Aku Dijual Di Malam Pertama

Aku Dijual Di Malam Pertama
Bab 18 ~ Bertemu Dimas


__ADS_3

Luna hampir saja tersedak makanannya, saat melihat dua orang lelaki yang kini memasuki kantin. Luna tak menyangka kalau ia akan bertemu dengan Bayu dan Jefri.


Luna tidak tahu kalau tempatnya melamar pekerjaan adalah perusahaan keluarga mama Aida.


"Apa Mas Bayu kerja di kantor ini?" Gumamnya di dalam hati. Luna langsung menundukkan kepalanya ketika Bayu dan Jefri melewati mejanya. Berharap keduanya tidak melihatnya.


Langkah Jefri terhenti, ketika matanya tanpa sengaja menangkap gadis yang dikenalnya, lalu Jefri melangkah mundur dan menundukkan tubuhnya untuk menatap Luna.


.


"Luna...." Panggil Jefri.


Saat tadi melewati mejanya, Jefri sekilas melihat Luna dan ia ingin memastikan kalau gadis itu memang Luna atau bukan. Dan ternyata benar, gadis yang tengah duduk di meja itu adalah Luna.


Senyum Jefri terbit, saat Luna menatapnya dan tersenyum kaku.


"He he he, mas Jefri," sahut Luna.


"Jadi beneran ini kamu?" Luna mengangguk kecil. Jefri kemudian menarik kursi di depannya Luna dan duduk. "Terus kamu ngapain ada disini?" Tanya Jefri lagi dengan mata berbinar.


"Aku baru keterima kerja disini," jawab Luna.


Jefri manggut-manggut. "Bagus dong. Jadi kita sekantor."


Bayu baru tersadar kalau Jefri tidak ada di dekatnya, kemudian Bayu menoleh ke belakang. Bayu menyimpitkan matanya melihat Om nya itu tengah mengobrol dengan seorang wanita dan Bayu tidak tahu siapa wanita itu, karena posisi wanita itu membelakanginya.


"Om Jef ngobrol sama siapa ya?" Gumamnya di dalam hati. "Apa Om Jef lagi ngerayu cewek?" Dengus Bayu.


"Om ! Jadi nggak makan disini?" Seru Bayu yang masih berdiri ditempatnya.


"Jadi. Tunggu sebentar," sahut Jefri.


"Kamu tunggu disini ya. Aku pesen makanan dulu," ujar Jefri kepada Luna.


Luna mengangguk dan Jefri segera menghampiri Bayu.


Sophia yang sejak tadi diam langsung memukul tangan Luna. "Gila tuh cowok, cakep bener. Kenalin dong sama aku," rengek Sophia.


"Nggak mau ah," canda Luna sambil tersenyum.


"Ih... Kamu mah gitu," sungut Sophia.


Luna tertawa kecil menanggapi perkataan Sophia.


Bayu dan Jefri sudah pesan makanan dan Jefri meminta makanannya di antar ke meja yang ditempati Luna.


Jefri langsung menarik tangan Bayu. Dan betapa terkejutnya Bayu melihat Luna ada disini. Pantas saja Jefri terus tersenyum.


"Mas Bayu," sapa Luna yang sudah selesai menghabiskan makan siangnya.

__ADS_1


"Kamu ngapain disini?" Bayu bertanya dengan ekspresi terkejut.


"Aku habis interview di kantor ini," jawab Luna.


"Interview?" Beo Bayu.


"Iya," jawab Luna seraya menganggukkan kepalanya.


Jefri yang sudah duduk menarik Bayu agar duduk di kursi yang satu lagi.


Sophia terperangah melihat Bayu yang lebih tampan dari Jefri. Semalam aku mimpi apa? Bisa bertemu dengan pangeran tampan, begitu yang ada di kepala Sophia. Sophia terus menyikut Luna, meminta untuk di kenalkan dengan lelaki yang duduk satu meja dengannya. Tapi Luna menghiraukan keinginan Sophia. Pikir Luna, dirinya tak seakrab itu dengan dua lelaki yang tengah duduk di depannya..


Sophia kesal karena Luna tidak memperkenankan dirinya kepada dua mahluk tampan. Akhirnya Sophia sendiri memperkenalkan diri.


"Hai... Boleh kenalan nggak," ucap Sophia.


"Boleh dong. Aku Jefri dan dia Bayu," sahut Jefri yang di sambut senang oleh Sophia.


"Aku Sophia."


Perkenalan mereka terhenti karena pesanan Bayu dan Jefri datang.


Luna yang merasa tak nyaman berada satu meja dengan Bayu, apalagi beberapa karyawan kasak-kusuk membicarakan dirinya dan dua lelaki yang tengah menyantap makan siangnya.


