Aku Dijual Di Malam Pertama

Aku Dijual Di Malam Pertama
Bab 33 ~ Tak bisa melawan


__ADS_3

Mendengar ancaman dari Pak Ariawan, membuat Dimas frustasi. Dimas tidak ingin ancaman tersebut menjadi nyata.


Kali ini, ia harus menemukan Luna, jika tidak ... Habislah dirinya.


Kali ini aku harus berhasil menemukan Luna.


Sementara itu, Luna yang sembunyi di dalam kardus bekas yang berada di gudang. Kini keluar dari tempat persembunyiannya. Suasana di gudang gelap dan kardus yang menjadi tempatnya sembunyi berada di pojok dan terhalang lemari, sehingga keberadaannya tidak dapat ditemukan dengan mudah. Pelan-pelan, Luna mengayunkan kakinya ke arah pintu dan membukanya sedikit, mengintip situasi di luar.


"Kayaknya aman untuk kabur," gumam Luna.


Segera Luna keluar dari sana dan berjalan ke arah pintu taman. Di dalam hatinya, Luna sambil merapal kan doa agar tidak ketahuan. Namun sayang, baru beberapa langkah, suara bariton menghentikan langkahnya.


"Berhenti ...!" teriak anak buah Dimas.


Luna terhenyak mendengar teriakkan seseorang dari arah belakang. Tidak mau sampai tertangkap, Luna mengambil langkah seribu. Berlari sekuat tenaga.


"Berhenti, jangan lari!" teriaknya lagi.


Mendengar teriakkan anak buahnya, Dimas segera ikut berlari mengejar Luna.


"Akhirnya keluar juga dari persembunyiannya," gumam Dimas.


Sementara itu, Luna terus berlari. Berharap kali ini dirinya bisa lolos. Andai tasnya ada, Luna pasti sudah menelpon Vano, memintanya datang menyelamatkannya.


Sekarang, ia harus bisa melawannya sendiri.


Langkahnya harus terhenti, ketika di depan dua orang security menghadangnya.


"Aduh! Aku harus lari kemana lagi," gumam Luna panik.


Dari belakang Dimas dan anak buahnya tengah berlari ke arahnya, membuat Luna semakin panik.


Luna mencoba berlari ke arah samping, tapi sayang Luna kalah cepat larinya dengan security, dan akhirnya Luna tertangkap.


Dimas tertawa, akhirnya Luna tertangkap juga setelah tadi membuatnya kelimpungan mencarinya.


"Mau lari kemana lagi kamu," ucap Dimas menyeringai.


Luna meronta-ronta, berharap bisa lepas dari cengkeraman security. Namun, usahanya sia-sia. Security itu semakin kuat mencengkram tangannya.

__ADS_1


"Bawa dia ke dalam," perintah Dimas.


"Baik, Mas."


Luna pun kini diseret kembali ke dalam rumah, sambil terus meronta-ronta.


Dimas mengetuk pintu kamar Pak Ariawan dan dari dalam Pak Ariawan membukanya.


"Dia sudah ketangkap," lapor Dimas, seraya menunjuk menggunakan dagunya.


"Bagus. Bawa gadis itu masuk," titahnya.


Luna dipaksa masuk lagi ke dalam kamar.


Sebelum kembali masuk, Pak Ariawan menunjuk dada Dimas. "Kamu tunggu disini, sampai semuanya beres."


Dimas mengangguk setuju. Ia juga tidak ingin kejadian tadi terulang lagi.


Pak Ariawan masuk dan meminta security itu mendekatinya. Lalu, Pak Ariawan membisikan sesuatu ke telinga security itu. Entah apa yang diperintahkan oleh Pak Ariawan. Yang jelas membuat Luna terancam.


"Baik, bos," jawabnya seraya menganggukkan kepalanya. Setelah itu, security keluar dari kamar ini.


Tubuh Luna gemetar dan wajahnya pias melihat seringai iblis Pak Ariawan. Luna yakin kalau Pak Ariawan tengah merencanakan sesuatu.


"Ya Tuhan ... Tolong selamatkan hamba," ucap Luna dihatinya.


"Sudah puas bermain petak umpetnya?" Ujar Pak Ariawan, sambil membuka sabuk yang ia kenakan.


Melihat Pak Ariawan melepaskan sabuknya, membuat Luna semakin pucat pasi.


Tatapan Pak Ariawan seolah ingin mencabik-cabik tubuh Luna. Tubuh Luna meremang takut. Suasana di kamar itu begitu sangat mencekam. Luna melirik ke kanan dan kiri, mencari benda yang bisa menjadikan senjata.


"Kenapa wajahmu pucat? Apa kamu takut?"


Luna hanya menatap dingin wajah Pak Ariawan.


"Sial ! Tidak ada benda yang bisa ku gunakan sebagai senjata." Ucap Luna dihatinya.


Tanpa di duga oleh Luna, Pak Ariawan mencambuknya menghubungkan sabuk.

__ADS_1


"Argh ...." Pekik Luna sakit.


Sekali lagi Pak Ariawan mencambuk tubuh Luna. Ia ingin Luna tak berdaya.


Luna meringis kesakitan. Air matanya kini tumpah, sambil mengusap tubuhnya yang terkena cambuk.


Pak Ariawan tertawa sarkas, melihat Luna kesakitan. Rasanya senang melihat Luna tak berdaya.


Tak ingin terlihat lemah, Luna maju dan menendang pangkal pahanya Pak Ariawan. Tapi ternyata, gerakannya terbaca dan Luna gagal menendangnya.


Justru kini Pak Ariawan kembali melayangkan sabuknya ke tubuh Luna. Mencambuknya berkali-kali.


"Argh ...." Pekik Luna keras.


"Uuhh ... Sakit ya, Sayang," bisiknya. Kemudian Pak Ariawan mencengkram dagunya Luna dan membalikkan tubuh Luna. Satu tangannya Luna ditarik ke belakang tubuhnya.


"Kali ini kamu tidak akan bisa lari lagi, Sayang," bisik Pak Ariawan.


Luna memejamkan matanya dan tak bisa melawannya lagi. Tubuhnya benar-benar sangat sakit dicambuk beberapa kali.


Tidak lama terdengar ketukan pintu, lalu pintu itu terbuka. Security tadi datang lagi, sambil membawa gelas ditangannya.


"Ini bos minumannya," seraya menyorongkan nya.


"Langsung berikan padanya," titah Pak Ariawan.


Security itu menurut dan Pak Ariawan menekan kedua pipinya, agar mulutnya terbuka. Kemudian Luna dipaksa meminumnya.


Luna berusaha menyemburkannya. Luna tidak mau meminum minuman tersebut. Luna meronta-ronta dan menolak.


"Telan! Kalau tidak aku cekik kamu!" ancamnya, sambil menarik rambut Luna ke belakang.


Luna benar-benar dicekoki minuman itu, tanpa bisa ditolaknya.


Setelah minuman itu habis, Pak Ariawan melepaskan tubuh Luna dengan senyum menyeringai.


Setelah minuman itu berhasil ke minum, tidak lama tubuh Luna tiba-tiba merasa kepanasan, dan security itu keluar dari sana.


"Apa yang terjadi dengan tubuhku?" Pekik Luna dihatinya.

__ADS_1


__ADS_2