Aku Dijual Di Malam Pertama

Aku Dijual Di Malam Pertama
Bab 17 ~ Interview


__ADS_3

Beberapa kali Vano mengedipkan matanya. Vano tak menyangka kalau Luna akan menciumnya di depan umum. Vano bahkan harus menelan ludahnya berkali-kali, saking terkejutnya dengan tindakan Luna yang menciumnya.


Audi menganga melihat Luna mencium bibir Vano. Hatinya langsung tersengat api cemburu. Lalu dengan langkah yang dihentak-hentakkan, Audi meninggalkan sepasang kekasih palsu yang masih saling bertautan.


Luna segera menghentikan ciumannya dan menundukkan wajahnya yang merah padam karena malu, Luna memilih berlari ke toilet alias kabur karena malu.


Vano memegangi dadanya. Entah kenapa hatinya terasa ada yang menggelitik dan juga degup jantungnya berpacu kencang saat Luna menciumnya tadi.


"Ada apa dengan jantung ku?" Gumam Vano.


Luna memegangi kedua pipinya yang terasa panas. Kalau bukan karena Audi, Luna tidak berani mencium Vano, di depan umum pula. Sangat memalukan, tapi Luna harus membuktikan kalau dirinya pacar Vano.


"Pasti habis ini Vano bakal marah sama aku," ucapnya pada dirinya sendiri sambil menatap pantulan dirinya di cermin. Pipinya yang merona masih terlihat jelas.


"Oke Luna... Tarik nafas lalu buang." Kemudian Luna membasahi wajahnya.


Setelah dirasa cukup dan rona merah di pipinya sudah hilang, Luna segera kembali ke samping Vano dan juga harus menebalkan telinganya jika nanti Vano memarahinya.


Benar saja, Vano kini menatapnya sambil melipat tangannya di atas dadanya, tatapan matanya yang begitu menghunus.


"Maaf...." Ucap Luna pelan seraya menundukkan kepalanya. Tak berani mengangkat kepalanya. Ia sudah siap dengan semburan kemarahan Vano.


Vano berdecih, dan menarik tangan Luna keluar dari pesta tersebut. Luna pasrah saja dan tak berani menyela Vano yang tengah menariknya.


Sesampainya di lobby hotel, Vano mendorong tubuh Luna ke badan mobil dan mengukungnya.


"Kenapa kamu mencium ku!" Ucap Vano dengan suara tinggi.


"Aa-aku... Mencium mu karena mantan pacar kamu tak percaya kalau aku ini pacar kamu." Luna berkata dengan tergagap.


"Dan dia meminta aku membuktikannya, makanya kenapa aku mencium mu tadi."


"Yang bener? Bukan mencari kesempatan karena kamu jadi pacar bohongan ku." Tukas Vano yang kurang yakin dengan ucapan Luna.


"Bener. Aku nggak bohong." Luna mengangkat dua jarinya.


"Vano...!"


Sebuah suara yang enggan Vano dengar dari mulut wanita yang sudah menyakiti hatinya. Malas karena tidak ingin melihatnya lagi dan sudah bisa ia tebak apa yang akan di bicarakan oleh Audi. Apalagi kalau bukan untuk meminta balikan.


Vano yang masih mengukung Luna langsung meraup bibir Luna. Dia sengaja menciumnya agar Audi tidak lagi mengganggunya dan juga meyakinkan kalau ia sudah move on dari Audi.


Benar saja, Audi langsung menghentikan langkahnya saat melihat Vano tengah berciuman mesra. Dengan hati yang terluka dan dada yang bergemuruh menahan sakit, Audi berlari meninggalkan Vano dan Luna.


Luna melebarkan bola matanya. Tak menyangka kalau Vano juga akan melakukan hal yang sama.


Sial. Umpat Vano dalam hati.


Naitnya hanya ingin menyakiti Audi, justru kini Vano menikmati ciuman ini. Bibir Luna terasa manis saat Vano menyesapnya lembut.


Tak mau bibirnya terus di kuasai Vano, Luna langsung mendorong tubuh Vano.


"Bukan berarti aku tadi cium kamu. Kamu seenak jidat mencium ku!" Sewot Luna.

__ADS_1


"Anggap saja itu hukuman dari aku," jawab Vano sekenanya.


Luna yang kesal menginjak kaki Vano.


"Rasain!" Hardik Luna. Vano meringis merasakan sakit di kakinya.


"Dasar cewek nyebelin!" Umpat Vano.


"Buka pintu mobilnya!" Teriak Luna.