"Mm... Mas Bayu dan mas Jefri, kami berdua duluan."


"Kenapa buru-buru, nanti saja perginya," tukas Jefri. Sedangkan Bayu acuh, tidak peduli mau pergi atau tidak.


"Oh...." Jefri mengangguk.


Luna menarik tangan Sophia, meski Sophia sangat enggan pergi dari sana.


***


"Menurut kamu ini bagus nggak?" Tanya Luna kepada Sophia. Menunjukkan kemeja berwarna coklat pastel.


Setelah makan siang tadi di kantin, Luna dan Sophia memutuskan untuk pergi ke mall. Keduanya ingin membeli beberapa potong pakaian untuk dipakai kerja. Terutama Luna, yang hanya memiliki sedikit pakaian, karena tas yang berisi pakaiannya tertinggal di mobil Dimas.


"Bagus," jawab Sophia sambil mencari pakaian yang cocok untuknya.


Selesai membeli pakaian, Luna dan Sophia segera pulang. Keduanya berpisah di depan mall.


"Sampai ketemu besok," ujar Sophia yang di balas anggukan oleh Luna. Keduanya saling melambaikan tangannya dan berdadahria.


Luna berdiri di trotoar sambil menunggu ojek online nya datang. Tidak lama ojek online nya sudah datang dan Luna segera naik ke boncengan motor.


Baru beberapa menit berkendara, mang ojol menghentikan laju motornya dan menepi di pinggir jalan.


"Kenapa berhenti mang?" Tanya Luna.

__ADS_1


"Bannya kempes mba," jawab mang ojol.


"Oh...." Luna hanya ber oh. "Harus dibawa ke bengkel dong," sambung Luna.


"Iya nih mba. Jadi nggak enak saya sama mba nya," ucap mang ojol yang merasa tak enak hati karena tidak bisa mengantarkan Luna sampai tujuan.


"Ya sudah nggak apa-apa. Saya bisa pesan ojek lagi kok." Luna tak mempermasalahkannya. Kemudian Luna membayar ojeknya meski mang ojol tidak bisa mengantarkannya ke rumah.


"Nih ongkosnya," seraya menyorongkan uang ke mang ojol.


"Aduh, mba ... Saya jadi nggak enak."


"Enakin aja," sahut Luna.


"Terima kasih mba." Mang ojol menerima uangnya dan Luna mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya. Ia akan memesan ojek online lagi.


Selesai memesan ojek online, Luna menatap sekitarnya. Pandangannya kini tertuju ke arah orang yang baru keluar dari cafe.


Tangannya terkepal erat dan rahangnya mengeras melihat siapa orang yang tengah berdiri di depan cafe sambil telpon.


"Dimas...."


Rasa sakit hati itu seketika muncul dan membakar rasa amarah yang kian berkobar.


Lelaki brengsek yang tega menjualnya kepada lelaki hidung belang.


Lelaki baji*ngan yang tak memiliki hati nurani.


Luna segera melangkah cepat menuju Dimas dan setibanya di sana Luna segera menonjok pipi Dimas.


Dimas terkesiap ketika pipinya di pukul, dan betapa terkejutnya Dimas melihat siapa orang yang berani memukulnya.


"Luna...." Dimas terbelalak melihat Luna yang kini berdiri didepannya. Dimas tak menyangka kalau dirinya akan bertemu dengan Luna.


"Dasar lelaki baji*ngan!" Maki Luna penuh amarah. Kilatan amarah terlihat jelas di kedua bola matanya.


"Tega kamu menjual aku! Gara-gara kamu hidupku hampir saja hancur!" Luna meluapkan kemarahannya.


"Terus sekarang mau kamu apa?" Sahut Dimas datar. "Toh, kamu juga baik-baik saja. Oh ... Aku tahu, kamu pasti mencariku menginginkan ini." Dimas mengeluarkan beberapa lembar uang kertas dari dompetnya dan menyerahkan kepada Luna.


"Aku nggak butuh duit kamu!" Luna melemparkan uang tersebut ke muka Dimas.


"Sekarang kamu bisa bersenang-senang di atas penderitaan ku, tapi nanti ... Aku pastikan kamu menderita melebihi dariku."


Dimas tergelak mendengar ucapan Luna. "Kamu nyumpahin aku. Sebelum kamu nyumpahin aku, kamu dulu yang harus menderita."


Luna semakin mengepalkan tangannya. Sungguh, ia sangat geram dengan Dimas.


"Kenapa kamu ingin sekali melihat aku menderita?" Luna bertanya dengan suara menggeram.

__ADS_1


"Karena kakak kamu yang sudah mati sudah membuat wanita yang aku cintai hancur."


__ADS_2