Aku Bukan Simpanan Bosku

Aku Bukan Simpanan Bosku
Menunaikan Misi Baru


__ADS_3

“TADI saya ke kantor buat mengembalikan blazermu, tapi Dareen bilang kamu izin sakit. Terus saya mampir ke warung Uak Puput, eh malah diajak ke sini.” Inggrid menyerahkan kantung berisi blazer warna cokelat pada Agni. “Makasih, Agni. Saya kebetulan udah nemu outer yang pas buat mengajar.”


Agni menyesali keputusannya mengajak Inggrid makan di warung Uak Puput beberapa hari lalu. Tempat itu adalah yang kali pertama terlintas dalam benak Agni saat Dareen memintanya ‘menyembunyikan’ Inggrid sementara dia mengajak Tanisha melihat-lihat rumah.


“Maaf, ya, cuma ada teh manis,” kata Uak Puput sambil menaruh secangkir teh untuk sang tamu. “Uak tinggal dulu, mau beres-beres di dapur.”


Inggrid adalah orang terakhir yang ingin Agni temui terutama setelah melewati hari yang panjang di kantor kemarin. Bukannya Agni benci dengan Inggrid—bagaimana bisa dia membenci perempuan yang sikapnya begitu santun dan ramah? Hanya saja posisinya saat ini kurang menguntungkan buat membela salah satu pihak.


“Padahal blazernya bisa dipaket, Bu,” Agni berbasa-basi. Selagi Inggrid sedang bersamanya, dia dapat memanfaatkan kesempatan tersebut buat mengumpulkan informasi. “Pak Dareen gimana, terus kasih support buat Ibu yang balik ngajar di sekolah?”


Wajah Inggrid langsung berbinar mendengar pertanyaan Agni. “Sejauh ini dia supportive. Mungkin karena merasa nostalgia juga. Dulu kan kami ketemu waktu Dareen mau bantu renovasi sekolah saya yang di Malang.”


Mudah sekali memancing Inggrid buat membahas masa lalu mereka. “Berapa tahun lalu kalau boleh tahu, Bu?”


“Mmh, dua belas atau tiga belas tahun lalu,” jawabnya yang mengejutkan Agni. “Waktu itu kami masih sama-sama merintis. Masih kinyis-kinyis juga.”


Agni ikut tertawa bersama Inggrid. Padahal, otaknya tengah membandingkan lamanya hubungan Dareen dengan dua perempuan yang kini berstatus sebagai istrinya. Seingat Agni, Dareen dan Tanisha menikah tujuh tahun lalu. Itu berarti ada kemungkinan Dareen sudah menjalin hubungan dengan Inggrid saat bertemu Tanisha. Lebih buruk lagi, bisa jadi Dareen memacari mereka di waktu bersamaan.


Asumsi itu bikin Agni bergidik dan mual.


“Dulu Pak Dareen ngajak Ibu pacaran?” Setenang mungkin, Agni mengorek informasi lebih dalam. “Kok baru nikah lima tahun lalu?”


“Oh, enggak, kami enggak pacaran. Bapak saya enggak kasih izin, padahal Dareen bilang pengin serius sama saya.” Inggrid menyesap teh yang diberikan Uak Puput. “Selama tujuh tahun sebelum menikah, kami berhubungan jarak jauh. Kadang Dareen mampir buat jenguk Bapak yang udah sakit-sakitan sampai bantu bayar pengobatan.


“Sayangnya, penyakit Bapak udah kronis. Permintaan terakhirnya itu, minta Dareen segera mengesahkan hubungan kami.”


Harusnya Agni minta Uak Puput menyeduhkan teh juga untuknya. Obrolan ini akan semakin nikmat dengan secangkir minuman hangat. “Lumayan lama juga, ya, sampai nunggu tujuh tahun.”


“Iya, terus sekarang giliran saya yang nunggu sesuatu dari Dareen.”


