Aku Bukan Simpanan Bosku

Aku Bukan Simpanan Bosku
Ternyata Ada Maunya


__ADS_3

dari author: halo, minggu ini agak lambat update karena aku lagi sibuk kerja. Sekalian mau kasih penjelasan kalau cerita ini bakal terbagi ke dua bagian. Bagian satu adalah waktu Agni jadi asisten Ishaan, lalu bagian dua adalah saat Agni jadi sekertaris beberapa tahun kemudian.


Omong-omong, selamat menikmati bab ini! ^^


***


“TUAN, saya sudah selesai, kita—”


Saat menengok ke belakang, Agni hanya menemukan dua orang perempuan yang sedang asyik memilih bumbu.


Ke mana Ishaan?


Ukuran supermarket ini lebih kecil dibandingkan yang sering Agni kunjungi di Jakarta. Mudah mengelilinginya buat mencari Ishaan. Masalahnya, dia berada di luar negeri. Agni ogah ambil risiko memutari tempat asing tanpa menguasai bahasa yang umum dipakai warga buat berkomunikasi.


Ponsel. Agni merogoh saku jaket untuk menghubungi Ishaan, tetapi panggilannya berakhir terus di voice mail. Kemudian, dia teringat kalau baterai ponsel Ishaan habis sesaat setelah mereka menuntaskan pertemuan terakhir. Agni hanya satu pilihan dan dia berharap dapat segera menemukan Ishaan atau—


Nguung~


Agni menutup telinga kala mendengar dengungan dari speaker, disusul suara seorang perempuan yang berbicara dalam bahasa Prancis. Agni yang tak memahami bahasa tersebut mengabaikannya sampai kemudian suara tadi berganti dengan suara yang dia kenali.


“Kepada Saudari Agni Karalyn, tolong kembali ke pintu utama. Lokasinya di samping kasir No. 4.” Orang-orang di sekitar Agni tampak kebingungan mendengar seruan dalam berbahasa Indonesia tersebut. Sementara Agni ternganga menyimak perintah Ishaan. “Kalau bingung, cari staf dan tanya arah ke pintu utama. Mereka bisa bahasa Inggris. Terima kasih sebelumnya.”


Tidak, tidak, Agni memilih mencari sendiri pintu utama ketimbang jadi pusat perhatian. Lantas, dia memutuskan mengikuti seorang perempuan yang berjalan menuju arah kasir. Matanya menghitung papan kasir, lalu begitu menemukan kasir No. 4, gadis itu memindai pengunjung yang lalu lalang dan menemukan Ishaan yang tengah menunggu bersama troli mereka.


“Tuan,” Agni mengatur napasnya yang terengah, “Maaf saya tidak bermaksud meninggalkan Tuan di dalam. Saya tadi—”


“Bukan salahmu, aku yang melamun sampai kehilangan jejak,” potong Ishaan cepat. “Sudah ambil bumbu yang kamu perlukan? Kita bayar dulu, terus pulang.”


*


Keanehan sikap Ishaan yang awalnya Agni anggap angin lalu rupanya belum hilang. Saat membayar belanjaan, Ishaan mengawasi lekat-lekat kasir pria yang ramah dan sesekali mengajak Agni mengobrol karena dia pernah berlibur ke Indonesia. Ishaan pun, untuk kali pertama, menawarkan diri membawakan kantung belanja. Biasanya, dia menyuruh pelayan atau supir yang bertugas.


Namun, Agni memilih diam. Takut bakal menyinggung Ishaan kalau bertanya.

__ADS_1


“Kamu mau masak apa malam ini? Aku bantu.” Tuh, kan? Tumben sekali Ishaan terjun ke dapur. “Skill masakku memang jauh di bawah kamu, tapi buat urusan kupas bawang atau potong wortel masih lumayan.”


“Tuan tidak mau pesan dari restoran?”


Ishaan menggeleng, lalu menghampiri Agni yang tengah menata botol-botol bumbu. “Kalau jadi pindah ke Eropa, aku bakal jauh dari rumah, termasuk dari pelayan dan supir yang mengurus kebutuhanku. Aku tidak mau tergantung pada staf yang bekerja di sini. Sesekali ingin mandiri kayak kamu.”


Kalimat terakhir membuat wajah Agni menghangat. “Bukannya lebih praktis kalau Tuan dibantu pelayan? Jadi Tuan bisa fokus mengurus pekerjaan.”


“Kamu tahu kapan kali pertama dan terakhir aku masak? Waktu kuliah di Berlin. Sebagian besar makanan yang kubuat antara mentah atau terlalu matang.” Tatapan Ishaan menerawang ke luar jendela. “Meski sebal, aku selalu menghabiskan semua makanan yang kubuat. Rasanya jauh dari ekspektasi, tapi aku puas.


“Makanya aku pengin merasakan kepuasan itu lagi, Agni. Mau, kan, kamu mengajariku? Resep-resep simpel sudah cukup.”