Vano mendengus dan membuka kunci mobilnya.


***


Luna memasuki rumah dengan tergesa-gesa. Ia masih sangat kesal terhadap Vano. Selesai berganti pakaian, Luna kemudian menuju dapur untuk mengambil air minum dan membawanya ke kamar.


Bugh.


Kepala Luna terantuk dada bidang Bayu, saat membalikkan badannya. Luna tidak tahu kalau Bayu ada dibelakangnya.


"Maaf," ucap Luna sambil mengelus keningnya sakit.


"Lain kali pakai mata," jawab Bayu ketus.


"Iya...."


Luna kemudian menyingkir dari sana dan kembali ke kamarnya.


***


Hari ini Luna mendapat panggilan kerjaan, yang beberapa waktu lalu ia kirim CV nya lewat internet. Sebelum keluar dari kamar, Luna terlebih dahulu menelpon pamannya. Luna hanya sekedar menanyakan kabarnya saja. Sampai saat ini Luna belum punya keberanian menceritakan tentang Dimas yang menjualnya.


Luna tidak mau membuat paman dan bibinya sedih, juga tidak mau membuat keduanya merasa bersalah karena menjodohkannya dengan Dimas. Tapi bukan berarti Luna akan terus menutupinya, suatu saat Luna pasti akan menceritakan semuanya.


"Gimana kabar paman?" Tanya Luna.


"Kabar paman baik. Kamu sendiri gimana? Apa kamu bahagia?"


Luna diam sejenak. Tak mungkin Luna menceritakannya sekarang.


"Kami baik-baik saja paman."


"Syukurlah... Paman lega dengernya."


"Sudah dulu ya paman, nanti aku sambung lagi telponnya."


"Iya... Ingat kalau ada apa-apa langsung telpon paman."


" Iya Paman."


Luna membuang napasnya, setelah telponnya mati. Luna menatap dirinya sendiri di cermin.


"Maafin aku paman... Aku belum berani jujur," lirih Luna.

__ADS_1


*


*


*


Luna memandangi sebuah gedung tinggi dihadapannya. Sebelum melangkah masuk, Luna terlebih dulu berdoa agar interviewnya lancar.


"Permisi, mba. Ruang interview dimana?" tanya Luna kepada salah satu petugas resepsionis.


"Yang ngelamar kerja ya?" Mba nya balik bertanya.


"Iya, benar."


"Kamu naik aja ke lantai 3." Luna mengangguk dan segera melangkah ke arah lift.


Sampai di lantai 3, ternyata ada beberapa orang yang juga tengah menunggu untuk diinterview. Luna tersenyum kecil ke salah satu dari mereka dan ikut bergabung.


*


Luna tersenyum senang, setelah tadi ia deg-degan saat diinterview. Akhirnya Luna keterima kerja di kantor tersebut dan ditempatkan di bagian resepsionis.


"Kamu keterima?" tanya perempuan berambut cokelat, yang sama-sama melamar pekerjaan di kantor tersebut.


Luna mengangguk sambil tersenyum. "Iya, kalau kamu?"


"Sama. Aku juga keterima," jawab perempuan itu. "Kenalin aku Sophia."


"Luna," jawabnya sambil menyambut hangat uluran tangan Sophia.


"Inikan sudah siang, bagaimana kalau kita cari makan," ucap Sophia mengajak Luna.


"Boleh, kebetulan aku juga lapar."


Luna dan Sophia berjalan beringin menuju kantin yang masih satu lingkungan dengan kantor.


"Kamu makan sama apa?" tanya Sophia setelah keduanya sampai di kantin kantor.


Luna pun menunjuk makanan yang ingin ia santap. Sambil menunggu makanannya, Luna mengedarkan pandangannya ke seluruh kantin.


Suasana kantin sangat ramai, karena sekarang waktunya jam makan siang.


Sophia menepuk pundak. "Tuh, makan kamu."


"Eh... Iya." Luna segera mengambilnya dan membawanya ke meja.


Baru saja duduk, Luna menepuk keningnya. "Aku lupa belum pesen minumannya," ujar Luna. "Nitip. Aku pesen minumannya dulu." Luna bergegas kembali


"Ini mba." Sambil menyerahkan minuman milik Luna.


"Iya,. terima kasih," jawab Luna.


Luna sudah duduk di mejanya dan melahap makanannya. Seketika kantin tersebut riuh saat seseorang datang ke kantin.

__ADS_1


"Loh! Kok ada dia?"


__ADS_2