
"Luna...."
Luna menoleh ke arah orang yang memanggilnya.
"Tante Aida...." Cicit Luna, yang terkejut melihat mama Aida ada di rumah sakit ini.Ternyata mama Aida check up nya di rumah sakit yang sama. Mama Aida mendekati Luna bersama Bayu.
"Kok, kamu ada disini?" tanya mama Aida heran. Lalu pandangannya kini tertuju ke beberapa luka di tangannya juga melihat celana Luna yang robek disertai noda darah yang sudah mengering.
"Kamu kenapa luka-luka?" Tanya mama Aida khawatir melihat Luna terluka. Mama Aida memeriksa lukanya Luna.
"Mm... Anu... Tadi jatuh dari motor," jawab Luna.
"Jatuh dari motor? Memangnya kamu mau kemana?" Mama Aida kembali bertanya dengan alis mengkerut.
"Mau pu--."
"Ma, ngomongnya nanti saja di mobil. Aku mau ketemu klien habis dari sini," ucap Bayu yang memotong perkataan Luna, sambil melihat jam di tangannya
Mama Aida mengangguk setuju. "Ayo Luna, kita pulang," ajak mama Aida.
Luna kebingungan, bagaimana ia menolaknya.
"Tante... Luna nggak bisa ikut pulang."
Perkataan Luna, membuat Bayu menghentikan dorongan kursi rodanya dan mama Aida menatapnya bingung.
"Loh, kenapa?" Tanya Mama Aida heran.
"Ini... Mm... Aku sebenarnya mau pulang ke kampung halaman," ucap Luna pelan.
"Pulang ke kampung halaman?" beo mama Aida.
Luna mengangguk pelan. " Iya...."
Walau sebenarnya Luna merasa tak enak hati kepada mama Aida, tapi mau gimana lagi, ia memang secepatnya harus pergi dari kota ini, daripada hidupnya terus terancam, lebih baik pulang kampung.
Mama Aida langsung berubah muram mendengar ucapan Luna yang mau balik ke kampungnya. Mama Aida tak rela Luna pergi dan mama Aida sudah sangat senang dengan keberadaan Luna di rumah. Semenjak ada Luna tinggal bersamanya, mama Aida merasa memiliki seorang putri.
"Kenapa cepat-cepat pengen pulang?" Tanya mama Aida sedih.
Luna harus menjawab apa? Apa ia harus berkata jujur, kenapa ia ingin pulang.
__ADS_1
Melihat Luna terdiam, mama Aida berkesimpulan. Mungkin karena kepulangan suaminya ke rumah, akhirnya membuat Luna memutuskan untuk pulang ke kampungnya. Ya... pasti karena itu.
"Apa karena ada--."
"Ma, ngobrol nya di mobil saja." Bayu menyela pembicaraan mamanya dan memberi saran untuk mengobrol di dalam mobil saja. Bayu tidak punya banyak waktu jika harus menunggu mamanya berbicara dengan Luna. Nanti yang ada dirinya telat untuk bertemu dengan kliennya.
Mama Aida mengangguk setuju.
"Luna ayo...." Ajak mama Aida, sambil menarik tangan Luna.
Mau tak mau, Luna pun mengikuti ajakan mama Aida. Walau sebenarnya ingin ia tolak, tapi melihat mama Aida yang menggenggam tangannya, membuat Luna tidak bisa menolaknya.
Kenapa aku nggak bisa menolaknya. Gerutu Luna kepada dirinya sendiri yang tak sampai hati menolaknya.
Sesampainya di dekat mobil, Luna membuka pintu belakang.
"Kamu duduk di depan," suruh Bayu, menatap dingin wajah Luna.
"Tapi aku mau duduk di belakang sama Tante," sahut Luna, menolak.
Masa iya, dirinya duduk berdampingan dengan Bayu., yang selalu bersikap dingin kepadanya.
"Baiklah," jawab Luna mengalah juga terpaksa. Luna kemudian duduk di depan.
Kini mobil yang dikemudikan Bayu melaju menembus jalanan ibu kota, yang selalu padat.
Luna menoleh ke belakang dan mendapati mama Aida tengah tertidur dengan mulut sedikit terbuka.
Luna mendesah samar. Kenapa dirinya kembali balik ke rumah mama Aida, Luna takut akan bertemu lagi dengan Pak Ariawan. Sia-sia dong ia keluar dari rumah itu.
Luna kemudian melirik Bayu yang begitu serius mengemudikan mobilnya.
Apa aku minta tolong mas Bayu, untuk antarkan aku ke terminal. Batin Luna.
Mobil pun kini berhenti di lampu merah dan Luna berdehem terlebih dahulu sebelum berbicara kepada Bayu.
"Mas Bayu...." Panggil Luna pelan.
Bayu hanya meliriknya sekilas tanpa berniat menjawabnya.
"Bisa antarkan aku ke terminal," ucap Luna sedikit ragu.
__ADS_1
"Aku nggak bisa," jawab Bayu cepat.
"Kalau gitu turunkan aku disini saja," pinta Luna lagi. Nggak apa-apalah turun di jalan, daripada ikut pulang ke rumah mama Aida.
"Telat. Seharusnya kamu bilak dari tadi," sahut Bayu yang kini membelokkan mobilnya memasuki kompleks perumahannya.
Luna merengut manyun. Padahal bisa saja Bayu menurunkannya disini, tapi ya sudahlah. Nanti setibanya di rumah, Luna akan langsung pergi ke terminal.
Kini mobil pun sudah memasuki halaman rumah dan berhenti di carport.
Bayu segera turun dari mobil dan membuka bagasi mobil untuk menurunkan kursi roda, setelah itu membuka pintu mobil dan membangunkan sang ibu.
"Ma... Bangun, sudah sampai," ucap Bayu, sambil menggoyangkan lengan mamanya.
Mama Aida mengerjapkan matanya. "Sudah sampai ya?"
"Iya," sahut Bayu.
Kemudian Bayu segera mengangkat tubuh mama Aida dan mendudukkannya di kursi roda.
Luna sudah berdiri sambil memegangi kursi roda.
"Ma, aku langsung pergi lagi," pamit Bayu.
Mama Aida mengangguk dan Bayu langsung naik ke dalam mobil, meninggalkan mama Aida dan Luna.
Luna segera mendorong kursi roda dan membawa Mama Aida masuk ke dalam rumah.
"Luna, boleh Tante ngomong," ujar mama Aida. Saat ini keduanya sudah berada di kamar mama Aida.
Luna mengangguk. "Ngomong aja Tante."
"Tante mohon... Kamu jangan pulang kampung ya. Soal suami Tante, biar nanti Tante ngomong sama dia. Tante sangat senang kamu tinggal disini. Jujur... Tante merasa memiliki anak perempuan dan punya teman untuk berbagi cerita. Jika kamu pergi, Tante akan sangat sedih."
Luna menghela nafasnya. Ditatapnya kedua bola mata mama Aida lekat-lekat. "Tapi bagaimana kalau suami Tante tetap mengganggu aku," ucap Luna.
"Jika suami Tante terus mengganggu kamu, Tante yang akan jadi jaminannya," ucapnya penuh keyakinan.
"Kamu mau ya, tetap tinggal disini," sambung mama Aida penuh permohonan.
Luna bingung dan dilema.
__ADS_1