Aku Bukan Simpanan Bosku

Aku Bukan Simpanan Bosku
Dinner Berujung Petaka


__ADS_3

MUNGKIN hanya perasaan Agni, tetapi belakangan Ishaan bersikap aneh padanya saat mereka berduaan di apartemen.


Mulanya, Agni tak menyadari perubahan tersebut. Hari-hari pertamanya di Roma dilalui dengan menemani Ishaan menemui klien, diikuti kesibukan menyusun jadwal dan mengarsip dokumen. Dia juga harus bangun lebih pagi untuk menyiapkan sarapan yang dikirimkan istri Luca ke apartemen.


Memasuki akhir pekan, mereka mengurus urusan di luar pekerjaan. Agni dengan skripsinya, sementara Ishaan memilih jalan-jalan mengitari kota.


Malamnya, saat Agni hendak menyajikan lasagna yang baru dihangatkan, Ishaan tak sengaja menyenggol pinggangnya. Pria itu cepat-cepat meminta maaf, lalu berbalik masuk ke kamar.


Ishaan tak keluar sampai keesokan siang, membiarkan Agni menyantap sarapan seorang diri di dapur.


Tak berhenti sampai di situ. Ketika Agni akan mengambil pakaian di mesin cuci, dia berpapasan dengan Ishaan yang tengah membawa sprei. Mereka bersitatap sejenak, lalu kala pandangan Agni teralih pada sprei, Ishaan ngacir masuk ke kamarnya.


“Dia biasa-biasa aja, kan, kalau kalian ngurus kerjanan?” tanya Shia begitu Agni menceritakan keanehan itu melalui video call. “Enggak usah dipikirin amatlah, Ni. Mungkin dia lagi ada masalah, cuma emang bukan urusan lo buat ikut campur.”


Agni membaringkan tubuh ke kasur, lalu menekan salah satu earbuds-nya yang nyaris copoot. “Waktu kerja, sih, dia profesional. Yang bikin gue heran, dia biasanya friendly di luar jam kerja. Kadang usil juga. Cuma mendadak kok tiap papasan atau enggak sengaja nyenggol gue, dia takut gitu kayak lihat hantu.”


Di layar, Shia mengerucutkan bibir, sama-sama bingung. “Kalau lo masih kepo, tanya aja ke orangnya. Daripada lo penasaran kek penunggu di kontrakan sebelah.”


“Ah, ada-ada aja lo.” Agni terkekeh. “Kangen gue sama Jakarta. Di sini tempatnya bagus, tapi gue takut nyasar kalau jalan sendiri.”


“Padahal lo ikut aja sama bos lo pas dia kelayapan.” Kemudian, Shia menjentikkan jari, seolah-olah dia baru mendapat ide. “Iya bener, lo coba tanya sama dia, boleh ikut jalan-jalan enggak. Bilang lo bosen atau butuh refreshing. Siapa tahu nanti dia curhat sama lo.”


Ide Shia tak buruk-buruk amat buat dicoba. Agni perlu memastikan dulu apa Ishaan berencana jalan-jalan hari ini. Maka setelah mengakhiri video call dan mematikan laptop, Agni beranjak keluar untuk mengecek keberadaan atasannya.


Panjang umur, Ishaan sedang menonton televisi di ruang tengah. Karena tak mau mengejutkan pria itu, dia menunggu sampai perhatiannya teralih ke kamarnya. Agni menunggu sampai kakinya nyaris pegal, tetapi usahanya membuahkan hasil saat Ishaan mematikan televisi, lalu menoleh padanya.


“Siang, Tuan,” katanya. “Hari ini mau keluar lagi buat jalan-jalan?”


Sang lawan bicara mengusap lehernya. “Sepertinya begitu. Aku mau dinner di luar.”


“Apa saya boleh ikut? Kebetulan persediaan makan hampir habis, sementara besok siang kita sudah meneruskan perjalanan ke Milan.”


Sekilas, Ishaan bimbang. Dia bahkan memutus kontak matanya. Namun, Agni belum mau menyerah. Pokoknya sore ini dia harus pergi sambil menggali faktor yang bikin Ishaan berubah sikap.


“Oke, kamu boleh ikut. Kita keluar pukul setengah lima.”


Mendengarnya, Agni nyaris melompat senang. “Baik, Tuan. Kabari saya kalau Anda sudah bersiap-siap.”


*


Dalam salah satu pertemuan, Agni menyimak pembicaraan Ishaan bersama klien yang, syukurnya, fasih berbasa Inggris. Mereka mendiskusikan Roma sebagai pusat desain interior kontemporer yang menjanjikan. Permainan desain yang bersih, garis-garis melengkung, hingga kontras warna menjadi aspek-aspek yang mereka kupas secara antusias.


“Ini salah satu contoh bangunan dengan desain interior kontemporer yang kukagumi.” Pada kunjungan di hari ketiga, Ishaan mengajak Agni ke sebuah gedung yang menyerupai Colloseum, hanya saja bentuknya seperti kubus. “Namanya Palazzo della Civiltà Italiana.”


