Aku Dijual Di Malam Pertama

Aku Dijual Di Malam Pertama
Bab 23 ~ Bertemu dengan Paman


__ADS_3

Luna terkejut mendengar pamannya ada di Jakarta. Apa yang membuat pamannya bisa sampai datang kesini? Nggak mungkin kan pamannya datang tanpa sebab.


Seketika Luna menjadi bingung. Gimana nanti kalau pamannya menanyakan Dimas. Apa mungkin sudah waktunya menceritakan semuanya.


Setelah memberitahukan kalau pamannya ada di Jakarta. Luna meminta Vano mengantarnya ke alamat yang di kirim oleh pamannya.


Setibanya di sana, Luna dan Vano segera turun dari mobil. Luna terlebih dahulu membuang napasnya.


"Ini rumah siapa?" Tanya Vano.


Luna mengedikkan bahunya. "Aku juga nggak tahu," jawabnya sambil melangkah ke teras rumah dengan perasaan gugup.


Luna langsung mengetuk pintu dan tidak lama pemilik rumah membukakan pintunya.


Luna terbelalak melihat orang yang membuka pintu. "Kak Jono ...." Cicit Luna.


"Hai, Luna ... Apa kabar. Ayo masuk...."


"I-iya...." Sahut Luna gagap.


Luna dan Vano masuk ke dalam, kemudian Jono mempersilahkan Luna dan Vano duduk.


Sebenarnya Jono penasaran dengan lelaki yang datang bersama Luna, tapi ia tidak berani bertanya. Biarlah nanti Pak Tyo yang bertanya, siapa lelaki itu.


"Aku panggil Pak Tyo dulu," kata Jono, setelah menyuruh Luna dan Vano duduk.


"Iya, kak...."


Jono berlalu dari sana dan segera memanggil Pak Tyo di kamar. Beliau tengah istirahat sejenak untuk ngilangin rasa lelah.


"Jono tuh siapa?" Tanya Vano penasaran.


"Kak Jono itu teman kakak ku," jawab Luna.


"Kamu punya kakak? Terus kakak kamu tinggal dimana?"

__ADS_1


Luna menghela napasnya dan menundukkan kepalanya. "Kakak ku sudah meninggal," jawab Luna dengan raut wajah sedih.


"Oh ... Maaf, aku nggak tahu."


Tidak lama Bramantyo datang, Luna segera berdiri dan langsung menghambur ke pelukan pamannya.


"Paman...." Lirih Luna dalam pelukan Bramantyo.


Bramantyo mengelus punggung keponakan tersayangnya. Ia lega melihat Luna baik-baik saja. Rasa cemas, gelisah, khawatir terus melingkupi hatinya. Sebagai paman ia takut kalau Luna kenapa-kenapa di kota besar seorang diri.


Sekuat tenaga Luna a tahan air matanya, tapi sialnya air mata itu keluar sendiri tanpa bisa di tahan.


"Menangis lah sepuasnya," ujar Bramantyo.


Mendengar isakan tangis Luna, membuat hati Bramantyo mencelos. Ia mendesah di dalam hati. Ia tahu sesakit apa perasaan Luna atas apa yang sudah diperbuat Dimas.


Semua yang ada di sana, hanya diam dan membiarkan Luna menangis.


Selama ini Luna berusaha untuk tetap terlihat baik-baik saja. Luna tidak ingin menunjukkan kesedihannya di depan semua orang. Ia memendamnya sendiri. Ya ... Sendiri, tanpa seorang pun tahu.


Puas menangis di pelukan pamannya, Luna melerai pelukannya. Luna menundukkan kepalanya, ia tak berani menatap wajah pamannya. Luna tidak ingin membuat pamannya menjadi sedih.


"Maafkan paman, nak," ucap Bramantyo dengan perasaan bersalah bercampur sedih.


Mulut Luna terkatup rapat, hanya anggukan kepala sebagai jawabannya. Luna belum bisa menguasai dirinya. Luna tak menampik kalau ia masih sangatlah sedih dengan nasib pernikahannya yang belum seujung kuku.


"Kamu pasti sangat kecewa sama paman, karena paman kamu harus menerima Dimas menjadi suami kamu." Bramantyo berkata dengan suara bergetar.


"Nggak, paman. Ini bukan salah paman. Memang Dimas nya saja yang jahat," sergah Luna, yang tak mau pamannya menyalahkan diri.


Mungkin memang sudah jalannya seperti ini. Menikah dengan lelaki yang tak memiliki hati.


Bramantyo kembali memeluk Luna. Walau Luna tidak menyalahkannya, tetap saja rasa bersalah itu terus menyelimutinya.


"Tapi kamu tidak diapa-apain kan sama orang itu?" Tanya Bramantyo.

__ADS_1


Luna menggeleng cepat. "Hampir, tapi untungnya ada yang menyelamatkan aku."


"Syukurlah...." Bramantyo lega. Luna tidak sampai diapa-apain, jika itu terjadi, maka ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri.


"Terus selama ini kamu tinggal dimana?" Kali ini Bramantyo bertanya sambil menangkubkan tangannya di pipi Luna.


"Aku tinggal di rumah dia," jawab Luna sambil menunjuk Vano pakai matanya.


"Kamu tinggal serumah dengannya?" Tunjuk Bramantyo ke arah Vano.


Luna mengangguk.


Bramantyo tercengang mendengar Jawa Luna. Yang ada dipikirannya Luna hanya tinggal berdua dengan lelaki berkemeja coklat.


"Cuman berdua?" Tanyanya lagi memastikan.


"Nggak," jawab Luna sambil menggerakkan kedua tangannya. "Di rumah dia ada mamanya kok. Bisa-bisanya paman punya pikiran begitu."


"Paman kan cuman nggak mau kamu sampai kenapa-kenapa."


Luna mencebikan bibirnya. Kok bisa pamannya punya pikiran seperti itu.


"Nama kamu siapa?" Bramantyo bertanya sambil menatap lekat wajah Vano.


"Va--." Jawaban Vano terpotong dengan suara seseorang dari arah luar.


"Permisi...."


Jono yang sejak tadi diam dan menyaksikan Luna dan Bramantyo, segera melangkah dan membuka pintu.


"Masuk, Om...." Titah Jono kepada orang yang di panggil Om.


Orang yang di panggil Om masuk dan tersenyum kaku kepada Luna.


"Luna...."

__ADS_1


__ADS_2