
ISHAAN meringis saat menemukan nama itu pada daftar tamu.
Robert Klein. Ayah Lea.
Pasti, pasti mereka ada di sana. Rasanya Ishaan ingin mengubur kepalanya dalam tanah kala mengingat ucapannya di hotel tempo hari. Sekarang, dalam hitungan jam, dia akan bertatap muka lagi dengan perempuan itu. Bersama ayahnya pula.
Bel pintu berbunyi. Pasti itu Bu Ajeng, makeup artist yang sudah lama mengabdi pada keluarga Marlon. Ishaan bergegas membuka pintu, lalu menyambut sang perias yang membawa asistennya, seorang pria muda bernama Kala. Menilai dari penampilannya, sosok itu mungkin seusia dengan Agni.
“Sore, Ishaan. Apa kabar?” Bu Ajeng mendekapnya sejenak. “Senang sekali ibu terima telepon darimu. Siapa yang akan dirias hari ini?”
“Aku dan asistenku, Agni. Ibu tinggal ketuk pintunya, aku udah kasih tahu dia bakal ada makeup artist yang datang.”
Bu Ajeng mengisyaratkan Kala untuk mengikuti Ishaan ke kamarnya. Mereka tak terlibat percakapan panjang, hanya tanya-jawab selintas untuk menata rambut dan memastikan hasil riasan. Begitu selesai, Ishaan mempersilakan Kala keluar kamar, sementara dia berganti pakaian.
Satu jam berlalu. Ishaan baru mengirimkan uang untuk membayar tarif jasa Bu Ajeng dan memperlihatkan buktinya kepada Kala. Kemudian, sambil menunggu Agni, Ishaan merapikan pakaiannya, three piece suit yang dipesan khusus dari Marissa. Dia sengaja meminta perempuan itu menambahkan aksen hijau dari palet warna gaun Agni. Hasilnya memuaskan.
“Nak Ishaan, saya sudah selesai merias Agni,” seru Bu Ajeng. “Saya dan Kala pamit dulu, ya.”
“Iya, Bu, maka—” Saat Ishaan berbalik, kedua matanya serta-merta terpusat pada Agni. Pada gadis yang mengenakan gaun pilihannya. Pada gadis yang membuatnya belakangan ketar-ketir saat sedang tak bersama.
Agni sepertinya menyadari reaksi Ishaan. Matanya bergerak ke arah Bu Ajeng, memberi isyarat kalau dia sedari tadi melamun.
“Maaf, maaf. Sekali lagi, makasih, Bu Ajeng. Kala juga.” Pasti adegan tadi terlihat memalukan. “Aku sudah transfer uang jasanya ke rekening biasa.”
Begitu mereka meninggalkan apartemen, Ishaan kembali mengagumi Agni yang berjalan mendekatinya. Bu Ajeng bukan hanya memberikan riasan terbaik, tetapi juga menonjolkan pesona Agni yang selama ini tersembunyi.
“Tuan, apa sebaiknya kita pergi sekarang?”
“Iya, sebentar lagi acaranya dimulai.”
Saat Agni meraih uluran tangannya, seketika ketenangan mengaliri tubuh Ishaan. Semua keresahannya sekonyong-konyong lesap. Malam ini, selama Agni di sampingnya, Ishaan mampu menemui tamu-tamu penting di pesta. Termasuk Lea dan ayahnya.
*
__ADS_1
Lantunan musik jaz yang dibawakan live band mengisi meeting room yang disulap menjadi lokasi pesta yang intimate. Meja-meja bulat tersebar rata dengan masing-masing enam sampai tujuh kursi. Beberapa di antaranya sudah diisi tamu undangan. Satu hal yang Ishaan syukuri, dia dan Agni tak akan semeja dengan Robert dan Lea.
“Meja nomor delapan.” Satu per satu, Ishaan mengecek nomor yang tertera. Meja mereka terletak dekat panggung utama. Dia menarik kursi untuk Agni, lalu menyusulnya duduk. Gadis itu masih terlihat gugup, apalagi saat kursi-kursi kosong mulai terisi. Sesekali, Ishaan menepuk lembut punggung tangan Agni, memberitahu bahwa dia aman bersamanya.
Live band mengakhiri lagu yang dibawakan, lalu pencahayaan di panggung utama diredupkan. Sebentar lagi, acara akan segera dimulai.
Kalau bukan demi formalitas, Ishaan lebih memilih bersantai di apartemen atau mengajak Agni jalan-jalan mengelilingi Frankfurt. Seperti sang ibu, dia kurang suka bertemu dan basa-basi dengan orang asing dalam jumlah besar. Kegiatan yang menguras energinya. Namun demi kelangsungan perusahaan dan melancarkan rencananya bekerja di Eropa, Ishaan harus berkorban.
“Selamat malam,” seorang perempuan berpenampilan modis berdiri di panggung utama. Dia pasti MC yang bertugas malam ini. “Terima kasih kepada para tamu yang hadir memenuhi undangan Tuan Braun dan keluarga. Sebentar lagi, acara akan dimulai. Silakan tempati meja sesuai undangan ini.”
