Aku Bukan Simpanan Bosku

Aku Bukan Simpanan Bosku
Act of Service


__ADS_3

KEESOKAN paginya, Agni terbangun satu menit sebelum alarm berbunyi. Dia agak takut menghadapi Ishaan hari ini. Bagaimana kalau pria itu masih kesal? Mudah-mudahan saja kesibukan yang bakal mereka hadapi membuatnya melupakan masalah semalam.


Setelah mandi dan berganti pakaian, Agni menyiapkan diri keluar kamar. Sekilas, tak ada yang berbeda dari pagi-pagi biasanya sampai dia berjalan ke dapur dan mendapati meja yang dipenuhi aneka makanan. Seorang pelayan perempuan yang menyadari kehadirannya tampak terkejut, lalu minta permisi keluar apartemen.


Apa Ishaan mengundang seseorang untuk sarapan bersama mereka? Mengapa dia tak mengabari Agni?


“Mia, apa—” Ucapan Ishaan terpotong kala dia bersitatap. Mia adalah nama pelayan perempuan yang baru keluar dari apartemen. “Selamat pagi, Agni.”


“Selamat pagi, Tuan,” balas Agni. Masih kebingungan, Agni menatap deretan makanan di meja. “Apa Tuan mengundang tamu untuk sarapan di sini?”


“Oh, bukan. Makanan ini untuk kita berdua,” Agni menjawab santai. “Duduklah, kita akan sibuk sampai malam. Seandainya tidak habis, kita bawa buat bekal sebagian.”


“Tapi kenapa harus sebanyak ini, Tuan? Porsi makan saya tidak terlalu besar.”


Ishaan merapikan dasi, lalu berdeham singkat. “Ini permintaan maafku atas kejadian semalam.”


Respons itu malah membuat Agni semakin bingung.


“Kenapa Tuan yang minta maaf? Harusnya saya yang minta maaf karena tidak mematuhi perintah Tuan untuk tidur sebelum tengah malam.”


“Katakan padaku, Agni, apa alasanmu terjaga sampai larut?”


“Saya—” Bagaimana ini, apa Agni harus mengatakan yang sebenarnya? Alasan mengerjakan skripsi terdengar masuk akal, tetapi Ishaan hanya tahu kalau dia meluangkan akhir pekan untuk mengurus ***** bengek kuliah. “Saya mengerjakan laporan dari pertemuan kemarin.”


Salah satu alis Ishaan terangkat. “Sampai lewat tengah malam? Biasanya kerjamu cepat. Apa yang menahanmu?”


Rasanya percuma berkelit ke sana kemari bersama Ishaan. “Saya… saya cemas.”


“Cemas kenapa?” Ishaan terus menodongnya.


“Cemas… cemas memikirkan Tuan,” cicit Agni. “Ini kali pertama Tuan tak pulang ke apartemen selama kita di Eropa. Saya tahu Tuan pasti bisa menjaga diri, hanya saja saya belum tenang kalau Tuan di luar sampai selarut itu. Bagaimana kalau Tuan menghadapi masalah yang sama seperti di Roma….”

__ADS_1


Hening sejenak. Ingin rasanya Agni menghilang setelah mengutarakan kegundahannya. Ketika Ishaan berjalan menghampirinya, gadis itu kian panik dan sungkan menatap langsung matanya.


“Angkat kepalamu. Sudah kubilang, mataku tak ada di lantai,” perintah Ishaan. Anehnya saat kontak mata terjadi, Agni tak merasa takut. Ada tarikan yang membuat gadis itu ingin terus menautkan pandangannya pada Ishaan. Pria di hadapannya pun bergeming beberapa saat sebelum meneruskan,


“Jujur aku kesal kamu tak mematuhi perintahku. Di sisi lain, aku menyadari kecemasanmu. Tak sepantasnya aku bersikap kasar semalam. Makanya aku minta Mia menyiapkan sarapan yang lebih banyak sebagai permintaan maaf. Supaya kamu juga lebih bersemangat hari ini.”


Agni jadi salah tingkah. Ucapan maaf saja cukup, tetapi Ishaan punya cara tersendiri untuk mengungkapkannya lewat tindakan. “Terima kasih, Tuan. Saya sudah memaafkan apa yang terjadi semalam.”


Kata-kata Agni seketika membuat mata Ishaan berbinar. “Kalau begitu, mari kita makan. Satu jam lagi kita harus sampai di tempat pertemuan.”


Saat Ishaan menarik kursi untuknya, Agni semakin dibuat tersipu. Mendadak dia ingin cepat pergi bekerja sebelum fokus kerjanya semakin semrawut.


