micah akan membantu mengurus paspor dan visamu. Jadi, aku bagikan nomormu padanya supaya kalian mudah bertukar kabar. Jangan lupa kirim jadwal kuliah dan kerjamu.”


“Baik, Tuan. Kalau begitu, saya permisi dulu.”


Ishaan menunggu sampai Agni masuk ke dalam kampus. Setelah membagikan nomor telepon Agni pada Micah, Ishaan memutuskan pergi ke kantor untuk mengurus pekerjaan dan seleksi sekretaris barunya. Diam-diam, dia bersyukur Agni tak mengajukan pertanyaan nyeleneh di club. Meski begitu, dia perlu hati-hati dan menyiapkan jawaban yang pas.


Gue main ke tempat lo, ya. Sekalian ambil berkasnya Agni, bunyi pesan yang dikirimkan Micah. Sekitar lima menit kemudian Ishaan sampai di kantornya. Selesai memarkirkan mobil, Ishaan membalas pesan Micah dan bergegas menuju ruang HRD.


*


“Good afternoon, my bro! Gue bawa ayam geprek buatan Nyokap, nih!” Tanpa menunggu respons Ishaan, Micah meletakkan lunch box di meja. “Mana berkasnya Agni, biar gue kasih ke keponakan yang gawe di kantor imigrasi.”


“Berarti visa bisa beres cepat juga, dong? Aku mau seminggu sebelum kami terbang, visa sama paspor siap.” Ishaan membuka lunch box dari Micah. Aroma ayam goreng yang berpadu dengan sambal bajak serta-merta membangkitkan rasa lapar.


“Aman, lo kayak minta tolong sama siapa aja.” Micah mengedikpan mata. “Paling Agni harus datang beberapa kali ke kantor imigrasi sama kedubes buat ngurus hal-hal yang enggak bisa gue wakilkan.”


Ishaan lega mendengarnya. Mengingat perekrutan Agni tak melibatkan kantor, dia yang menanggung biaya perjalanan ke Eropa. Toh tiga bulan bukan waktu yang lama. Jumlah tabungannya lebih dari cukup untuk mengurus kebutuhan satu orang.


“Eh, Tanisha tahu lo rekrut asisten?” tanya Micah penasaran. “Kata orang HRD, lo tetep nerusin seleksi sekretaris.”


“Enggak, aku juga enggak mau dia tahu. Menurut dia, aku bakal sulit kerja kalau sekretarisnya cewek. Makanya dia masukin kenalan cowok buat jadi sekretarisku.” Ishaan tergelak saat mendengar jawaban Ishaan. “Bayangin bakal sesenewen apa Mbak Tanisha kalau tahu aku rekrut asisten di belakangnya.”


“Itu berarti lo harus cepet-cepet tobat. Kasus Ayanna kemarin biar jadi kasus terakhir lo main-main sama cewek di tempat kerja.” Ishaan menyiapkan minuman untuk mereka berdua.


“Tapi gue masih ragu. Lo tahan enggak jalan-jalan berdua sama Agni di Eropa? Dia emang bukan tipe high maintenance kayak Ayanan, but she’s smart, I can tell. Cewek-cewek yang kelihatan polos juga kadang liar di ranjang.”


“Aneh dengar kamu sebut-sebut tobat. Ngaca dulu, Micah.”


Namun, benar apa kata Micah. Agni, kontras dari namanya yang membara, memiliki fitur wajah yang lembut. Bibirnya mungil, tatapan matanya teduh. Belum lagi jari-jari yang lentik dan mengundang untuk disenuh.


“Woi, woi, ngelamun mesumnya nanti aja!” Jentikan jari Micah menyeret Ishaan ke dunia nyata. “Abis dari sini gue langsung ke kantor imigrasi. Lo mau sekalian nitip apa gitu, perpanjang paspor misalnya. Visa lo sendiri udah siap belum?”

__ADS_1


Saking pusingnya menghadapi drama Ayanna, Ishaan sampai belum menyiapkan dokumen-dokumen tersebut. Semakin tak sabar saja dia ingin meninggalkan Jakarta untuk menjejakkan kakinya di Benua Biru.


***


__ADS_2