“Punya momongan seperti yang Ibu bahas tempo hari?”


Inggrid menggeleng. “Bukan cuma anak, saya ingin Dareen segera mengesahkan pernikahan kami di mata hukum.”


*


Setelah Inggrid pamit pulang, Agni berhasil mengantungi beberapa informasi berharga. Satu, pernikahan Dareen dan Inggrid baru sah secara agama. Artinya, status Inggrid adalah istri siri.


Dua, terlepas dari posisinya sebagai madu, Inggrid justru yang bertemu Dareen lebih dulu dari Tanisha.

__ADS_1


Tiga, Dareen adalah pria yang tidak tahu malu.


Lantas, apa yang harus Agni lakukan pada informasi ini? Oh, dia bisa memakainya untuk membersihkan namanya dari fitnah yang dilayangkan Tanisha. Namun, seperti yang Ishaan katakan, kondisi Tanisha belum stabil sepenuhnya. Agni juga perlu bukti buat menguatkan bukti yang dia pegang sekarang.


Omong-omong soal Ishaan—mengapa Agni malah memikirkan pria itu? Seharusnya dia menghubungi Rano untuk mengecek kondisinya.


Agni mengambil ponsel di nakas, lalu menekan speed dial menuju nomor Rano. Nada sambung malah mengantarkannya pada voice mail. Sekali lagi, dia mencoba. Hasilnya sama. Hal itu terus berulang sampai lima kali.


Ditariknya napas panjang untuk kemudian dilepas perlahan. Jangan panik, jangan panik, Agni membatin. Bisa jadi Rano sedang tak ingin diganggu.


Lantas, Agni mengecek pesan-pesan yang belum dibaca. Ulfa dan Heni menanyakan kabar yang Agni balas sekenanya. Sementara pesan-pesan Dareen dia abaikan. Masa bodoh kalau bosnya panik, salahnya sendiri bikin dia menderita.


Lalu, sampailah Agni pada pesan dari nomor tak dikenal. Mulanya, dia berniat menghapus langsung tanpa membaca isinya. Namun, rasa penasaran mengalahkan kecemasannya. Dibukalah pesan itu yang berbunyi,


Agni, ini aku, Ishaan.


Agni terkesiap. Kemudian, dia membuka pesan kedua.


Aku dapat nomormu dari Dareen. Tolong simpan, sewaktu-waktu aku perlu menghubungimu.


**


Sudah saya simpan nomornya, Tuan. Maaf lama membalas pesannya.


“Dareen gimana, enggak marah posisinya di Jakarta ditempati sama Mbak?”


“Marah? Perusahaan itu masih punyaku. Punya keluarga kita,” sahut Tanisha ketus. “Ingat, aku adalah salah satu pemegang saham terbesar di sana.”


“Lalu, berapa lama aku bertugas di Bandung?”


“Sampai kamu berhasil bikin mereka mengakui perbuatan.”


Tanisha tetap meyakini Agni adalah sosok yang selama ini jadi simpanan Dareen. Dalam hal ini, Ishaan belum bisa mengajukan pembelaan. Semoga saja tuduhan Tanisha memelesat, sebab dia yakin bukan Agni pelakunya.


Pintu ruangan diketuk. “Pak, Bu, ini Shia.”


“Masuk, Shia,” perintah Ishaan. Saat masuk, Shia terlihat gugup sambil sesekali menoleh ke belakang. Tak butuh waktu lama bagi Ishaan untuk menerjemahkan gestur tersebut.


“Lea,” Ishaan menyebutkan nama itu, menarik perhatian Tanisha. “Dia ke sini, kan? Ada di mana dia?”

__ADS_1


“Di bawah, Pak. Minta ketemu. Saya sempat minta Bu Lea buat pesan makanan, tapi kayaknya takut bakal diusili seperti kunjungan terakhir.”


Ishaan mendesis sebal. “Jaga dia, jangan sampai naik ke lantai dua. Sebentar lagi aku menyusulmu.”


