Aku Dijual Di Malam Pertama

Aku Dijual Di Malam Pertama
Bab 29 ~ Dejavu


__ADS_3

Tring...


Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Vano. Akan tetapi Vano mengabaikannya. Ia tetap melanjutkan makannya.


Bayu terlihat sangat kesal, karena Vano tidak membuka WA darinya. Kemudian Bayu kembali mengirim pesan bertubi-tubi, agar Vano segera membukannya.


Vano menghentikan makannya dan meraih ponselnya dengan sedikit kesal.


"Siapa sih yang kirim pesan!" Sungut Vano.


Vano mengerutkan keningnya, melihat beberapa pesan dari Bayu. "Ngapain bang Bayu ngirim pesan sebanyak ini," ucap Vano heran.


Vano segera membukannya dan mendengus saat membaca pesan dari Bayu.


Pesan 1.


Aku minta tolong sama kamu, agar Luna mau jadi pacar bohongan ku. Agar Frida nggak gangguin aku lagi.


Pesan 2.


Vano...! Buka WhatsApp dari ku.


Pesan 3.


Vano...!!


Pesan 4.


Jika kamu setuju, suruh Luna ke sini. Tapi ingat, aktingnya Luna harus benar-benar meyakinkan.


Vano melirik sekilas ke arah Bayu, sembari menghembuskan napasnya.


"Iya," balas Vano singkat.


Kemudian Vano menatap wajah Luna. Sebenarnya Vano sangat berat hati menyuruh Luna menjadi pacar bohongan Bayu, tapi mau gimana lagi, Vano juga tidak bisa menolak permintaan sang kakak.


"Luna ... Aku minta tolong sama kamu," ucap Vano.


"Minta tolong apa?" Sahut Luna menyimpitkan matanya curiga. Sebab, setiap Vano minta tolong, selalu ngerugiin dirinya.


"Kamu bisa kan berpura-pura jadi pacar bang Bayu."


"Hah!" Luna melongo mendengarnya permintaan Vano. "Buat apa aku jadi pacar mas Bayu?" cetus Luna heran.


Kakak beradik ini sepertinya senang sekali menjadikannya pacar bohongan nya. Seperti tidak ada perempuan lain yang bisa di jadikan pacar bohongan nya.

__ADS_1


"Kamu bisa lihat sendiri, mantan nya bang Bayu nggak pergi dan terus saja nempel sama bang Bayu," ucap Vano sambil melirik Frida dan Bayu.


Luna mencebikan bibirnya. Kenapa harus dirinya, kenapa bukan orang lain saja, pikir Luna.


"Kamu mau kan? Hanya kali ini saja," pinta Vano.


"Iya deh!" Jawab Luna terpaksa.


Vano tersenyum kecil.


"Ya udah sana, tapi aktingnya harus meyakinkan dan menjiwai, agar tuh ulat keket percaya."


"Iya," sahut Luna singkat. Kemudian Luna merapikan pakaian dan rambutnya, tidak lupa Luna menambahkan sedikit sentuhan makeup. Setelah itu, Luna pun bangun dari duduknya dan bersiap dengan aktingnya.


"Tunggu dulu," ucap Vano menahan Luna.


"Apa lagi !" Kesal Luna.


"Jangan ada ciuman bibir. Aku nggak ikhlas," cetus Vano yang tak mau adegan yang dialaminya terjadi juga kepada Bayu.


"Siapa juga yang mau cium-ciuman," sahut Luna sewot.


"Bagus. Sana dan tunjukkan akting terbaikmu." Luna memutarkan bola matanya, kesal.


Luna kini melangkahkan kakinya menuju meja Bayu dan sebelum sampai ke meja Bayu, Luna terlebih dahulu menarik napasnya dalam-dalam dan hembuskan perlahan.


Bayu tersenyum lebar dan bangkit dari duduknya, merangkul pinggang Luna.


"Maaf lama," lanjut Luna.


"Nggak apa-apa kok, Yang," tukas Bayu sambil menarik kursi untuk Luna.


Luna pura-pura menatap heran kepada Frida.


"Dia siapa, Sayang?" Tunjuk Luna dengan dagunya.


"Dia teman ku."


"Oh...."


Hati Frida terasa tersambar api yang membara. Frida menatap tak suka kepada Luna. Frida tak terima kalau Bayu memiliki pengganti dirinya.


Vano yang melihat Luna dan Bayu seperti Dejavu bagi dirinya.


"Sayang, kenalin ini Frida teman ku. Frida kenalin ini cewek aku." Bayu memperkenalkan Luna dan Frida.

__ADS_1


Luna menjulurkan tangannya. "Hai ... Aku Luna," ucap Luna sambil menampilkan senyum terbaiknya.


"Frida." Sambut Frida dengan wajah jutek.


Luna kemudian melingkarkan tangannya di sekeliling lengan berotot Bayu dengan sangat mesra. Tidak lupa, Luna menyunggingkan senyum paling manis.


Bayu terpana melihat senyum Luna, yang jarang sekali Bayu melihat Luna tersenyum.


"Sayang, tadi mama nanyain kamu. Mama bilang kapan kamu main ke rumah lagi. Mama tuh kangen sama calon mantunya," cetus Luna.


"O ya ... Nanti sepulang ngantor, aku mampir deh," timpal Bayu seraya mencubit hidung mancung Luna.


Aktingnya Luna benar-benar sempurna, terbukti Frida kepanasan. Frida tak sanggup lagi melihat kemesraan Bayu dan Luna. Begitu juga dengan Vano yang duduk di meja lain. Vano meremas tisu bekas dengan perasaan cemburu. Ingin rasanya Vano mengetok kepala Bayu.


Biar aktingnya semakin bagus, Bayu menyuapi Luna.


"Saosnya nempel lagi di bibir kamu, Yang," cetus Bayu. Kemudian Bayu mengelap bibir Luna dengan jempolnya.


Deg deg deg.


Tiba-tiba detak jantungnya berdebar kencang, Bayu terhipnotis oleh bola mata indah milik Luna.


Ada apa dengan jantung ku?


Frida semakin tak sanggup melihat keromantisan Bayu dan Luna. Sejak Luna datang dirinya seperti obat nyamuk dan pastinya di cuekin oleh Bayu.


"E'hem...." Frida berdehem untuk menghilangkan cemburu.


"Aku pergi dulu deh, anakku rewel nih," seloroh Frida.


"Iya," jawab Bayu singkat.


Frida pun segera meninggalkan dua insan yang tengah menunjukkan kemesraannya.


Melihat Frida pergi, Vano secepatnya menghampiri Luna dan Bayu.


Plaakk.


Vano memukul tangan Bayu yang masih setia mengusap kepala Luna. Seketika Bayu menarik tangannya dan mengusap tengkuknya kikuk.


Vano menatap tajam wajah Bayu, yang sepertinya terbawa suasana, saking mendalami sebagai pacar bohongan Luna.


"Udah kelar kan, jadi pacar bohongannya," ketus Vano.


"Iya, makasih udah bantuin," ucap Bayu.

__ADS_1


"Ayo, balik lagi ke kantor." Vano langsung menggenggam tangan Luna dan menarik Luna keluar dari sana.


Bayu tersenyum menatap punggung Luna, yang entah kenapa membuat jantungnya seperti roller coaster.


__ADS_2