Aku Dijual Di Malam Pertama

Aku Dijual Di Malam Pertama
Bab 6 ~ Gadis penyusup


__ADS_3

Luna berlari tunggang-langgang. Sebisa mungkin ia tidak tertangkap. Kalau sampai tertangkap habislah hidupnya.


Sementara itu, orang yang meneriaki Luna pun kini mengejar Luna. Jangan sampai perempuan itu lolos.


Orang itu berpikir kalau Luna adalah penyusup atau mau mencuri, maka orang tersebut tidak akan melepaskan Luna.


Luna kebingungan ketika gerbangnya tertutup rapat, sedangkan sang pemilik rumah tengah mengejarnya.


"Aduh... Bagaimana ini. Gerbangnya di kunci lagi." Luna kebingungan, melihat pintu gerbang terkunci.


"Mau lari kemana kamu!" Akhirnya Luna tertangkap juga.


Glek... Wajah Luna pias dan juga takut.


"Siapa kamu? Apa kamu mau mencuri?" Tanya orang itu dengan tatapan mengintimidasi.


Luna menggeleng kuat. "Nggak! A-aku nggak... Ada niat mencuri," Luna tergagap saking takutnya. Apalagi melihat tatapan orang itu begitu tajam dan penuh curiga.


Orang itu adalah Vano Aldridge.


Vano tidak percaya dengan ucapan Luna. Lalu, bagaimana bisa gadis didepannya bisa masuk, sedangkan pintu gerbangnya sudah di kunci.


"Lalu, bagaimana bisa kamu masuk ke dalam sini?"


"A-aku...."


"Mas Vano!" Pak Tono, satpam rumahnya memanggilnya. Memutuskan tatapan tajam Vano kepada Luna. "Dicariin sama ibu,"sambung Pak Tono.


Vano mengangguk dan menarik tangan Luna. Vano tidak akan melepaskan Luna, karena Vano tidak mau Luna kabur. Dan jika terbukti kalau Luna memang mau mencuri, maka Luna akan di bawa ke kantor polisi.


"Eh... Ke-kenapa tarik aku?" Ucap Luna yang tersentak karena Vano menariknya. Tapi Vano tidak memperdulikannya dan terus menarik Luna masuk ke dalam rumah.


Luna semakin ketar-ketir dibuatnya. Ketakutannya semakin menjadi. Takut kalau lelaki yang menariknya tidak akan melepaskannya. Bisa jadi lelaki ini berbuat jahat terhadapnya.


'Aduh! Bagaimana ini.' Luna membatin dengan perasaan cemas.


Tiba di dalam rumah, Vano melepaskan tangan Luna, tapi dengan tatapan penuh ancaman.


Tatap Vano seolah berkata 'Awas kalau kamu kabur.'

__ADS_1


Kemudian tatapan Vano melembut ketika matanya bersitubruk dengan mata ibunya.


"Ada apa mama mencariku?" Tanya Vano.


Bukannya menjawab pertanyaan Vano, justru ibunya Vano menatap lekat wajah Luna.


"Siapa gadis di sampingmu ini? Apa dia pacarmu?" Tanya mama Aida.


Vano menoleh ke samping, dimana Luna berdiri. "Dia...." Tunjuk Vano, dan di jawab anggukan dari mama Aida. "Dia bukan pacarku. Dia ini penyusup."


Luna menggeleng-geleng cepat. "Nggak. Aku bukan penyusup!" Ucap Luna dengan nada tinggi. Membantah tudingan Vano.


"Aku bersumpah kalau aku bukan penyusup atau pencuri." Lagi, Luna menegaskan kalau dirinya bukan seperti yang di tuduhkan Vano.


"Halah... Mana ada maling ngaku! Penjara bisa penuh!" Balas Vano sewot.


Luna mendelik. "Memang aku bukan pencuri!"


"Sudah stop, jangan bertengkar," tukas mama Aida menengahi Luna dan Vano.


Mama Aida yang duduk di kursi roda menggelengkan kepalanya. Dan lagian dari pengelihatannya, Luna anak yang baik dan lugu. Tidak mungkin kalau Luna seorang pencuri, seperti yang dituduhkan Vano.


"Tante, percaya sama aku. Apa yang dituduhkan dia nggak benar," ucap Luna.


"Aku bisa jelasin kenapa aku bisa ada disini." Sahut Luna cepat, yang tak terima terus-terusan di tuduh oleh Vano.


Vano hanya mendengus mendengar sanggahan Luna. Sudah jelas tadi dirinya melihat Luna mengendap-endap di luar rumah. Sekarang mau jelasin apa lagi.


"Sebenarnya aku tuh tadi lagi...." Ucapan Luna menggantung di udara, karena suara dering ponsel milik mama Aida menggelapar. Mama Aida tersenyum lebar melihat siapa yang menelponnya dan segera menggeser tombol hijau.


"Halo, Mas--."


"Ada apa kamu mencariku?" Sambar Pak Ariawan cepat.


"Papa kemana saja beberapa hari ini?" Tanya mama Aida.


"Aku sibuk," jawabnya cepat.


"Terus kapan papa pulang?"

__ADS_1


"Besok." Sahut Pak Ariawan malas.


Karena Mama nya tengah menerima telpon, Vano segera menarik Luna ke luar. Vano berniat menyuruh Luna pergi dari rumahnya, sebelum berubah pikiran, tapi baru saja akan melangkah keluar, suara mama Aida menggelegar memanggil Vano.


"Vano...!"


Seketika Vano menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya. "Iya, ma."


"Kalian mau kemana? Ini sudah malam." Mama Aida menatap curiga.


"Mau nyuruh dia pergi," jawab Vano.


Akan tetapi, mama Aida merasa kasihan melihat Luna, apalagi mama Aida melihat ada kesedihan di netra Luna.


"Ini sudah malam. Biarkan malam ini dia tidur disini."


Vano menganga dan tak menyangka mendengar ucapan Mama nya. Kenapa mama nya malah menyuruh gadis penyusup ini tidur di rumah. Bagaimana kalau ada barang yang hilang.


"Ma... Dia itu penyusup." Vano jelas tidak setuju dengan ucapan Mama nya.


"Aku bukan penyusup!" Sungut Luna.


Harus berapa kali ia katakan, kalau dirinya bukanlah penyusup.


"Mama percaya sama dia. Karena Mama merasa kalau dia berkata jujur."


"Ma...."


"Stop Vano! Kamu jangan membantah," tukas mama Aida, seraya mengangkat satu tangannya.


Vano mendengus kesal melirik Luna. Sedangkan Luna menjulurkan lidahnya merasa menang.


"Awas kamu!" Ucap Vano tanpa suara. Jika ada barang yang hilang, pelakunya pasti si gadis penyusup ini. Ia harus mengawasi si gadis penyusup ini, jangan sampai kecolongan.


"Nama kamu siapa?" Tanya mama Aida.


"Luna, Tante," jawab Luna.


"Luna, kamu tinggal dimana?" Tanya mama Aida lagi.

__ADS_1


Luna terdiam dan raut wajahnya langsung berubah sedih. Luna teringat dengan paman dan bibi nya. Andai paman dan bibi nya tahu kalau Dimas menjualnya, pasti paman dan bibi nya akan sangat sedih.


Ah... Mengingat nama Dimas, membuat hati Luna menggeram penuh kemarahan. Lelaki yang tak punya perasaan. Yang begitu teganya menjual istrinya kepada lelaki hidung belang.


__ADS_2