Aku Dijual Di Malam Pertama

Aku Dijual Di Malam Pertama
Bab 31 ~ Mencari celah agar bisa kabur


__ADS_3

Seketika rasa cemas Vano rasakan. Jelas Vano tidak ingin hal buruk menimpa Luna.


Segera Vano mengambil ponselnya dari saku celana dan menelpon Luna. Akan tetapi panggilan telponnya tidak diangkat-angkat.


Vano terus berulangkali menelpon Luna, tapi saat ini panggilan telponnya tetap tidak diangkat, bahkan kini nomornya sudah tidak aktif lagi.


"Kamu dimana sih," gumam Vano seraya menelpon Luna lagi, tapi tetap saja hasilnya sama. nomor Luna tidak bisa dihubungi.


Rasa cemas dan khawatir semakin besar. Vano frustasi memikirkan Luna, yang tak bisa dihubungi. Kemana coba ia mencari keberadaan Luna?


Seharusnya tadi ia tak membiarkan Luna kembali ke pekerjaannya sebagai petugas resepsionis. Dan sekarang ia tak tahu dimana Luna.


Melihat raut cemas dari wajah Vano, mama Aida mendorong kursi rodanya mendekati Vano.


"Kenapa kamu terlihat cemas?" Tanya mama Aida.


Vano mendesah samar, menatap sang ibu. "Luna belum pulang dan hapenya nggak bisa dihubungi."


"Mungkin hapenya lowbat atau mampir dulu ke rumah temannya kali."


Vano terdiam. Ada benarnya juga perkataan mama Aida. Bisa jadi Luna mampir ke rumah temannya. Tapi kalau mampir ke rumah temannya, kenapa nggak numpang cas hape.


"Kalau hapenya lowbat dan pergi ke rumah temannya, kenapa nggak numpang ngecas?"


"Mungkin Luna nggak tahu kalau hapenya mati."


"Kayaknya nggak mungkin deh. Luna pasti tahu kalau hapenya mati." Vano menyanggah perkataan mamanya.


"Coba tunggu setengah jam. Jika setengah jam Luna belum pulang juga, kamu langsung cari Luna."


Akan tetapi, Vano merasa tidak tenang. Entah kenapa hatinya merasa kalau Luna dalam bahaya.


Ah ... Kenapa juga tadi Luna nggak menunggu dirinya.


Rasanya, Vano ingin memarahi Luna. Yang sudah membuatnya menjadi cemas dan tak tenang.


Sudah hampir lima belas menit, Luna belum terlihat batang hidungnya. Membuat Vano semakin mencemaskan Luna. Tidak mau terus menunggu Luna pulang, akhirnya Vano beranjak juga dari duduknya.

__ADS_1


"Ma, aku cari Luna," celetuk Vano.


"Nggak nunggu dulu. Siapa tahu Luna lagi di jalan dan sebentar lagi nyampe."


"Kalau gitu, mama kabarin aku kalau Luna sudah pulang," imbuh Vano, yang tetap mau mencari Luna.


Vano segera mengayunkan kakinya keluar rumah, dengan harapan Luna ketemu. Dan semoga saja Luna memang mampir dulu ke rumah temannya.


"Vano mau kemana, ma?" Tanya Bayu, yang baru saja turun. Bayu sudah terlihat segar.


"Cari Luna."


"Luna belum pulang?"


"Belum. Makanya Vano mau cari Luna."


'Tumben banget Luna jam segini belum pulang. Apa mungkin terjadi sesuatu terhadap Luna?' Batin Bayu.


*


*


*


Sedetik kemudian, Luna tersadar kalau tadi mulutnya di bekap oleh Dimas. Dengan gerakan cepat Luna turun dari atas kasur.


"Sial! Dimas menculik ku."


Lalu, Luna mencari tasnya. Ia harus segera menghubungi Vano, memberitahukan kalau ia di culik.


Luna menyesal, harusnya tadi menunggu Vano saja. Mungkin saat ini dirinya tidak di culik,.


"Kemana tas ku."


Luna tidak menemukan tasnya di sana. Luna menjambak rambutnya frustasi. Sekarang gimana caranya memberitahukan Vano.


"Oke, Luna ... Tenang." Luna mencoba menenangkan diri sendiri. Kemudian menarik napasnya panjang, lalu buang perlahan.

__ADS_1


Luna harus berpikir, mencari cara keluar dari sana. Luna kemudian melangkah ke arah jendela dan menyibakkan gorden nya, lalu membuka jendelanya.


"Waduh! Tinggi banget lagi."


Luna menatap ke bawah. Nggak mungkin kalau harus lompat dari jendela. Bisa-bisanya kakinya patah.


"Berpikir-berpikir," gumam Luna.


Ceklek ....


Pintu kamar terbuka. Luna membalikkan badannya dan seketika tubuhnya membeku di tempatnya, melihat siapa yang masuk ke dalam kamar.


"Hai, gadis manis ...." Pak Ariawan tersenyum lebar melihat Luna.


Dalam hitungan detik, Luna menelan salivanya berkali-kali. Melihat Pak Ariawan kini berdiri dihadapannya. Seketika Luna waspada dengan Pak Ariawan, yang bisa saja menariknya ke atas ranjang.


Ia harus bisa jaga dirinya sendiri, karena situasinya berbeda. Tak ada Vano ataupun Bayu yang akan menyelamatkannya dari lelaki bajingan ini.


Senyum penuh seringai Pak Ariawan membuat Luna meremang. Gadis incaran nya kini sudah ada didepannya dan tak akan ada lagi yang bisa menghalanginya melakukan hal menyenangkan dengan gadis dihadapannya.


"Akhirnya, penantian ku menunggu kamu tercapai juga. Dan sekarang tak ada lagi yang menghalangiku," ucapnya penuh kemenangan.


'Aku harus kabur dari sini. Ya Tuhan bantu hamba melawan lelaki itu,' ucap Luna di hatinya.


Luna melirik ke kanan dan ke kiri, mencari celah agar bisa kabur dari jeratan Pak Ariawan. Pandangannya kini tertuju ke vas bunga.


Perlahan Luna bergeser ke arah meja, dimana vas bunga berada.


"Nggak usah takut. Saya tidak akan menggigit mu," ujar Pak Ariawan.


"Cuih ... Justru gigitan yang lain yang akan menghancurkan hidupku," sungut Luna di hatinya.


Pak Ariawan terus mendekati Luna dan sedikit pun tidak akan membiarkan Luna pergi darinya.


Kini Luna sudah berdiri di dekat meja, sambil terus melirik vas bunga.


Melihat Luna tidak bisa pergi kemana lagi, segera dirinya mendekati Luna dan menarik tubuh Luna ke dalam dekapannya.

__ADS_1


Senyum penuh kemenangan kini ia dapatkan, karena Luna sama sekali tak memberontak. Sebuah ciuman mendarat di bibir Luna dan hal itu Luna gunakan untuk memukul kepala Pak Ariawan.


Bugh ...


__ADS_2