
Sejak luna jadi pacar bohongan Bayu, Vano jadi uring-uringan. Vano punya feeling kalau Bayu juga bakal jatuh cinta sama Luna.
Gimana Vano tidak cemburu, Luna itu seperti magnet yang mampu meluluhlantakkan hatinya.
Vano langsung menggandeng tangan Luna memasuki kantor. Luna menghentikan langkah Vano.
"Kenapa?" Ucap Vano sedikit heran.
"Biar aku di sini saja. Melanjutkan pekerjaan ku di bagian resepsionis. Aku nggak enak sama mba Arfi," jelas Luna sambil memasang tatapan memohon.
"Nggak. Pokoknya kamu...."
"Please...." Mohon Luna, memotong perkataan Vano.
Melihat tatapan Luna, akhirnya Vano mengangguk. Membiarkan Luna kembali ke meja kerjanya.
Luna tersenyum senang dan menggenggam tangan Vano.
"Gitu dong. Ini baru Vano yang aku suka," ucap Luna.
Vano tersenyum mendengar kata suka dari bibir tipis Luna. Andai tidak sedang berada di tempat umum, Vano pasti akan mencium Luna.
"Aku ke sana dulu ya," sambung Luna ke arah Arfi yang tengah sibuk di balik meja kerjanya.
"Iya...."
Akhirnya Luna bisa bernapas lega bisa terbebas dari Vano.
Vano kembali melanjutkan langkahnya ke arah lift.
Tidak berselang lama, Bayu juga tiba di kantor. Saat melewati meja resepsionis, dimana Luna berada. Jantungnya bertalu-talu, seolah mau copot dari tempatnya.
Sejak Luna jadi pacar pura-pura nya tadi, membuat Bayu terus memikirkannya. Bayu baru sadar, ternyata Luna itu sangat cantik dan juga manis. Apalagi ketika melihat bola matanya yang indah, sehingga mampu membuatnya terhipnotis.
Tidak ingin Luna curiga karena ia terus memandanginya, Bayu mempercepat langkah kakinya.
***
Sore harinya, Luna sudah bersiap untuk pulang. Luna tidak ingin menunggui Vano. Luna melangkah beriringan keluar dengan Arfi.
"Aku pulang duluan," pamit Arfi, karena sang pujaan hatinya sudah menjemputnya.
Luna mengangguk. "Iya."
Selepas Arfi pergi, ojek online yang di pesannya datang. Luna segera memakai helm dan naik ke boncengan motor.
Perjalanan yang di tempuh cukup lama, karena di jam-jam seperti ini pasti akan macet di beberapa titik.
"Pak, bisa berhenti di minimarket terdekat," ujar Luna dari belakang.
__ADS_1
"Bisa, Mba."
Dalam hitungan menit, mang ojol berhenti di depan minimarket.
"Tunggu sebentar ya, Pak," ucap Luna sembari melepaskan helm nya.
"Iya, mba," jawabnya.
Luna pun bergegas masuk ke dalam minimarket. Cuman membutuhkan beberapa menit untuk membeli barang yang di butuhkan Luna.
Selesai membayar, Luna segera keluar.
Seketika tubuhnya membeku. Ketika ia bertemu pandang dengan bola mata yang begitu menghujam nya.
Siapa lagi kalau bukan Dimas.
Ternyata benar, perempuan yang ia lihat di atas motor tadi adalah Luna. Dimas menipiskan bibirnya. Otak liciknya kini siap membawa Luna pergi dari sini dan menyerahkan nya kepada lelaki yang sudah membelinya, yang tak lain adalah Pak Ariawan.
Kebencian yang sudah mendarah daging, membutakan hati nuraninya. Menginginkan Luna hancur seperti yang dilakukan Raihan terhadap Desi.
Luna memilih segera pergi dari minimarket ini. Luna sudah sangat muak melihat Dimas, dan pastinya Luna tidak mau berdebat dengan Dimas.
Dimas menghalangi langkah Luna. Ia tidak akan membiarkan Luna pergi begitu saja, sebelum keinginannya terbalaskan.
Luna berdecak kesal. "Minggir! Jangan halangi jalan ku!" Ketus Luna.
Luna mencoba menekan emosinya. Luna tidak mau berurusan dengan Dimas.
"Sebenarnya apa sih mau mu!" Kesal Luna.
"Mau ku kamu ikut dengan ku," ujar Dimas.
"Ck ... Jangan pikir aku mau ikut dengan mu."
Dimas tertawa kecil menanggapi perkataan Luna.
Luna segera meninggalkan Dimas dan pergi menjauh dari hadapan Dimas.
Luna mengernyitkan keningnya, ketika ia tidak melihat mang ojol di sana.
"Kemana perginya si bapak?"
Dimas tersenyum smrik, melihat kebingungan di raut wajah Luna.
Dimas lah yang menyuruh pergi ojol itu, dan sebagai gantinya, Dimas memberikan beberapa lembar uang kepada mang ojol.
Dimas melangkah menuju mobilnya, lalu Dimas membuka pintu belakang. Setelah itu Dimas mendekati Luna. Dimas memastikan sekitarnya, sebelum ia melakukan hal yang akan membuat Luna naik pitam.
Di rasa aman, Dimas membekap mulut Luna yang sudah di campur obat bius, lalu menyeretnya ke dalam mobil.
__ADS_1
Luna memberontak, berharap bisa lepas dari jeratan Dimas. Akan tetapi, tenaganya kalah kuat dengan Dimas. Apalagi Dimas sudah membiusnya, sehingga tenaganya semakin melemah.
***
Di kantor.
Vano yang baru selesai membereskan pekerjaannya, segera mengirim pesan ke Luna. Meminta untuk menunggu sebentar lagi, walau tadi sudah menelponnya untuk menunggunya.
Di saat bersamaan, Bayu juga keluar dari ruangannya.
"Aku pikir kamu sudah pulang," kata Bayu, berjalan kearahnya.
"Belum."
Lalu, keduanya segera melangkah bersama menuju lift. Sesampainya di lantai dasar, Vano secepatnya melangkah ke meja resepsionis, meninggalkan Bayu di belakang.
"Luna mana?" Gumamnya.
Vano menelpon Luna,tapi telponnya tidak diangkat-angkat. Vano tak menyerah, ia kembali menelpon Luna sambil melangkah keluar. Siapa tahu Luna menunggunya di luar kantor.
"Kenapa nggak diangkat-angkat sih," gerutu Vano.
Bayu yang sudah mengendarai mobilnya, memelankan laju mobilnya, melihat Vano terlihat gelisah.
"Apa yang terjadi?" Tanya Bayu membuka kaca mobilnya.
Vano menghela napasnya. "Luna nggak bisa di hubungi. Padahal aku sudah memintanya menunggu."
"Coba kamu tanya sama security."
Vano mengangguk dan menghampiri security yang berdiri di depan pintu masuk.
"Pak Didin, lihat Luna nggak?"
"Mba Luna tadi sudah pulang," jawabnya.
"Pulang sama siapa?" Tanya Vano lagi.
"Kalau nggak salah sama ojek online."
"Oh...."
Meski kecewa Luna pulang duluan, Vano tidak khawatir lagi. Setidaknya Luna aman sampai rumah.
Vano pun segera pulang dan memastikan kalau Luna selamat sampai rumah. Sesampainya di rumah, Vano melangkah cepat masuk ke dalam rumah.
"Mba Yuni, Luna mana?" Tanya Vano.
"Luna belum pulang."
__ADS_1