“Maaf aku menyeretmu ke acara yang membosankan,” Ishaan berbisik pada Agni. “Selepas makan malam dan bertemu relasi, kita kembali ke apartemen.”
“Tuan yakin mau pulang cepat?”
Bahkan di bawah penerangan remang, Agni tetap memesona. “Sebenarnya sayang juga aku sudah bayar Bu Ajeng mahal-mahal kalau kita cuma setor muka. Bagaimana kalau kita jalan-jalan? Frankfut terlihat menakjubkan di malam hari.”
Gadis itu belum sempat merespons saat orang-orang bertepuk tangan. Ishaan menarik tubuhnya, dia harus fokus memperhatikan alur pesta kalau ingin cepat keluar. Matanya memindai ruangan; mengecek satu-satu tamu yang mengisi meja.
Lalu di sana, tepat berselang satu meja darinya, Lea melambaikan tangan kala pandangan mereka beradu.
*
Sesi jamuan berakhir. Satu per satu pelayan mengangkat piring-piring kotor dari meja. Ishaan pikir, menemui Robert Klein terlebih dulu bakal lebih baik ketimbang mengulur-ulurnya. Jadi dia punya alasan menyingkir untuk menemui kolega lain tanpa harus berinteraksi dengan Lea.
“Agni,” panggilnya, meminta gadis itu melingkarkan lengan pada sikunya. “Kita temui dulu Tuan Klein dan putrinya. Kamu sudah bertemu dia kemarin, saat kita di distrik hiburan.”
Jemari Agni menekan kuat pada lengan Ishaan. “Yang rambutnya pirang?”
“Iya.” Ishaan mempercepat langkahnya menuju pasangan ayah dan anak itu. “Dengar, apa pun yang putrinya katakan padamu, abaikan. Aku hanya ada urusan dengan ayahnya. Dia salah satu pemegang saham di perusahaanku.”
“Baik, Tuan.”
Robert yang kali pertama menyadari kedatangan Ishaan dan Agni. Pria yang masih bugar di usianya yang menginjak 55 tahun itu menyapanya, lalu meminta Lea untuk bergabung.
__ADS_1
“Dad, aku sama Ishaan sempat ketemu beberapa hari lalu,” tanpa basa-basi, Lea masuk ke dalam pembicaraan. “Kalau Ishaan jadi kerja di Frankfurt, aku pindah ke sana aja, ya? Bosan di Berlin.”
“Lea, fokus dengan bisnismu. Bar yang kamu pegang belum setahun beroperasi di Berlin,” tegur sang ayah. “Ishaan, saya dengar kakakmu akhirnya menikah.”
“Betul, Tuan. Mereka titip salam, belum bisa ikut aku ke Jerman.”
“Hei, kita belum kenalan, lho, kemarin. Aku Lea.” Lagi, Lea menginterupsi pembicaraan. Targetnya beralih ke Agni yang terus mencengkeram kuat siku Ishaan. “Ishaan cerita dia punya asisten sekarang. Kamu yang pertama, lho.”
Karena Lea tak mengulurkan tangan, Agni hanya mengangguk. “Agni.”
“Kapan-kapan mampirlah ke tempat saya, Ishaan,” Robert mengambilalih percakapan. Pria ini sudah kebal menghadapi sikap putrinya. “Saya ingin dengar pendapatmu tentang desain interior yang kami pakai—”
“Ishaan pasti suka, Dad,” Lea menyela. “Kan itu desain yang dulu hampir kami pakai di apartemen.”
Cukup. Cukup. Ishaan harus menarik dirinya dari percakapan ini. Kentara sekali Lea ingin mempengaruhi Agni lewat potongan-potongan informasi masa lalu mereka.
“Tuan Klein, aku permisi dulu,” kata Ishaan. Dia menangkap kolega lain yang akan dijadikan pengalihan. “Senang bisa bertemu Anda. Kalau sempat, aku mampir ke tempat yang Tuan maksud.”
“Sukses selalu, Ishaan.” Robert menepuk pundaknya, lalu mengangguk singkat pada Agni sebelum menyeret putrinya menjauhi mereka.
“Lea naksir berat, ya, sama Tuan,” celetuk Agni. “Kelihatan sekali mau menarik perhatian selama mengobrol.”
Seandainya Agni tahu apa yang sebenarnya terjadi, Ishaan yakin gadis itu pasti bakal menjaga jarak. “Ayo kita temui kolega lain, lalu pulang.”
*
Selama satu jam, Ishaan dan Agni mengitari ruangan. Kali ini mereka lebih santai, bahkan mengobrol lebih lama saat bertemu kolega dari Indonesia. Setelah yakin dia telah bertemu orang-orang penting di acara tersebut, Ishaan mengajak Agni keluar ruangan.
“Sebentar, Tuan,” Agni menahannya. “Saya mau ke toilet dulu.”
“Tidak bisa di apartemen saja?”
“Urgen, tidak bisa saya tahan.”
__ADS_1
Ishaan mengarahkan rute menuju toilet, lalu melepas genggaman tangannya. Belum pernah dia secemas ini menunggu perempuan menuntaskan urusan pribadinya di sana. Mudah-mudahan Agni tak menghadapi masalah yang akan mengacaukan malam mereka.
***