“Cantik,” gumam Agni. Bangunan berwarna putih gading itu terlihat modern dalam desainnya yang klasik. “Tuan mau bikin gedung seperti ini di Indonesia?”


“Bisa saja kalau tidak ada tangan-tangan jail yang hobi bikin ‘hiasan’.”


Sore ini, Ishaan memang tak mengajaknya mampir ke gedung-gedung dengan desain mengagumkan. Pria itu justru membawanya menyusuri kedai-kedai di pinggiran Roma yang menawarkan hidangan rumahan. Dia berharap Ishaan juga mengoceh tentang desain sederet kedai memesona yang mereka lewati. Kenyataannya, pria itu sibuk mengingatkan Agni untuk mendekap sling bag-nya erat-erat.


“Kita sudah sampai. Selamat sore, Carina,” sapa Ishaan sembari mengisyaratkan Agni duduk di dekat meja kasir. “Apa kabar Ratu Piza Carbonara favoritku?”


“Ishaan, tesoro mio*!” Seorang perempuan paruh baya yang sedang menyajikan piza menghampiri Ishaan, lalu mengecup kedua pipinya. “Sejak kapan kamu di Roma? Kenapa tidak kabari aku?”


“Sejak minggu lalu. Aku ke sini sekalian kerja.” Kemudian, Ishaan memperkenalkan Agni pada Carina. “Dia asisten pribadiku.”


Agni agak terkejut saat Carina mendaratkan ciuman singkat di kedua pipinya. “Teman Ishaan, temanku juga. Kalian mau pesan apa?”

__ADS_1


“Seperti biasa, favoritku. Kamu mau minum apa, Agni?”


“Apa saja asal menyegarkan. Oh iya, non-alkohol.”


Ishaan lantas memesankan soda untuknya pada Carina.


Kedai mungil itu kian sesak; memaksa Ishaan menggeser kursinya mendekati Agni. Kemudian saat lengan mereka bersentuhan, Agni menangkap mata Ishaan yang membesar.


“Agni.” Sepertinya Agni dapat menebak ke mana Ishaan akan pergi. “Aku ke toilet dulu sebentar.”


**


Benar-benar memalukan! Agni pasti menyadari perubahan sikapnya.


Mimpi yang menggairahkan itu hanya mampir sekali, tetapi efeknya berlangsung berhari-hari. Setiap kali berpapasan dengan Agni, sekelebat mimpi itu mencuat dalam benaknya. Parahnya saat bersentuhan, Ishaan merasakan setruman yang membuatnya salah tingkah.


Daya tarik apa yang sebenarnya Agni miliki sampai Ishaan kehilangan kendali? Bukankah selama ini dia dikenal mampu menaklukan banyak perempuan hanya lewat tatapan?


Tujuan Ishaan mengajak Agni mampir ke kedai Carina, yang juga merupakan sahabat ibunya, adalah menekan peluang berduaan. Akan tetapi, dia salah perhitungan. Kerumunan di kedai itu malah meningkatkan frekuensi kontak fisik dengan gadis itu.


Micah dijamin bakal meledeknya habis-habisan kalau mendengar cerita ini.


Sekali lagi, Ishaan mencuci tangan, lalu mengusap wajahnya. Dia menatap pantulan dirinya di cermin. Kontrol dirimu, Ishaan Marlon, batinnya. Tujuanmu ke sini adalah mendapatkan proyek sebanyak mungkin, bukan meniduri asistenmu.


Kembali ke meja, Agni tengah berbincang dengan seorang pria. Sesekali, sosok itu menjilati bibir sambil mengamati Agni. Gestur yang seketika membuat kewaspadaan Ishaan naik, tetapi dia tak bisa memicu keributan untuk mengusir pria itu.


“Apa pesanan kita sudah siap, Sayang?” Pertanyaan tadi serta-merta mengalihkan perhatian Agni, sementara pria itu memandang sebal pada Ishaan. Belum cukup, Ishaan mengambil tempat di antara mereka. “Permisi, dia pacarku.”


Pria tadi mendengus sebal, lalu pergi dari kedai. Tak lama berselang, Carina muncul bersama pesanan mereka.


Agni tampak kebingungan, pasti sedang menebak-nebak perkataan yang Ishaan sampaikan pada pria tadi. Dia sengaja memakai bahasa Italia agar gadis itu tidak terkejut.


“Tuan—”


“Makan dulu,” potong Ishaan cepat. “Kamu bakal menyesal melewatkan piza carbonara buatan Carina.”


*


Selepas kunjungan ke kedai Carina, Ishaan sebenarnya pengin mengajak Agni mengunjungi toko suvenir langganannya. Namun, kerumunan wisatawan dan kejadian di kedai tadi mengurungkan niatnya. Dia mengajak Agni pulang dengan alasan harus meneruskan packing untuk perjalanan ke Milan.


Ishaan pun mengambil rute berbeda untuk menghindari kepadatan. Jalannya lebih sepi, tetapi bakal cepat mengantar mereka ke apartemen. Baru saja mereka berbelok dari sebuah toko bunga, tiga orang pria muncul dari balik gang.


Salah satunya pria yang menggoda Agni di kedai.


