Aku Dijual Di Malam Pertama

Aku Dijual Di Malam Pertama
Bab 43 ~ Mencari Luna


__ADS_3

Waktu pun semakin malam dan Hanum duduk gelisah seorang diri. Sudah pukul setengah dua belas malam, anak dan keponakannya belum pulang juga.


Bramantyo juga tengah mencari mereka, tapi sampai detik ini belum menemukan keberadaan Luna dan Silfa.


Setelah mendatangi tempat terakhir dua gadis kesayangannya, Bramantyo berharap mendapatkan titik terang. Namun, tak seorang pun yang melihat Luna dan Silfa.


Berkali-kali Bramantyo menghela napas panjang. Entah kemana lagi ia mencari.


"Bagaimana, apa sudah ketemu?" tanya Bramantyo kepada warga yang membantunya.


"Belum," jawab salah satu warga


Lagi, Bramantyo mendesah frustasi. Pikirannya kalut dan tak tahu harus mencari kemana lagi.


Dari kejauhan terlihat sorot lampu mobil yang mendekati Bramantyo dan warga. Mobil itu berhenti tepat di dekat warga, lalu seorang lelaki bertubuh tegap turun dari dalam mobil.


"Paman ...," panggilannya ke Bramantyo.


"Vano?" Cicit Bramantyo. Ternyata lelaki itu adalah Vano. Entah darimana pemuda itu tahu alamat kampungnya.


"Ada apa nak Vano datang kesini?" tanyanya sedikit gelagapan. Pasti kedatangan pemuda itu tidak lain untuk bertemu dengan Luna. Namun yang jadi masalahnya, saat ini Luna tidak tahu dimana keberadaannya.


"Saya mau bertemu dengan Luna," jawab Vano.


"Tapi Luna nya gak ada. Kami semua sudah mencarinya sejak tadi." Salah satu warga yang menjawabnya.


"Maksudnya Luna hilang?" tanya Vano terkejut.


"Iya," jawabnya.


Vano kemudian menatap Bramantyo penuh tanya, dan yang ditatap pun mengangguk kecil, membenarkan ucapan salah satu warga.

__ADS_1


Seketika Vano menjambak rambutnya penuh sesal. Seharusnya ia datang lebih cepat, sehingga Luna tidak ditangkap oleh Dimas. Kalau saja tadi pekerjaannya bisa di selesaikan dengan cepat, mungkin ia bisa mengamankan keselamatan Luna.


"Saya coba telpon luna," ujar Vano seraya mengeluarkan ponselnya dari celananya.


"Saya sudah menelpon Luna, tapi nomornya tidak bisa dihubungi," jawab Bramantyo.


Ternyata benar ucapan Bramantyo, nomornya Luna memang tidak aktif.


Vano semakin frustasi memikirkan Luna. Apa Luna baik-baik saja atau sedang dalam keadaan ketakutan.


"Aku harus cari Luna secepatnya. Jangan sampai Dimas melakukan hal buruk lagi." Ucapnya kepada dirinya sendiri.


Vano terus berpikir bagaimana caranya menemukan Luna. Setelah cukup lama berpikir, akhirnya Vano mendapatkan Ilham.


"Bodohnya aku ini. Kenapa dari tadi gak kepikiran." Vano bermonolog dengan kebodohannya.


Segera Vano mencari Luna lewat GPS dan sedetik kemudian sebuah senyuman terbit di bibir Vano.


"Tempat ini tidak jauh dari sini," sahut Bramantyo cepat.


Segera, mereka semua menuju tempat keberadaan Luna.


Sementara itu, Luna tengah terkantuk-kantuk.


Sebisa mungkin ia tetap terjaga, walau rasa kantuk terus menyerangnya.


Sayup-sayup terdengar suara orang ribut dari depan. Penasaran, Luna segera menempelkan daun telinganya ke pintu. Luna ingin tahu siapa yang tengah ribut itu.


"Kita harus segera pergi dari sini," ucap Bu Tari kepada Haikal.


"Pergi kemana?" tanya Haikal.

__ADS_1


"Pokonya kita pergi kemana saja. Aku gak mau sampai ketangkap. Kamu tahu sendiri seperti apa Dimas dan mas Andi." Terdengar suara Bu Tari begitu panik.


Luna mengerutkan keningnya mendengar nama Dimas.


"Jangan-jangan Dimas sudah tahu. Aduh ... Aku harus lari kemana?" Luna semakin cemas dibuatnya. Luna yakin kali ini Dimas tidak akan melepaskannya.


Tiba-tiba pintunya terbuka, Haikal dan Bu Tari masuk dengan tergesa-gesa. Kemudian Haikal menarik Luna dan mencengkram nya seraya menodongkan pisau ke lehernya, begitu juga dengan Bu Tari yang sama menodong pisau ke arah luna. Berselang beberapa detik Pak Andi masuk dengan seorang perempuan muda. Bola mata Pak Andi membeliak melihat Luna.


"Luna ...," cicit Pak Andi. Ia terkejut melihat Luna disandera oleh istrinya. Tari benar-benar mencari penyakit.


"Lepasin Luna." Pinta Pak Andi. Sorot matanya menyiratkan kemarahan.


"Gak! Aku gak akan lepasin Luna!" Pekik Bu Tari menolak.


"Cih ... Dasar rubah licik. Gara-gara kamu Dimas membenci Luna yang tak tahu apa-apa," ucapnya penuh emosi.


Dan tidak lama segerombolan orang datang ke tempat tersebut. Membuat Bu Tari dan Haikal semakin panik. Seluruh tubuhnya gemetar melihat banyaknya orang di ruangan ini. Namun, Bu Tari dan Haikal berusaha tidak menunjukkan kegugupannya.


"Luna ...!" Pekik Vano. Kedua tangannya terkepal erat, darahnya mendidih membakar seluruh emosinya. Gadis yang ia cintai sedang dalam bahaya.


Tidak ingin wanitanya sampai terluka, Vano beringsut maju.


"Jangan mendekat! Akan aku tusuk dia." Ancam Bu Tari, membuat langkah Vano terhenti. Jelas, Vano tidak ingin Luna sampai terluka.


Siapapun yang mendekat, Bu Tari dan Haikal tidak segan-segan melukai Luna.


'Aku harus segera menolong Luna, tanpa harus ada yang melukainya.' Bisiknya Vano di hati.


Dan tanpa di duga oleh siapapun, seseorang datang dan mendekati Bu Tari dengan langkah cepat. Orang tersebut langsung memukul wajah Haikal, hingga tersungkur ke belakang.


Melihat Bu Tari akan mengarahkan pisaunya ke Luna. Segera, orang itu melindungi Luna dengan menjadikan tubuhnya tameng.

__ADS_1


Jleb ...


__ADS_2