Aku Dijual Di Malam Pertama

Aku Dijual Di Malam Pertama
Bab 7 ~ Kamu...


__ADS_3

Luna menggelengkan kepalanya, dengan wajah sedih. " Disini aku nggak punya tempat tinggal."


Vano berdecih mendengar perkataan Luna. Vano tidak percaya kalau gadis penyusup ini tidak punya tempat tinggal. Vano yakin, gadis penyusup ini menjual kesedihan di depan mama nya, agar semakin kasihan.


"Nggak mungkin banget nggak punya tempat tinggal!" Salak Vano.


"Punya sih tempat tinggal, tapi bukan disini, melainkan di kampung," sambung Luna.


"Terus, selama ini kamu tidur mana?" Kali ini mama Aida yang bertanya.


Luna menarik napasnya yang terasa sesak dan menatap sendu mama Aida. Luna mulai menceritakan tentang dirinya. Dari pernikahannya hingga bisa sampai berada di rumah ini.


Selama Luna bercerita, mama Aida berkali-kali menggelengkan kepalanya dan juga menutup mulutnya. Ekspresi wajah mama Aida sangat geram mendengar kisahnya.


Sementara Vano tidak percaya dengan cerita Luna. Vano yakin, kalau cerita Luna hanya omong kosong. Bualan semata, hanya untuk mendapatkan belas kasih dari mama nya.


"Dasar lelaki bia dab! Tega-teganya menjual istrinya kepada lelaki hidung belang." Kesal mama Aida.


"Terus sekarang kedepannya kamu mau gimana?" Tanya mama Aida lagi.


Luna menggeleng lemah. "Aku nggak tahu, Tante. Aku belum berani mengabari paman dan bibi ku. Aku nggak mau buat paman dan bibi mencemaskan aku."


Mama Aida mengerti dengan keadaan Luna. Pasti Luna tidak mau membuat paman dan bibinya sedih, karena salah memilihkan jodoh untuk Luna.


"Bagaimana kalau sementara waktu kamu tinggal disini." Tawar mama Aida. Dan lagian mana tega membiarkan Luna luntang-lantung di jalan. Bagaimana kalau ada orang yang berniat jahat.


"Tapi Tante...."


"Nggak ada tapi tapian."


Luna bingung. Apalagi ini pertemuan pertama dengan mama Aida dan langsung ditawarkan tinggal di rumahnya, walau hanya sementara waktu. Tapi tetap saja, Luna merasa sungkan dan tak enak hati.


"Ma... Ngapain nyuruh dia tinggal di rumah kita. Kenapa mama begitu percaya sih sama dia. Vano yakin kalau semua ceritanya dia itu pasti bohong." Vano pun berusaha menyadarkan mama nya agar tidak percaya dengan si gadis penyusup. Apalagi si gadis penyusup tinggal di rumahnya, sudah jelas big no!

__ADS_1


"Vano! Sudah ya, keputusan mama nyuruh Luna tinggal bersama kita tidak bisa di bantah. Apa kamu nggak kasihan sama Luna."


Vano tak menjawabnya. Percuma ia melarang Luna untuk tinggal di rumahnya, jika sang ibu sudah memutuskannya. Vano melirik kesal wajah Luna, lalu Vano segera meninggalkan ibunya dan Luna ke kamarnya.


"Mba Yuni!" Mama Aida memanggil pelayan rumahnya.


"Iya, Bu," sahut Mba Yuni, yang datang tergopoh-gopoh dari belakang.


"Tolong, antarkan Luna ke kamar tamu."


"Baik, Bu. Ayo, Non Luna."


Luna mengangguk. "Tante, sebelumnya terima kasih sudah membiarkan aku tidur disini," ujar Luna.


"Iya... Sudah sana istirahat. "


Luna mengangguk sambil tersenyum. Lalu, Luna mengikuti Mba Yuni.


Mama Aida menatap punggung Luna. "Kasihan kamu, Luna," gumamnya, yang merasa iba dengan apa yang menimpa nasib Luna.


Sang mentari masih malu-malu menampakkan sinarnya, tapi Luna sudah bangun dari pukul lima. Luna yang hanya menumpang di rumah ini, harus membantu para pelayan. Meski mama Aida tidak menyuruhnya membersihkan rumahnya, tapi Luna tak ingin berpangku tangan.


Kini Luna sudah berada di dapur, membantu Mba Yuni membuat sarapan untuk semua penghuni rumah ini.


Selesai membantu Mba Yuni masak, Luna kembali ke kamarnya untuk mandi. Kini Luna sudah selesai mandi dan saat ini Luna tengah berada di kamar mama Aida. Luna sengaja datang ke kamar mama Aida, ia ingin membantu mama Aida membersihkan badannya.


"Selesai," ujar Luna, yang baru saja menyisir rambut mama Aida.


Mama Aida tersenyum lebar. Mama Aida sangat senang karena Luna membantunya. "Terima kasih ya Luna," ucap mama Aida.


Luna mengangguk. "Iya, Tante. Ayo, aku antar Tante ke meja makan."


Luna mendorong kursi rodanya dan membawa Mama Aida ke ruang makan. Ternyata di meja makan sudah ada Vano.

__ADS_1


"Kakak kamu mana?" Tanya mama Aida, karena sejak semalam tidak melihat Bayu pulang.


"Di kamarnya kali," jawab Vano, sambil menyuap makanan ke mulutnya.


"Oh...."


Luna menyiapkan sarapan buat mama Aida. Setelah piringnya terisi nasi goreng, Luna menyorongkan ke mama Aida.


"Terima kasih, Luna." Yang langsung di jawab anggukan oleh Luna.


"Kalau gitu aku ke dapur lagi ya, Tante," ucap Luna.


"Ngapain? Jangan bilang kalau kamu mau sarapan di dapur," sambung mama Aida.


Luna tersenyum kecil, seraya menganggukkan kepalanya.


Mama Aida mendengus. "Kamu sarapan disini aja," tukas mama Aida.


"Tapi, Tante...." Luna tak enak hati jika ikut sarapa semeja dengan mama Aida. Apalagi Vano terus saja menatapnya sinis.


"Pokoknya kamu sarapan disini." Tegas mama Aida yang tak mau penolakan.


"Baiklah," jawab Luna mengalah. "Kalau gitu Luna ambil piring dulu."


Mama Aida mengangguk dan Luna segera ke dapur.


"Selamat pagi, ma," sapa Bayu, yang kini sudah berdiri di dekat Vano.


Bukannya menjawab, mama Aida justru balik bertanya.


"Semalam pulang jam berapa?"


Saat akan menjawab, Luna datang dan Bayu terbelalak melihat Luna ada di rumahnya.

__ADS_1


"Kamu...."


__ADS_2