*


Padatnya pekerjaan hari ini berhasil menyita Agni dari kejadian tadi pagi. Saat bertemu waktu istirahat pun, mereka tetap disibukkan dengan materi presentasi dan laporan dari pertemuan sebelumnya.


Saat pertemuan terakhir selesai, Agni dan Ishaan melangkah gontai keluar gedung. Rasanya kepala Agni mengepul gara-gara seharian bekerja ekstra dari biasanya. Belum lagi karena semalam dia kurang tidur. Dia ingin melewatkan makan malam dan istirahat lebih cepat begitu sampai di apartemen.


“Baik, Tuan. Lalu, bagaimana laporan untuk pertemuan hari ini?”


“Kerjakan besok saja, kirim ke emailku sebelum jam makan siang.” Agni lantas memasang reminder supaya dia tidak lupa. “Omong-omong, sebelum ke Frankfurt aku harus ke rumah sakit.”


“Tuan kenapa, sakit?”


Ishaan menggeleng cepat. “Hanya medical check-up biasa.”


Sisa perjalanan berlalu dalam diam. Kendati begitu, Agni bersyukur mereka dapat melewati padatnya jadwal hari ini tanpa bertemu masalah berat.


Atau perempuan lain yang membawa Ishaan jauh dari jangkauan Agni.


**

__ADS_1


“Hasil pemeriksaan akan kami kirimkan lewat email, Tuan Marlon. Jangan lupa jaga asupan makan dan konsumsi vitamin kalau diperlukan.”


Walau mengenakan pengaman saat berhubungan dengan Lea, Ishaan belum tenang sepenuhnya mengingat sejarah perempuan itu yang membuatnya sempat trauma. Maka sebelum berangkat ke Frankfurt, Ishaan mengosongkan jadwal untuk melakukan pemeriksaan dan konsultasi bersama dokter di rumah sakit terdekat. Semoga saja hasil tesnya memberikan hasil yang diharapkan.


Namun, ketenangan Ishaan tak berlangsung lama saat Agni menghampirinya dengan wajah was-was. Ada masalah apa lagi yang harus mereka hadapi?


“Tuan,” Agni bimbang sesaat, “saya ingin menanyakan sesuatu.”


Ishaan mengisyaratkan Agni untuk meneruskan ucapan.


“Berapa lama waktu tempuh dari Berlin ke Frankfurt menggunakan kereta?”


“Sekitar tiga sampai empat jam.”


“Begitu.” Gadis itu mendesah lega. “Dosen pembimbing saya tadi kirim pesan, dia ingin membahas bab yang saya submit pekan lalu. Sepertinya akan lama. Waktunya juga ternyata saat kita berada di perjalanan nanti.”


“Oh, kamu mau bimbingan di kereta?” Diam-diam, Ishaan juga lega karena situasinya bukan sesuatu yang bakal menyeretnya ke rumah sakit lagi. “Gunakan waktumu sebaik mungkin. Aku bisa melipir sebentar ke gerbong restoran kalau kamu butuh ruang sendiri untuk bicara bersama dosenmu.”


“Terima kasih, Tuan. Saya akan beri tahu kapan sesinya dimulai.”


Memperhatikan Agni bergelut dengan skripsi dan pekerjaan sepanjang pekan membuat Ishaan menyadari privilege yang dimilikinya.


Lahir di tengah keluarga berkecukupan memudahkan Ishaan mengakses berbagai hal. Seumur hidup, Ishaan belum pernah mengalami kekurangan pakaian, makanan, dan pendidikan. Uang selalu ada, bahkan saat dia sedang tak memerlukannya.


Namun saat beranjak dewasa, Ishaan menyadari keistimewaan yang dia miliki dibayar mahal dengan sesuatu yang justru Agni gunakan: kebebasan memilih jalan hidup.


Orang-orang selama ini menganggap Ishaan beruntung karena dia tak perlu repot mencari kerja setelah kuliah. Kenyataannya, kalau diberi kesempatan, dia ingin menentukan kariernya tanpa tuntutan dan tekanan dari keluarga.


Untuk itu, selagi terikat kontrak kerja, Ishaan ingin memastikan Agni mendapatkan akses terbaik. Dimulai dari memberikan fasilitas nyaman, kecukupan finansial selama setahun ke depan, sampai pengalaman kerja yang akan membuatnya lebih siap saat lulus.


Jadi saat berpisah nanti, Ishaan dapat memastikan Agni mendapatkan jenjang karier yang bagus. Lalu siapa tahu, mereka berjumpa di kesempatan yang lebih baik.

__ADS_1


***


__ADS_2