Aku Dijual Di Malam Pertama

Aku Dijual Di Malam Pertama
Bab 10 ~ Terima kasih Vano


__ADS_3

Sudah hampir dua jam Vano mencari Luna, tapi sampai detik ini Vano belum berhasil menemukan Luna. Vano juga sudah beberapa tempat yang ia datangi, berharap Luna ada di sana.


"Aku harus mencari kemana lagi," ucap Vano, sambil mengendarai motor gedenya. Entah kemana lagi ia mencarinya. Andai mama nya tidak menyuruhnya mencari Luna, akan ia habiskan waktunya bersama sang kekasih.


"Padahal sudah bener cewek itu di usir," gerutunya lagi.


Vano terus memacukan motornya, berharap pencariannya membuahkan hasil.


Setelah cukup lama berkendara sana sini, Vano memilih menepikan motornya. Kerongkongannya kering dan membeli minuman di warung pinggir jalan.


"Segernya..." Ucap Vano saat air minum membasahi kerongkongannya yang kering.


Vano kemudian menatap sekitarnya, sambil berpikir kemana lagi ia harus mencari Luna.


"Kalau bukan karena Mama, ogah aku cari cewek penyusup itu," dengus Vano.


"Coba telpon kak Bayu, siapa tahu sudah menemukan tuh cewek." Vano segera menelpon Bayu, tapi panggilan telponnya tidak diangkat-angkat.


Karena panggilan telponnya tidak diangkat, Vano menyimpan kembali ponselnya ke saku jaketnya. Vano naik ke atas motornya, tapi saat akan memakai helm nya Vano mendengar teriakkan orang minta tolong.


"Lepasin ! Tolong...!"


Vano menoleh ke arah sumber suara. Vano melihat tiga laki-laki tengah menarik seorang perempuan, meski wajah si perempuan terhalang oleh tubuh lelaki yang menyeretnya. Tunggu! Vano mengenali pakaian perempuan itu.


"Bajunya kok mirip sama yang dipakai cewek penyusup itu?" Gumam Vano. "Atau jangan-jangan, perempuan itu...."


Tepat saat itu juga wajah Luna terlihat.


"Cari masalah aja tuh cewek." Kata Vano.


Vano pun segera mendekatinya.


"Lepaskan cewek itu!" Ucap Vano.


Ketiga pria itu menoleh dan menatap tajam wajah Vano.


"Vano...," beo Luna senang. Akhirnya, ada juga orang yang datang menyelamatkannya. Luna bernafas lega.


"Wah ! Mau sok jadi pahlawan loh!" Ucap salah satunya.


Vano tak menjawab, tapi Vano langsung memukul telak salah satu dari mereka.


Bugh...


"Beneran nih orang cari gara-gara sama kita," ujar yang mencengkram Luna, kemudian maju dan menghajar Vano.


Sebelum pukulan itu mendarat di wajah Vano, Vano sudah lebih dulu menangkap tangan lawan dan memelintir tangan lawan. Sampai-sampai lawannya meringis sakit. Lalu, Vano menendang perutnya.

__ADS_1


Bugh... Bugh...


Akhirnya perkelahian itu pun tak terelakkan lagi. Satu lawan tiga, tak masalah buat Vano.


Bugh... Bugh... Bugh...


Sementara Luna, berteriak meminta bantuan. Apalagi melihat Vano mulai kewalahan.


"Tolong ! Tolong !" Teriak Luna.


Usaha Luna pun membuahkan hasil. Beberapa orang datang menghampirinya.


"Pak... Pak... Tolongin teman saya," ucap Luna sambil menunjuk Vano yang tengah dipukul wajahnya.


Mereka yang datang menolong, segera membantu Vano melumpuhkan ketiga pria itu. Dan ketiga pria itu akhirnya kalah dan segera berlari tunggang-langgang.


"Terima kasih bapak-bapak," ucap Vano tulus.


"Iya, sama-sama," jawab salah satu dari mereka.


"Kalau gitu kami permisi," ucap si bapak yang mengenakan jaket.


"Iya, pak. Sekali lagi terima kasih sudah membantu saya," ucap Vano yang langsung dianggukin oleh bapaknya.


"Terima kasih, pak," timpal Luna.


Setelah bapak-bapak itu pergi, Luna mendekati Vano. Luna meringis melihat beberapa luka di wajah Vano.


Vano mendengus kesal dan menatap dingin wajah Luna.


