Aku Bukan Simpanan Bosku

Aku Bukan Simpanan Bosku
Kepergian yang Dinantikan


__ADS_3

KETIKA dokter menyampaikan berita kepergian sang ayah, Ishaan mengantisipasi gelombang kesedihan menghunjam dirinya. Tanisha adalah orang pertama yang membelah keheningan ruang keluarga dengan tangisnya, disusul para saudara yang seminggu terakhir menemani mereka di rumah.


Selang dua jam kemudian, Evelyn, bersama ambulans yang membawa jenazah sang ayah, tiba di rumah. Menghantarkan duka yang kian mengental di sekitarnya.


Namun, sampai ayahnya dikebumikan, tak ada setetes pun air mata yang mengaliri pipi Ishaan. Sanak saudara yang mengantar silih berganti memeluk dan mengucapkan kata-kata yang terdengar bak dengungan lebah. Sementara ustaz dan ibu-ibu pengajian dari masjid kompleks menemani Evelyn mengurus kebutuhan pemakaman. Tanisha pingsan dan baru siuman pada malam hari.


“Ma, jangan-jangan aku psikopat,” Ishaan menyimpulkan saat mereka hendak menyiapkan tahlilan untuk hari keseribu. “Apa sebaiknya aku pergi ke psikiater?”


Evelyn meliriknya sesaat, lalu meneruskan memotong wortel. “Hanya karena kamu enggak nangis sampai pingsan kayak Tanisha waktu ayahmu meninggal?”


“Enggak sampai pingsan, tapi minimal nangis. Ini ayah, pria yang membesarkanku,” Ishaan mencerocos. “Orang-orang mengira aku enggak nangis karena aku cowok. Aku harus tegar atau semacamnya. Kenyataannya, aku bingung. Kenapa aku bereaksi setenang itu saat ayah pergi?”


Sang ibu berdecak, lalu menyisihkan potongan sayur ke mangkuk. “Grieving is… a weird phase, Ishaan. Berduka adalah pengalaman personal, artinya setiap orang akan punya reaksi berbeda. Buat Tanisha, berduka perlu diluapkan lewat tangisan. Buat Mama adalah dengan menyibukkan diri. Buatmu adalah mampu beradaptasi dengan kenyataan dalam waktu cepat.”


“Jadi, aku bukan psikopat?”


“No, my Dear. Mama tahu kamu peduli sama ayahmu,” sahut Evelyn lembut. “Mungkin tanpa disadari, kamu sudah berduka jauh sebelum ayahmu meninggalkan kita semua. Lantas saat hari itu datang, kamu enggak terlalu sedih, tapi sudah tegar dan siap.”


Percakapan itu kembali terngiang dalam benak Ishaan kala menerima kabar terbaru dari Micah. Ibunya Agni meninggal sejam lalu. Sesuai instruksi Ishaan, Micah mendampingi Agni untuk pemulasaran jenazah. Pemakaman lantas dilaksanakan keesokan pagi.


Selain Agni, ada anggota keluarga lain yang datang? tanya Ishaan.


Gue kurang tahu. Agni, sih, bakal bawa ibunya ke rumah duka dekat rumah sakit. Mungkin di sana ada kerabat yang datang.


Ishaan menaruh ponsel di meja, lalu memandangi senja yang merekah di langit Marrakesh. Grieving is a weird phase. Bagaimana Agni melewati masa duka ini? Apa seperti Tanisha yang tersedu sedan? Atau seperti Evelyn yang sibuk mencari distraksi?


Atau barangkali seperti Ishaan yang sengaja menjaga jarak sejak sang ayah jatuh sakit. Jadi saat sosok itu berpulang, hatinya tak akan hancur lebur.


*


“Lho, kenapa mukamu ditekuk begitu? Bukannya tadi pagi dapat kabar ada investor yang tertarik tanam saham?”


Ishaan menunggu Bu Ajeng mengisikan teh pada cangkir sambil memikirkan jawaban untuk pertanyaan Evelyn. Bintang utama makan malam kali ini adalah nasi hainan, salah satu makanan favoritnya. Sayang sekali fokus Ishaan masih mengawang-awang pada Agni yang dirundung duka di Jakarta.

__ADS_1


“Umh, Micah tadi sore kirim pesan,” Ishaan berdeham, “ibu dari salah satu karyawanku meninggal dunia.”


Evelyn dan Bu Ajeng menggumamkan ucapan duka secara bersamaan.


“Sudah dimakamkan?” tanya sang ibu.


“Belum, besok pagi. Aku minta Micah buat memantau prosesnya.”


“Kalau ibu yang pergi tuh pasti berat.” Bu Ajeng mendesah prihatin. Ishaan bersyukur dia tak mengatakan karyawan yang dimaksud adalah Agni. Bisa-bisa, perempuan itu bertambah panik.


“Kita doakan semoga prosesnya lancar.” Kemudian, Evelyn menaruh potongan ayam di piring Ishaan. “Besok kamu serius mau pulang cepat ke Indonesia?”


“Iya, buat urus legal perusahaan sama Dareen, jadi aku bisa pindah cepat ke Jerman.” Keputusan impulsif yang juga didasari kabar Agni yang kurang mengenakan. “Kalau semuanya lancar, satu atau dua bulan lagi aku resmi kerja di Frankfurt.”


