
Pak Ariawan tertawa melihat Luna mulai kepanasan. Ia ingin gadis itu menyerahkan diri. Sebab, hanya dirinyalah yang bisa membantunya. Ia yakin dan tak lama lagi, Luna akan memohon kepadanya untuk minta di sentuh.
Membayangkan saja sudah membuatnya ingin segera membawa tubuh Luna ke atas kasur. Pasti sangat menyenangkan.
Pak Ariawan duduk dan menikmati bagaimana Luna menggeliat kepanasan. Pikiran nakal Pak Ariawan,
seakan-akan Luna tengah menggodanya, memancingnya untuk segera ia cumbui.
Sementara itu, Luna berjuang menahan hass ratnya yang menggebu-gebu. Air matanya luluh tak bisa dibendung. Bagaimana tidak, lelaki baji*ngan itu membuatnya harus tersiksa menahan hass rat yang tak bisa ia kendalikan.
Rasanya Luna ingin sekali membuka seluruh pakaiannya, namun, akal sehatnya masih waras.
"Aaahh ...." Akhirnya keluar juga suara desaa han yang sejak tadi ia tahan.
"Ya Tuhan ... Bagaimana caranya ngilangin gejolak ini." Rintih Luna di hatinya.
Luna menatap sayu Pak Ariawan. Sisi lain hatinya menyuruhnya menyerahkan diri kepadanya. Namun, sisi lainnya melarangnya.
"Aaahh ...." Lagi, Luna melee nnguh. Jujur Luna sudah tak sanggup lagi menahannya.
Pak Ariawan terus menatap Luna. Ia ingin tahu, seberapa kuat gadis itu menahan hass ratnya.
"Bagaimana ... Apa masih bisa menahannya?" Ejek Pak Ariawan.
Luna menatap tajam. Andai tidak sedang dalam keadaan seperti ini, sudah pasti lelaki baji*ngan itu sudah ia di buat perkedel.
Pak Ariawan semakin senang melihat Luna semakin tak bisa mengendalikan diri. Dan lihatlah, napasnya sekarang semakin memburu.
"Uuhh ...."
__ADS_1
"Aku sudah tidak kuat lagi ...!" teriak Luna di dalam hatinya.
Senyum Pak Ariawan semakin lebar, manakala melihat Luna yang sudah kepayahan menahan gejolak yang semakin membara.
"Apa perlu aku bantu?" tawarnya, dengan seringainya.
Luna tak menjawab, tapi air matanya semakin deras membasahi pipinya. Sekuat tenaga ia menahannya. Tak apa ia tersiksa, asal kesuciannya tidak terenggut.
Gemas, karena Luna tidak menyerahkan diri. Pada akhirnya Pak Ariawan mendekati Luna dan mengelus pipi Luna. Namun, Luna menyingkirkan tangan Pak Ariawan.l dengan kasar.
"Jangan berani-berani nya kamu menyentuh ku !" geram Luna.
Sebenarnya, sentuhan Pak Ariawan membuat Luna menginginkan lebih dari itu dan untungnya akal sehatnya masih bekerja dengan baik.
"Ck ... Dalam keadaan seperti ini saja kamu menolak ku," cibir Pak Ariawan.
Pak Ariawan menelan ludahnya berkali-kali melihat kulit putih mulus Luna. Tak ingin menyia-nyiakan waktu, Pak Ariawan kembali menarik paksa baju Luna hingga terlepas dari tubuh Luna.
Luna mendorong tubuh Pak Ariawan, Luna masih terus berupaya keras mempertahankan kesuciannya. Namun, Pak Ariawan bergeming sama sekali.
Melihat seringai iblis Pak Ariawan, Luna menutupi dadanya dengan kedua tangannya. Tubuh Luna gemetar menahan gejolak yang semakin membara. Lalu, Pak Ariawan memeluk tubuh Luna dan mengelus kulit punggung Luna.
Otaknya ingin sekali menolak sentuhan Pak Ariawan, tapi tubuhnya justru meresponnya.
Vano .... Tolong aku ....
Luna benar-benar sudah tak sanggup lagi menahan gejolak yang membakar hass ratnya. Tubuhnya menginginkan lebih dari sekedar sentuhan.
Melihat Luna semakin tak berdaya, Pak Ariawan langsung mencumbui kulit lembut Luna, dan akhirnya suara yang menjijikan itu keluar dari mulut Luna.
__ADS_1
Air matanya semakin deras membasahi pipinya. Ia pasrah dan tak bisa menolak sentuhan Pak Ariawan di tubuhnya.
Nasibnya kini sudah diujung tanduk. Masa depannya kelam karena sebentar lagi kesucian yang ia jaga akan terenggut.
Ia kalah dengan Dimas, dan sekarang ia tak punya daya untuk melawannya.
Tanpa Luna sadari, kini tubuhnya sudah tak tertutup sehelai benang pun dan kini Luna sudah berada di atas ranjang dengan Pak Ariawan yang semakin liar menyentuh kulit tubuhnya.
"Katakan kalau kamu menginginkan ku," bisik Pak Ariawan. Kedua bola matanya berkabut gejolak yang menggebu.
Luna menatap sayu wajah Pak Ariawan. Menolak pun rasanya percuma, sebab tubuhnya sudah sangat menginginkannya.
Luna memejamkan matanya dengan air mata terus mengalir deras. Lalu Luna mengangguk lemah.
Seketika senyum Pak Ariawan terbit.
"Bersiaplah ... Sakitnya hanya sebentar," bisiknya lagi.
Percayalah, di lubuk hatinya yang terdalam Luna tengah menjerit. Luna tak sanggup membendung kepedihan dihatinya.
Ia hanya bisa meratapi nasibnya dan tak mampu melawan semua nya.
Di dalam kesedihannya, Luna terus berdoa, memohon bantuan kepada sang pencipta agar ia bisa bebas dari Kungkungan lelaki bajii Ngan ini.
Pak Ariawan menegakkan tubuhnya. Ia menarik napas dalam-dalam, kemudian ia mengarahkan senjatanya ke arah milik Luna.
Luna memejamkan matanya, sambil terisak-isak. Masa depannya benar-benar akan hancur, tanpa bisa berbuat apa-apa, sebab tubuhnya sudah sangat menginginkannya.
"Argh ...!"
__ADS_1