Saat Ishaan memberinya tatapan memelas, Agni mustahil menolak. Setengah tak percaya juga mendapati pria yang disegani beberapa klien tersebut menunjukkan sisi lembut padanya. Maka, Agni memilihkan resep sup yang sering dia buat bersama Shia saat melakukan penghematan sebelum gajian.


**


“Tuan pernah coba egg drop soup?”


“Baiklah, kita bikin sup itu buat makan malam. Resepnya gampang, semua bahannya ada di daftar belanja tadi.”


Ishaan mengamati Agni mengeluarkan bahan-bahan egg drop soup. Empat butir telur, empat siung bawang putih, sebatang bawang daun, kaldu ayam, dan sebungkus tepung maizena. Gadis itu bertanya lagi apa Ishaan suka jagung yang lantas dia tanggapi dengan anggukan.


“Tuan, tolong potong bawang daun dan larutkan tepung maizena,” Agni memberi instruksi sembari memipil jagung dan mengocok telur. “Kalau airnya mendidih, kecilkan apinya, lalu cek apa rebusannya mengeluarkan aroma bawang putih.”


Hati-hati, Ishaan menuangkan telur ke dalam rebusan sementara Agni terus mengaduk dalam gerakan yang konsisten. Pelan-pelan, serabut berwarna putih dan kuning bermunculan. Ishaan takjub mengamatinya, tetapi Agni terus fokus mengaduk dan memintanya memasukkan bawang daun, kaldu, bersama bumbu perasa.


“Tahap terakhir, tuangkan larutan tepung maizena.” Agni mengisyaratkan Ishaan menuangkan bahan tersebut. Menit-menit berikutnya berlalu dalam hening. Hanya gelegak air dari sup yang mengisi dapur. Sebelum mematikan api, Agni mencicipi sedikt kuah sup untuk mengecek rasa dan tekstur. Senyumnya merekah. Berarti, egg drop soup yang mereka buat berhasil.


“Kita bisa simpan sebagian buat sarapan besok,” ujat Agni saat menyiapkan dua mangkuk sup. “Saya sampai lupa siapkan nasi saking fokus bikin sup.”


Ishaan tak terlalu memikirkan nasi. “Nasi buat besok pagi. Aku lapar, mau coba supnya sekarang.”


Dari aromanya, egg drop soup buatan mereka sangat menggiurkan. Ishaan yang kurang sabar langsung menyendokkan sup ke mulutnya. Sontak, lidahnya terbakar gara-gara sup yang masih panas. Di hadapannya, Agni berusaha menahan tawa, lalu menyodorkan segelas air padanya.

__ADS_1


“Kamu sering bikin sup ini? Kelihatan hafal banget sama resepnya.” Ishaan suka kuahnya yang agak kental. Belum lagi permainan rasa dan tekstur dari pipil jagung serta telur yang membuat sup semakin nikmat. “Cocok juga buat cuaca dingin, sebentar lagi, kan, musim gugur.”


“Bisa dibilang ini sup serbaguna buatku dan Shia.” Agni juga tampak puas dengan hasil masakannya malam ini. “Tuan bisa eksperimen sama bahan-bahannya. Asal hati-hati semala mengaduk telur dan tepung maizena.”


“Oh, aku bisa tambah bahan lain semacam chili oil atau daging cincang?”


“Iya, apa saja yang Tuan suka.”


“Termasuk kamu?”


Ada jeda panjang di antara mereka sampai Ishaan menyadari apa yang dia ucapkan. Bisa-bisanya dia keceplosan saat suasana hatinya sebagus ini!


“Just kidding,” tukas Ishaan cepat. Namun, terlambat menyelamatkan Agni yang bergeming di depannya. “Earth to Agni, are you okay?”


“Umh, maaf, maaf. Saya mau cuci mangkuk, sekalian sama peralatan makan.” Kentara sekali Agni salah tingkah. “Apa Tuan sudah selesai makan? Biar saya ambil mangkuknya.”


Ishaan tak menanggapi. Reaksi Agni yang bingung sekaligus malu sekonyong-konyong membawanya pada malam pertama mereka di Roma. Malam saat Ishaan memimpikan Agni.


“Permisi, Tuan.” Agni hendak mengambil mangkuknya yang kosong. Sebelum jemari gadis itu menyentuh pinggiran mangkuk, Ishaan menahannya. Dia lantas menarik Agni sampai jarak di antara mereka menyempit. Sosok di hadapannya mati-matian menghindari kontak mata dan Ishaan tahu harus melancarkan sserangan apa supaya dia mendapatkan atensi penuh.


“Ingat kata-kataku, Agni? Mataku tak ada di lantai.”


Walau ragu, Agni akhirnya menatap Ishaan.


“Aku ingin memastikan sesuatu yang pernah kamu tanyakan di club dulu.”


“Sesuatu—yang mana, Tuan?”


Benarkah Ishaan akan mengungkit topik itu? Dia terlalu penasaran untuk mengabaikannya.


“Soal servis plus yang kamu tawarkan,” mata Agni membesar kala Ishaan membisikannya, “apa kamu masih bersedia melakukannya?”


***

__ADS_1


__ADS_2