Gumaman kagum terdengar dari Evelyn. “Mama enggak sabar datang ke acara peresmiannya. Bu Ajeng masih di sini, kan? Kita bantu Ishaan menyiapkan acara.”


Bu Ajeng mengacungkan jempol. “Siap, Bu!”


Sebisa mungkin, Ishaan menyembunyikan kegundahannya dengan menyantap lahap nasi hainan. Semoga saat pulang ke Jakarta, dia sempat menemui Agni untuk sekadar menenangkannya.


**


Sesampainya di rumah sakit, Agni disambut Erika yang mengatakan bahwa Kinta sangat kritis. Namun, dia terus bertahan demi bertemu Agni. Secepat mungkin, gadis itu masuk ke ruang ICU; mendapati Kinta yang tengah diawasi perawat.


Mata Kinta nyalang; mencari-cari keberadaan Agni. Kala pandangan mereka bertemu, perempuan itu terbata-bata mengucapkan tiga kata tadi.


Di samping ranjang, Agni berdiri; menenangkan dirinya yang dilanda luapan emosi kala menyaksikan penderitaan Kinta. Sedih? Kecewa? Marah? Agni tak tahu harus memilih kata mana, isi kepalanya terlalu sesak.


“Apa yang Ibu butuhkan dariku?” Lagi, Agni mengajukan pertanyaan itu.


“Aku tahu… aku banyak salah… padamu dan ayahmu….” Tangannya menggapai ke udara; ke arah Agni. Kendati ragu, Agni meraihnya. “Bolehkah… aku minta… satu… satu permohonan padamu?”


Jemari Kinta yang dingin serta-merta menyeret Agni pada serangkaian siksaan yang pernah mendera fisik dan mentalnya. “Permohonan apa, Bu?”

__ADS_1


“Ku—kuburkan aku… di samping… ayahmu….”


Seketika, Agni melepas tangan Kinta. Secepat itu pula mesin-mesin di ruangan tersebut berbunyi.


Menit-menit berikutnya berlalu bagai potongan-potongan film. Erika dan perawat yang masuk tepat saat Agni keluar. Micah dan Shia yang menanyakan kondisi Kinta. Hawa yang mendadak dingin di sekitar ruang ICU. Erika yang muncul memasang ekspresi yang Agni hafal baik, termasuk kata-kata yang meluncur kemudian.


“Agni, kami sudah berusaha sebaik mungkin, tapi….”


Kinta pergi. Menitipkan permohonan yang berat untuk Agni kabulkan. Tubuhnya limbung kala perawat mengeluarkan tubuh Kinta dari ruang ICU. Baik Micah dan Shia menawarkan bantuan. Agni terduduk di kursi lobi; berusaha mengumpulkan fokusnya yang tercerai berai.


Bahkan di sisa hidupnya, Kinta belum berubah. Api yang melahap rumah dan sebagian tubuhnya tak cukup memberi pelajaran atas semua tindakan menyakitkan yang diperbuat. Dengan lancang pula dia ingin dibaringkan di samping ayahnya, pria yang terang-terangan dikhianatinya.


Agni yakin Setan saja bakal geleng-geleng kepala menyimaknya.


“Ni, minum dulu.” Shia menyodorkan sebotol air mineral padanya. “Micah lagi bantu urus ibu lo. Lo mau gue hubungi siapa gitu, keluarga dari pihak almarhumah?”


“Biar gue aja.” Meski Agni sebenarnya tak terlalu dekat dengan keluarga Kinta. Sekonyong-konyong, sebuah gagasan melintas dalam benaknya.


“Shi, anter gue ke Micah. Cepetan.”


*


Menjelang subuh, sebuah ambulans memasuki rumah duka. Halaman yang sepi memudahkan kendaraan itu untuk masuk. Agni, yang tak sempat tidur, beringsut dari kursi. Seorang pria paruh baya yang duduk dua kursi darinya menyusul untuk menghampiri petugas dari rumah sakit.


“Saudari Agni?” Petugas tadi mengonfirmasi. “Ambulans sudah siap. Apa perlu dibantu untuk membawa jenazahnya?”


Agni menoleh ke arah pria yang berdiri di sampingnya. Dia mengangguk, lalu mengarahkan petugas ke dalam rumah duka. Agni hanya mengawasi prosesnya dari pintu. Kemudian sebelum ambulans bertolak pergi, pria tadi mendekatinya.


“Terima kasih sudah menjaga adik saya dan mengurus biaya rumah sakitnya,” kata pria itu. “Dia akan dikuburkan di samping kedua orangtuanya di Garut.”


“Maaf saya tidak bisa menemani.” Diambilnya amplop cokelat untuk diserahkan pada pria itu. “Sedikit tambahan dari saya. Tolong terima.”


Sirine ambulans yang mengantar Kinta ke peristirahatan terakhir menemani Agni menyambut fajar di hari yang baru. Tubuhnya lelah. Kantuknya tak tertahankan. Satu per satu tetes air mata membasahi kerudung dan kemejanya.

__ADS_1


Untuk kali pertama sejak kepergian sang ayah, Agni menangis bahagia.


***


__ADS_2