
HANYA perasaan Agni atau belakangan ada seseorang yang mengawasi dirinya?
“Neng, lagi nunggu siapa?” Seorang pria berpakaian satpam menghampiri Agni. “Perlu saya carikan orangnya?”
“Oh, enggak usah, Pak,” sahut Agni cepat. “Saya lagi nunggu, umh, Bu Inggrid. Guru baru yang pindah ke sini.”
Satpam bernama Nanang itu manggut-manggut. “Kalau mau nunggu di dalam aja, Neng. Panas di sini mah, apalagi kalau lama.”
Sekali lagi, Agni menyapu area parkir; memastikan tak ada sosok mencurigakan yang tengah memantaunya. Setelah merasa aman, Agni bergegas menyusul Inggrid yang sedang mengurus kepindahannya ke SD dekat kantor Dareen.
Untuk kesekian kali, Dareen mengutusnya menjadi asisten Inggrid. Berdasarkan obrolan singkatnya bersama perempuan itu, Agni mendapat informasi kalau Inggrid berprofesi sebagai guru SD di Malang. Kemudian saat memutuskan menyusul Dareen ke Bandung, dia mengajukan permintaan mutasi ke sekolah.
“Dareen minta saya mengundurkan diri, tapi mengajar adalah passion saya,” Inggrid menceritakan latar belakang profesinya saat Agni mengantarnya. “Kami sempat ribut sampai akhirnya Dareen mengizinkan saya terus jadi guru dengan satu catatan.”
Agni, yang tersentuh mendengar dedikasi Inggrid, dibawa penasaran. “Apa syarat yang diminta Pak Dareen?”
“Saya enggak boleh capek, soalnya,” mendadak Inggrid tersipu, “kami sedang program kehamilan.”
Sepersekian detik saja Agni kehilangan fokus, mobil mereka pasti bakal menabrak pohon di pinggir jalan.
Seingat Agni, Dareen sudah punya anak dari Tanisha. Dia lupa namanya, tetapi mereka pernah membawa sang buah hati ke acara halalbihalal beberapa tahun lalu. Sekarang, Dareen juga ingin punya keturunan dari Inggrid?
Agni menepis berbagai asumsi yang bermunculan. Bukan urusannya. Tak perlu dikorek lebih dalam.
Karena yang harus Agni pikirkan sekarang adalah menjaga hubungannya dan Rano.
“Agni, maaf lama!” Dari lorong yang mengarah ke ruang Tata Usaha, Inggrid menghampirinya. “Besok saya mulai mengajar. Kamu enggak perlu mengantar, saya bisa pergi sendiri bawa mobil atau pesan ojek online.”
“Ibu yakin? Gimana kalau Pak Dareen malah nyuruh saya—”
Inggrid mengibaskan tangan. “Makanya saya mau ikut kamu ke kantor buat bahas hal ini. Saya juga enggak enak, lho, bikin kamu repot terus.”
Sebelum bertolak ke kantor Dareen, Inggrid izin ke toilet untuk buang air. Agni lantas mengambil ponsel untuk menghubungi Heni. Seseorang harus memberitahu Dareen perlihal kedatangan sang istri kedua.
“Eh, aku baru mau telepon kamu.” Suara Heni terdengar panik. “Masih sama Bu Inggrid di luar?”
__ADS_1
“Iya, bentar lagi balik ke kantor bareng Bu Inggrid. Makanya aku mau minta kamu kasih tahu Pak Dareen buat siap-siap.”
“Waduh,” Heni meringis. “Pak Dareen ada sih di kantor, tapi dia lagi sama Bu Tanisha. Kunjungan mendadak.”
Punggung Agni menegak. Situasi darurat. “Terus—terus aku harus gimana? Bisa curiga Bu Tanisha kalau aku enggak ada di kantor.”
“Pak Dareen bilang kamu izin sakit. Masalahnya sekarang, kamu perlu bawa Bu Inggrid menjauhi kantor sama… rumahnya.”
“Kok gitu, sih? Bukannya rumah dia lebih aman—”
“Kayaknya Pak Dareen bakal ngajak Bu Tanisha ke rumah,” sahut Heni setengah berbisik. “Udah, ya, Ni. Barusan aku lihat Bu Tanisha keluar sama Pak Dareen. Dia enggak kasih perintah ke mana kamu harus pergi sama Bu Inggrid. Pokoknya jangan ke dua tempat tadi.”
