
“SERIUS totalnya segini? Apa tidak berlebihan?”
“Kan tadi gue bilang itu ditambah bonus sama uang duka cita.”
Sekali lagi, Agni menatap email yang diterimanya. Bukti pembayaran untuk sisa gajinnya bertambah tiga kali lipat. Micah menjelaskan uang tambahan yang diberikan adalah bonus dari Ishaan, karena dia berhasil mendapatkan sejumlah investor menjanjikan. Sisanya adalah uang duka cita, mewakili Ishaan yang berhalangan datang.
“Terima aja, Ni, lumayan buat nambah tabungan.” Shia, yang sudah berganti pakaian, menghampiri meja mereka. “Yuk, pulang. Atau kita mau makan di luar?”
“Mau gue traktir?” Micah menawarkan.
Senyum antusias Shia mengembang. Agni, yang sungkan menolak, akhirnya ikut bersama mereka. Bertolak menuju restoran Jepang yang terletak di pusat perbelanjaan. Saat menunggu lift, perhatian Agni tertuju pada butik yang tampak familier. Tak lama berselang, seorang perempuan keluar untuk menyambut tamu. Agni lantas sadar mengapa tempat itu menarik atensinya.
Butik itu adalah tempat Ishaan membelikan gaun cantik yang dikenakannya di Frankfurt.
"Woi, jangan ngelamun di sini!" Shia menarik Agni sampai masuk ke lift. Tanpa menyimak celotehan sahabatnya, Agni mengingat momen tak terlupakan di kota itu. Bagaimana Lea menyerangnya, lalu Ishaan merawat lukanya di apartemen. Benarkah sudah sekian minggu sejak peristiwa itu terjadi? Karena luka di lengan atasnya sekonyong-konyong nyeri.
Duh, kenapa malah mikirin Ishaan? Cepat-cepat, Agni mengusir bayang-bayang Ishaan yang menari di benaknya. Bagaimanapun, kontraknya sebagai asisten pribadi sudah berakhir. Laporan terakhirnya juga sudah dia kirimkan tadi siang. Sambil menunggu dosen pembimbingnya aktif mengajar di kampus, Agni akan mengurus hal-hal penting lain.
Termasuk pemberitahuan yang muncul dua hari selepas kepergian Kinta: perintah untuk memidahkan makam ayahnya.
*
Bukan hanya mengambilalih kepemilikan rumah, Kinta juga mengatur sendiri pemakaman ayah Agni. Mulanya, Agni lega, sebab Kinta menunjukkan kepedulian pada ayahnya. Namun, semuanya berubah kala Agni menyadari perempuan itu membeli petak kuburan di tanah yang sedang bermasalah.
“Kamu dengar kata pemiliknya tadi? Tanah ini punya mereka, sedang dalam pengembangan untuk dijadikan pemakaman swasta eksklusif,” dalih Kinta saat Agni mempertanyakan status tanah tersebut. “Kalau pilih TPU, mana mungkin makam ayahmu dirawat baik.”
Agni perlu meralat asumsinya. Sampai sang ayah berpulang, Kinta masih memikirkan gengsi. Rela keluar duit banyak supaya dia bisa menyombongkan diri bahwa mendiang suaminya beristirahat di kawasan eksklusif.
Adalah hal tepat saat Agni memutuskan mengontak keluarga Kinta agar sang ibu tiri dibawa ke Garut, kampung halamannya. Mana sudi dia membiarkan perempuan egois itu terus berdekatan dengan sang ayah, bahkan sampai ke alam baka.
Maka, saat menerima pemberitahuan pemindahan makam, Agni tidak kaget. Dia juga siap terjun mengurus administrasinya. Saat itulah Agni bersyukur Ishaan memberi bonus cukup besar. Uangnya bisa dia gunakan untuk memindahkan dan menyediakan tenpat yang layak bagi sang ayah.
“Tuh, lo lihat sendiri. Belakangan Agni bengong mulu, susah diajak ngobrol. Gue takut ada lelembut yang ngikutin dia dari Eropa.”
Ledekan Shia dan tawa Micah membuyarkan lamunan Agni. Ditatapnya udon yang belum sempat disentuh. Sebelum jadi bahan bulan-bulanan sang sahabat, Agni mengambil sumpit dan sendok, lalu mulai menyantap makan malamnya.
“Berarti lo bakal ditinggal Agni lagi?” Entah mengapa ucapan Micah itu terdengar seperti ingin mengonfirmasi, bukan bertanya karena penasaran. “Berapa lama Agni bakal stay di Bandung?”
__ADS_1
“Enggak lama, cuma tiga hari,” Shia mewakilkan. “Mungkin lebih, tergantung urusannya dia di sana gimana.”
“Apa ada pekerjaan yang masih perlu diurus?” Agni perlu memastikan. Jangan sampai ada sisa pekerjaan yang terlewat.
Micah menggeleng cepat. “Semoga abis dari Bandung lo enggak sering ngelamun lagi, ya. Repot kalau ternyata ada lelembut Eropa yang nempel, bisa mahal beliin tiket pulang buat mereka.”
Agni pura-pura sibuk melahap udon sementara Shia tergelak lepas.
Dua jam berselang, Agni dan Shia kembali ke co-living space. Di sepanjang perjalanan pulang, Agni sebenarnya sudah memikirkan barang-barang apa saja yang akan dia bawa ke Bandung. Namun di kamar, matanya tertumbuk pada kanvas besar yang disandarkan ke dinding.
Lukisan yang Ishaan berikan padanya. The Kiss.
Agni mengambil cutter dari laci, lalu secara perlahan merobek kertas pembungkusnya. Dia berhenti sejenak kala sebagian lukisan mulai terlihat. Rasanya seperti dibawa kembali ke Wina saat kali pertama Agni melihatnya.
