Aku Dijual Di Malam Pertama

Aku Dijual Di Malam Pertama
Bab 44 ~ Menjadi tameng


__ADS_3

"Dimas ...." Luna terpaku melihat Dimas menyelamatkan hidupnya. Ia tak menyangka kalau Dimas lah yang menolongnya.


Darah segar mengalir dari punggung Dimas. Sontak saja Bu Tari terpundur saat tahu kalau Dimas yang menolong Luna.


Melihat Dimas terluka, Luna langsung menangkap tubuh Dimas, agar tidak terjatuh.


Warga yang ikut segera mengamankan Bu Tari dan Haikal, begitu juga dengan Pak Andi mendekati Dimas.


"Dimas ...! " pekik Pak Andi dan perempuan yang datang bersama Pak Andi. Segera Dimas di bawa keluar dan membawanya ke rumah sakit. Bramantyo membantu Pak Andi memapah Dimas keluar. Luna terus menatap Dimas dengan tatapan nanar. Sampai detik ini Luna belum percaya kalau Dimas lah yang menolongnya.


Vano langsung memeluk Luna dengan perasaan lega. Sumpah demi apapun Vano sangat mencemaskan Luna. Tapi sekarang Luna terbebas dari jerat dua orang yang tidak dikenalnya.


"Syukurlah kamu gak apa-apa," ucap Vano lega.


Luna tak merespon ucapan Vano. Ia terus menatap darah Dimas yang menetes di lantai. Butiran kristal jatuh membasahi pipinya.


Orang yang selama ini ingin menghancurkan hidupnya, justru kini dia penyelamat baginya. Entah apa yang membuat seorang Dimas rela menjadikan tubuhnya tameng. Dan pertanyaan itu terus berputar-putar di kepalanya.


"Luna, kamu gak apa-apa kan?" tanya Vano. Sebab Luna dari tadi hanya diam membisu.


"Hey ... Lihat aku." Vano menangkubkan tangannya di pipi Luna dan mengangkat wajahnya Luna. "Kamu gak apa-apa kan, Sayang?"


Bukannya menjawab pertanyaan Vano, justru Luna menyebut nama Dimas.


"Dimas ... Dia menolongku ...." Luna berkata lirih dengan air mata terus mengalir dari pelupuk matanya.


"Iya, Dimas yang menolong kamu," jawab Vano.


"Dimas terluka?" Lagi, Vano mengangguk. "Ayo, kita ke rumah sakit," ajak Luna.


Vano dan Luna segera keluar dari sana, namun saat akan belok ke pintu keluar terdengar suara dari dalam kamar. Seketika langkah keduanya terhenti.


"Tolong ...!" Teriaknya meminta tolong. Suaranya terdengar sangat lemah.


"Silfa ... Itu suara Silfa!" Seru Luna. Segera, Luna dan Vano menghampiri kamar tersebut, namun sayang, saat akan membukanya, pintunya terkunci.

__ADS_1


Bramantyo kembali datang, setelah tadi membantu Dimas sampai ke mobil.


"Kalian sudah menemukan Silfa?" tanya Bramantyo.


"Silfa ada di dalam sana," sahut Vano, menunjuk ke sebuah kamar.


"Silfa! Kamu gak apa-apa?" Luna berteriak, seraya menggedor pintunya.


"Lun, tolongin aku." Pinta Silfa.


"Kamu menjauh dari pintu. Bapak akan mendobrak pintunya," ucap Bramantyo. Dan dalam hitungan menit pintu tersebut terbuka.


Luna segera masuk dan mendekati Silfa yang terlihat lemas. "Ayo, kita keluar dari sini."


Luna memapah Silfa, yang ternyata baru tersadar dari pingsannya.


***


Dimas kini sudah berada di rumah sakit dan langsung ditangani oleh dokter.


"Duduk dulu, Om," suruh perempuan itu.


Pak Andi menggelengkan kepalanya.


"Percayalah ... Dimas akan baik-baik saja," ucap perempuan itu Dan akhirnya Pak Andi menurutinya, duduk sambil terus berdoa agar Dimas baik-baik saja.


Berkali-kali Pak Andi menengok ke arah pintu, dimana Dimas tengah diobatin. Takut, cemas, khawatir, bercampur menjadi satu. Hingga akhirnya seorang dokter keluar dari sana. Segera, Pak Andi mendekati sang dokter.


"Pak, bagaimana keadaan anak saya?" Cecar Pak Andi.


"Bapak tenang saja. Pasien baik-baik saja, dan untung saja luka tusukannya tidak terlalu dalam." Kata dokter menjelaskan.


Seketika semua perasaan tadi lenyap dan berganti dengan kelegaan.


"Alhamdulillah ...," ucap Pak Andi penuh lega.

__ADS_1


"Tapi .... Dari tadi pasien terus menyebut nama Luna. Apa disini yang namanya Luna ada?" tanya dokter.


"Luna?" sahut Pak Andi, yang di jawab anggukan kepala dokter. "Luna tidak ada disini, tapi nanti saya hubungi Luna," sambung Pak Andi.


"Kalau bisa secepatnya Luna datang ke sini."


"Iya, dok. Saya akan segera nelpon Luna."


Setelah itu dokter pun kembali masuk ke dalam dan Pak Andi langsung menelpon Bramantyo. Panggilan pertama tidak di angkat, Pak Andi kembali menelpon nomor Bramantyo.


Pak Andi harus sedikit bersabar menunggu telponnya diangkat. Mungkin Bramantyo masih sibuk mengurusi Luna, hingga tak berselang lama panggilan telponnya diangkat juga.


"Halo, Pak Andi ...," jawab Bramantyo. Ia baru saja tiba di rumahnya.


"Luna-nya ada?" tanya Pak Andi.


"Ada. Sebentar saya kasih ke Luna telponnya." Bramantyo langsung memberikan telponnya ke Luna.


"Pak Andi mau ngomong sama kamu," bisik Bramantyo kepada Luna.


Luna mengambil ponsel Bramantyo dan berbicara dengan Pak Andi.


"Halo, Om ...," ucap Luna.


"Luna, bisa kamu datang ke rumah sakit. Dimas dari tadi terus nanyain kamu."


Luna melirik Vano sejenak. Kebetulan telponnya di loud speaker. Vano menganggukkan kepalanya, tanda setuju.


"Baik,Om. Aku ke sana sekarang juga, tapi rumah sakit yang mana?" jawab Luna.


"Rumah sakit Duta Mulya."


"Iya, Om. Aku segera ke sana." Setelah berbicara seperti itu telpon pun berakhir. Tanpa menunggu lagi Luna dan Vano segera berangkat ke rumah sakit.


"Tunggu! Paman ikut," ucap Bramantyo.

__ADS_1


__ADS_2