Sekuat mungkin, Agni membekap mulutnya untuk menahan teriakan. Saat menoleh ke belakang, dia beradu pandang dengan Inggrid yang tersenyum semringah. Agni harus berpikir cepat, ke mana dia harus membawa Inggrid sementara waktu?
Ketika Agni menangkap nasi bungkus yang dimakan Nanang, sebuah ide melintas di benaknya.
“Yuk, Agni, kita ke kantor Dareen,” ajak Inggrid.
“Bu, saya mau makan siang dulu.” Mudah-mudahan keputusan ini dapat menyelamatkan Agni. "Apa Ibu mau ikut? Uak saya punya warung makan enak.”
**
“Ada apa, Mbak?” Diaktifkannya speaker supaya Ishaan tetap leluasa membalas email.”Soal Dareen, ya?”
“Ya, aku lagi di Bandung—”
Ishaan berhenti mengetik. “Kok enggak kabari aku? Haikal gimana?”
“Tenang, tenang, ada neneknya yang jemput.” Nenek yang dimaksud adalah ibu mertuanya. “Aku sengaja datang mendadak ke kantor Dareen, siapa tahu aku ketemu sama selingkuhannya.”
Karena sibuk mengurus restoran dan memantau perusahan, Ishaan belum sempat mengecek hasil pekerjaan anak buah Micah. Belum lagi Lea yang terus mencari cara untuk mengajaknya jalan berdua. Kalau Tanisha sudah mengambil langkah sejauh ini, kemungkinan besar dugaan kakaknya tepat. Ada perempuan idaman lain yang memikat hati Dareen.
Ternyata tak sampai satu bulan mereka mengumpulkan pertunjuk dan bukti. Itu berarti, Ishaan bakal lebih cepat pulang ke Jerman.
“Apa Mbak butuh bantuanku?” Ishaan tetap perlu menyenangkan hati Tanisha untuk memuluskan misinya.
__ADS_1
“Kosongkan jadwalmu minggu depan,” titah Tanisha. “Kita bakal labrak perempuan itu dan mempermalukannya di depan umum.”
*
Menjelang jam istirahat, Ishaan meminta Shia mengantarkan makan siang ke ruangannya. Dia sengaja tak keluar untuk menghindari kemungkinan bertemu Lea yang kadang sengaja menunggu di tempat parkir. Mengusirnya bukan tindakan tepat, Lea pasti bakal menciptakan keributan.
Dalam situasi seperti ini, ajakan Tanisha untuk menangkap basah selingkuhan Dareen terdengar bak pelarian yang membebaskan.
Ketukan pintu mengalihkan atensi Ishaan, disusul Shia yang memanggilnya.
“Terima kasih, Shia.” Lagi, Ishaan memesan paket makanan dari restoran tempat Shia bekerja dulu. Bedanya, tak ada cream and cookies ice cream. “Sebentar, aku mau membicarakan sesuatu.”
Shia menoleh ke belakang; memastikan pintu sudah tertutup. “Apa yang mau Bapak sampaikan?”
“Minggu depan aku ke Bandung, mau cek pekerjaan di sana.” Matanya memindai kalender yang terpasang di meja. “Apa ada jadwal meeting yang perlu kudatangi?”
Sang manajer mengecek tablet-nya. “Selain meeting Senin pagi, jadwal Bapak kosong sampai Jumat pekan depan.”
“Meeting hari Senin apa bisa kamu wakilkan?”
Terlintas keraguan dari sorot mata Shia. “Saya khawatir harus Bapak yang datang, karena yang datang salah satu investor terbesar restoran.”
Mustahil membebani tanggung jawab itu pada Shia. “Oke, aku ambil cuti hari Selasa. Kamu bisa handle restoran selama aku absen, kan?”
Shia mengangguk mantap. “Perlu saya konfirmasi meeting ke klien?”
“Ya, tentu. Nanti kamu kirim responsenya lewat chat. Sekarang, silakan lanjutkan waktu istirahatmu.”
Meski tak terlalu canggung, interaksi bersama Shia terus mengingatkan Ishaan pada Agni. Setiap kali bertukar informasi, pria itu tergoda menanyakan kabarnya pada Shia. Hanya untuk menuntaskan rasa penasaran setelah bertahun-tahun kehilangan kontak.
Melupakan Agni semestinya mudah. Semudah saat Ishaan meninggalkan perempuan-perempuan yang menemaninya bersenang-senang di ranjang. Namun, Ishaan melakukan satu kesalahan yang disadarinya bertahun-tahun kemudian:
Dia jatuh cinta pada Agni.
***
__ADS_1