Berdiri di tengah ruangan, Agni memandangi lukisan itu. Meski replika, daya magis karya tersebut tetap kuat. Sebentar, gue belum kasih kabar sama Ishaan. Diraihnya ponsel yang tergeletak di nakas untuk mengirimkan pesan pada pria tersebut.
**
Hanya perasaan Ishaan atau suasana Egde Night Club begitu… membosankan?
“Tumben pesen mocktail. Masih jet lag?” Micah menyerahkan minuman pesanannya. “Kan gue udah bilang, istirahat dulu di apartemen. Lo balik ke Jakarta juga cuma buat ngurus kerjaan.”
“Ini termasuk kerjaanku: memantau perkembangan club,” Ishaan berdalih. Tentu saja dia punya tujuan selain mengecek bisnis sampingannya. “Sampel wine yang tempo hari aku pesan bakal datang dalam beberapa hari. Bilang sama staf buat siap-siap dari sekarang.”
“Siap, Bosku!” Micah hendak berbalik, tetapi urung untuk mengajukan pertanyaan yang hampir membuat Ishaan tersedak.
“Lo enggak kepoin kabar Agni? Mumpung gue di sini.”
Pura-pura cuek, Ishaan menyesap mocktail-nya. “Laporan terakhirnya udah aku terima. Sisa gaji sama bonusnya udah dikirim, kan? Kayaknya enggak perlu aku pantau lagi. She’ll be doing good.”
Tentu saja Micah tak mudah dikibuli. “Yakin? Enggak pengin gitu ketemu buat dinner atau apalah sebelum lo kerja total di Frankfurt?”
“Semacam farewell?” Ide Micah menggoga untuk diwujudkan. Namun, Ishaan sungkan. Menjaga hubungan dengan mantan karyawan bukan hal buruk, tetapi dia punya tujuan lain yang mungkin bakal dianggap kurang profesional di mata Agni. “I’m all good, serius. Paling nanti aku siapkan surat rekomendasi buat bantu dia cari kerjaan yang layak setelah lulus.”
Micah mengedik. “Ya udah, semoga lo enggak menyesali keputusan lo, Bro.”
DJ yang bermain malam ini mengentak lantai dansa dengan lagu-lagu upbeat. Tubuh-tubuh bergerak kian liar mengikuti irama. Meski demikian, Ishaan sama sekali tak berminat untuk bergabung. Pria itu lantas duduk di sofa favoritnya dan memejamkan mata saat—
__ADS_1
Ponselnya bergetar. Dengan malas, Ishaan mengeluarkannya dari saku celana dan memeriksa siapa orang yang berani menginterupsi power nap-nya.
Agni.
Ishaan mengerjap, lalu menggosok-gosok matanya; memastikan matanya tidak salah membaca. Didekatkannya layar ponsel dan nama itu terlihat semakin jelas.
Benar, Agni.
Dibukanya dua pesan yang Agni kirim. Pesan kesatu berisi satu buah foto replika lukisan The Kiss dengan caption berbunyi kirimannya sudah sampai. Kemudian dengan jantung berdebar, Ishaan membaca pesan kedua.
Tuan, terima kasih untuk pengalaman bekerja selama tiga bulan terakhir. Saya sebenarnya ingin bertemu langsung, tapi saya sedang sibuk mengurus banyak hal. Untuk itu sebelum lupa, saya mengirim pesan ini. Semoga proyek-proyek Tuan berikutnya diberikan kelancaran dan keselamatan.
Ishaan mengusap wajahnya. Ingin sekali dia menelepon Agni, di sisi lain dia ingin memberikan ruang pada gadis itu. Ditandaskannya sisa mocktail sebelum beranjak dari sofa menuju tangga.
“Mau ke mana lo?” Micah, yang menaiki tangga, keheranan melihatnya. “Tambah minuman atau—”
“Pulang,” jawabnya cepat. Sang sahabat hanya mengangguk paham dan menepi untuk memberikan ruang. Alih-alih menuruni tangga, Ishaan malah memandangi Micah dan bertanya,
“Di mana Agni tinggal sekarang?”
*
Berdasarkan keterangan Micah, Agni akan bertolak ke Bandung pagi ini dengan bus travel untuk menemui keluarga ayahnya. Saat fajar menyongsong, Ishaan yang hanya tidur empat jam segera meluncur ke travel pool yang menjadi titik keberangkatan Agni, sesuai petunjuk yang Micah teruskan dari Shia.
Lo mau ngikutin Agni sampai ke Bandung? Micah menodongnya pada salah satu pesan. Lo beneran naksir ya sama dia?
Naksir, naksir mbahmu, kelakar Ishaan. Aku cuma pengin memastikan dia pergi dengan selamat.
Bro, you’re down bad. Kejarlah kalau emang lo tertarik sama Agni.
Dari warung di seberang travel pool, Ishaan mengamati arus penumpang yang datang silih berganti. Ishaan sadar tertarik yang Micah maksud adalah jatuh cinta. Namun, dia belum yakin dengan perasaannya sendiri. Dalam situasi ini, mana mungkin Ishaan memaksakan diri untuk mengejar Agni. Bisa-bisa gadis itu malah kabur dar menganggapnya creepy.
Sudah cukup baginya mengawasi Agni dari jauh.
Maka, saat menangkap sosok Agni memasuki bus travel, ditemani Shia yang mengantarnya, Ishaan merapalkan doa supaya perjalanannya lancar dan selamat. Diam-diam dia juga berharap, bila semesta mengizinkan, mereka bakal dipertemukan kembali dalam kesempatan lebih baik.
***
__ADS_1