Begitu Shia menutup pintu, Tanisha langsung bertanya, “Lea yang kamu maksud itu temanmu waktu kuliah? Cewek yang hampir kasih kamu penyakit menular seksual?”


“He-he. Dari minggu lalu di Jakarta, katanya buat urus kerjaan.” Alasan yang tak Ishaan percaya mengingat temperamen Lea yang jauh lebih buruk ketimbang kakaknya. “Mbak tunggu di sini dulu, ya, atau mau balik ke rumah?”


“Balik aja, deh. Kasihan Haikal ditinggal lama-lama.”


Pilihan yang tepat. Ishaan yakin Tanisha bakal senewen kalau bertemu pick me girl seperti Lea.


*


Di lantai bawah, Lea tengah menikmati kroisan. Shia serta-merta menarik napas lega saat melihat Ishaan, lalu pamit menuju kitchen untuk menyelamatkan diri. Meladeni Lea adalah hal terakhir yang ingin dia lakukan, tetapi Ishaan perlu menjaga mood perempuan itu kalau tak mau restorannya berubah jadi kapal pecah.


“Tadi aku lihat kakakmu ke tempat parkir. Mau aku panggil, cuma dia keburu masuk mobil.” Seandainya Lea tahu kalau Tanisha sengaja menghindarinya. “Jalan-jalan, yuk, mumpung jam kerjamu sebentar lagi beres. Aku udah beli tiket buat nonton film, lumayan buat refreshing.”


“Maaf, Lea, hari ini aku harus lembur.” Tak mau mengulangi kesalahan Micah, Ishaan berusaha menyembunyikan rencananya ke Bandung malam ini. “Aku bakal ganti uang tiketnya kalau perlu.”


“Tuh kan, ditolak lagi.” Beberapa pengunjung mengerling ke arah mereka. Ishaan sudah kerasan melihat reaksi ini. “Padahal aku sengaja mindahin jadwal meeting sore ini demi bisa jalan sama kamu.”


Benar-benar tidak tahu mana yang harus diprioritaskan. Hal klasik dari Lea yang terus bertahan selama bertahun-tahun. “Kalau begini terus, kamu yang bakal bikin bisnis ayahmu bangkrut. Padahal aku menaruh respek besar padanya.”


“Ishaan—” Lea ikut berdiri saat Ishaan beranjak dari kursi. “Kita bisa bahas bisnis keluarga sambil jalan-jalan. Aku kurang suka suasana yang terlalu formal. Makanya aku ajak kamu nonton film.”


“Once again, I need to work. Silakan ajak orang lain buat nonton,” Ishaan menegaskan. “Tolong hentikan juga sikapmu yang kekanakan, Lea. You are embarassing yourself."


Sebelum amarah Lea meledak, Ishaan mengisyaratkan petugas keamanan untuk mengantar perempuan itu keluar restoran. Dia lantas berbelok ke kitchen dan menemui Shia yang tengah mengawasi kru di sana.


“Shia.” Sosok yang dipanggilnya menghampiri. “Hari ini mungkin jadi hari terakhirku mengawasi restoran. Kakakku yang akan menggantikan sementara sampai aku kembali dari penugasan di Bandung.”


Shia tampak sedih mendengar penjelasannya. “Baik, Pak. Nanti saya akan siapkan kebutuhan Bu Tanisha.”


“Tapi sebelumnya aku mau tanya,” Ishaan tak percaya dia akhirnya mengutarakan hal ini pada Shia, “kamu masih kontakan sama Agni?”


Mata Shia membelalak. “Umh, Agni…. Iya. Saya kadang mampir ke rumahnya kalau ada tugas ke Bandung.”


Sesuai perkiraan Ishaan.

__ADS_1


"Kalau begitu, kosongkan jadwalmu sampai Senin. Temani aku ke Bandung untuk cari kontrakan sambil menemui Agni.”


***


__ADS_2