"Makanya, jadi orang tuh jangan keluyuran kemana aja."


Luna mencebikan bibirnya. Apa dia nggak tahu kalau dirinya di usir sama Bayu.


"Siapa juga yang keluyuran!" Desis Luna sebal.


"Sudahlah. Malas aku ngomong sama kamu!" Tukas Vano. Lalu Vano melangkah pergi.


Luna menatap sendu punggung Vano.


"Kamu mau tidur disini atau ikut aku pulang," ucap Vano tanpa membalikkan badannya.


Luna menatap tak percaya dengan apa yang dikatakannya. Luna tersenyum kecil dan mengangguk mau, meski Vano tak melihatnya.


"Cepetan kalau mau ikut pulang. Mama menyuruhku mengajak kamu balik ke rumah."


Luna segera mengikuti langkah Vano, sampai keduanya berdiri di dekat motor milik Vano.

__ADS_1


Vano langsung menaiki motornya, sedangkan Luna terdiam. Luna ragu untuk ikut Vano pulang, mengingat ia di usir oleh Bayu.


"Cepetan naik! Malah bengong!" Kesal Vano.


Luna bergeming, membuat Vano mendengus kesal. "Cepatan naik! Kalau nggak naik-naik aku tinggalin. Biar kamu di bawa lagi sama preman tadi."


"Iya, ini aku naik," sahut Luna pelan.


Saat akan naik, suara keroncongan perut Luna berdendang. Luna meringis malu. Kenapa pula perutnya harus bunyi di saat tidak tepat, tapi untungnya Vano tetap terlihat cuek.


Setelah Luna naik ke atas motornya, Vano langsung melajukan motornya. Vano akhirnya bernapas lega, karena Luna baik-baik saja meski tadi di ganggu sama preman.


Vano kemudian menghentikan motornya di pinggir jalan.


"Turun," suruh Vano.


Luna turun dari motor, begitu juga dengan Vano yang sudah membuka helmnya. Lalu Vano menarik tangan Luna, membawa Luna masuk ke tenda pecel ayam.


"Bang, pecel ayamnya satu. Makan disini," pesan Vano.


"Siap, mas."


Vano langsung duduk dan memainkan benda pipih nya. Sementara Luna, berkali-kali perutnya terus bunyi, saat mencium ayam goreng yang menguar. Luna sangat berharap kalau Vano menawarkannya makan. Tapi Vano tetap terlihat cuek dan tidak peduli dengan dirinya yang kelaparan.


Beberapa menit menunggu, pecel ayam plus nasi hangat sudah ada di meja, di tambah dengan sambal yang menggugah selera. Luna menelan ludahnya melihat pecel ayam yang tersaji di atas meja. Tanpa di duga Vano menyorongkan nasi pecel ayamnya ke hadapan Luna.


"Makan," suruh Vano. " Aku nggak mau bawa kamu pulang dalam keadaan kelaparan," lanjut Vano berucap.


"Serius... ini buat aku?" ucap Luna memastikan.


Vano mengangguk. Luna jadi terharu. Ia pikir Vano akan membiarkan dirinya kelaparan, tapi ternyata Vano peduli dengannya. Padahal tadi Vano terlihat cuek.


"Terima kasih," ucap Luna tulus. Luna tersenyum kecil dan hatinya menghangat dengan sikap peduli Vano terhadapnya, meski sikapnya sangat dingin kepadanya.


"Kamu nggak makan?" tanya Luna.


"Nggak," jawabnya singkat. "Cepetan makannya."


Luna mengangguk dan segera melahapnya.


Selesai makan, Vano kembali melajukan motornya. Hingga keduanya sampai di rumah. Luna turun dari motor.


"Sekali lagi terima kasih kamu sudah menolongku," ucap Luna tulus.


"Hmm ...." Vano menjawabnya dengan gumaman.


"Emm...." Luna ingin mengatakan kalau ia ingin mengobati luka di wajah Vano, tapi ia urungkan karena Vano kayaknya mau pergi lagi.

__ADS_1


Baiklah, nanti kalau Vano pulang, ia akan mengobati luka Vano.


Luna pun hanya melihat kepergian Vano sampai menghilang dari pandangannya. Luna menghela napasnya dan dengan ragu Luna melangkah masuk ke dalam rumah. Berharap di rumah Bayu tidak marah terhadapnya, karena sudah kembali lagi datang ke rumahnya.


__ADS_2