Di belakang, Agni terkesiap. “Tuan, apa kita perlu kembali ke rute semula?”


Mereka sudah terlalu jauh dari lokasi tersebut. “Masuk ke toko bunga tadi.”


“Kenapa—”


“Masuk dan jangan keluar sampai aku yang minta!”


Begitu Agni berbalik dan berlari masuk ke toko bunga, Ishaan menunggu ketiga pria itu mendekatinya. Pria di kedai berhenti beberapa langkah di hadapannya.


“Ada yang coba-coba sok jagoan di sini,” katanya geram. “Berani sekali kamu mengambil gadisku."


"Gadismu? Sejak kapan?” Ishaan pasti bakal tergelak lepas kalau situasinya tak membahayakan. “Begini, aku sedang malas bikin keributan. Bagaimana kalau kita tidak saling ganggu. Aku dan pacarku pulang dengan aman, kalian tak akan aku laporkan ke pihak berwajib.”

__ADS_1


“Kamu yang membuat keributan duluan saat menghalangiku bicara pada gadisku!” Pria itu mendorong Ishaan sampai nyaris menjatuhkannya. “Aku tahu dia bukan kekasihmu, jadi jangan banyak tingkah!”


“Lalu, apa aku akan membiarkanmu berbuat macam-macam padanya?” Ishaan melayangkan tatapan tajam pada mereka bertiga. “Sebelum tangannmu menyentuh sehelai rambutnya, hadapi aku dulu.”


Pria itu meludah ke samping. “Akan kubuat mulutmu tak mampu bicara!”


Ishaan menarik napas panjang. Detik berikutnya, yang dia lihat adalah kepalan tangan dan semuanya menggelap.


*


“Tuan? Tuan Ishaan? Tuan!”


Tepukan halus disertai nyeri di beberapa titik menyadarkan Ishaan. Sayup-sayup, dia mendengar dengungan di sekitarnya. Dia ingin membuka mata, tetapi kelopaknya terasa berat dan sakit. Tubuhnya juga ngilu.


“Permisi, permisi, saya pamannya.” Suara itu, Ishaan mengenalinya. Luca. Dengan bahasa Inggris yang tertatih, dia bertanya pada Agni, “Nona, apa yang terjadi?”


“Tadi Tuan dihajar tiga orang sekaligus. Mereka kabur saat penjaga toko memanggil polisi,” Agni menjelaskan. Kecemasan dalam suaranya membuat Ishaan sedih. “Kita perlu membawanya ke rumah sakit.”


“Bawa ke taksi saya—”


“Jangan!” Ishaan mengaduh sambil memegangi pipinya.


“Tuan, lukanya harus segera ditangani.”


Ishaan menggeleng cepat. “Luca, bisa panggilkan istrimu ke apartemen? Biar dia yang merawatku.”


Luca menggumam ragu, tetapi akhirnya mengiyakan. “Nona, bantu saya membawa Tuan Marlon ke taksi.”


Perjalanan menuju apartemen terasa lebih panjang walau Ishaan diantar kendaraan. Setelah menaiki anak tinggi sambil menahan nyeri dan perih, Ishaan akhirnya sampai di kamar. Dia dapat mendengar Luca yang tengah menghubungi istrinya, sementara Agni memastikannya nyaman berbaring di ranjang.


“Saya keluar sebentar untuk menjemput istri. Nona, bisa ambilkan first aid kit di dapur?”


“Tentu, akan saya ambilkan.”


Ishaan hanya bisa menunggu. Jika lukanya parah, dia mungkin harus menunda beberapa pertemuan. Mana mungkin dia mengirim Agni sendirian menghadapi klien-kliennya.


“Agni,” panggilnya lemah saat gadis itu kembali bersama first aid kit, “jadwal—tolong tunda rapat lusa nanti. Katakan aku mengalami kecelakaan.”


“Tuan sedang sakit begini masih memikirkan pekerjaan.”


Ishaan berusaha terkekeh, tetapi malah meringis sakit. “Mereka sudah lama bekerja dengan perusahaanku, jadi tak boleh dikecewakan.”


“Baik, nanti saya hubungi mereka. Apa Tuan mau sekalian menjadwalkan ulang pertemuannya?”


Ishaan perlu mengecek kalender, tetapi matanya belum benar-benar bisa terbuka. “Uuuh, Kamis. Jumat pagi seandainya mereka bisa.”


“Astaga!” Seruan seorang perempuan memotong percakapan mereka. Istri Luca, Gabriella. “Pasti berandalan dari blok sebelah yang bikin onar! Sebentar, ya, saya mau cuci tangan dulu. Luca, sebaiknya kau lanjut kerja dan cek situasi di sekitar apartemen.”


Luca lantas pamit meninggalkan mereka. Agni mulanya hendak keluar kamar, tetapi Ishaan segera menahan tangannya.


“Ke—kenapa, Tuan?”


“Aku bersyukur mereka tidak menyentuhmu.” Pelan-pelan, Ishan melepaskan tangannya. “Kamu bisa kembali ke kamar. Biar istri Luca yang merawatku."


***


* [Italia] my treasure

__ADS_1


__ADS_2